Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Rencana Arick ke Bandung


__ADS_3

Acara lamaran yang langka terjadi itu, akhirnya selesai dengan lancar dan sampai pukul 1 dini hari, Benar-benar di luar nalar. Tasya akhirnya sudah terlihat cantik memakai gaun yang anggun dibantu oleh Kalila. Karena itulah tujuannya ada Kalila ada di acara itu.



Acara pernikahan akhirnya disepakati akan diadakan 2 minggu lagi, walaupun Kama bersikukuh untuk menikah 3 hari ke depan. Namun kali ini Kama kalah, karena tidak ada yang mendukung pria itu. Bahkan Tasya sendiri tidak mendukungnya.


"Udah ya, Kam, kami pulang dulu!" ucap Carlos sambil meraih tangan Kalila istrinya.


"Ok, Sob! terima kasih ya, udah mau bantuin aku!"


"Samaku nggak ya?" protes Kalila, yang merasa tidak dipedulikan oleh kembarannya itu.


"Iya, sama kamu juga!" sahut Kama. "nanti gaun pengantin gratis kan?" imbuhnya sembari nyengir kuda.


"Enak aja! kamu harus tetap bayar lah!"


"Masa sama adik sendiri bayar? pelit kamu ah!"


Kama, berdecih dengan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas.


"Keluarga ya keluarga, bisnis ya bisnis. Jangan gabungkan bisnis dengan keluarga! kalau itu kamu lakukan, alhasil bisnis kamu akan hancur. Bukannya seperti itu yang kamu katakan dulu?" tutur Kalila dengan nada menyindir.


"Hei, itu berlaku pada orang-orang yang mengaku keluarga. Kalau kita kan beda. Kita itu datang dari rahim yang sama. Bahkan dulu kita pernah berbagi asupan dari mama kita. Masa sekarang kamu gak mau berbagi dengan adik kamu sendiri? kakak seperti apa kamu?" Kama pura-pura memasang wajah memelas.


"Apaan sih kamu? iya deh, iya! lagian seorang CEO perusahaan besar kok gak malu minta-minta gratisan. Kalau untuk orang lain, okelah. Masa buat isi sendiri gratis? gak modal amat sih? kalau aku jadi Tasya, aku lebih baik batalin pernikahannya." Kalila menggerutu yang diselipi dengan sindiran.


"Tahu tuh!" Carlos menimpali ucapan Kalila istrinya.


"Nggak jadi deh! aku bayar aja. Kasih gaun yang paling mahal dan cantik buat Tasya!" ucap Kama yang tidak tidak suka diremehkan.


Kalila terkekeh begitu berhasil membuat Kama terpancing dengan kata-katanya.


"Aku hanya bercanda kok, Kam. Tanpa kamu minta, aku pasti buatkan gaun pengantin buat adik iparku ini. Aku bahkan sudah berencana untuk bekerja sama dengan Tante Celyn untuk nge-designnya," terang Kalila dengan lugas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di tempat lain yaitu di sebuah kamar besar yang bernuansa kuning, tampak dua sejoli yang sepertinya sedang perang dingin. Siapa lagi mereka kalau bukan Arick dan Callista.


Tampak Calista, berbaring sambil memunggungi Arick suaminya dan itu sudah terjadi beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Sayang, udah dong! bukannya aku tidak mau membawamu ikut ke Bandung, tapi aku ke sana bukan untuk liburan. Aku ke sana hanya untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang ada di sana." bujuk Arick dengan sabar pada Calista yang belakangan ini sangat mudah sensitif, dan Arick harus memiliki ekstra sabar untuk menghadapinya.


"Aku tidak akan menggangu pekerjaanmu. Dasar kamu aja yang nggak mau bawa aku ke sana,"


Arick menghela napasnya dengan cukup berat, melihat istrinya yang sangat susah sekali diberi pengertian.


"Kamu memang tidak akan menggangu pekerjaanku, tapi secara tidak langsung kamu bisa membuat pekerjaanku terganggu, karena otomatis aku akan selalu merasa khawatir dengan dirimu dan bayi kita di sana. Kalau kamu di sini kan, kamu bisa tinggal di rumah mama untuk sementara. Jadi, aku bisa lebih tenang bekerja dan fokus." Arick kembali berusaha untuk memberikan pengertian.


Calista tidak menyahut sama sekali. Wanita itu tetap pada posisinya membelakangi Arick. Wanita yang sedang mengandung itu tidak menjawab ucapan Arick lagi karena merasa kalau ucapan sang suami benar adanya.


Keheningan terjeda untuk beberapa saat di antara keduanya. Tiba-tiba terdengar napas yang teratur dari arah Calista, pertanda kalau istrinya itu sudah terlelap.


"Sayang, kamu sudah tidur?" Arick membalikkan tubuh Calista, yang sepertinya tidak terganggu dengan pertanyaannya.


"Astaga, dia benar-benar sudah tidur ternyata," Arick menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Beberapa jam yang lalu, Arick memang mendapatkan telepon dari Vania, sekretarisnya dulu, yang dipindahkannya ke Bandung karena ingin Vania tidak mengharapkan cinta darinya. Mantan sekretarisnya itu, mengabarkan kalau Cabang perusahaan di Bandung mengalami masalah besar di bagian keuangan.


Flash back on


"Ada apa?" tanya Cakra to the point, begitu menjawab panggilan dari Vania.


"Kenapa aku harus ikut turun tangan? apa kalian yang ada di sana, sama sekali tidak mampu untuk menyelesaikannya?"


"Kami sebenarnya sudah berusaha untuk menyelesaikannya, tapi hasilnya nihil. Kami belum bisa mengetahui siapa pelakunya,"


"Baiklah! aku akan perintahkan Bayu ke sana, untuk menyelidiki kasus ini. Karena aku tidak bisa ke sana. Calista sedang hamil,"


Untuk beberapa saat tidak terdengar jawaban dari Vania. Kenapa wanita itu tidak menyahut, Arick tidak tahu dan juga tidak mau tahu apa alasannya.


"Sepertinya, Kamu sendiri lah yang harus menyelesaikan masalah ini. Aku tidak yakin Bayu akan bisa menyelesaikannya." terdengar kembali suara Vania setelah terdiam beberapa saat tadi.


"Kenapa tidak?" Arick mengrenyitkan keningnya, walaupun dia tahu kalau Vania tidak mungkin bisa melihat keryitan di keningnya itu. "Kamu tahu sendiri, kalau Bayu itu orang yang cerdas dan kompeten. Dia sudah menjadi asisten pribadiku untuk waktu yang sangat lama. Jadi, dia sudah paham benar cara kerjanya,"


"Aku tahu itu. Tapi, entah kenapa kali ini aku yakin kalau hanya kamu yang bisa menyelesaikannya dengan cepat,"


Kening Arick kembali berkrenyit, mendengar ucapan Vania yang sepertinya sangat menginginkan kedatangannya.


"Kenapa dengan dia? kenapa dia sangat menginginkan aku yang datang ke sana? Benar-benar mencurigakan," bisik Arick pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hush, tidak boleh su'udjon! kali aja memang, aku yang harus benar-benar menyelesaikannya," Arick kembali berusaha untuk berpikir positif.


"Baiklah! aku akan ke sana besok. Siapkan aja semua data-datanya!" pungkas Arick, memutuskan.


"Baik, Rick!" suara Vania terdengar sangat semangat di ujung sana.


Flash back end


Arick kembali melihat ke arah istrinya yang benar-benar sudah terlelap. Handphone yang di taruh di atas nakas bergetar. Arick sontak meraihnya dan melihat nama si pemanggil yang merupakan orang kepercayaannya di Bandung.


"Bagaimana? apa ada informasi penting yang kamu dapatkan?" tanya Arick to the point.


"....."


"Oh, seperti itu ya?" Arick terlihat mengangguk-anggukan kepalanya, setelah mendengar penuturan pria di sebrang sana.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan, Tuan?" tanya laki-laki itu lagi.


Arick terlihat berpikir sejenak, memikirkan apa yang hendak dilakukannya.


"Oh, Ok. Begini saja, sebentar lagi aku akan menghubungi kamu lagi, setelah aku memikirkan apa yang akan kamu lakukan,"


"Baik, Tuan!


"Maaf ya, kalau jam segini aku masih merepotkanmu," ucap Arick yang sebenarnya merasa tidak enak, mengingat ini sudah hampir pukul 2 dini hari.


"It's ok, Tuan. Ini memang sudah tugas aku kan? lagian Tuan tidak selalu begini."


Kening Arick terlihat berkerut, berpikir keras tentang apa yang akan dilakukannya, setelah panggilan terputus. Tiba-tiba, dia menjentikkan jarinya, ketika dirinya menemukan ide yang menurutnya sangat cemerlang.


Arick turun dari atas ranjang dan keluar ke balkon. Di sana Arick kembali menghubungi orang kepercayaannya itu, dan memaparkan apa yang akan dilakukan pria itu, sebelum dirinya tiba di Bandung.


"Aku tidak mau tahu,kamu cari orang yang bisa membuatnya dan harus selesai sebelum aku tiba di sana! aku berangkat dari sini mungkin jam 9 atau jam 10 pagi. Kamu prediksikan sendiri, jam berapa aku akan tiba di sana," titah Arick dengan tegas tak terbantahkan.


"Baik Tuan! anda tenang saja, karena aku memiliki teman yang ahli dalam hal itu. Sekarang aku akan menghubungi dia langsung,"


"Bagus!" Bibir Arick melengkung ke atas, tersenyum.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2