
Di lain tempat, Arend dan Alena sedang makan malam bersama di kediaman Arick dan Calista. Arick sengaja meminta saudara kembarnya itu untuk berkunjung ke kediamannya karena adiknya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di rumahnya. Selain alasan itu, Arick juga ingin melihat bagaimana sikap Arend sekarang. Apakah adiknya itu masih memiliki perasaan dengan Calista istrinya atau tidak.
"Wah, makanannya enak, apa ini semua kamu yang masak, Lis?" puji Alena, jujur.
"Emm, iya Al dibantu sama bibi. Tapi masa sih enak?" ucap Calista merasa tersanjung dengan puji Alena.
"Masakan kamu memang enak, Sayang. Jadi apa yang dikatakan oleh Alena itu benar." Arick buka suara, dengan ekor mata yang melirik ke arah Arend, untuk melihat perubahan wajah adiknya itu, apakah merasa cemburu atau bersikap biasa aja.
"Enak sih, tapi menurut aku masih kalah jauh dari masakan Alena," celetuk Arend yang membuat Calista mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Cih, sekarang aja, Kakak bilang kalau masakanku tidak enak, kalau dulu kamu selau bilang enak kok," protes Calista yang tidak terima dengan ucapan Arend.
"Hei, apa aku ada bilang kalau tidak enak? kan aku bilang enak. Tapi, bagiku masih lebih enak masakan Alena. Tidak salahkan, aku bilang seperti itu?" jawab Arend dengan alis yang bertaut tajam.
"Tapi, bagiku masakan Calista yang lebih enak dari masakan siapapun," Arick buka suara, berinisiatif untuk mendinginkan suasana, karena melihat kalau istrinya mulai panas.
"Ya iyalah, kamu kan belum pernah merasakan makanan yang dimasak sama Alena, jadi pastinya kamu akan memuji masakan istrimu sendiri," Arend tidak mau kalah.
Tanpa sadar, Alena memberikan cubitan kecil di paha Arend sambil menatap tajam ke arah suaminya itu.
"Wah, kamu sudah mulai berani ya, sekarang? kamu sudah merasa jadi jagoan ya," bisik Arend yang membuat Alena seketika tersadar dengan apa yang barusan dia lakukan.
Tatapan tajam Alena seketika berubah dengan tatapan yang memelas, seakan memberikan isyarat kalau dirinya sedang meminta maaf.
"Nih, kamu harus kuat makan, supaya badanmu tambah gemuk sedikit," Arend tiba-tiba menyuapkan makanan ke dalam mulut Alena.
Arick tersenyum tipis, dengan manik mata yang berbinar melihat Arend yang sepertinya sudah bisa melupakan rasa cintanya pada Calista.
"Kalau kamu mau berat badannya bertambah sedikit, sering-seringlah memberikan suntikan dengan suntik permanen yang kamu punya," Arick menimpali ucapan Arend yang bagi Alena sangat ambigu.
__ADS_1
"Suntik permanen?" Kening Alena berkrenyit, bingung, "emangnya kamu punya suntik permanen ya?" tanya Alena pada Arend dengan polosnya.
"Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan Arick. Sekarang habiskan makanan kami itu!" Arend mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ya pasti punyalah, Alena. Semua pria pasti memilikinya. Dan asal kamu tahu kalau rasanya disuntik dengan punya laki-laki itu rasanya berbeda jauh dengan jarum suntik biasa Jarum suntik laki-laki itu bisa membuat wanita __"
"Nih, makan! enak kan?" Arick dengan sigap memasukkan makanan ke dalam mulut Calista, untuk menghentikan celoteh istrinya itu.
Calista ingin sekali protes. Akan tetapi, dia langsung mengurungkan niatnya begitu melihat mata Arick suaminya yang mendelik tajam ke arahnya.
"Kamu tidak mungkin tidak tahu apa yang aku maksud, Alena. Bukannya hampir tiap malam kalian berdua __"
"Ehem, ehem!" Arick dengan sengaja terbatuk-batuk, untuk menghentikan ucapan Calista yang sepertinya masih berniat untuk melanjutkan ucapannya tadi.
Sementara itu, kening Alena terlihat berkerut karena masih bingung dengan ucapan Safira. Untuk beberapa saat wanita itu terdiam, berusaha untuk mencerna apa yang dimaksud oleh Calista. Mata Alena tiba-tiba membesar ketika akhirnya dia mengerti maksud jarum suntik permanen milik pria yang dimaksud oleh Calista.
Wanita itu langsung menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah, seketika merasa malu karena menurutnya pembicaraan seperti itu terlalu vulgar.
"Apaan sih, Kak?" Calista mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Kenapa buru-buru pulangnya? kalian lebih baik menginap di sini, karena aku butuh bantuanmu untuk menyelesaikan satu pekerjaan." ucap Arick.
"Kalau masalah pekerjaan, besok saja aku datang ke kantormu. Ini sudah malam, waktunya istirahat," tolak Arend, tegas seraya mendorong piringnya yang sudah kosong, lalu me-lap mulutnya dengan tissue.
"Kali ini aja, Rend. Ini benar-benar urgent dan harus selesai malam ini, karena besok pagi aku sudah janji bertemu dengan kliennya. Kamu tidak boleh membantah!" ucap Arick dengan nada tegas, dan mulai memperlihatkan powernya sebagai seorang kakak yang memerintah adiknya.
"Arghh, kamu mah selalu begitu!" ucap Arend dengan nada kesal, tapi tidak bisa membantah perintah Arick kakaknya.
Arick sama sekali tidak menggubris wajah Arend yang terlihat tidak senang. Pria itu hanya bisa terkekeh dan kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Iya, aku bantu. Tapi, aku dan Alena akan tetap pulang setelah pekerjaannya selesai. Titik tidak pakai koma," pungkas Arend to bisa terbantahkan.
"Kenapa sih memaksakan harus pulang malam ini? kamu takut tidak bisa begituan ya sama Alena, karena merasa tidak bebas? tenang aja, kamarnya dirancang kedap suara kok. Jadi kalian berdua mau berteriak, jungkir balik tidak akan ada yang__"
"Apa yang ada di dalam pikiranmu hanya ada aktivitas itu saja? bisa tidak kamu berpikiran yang lain?" cetus Arend dengan yang ketus.
"Hei, jangan berbicara ketus sama kakak ipar kamu!" tegur Arick dengan ekspresi wajah datar dan tatapan yang dingin.
Sementara itu, Alena malah salah menarik kesimpulan. Wanita itu, malah berpikir kalau Arend sekarang tengah cemburu dan kesal karena tidak sanggup mendengar pembicaraan aktivitas ranjang yang dilakukan oleh Calista dan Arick. Raut wajah Alena seketika berubah sendu membayangkan hal itu.
"Terima kasih, Sayang!" Calista mengecup pipi. Arick, karena mendapat pembelaan dari suaminya itu. Kemudian dia menjulurkan lidahnya ke arah Arend yang hanya mampu memutar bola matanya, jengah dengan sikap Calista.
"Harusnya, Kak Arend berterima kasih padaku. karena aku sudah membantu Alena untuk memilih pakaian dinas malamnya," ucap Calista ambigu.
"Pakaian dinas malam?" Alis Arend bertaut, bingung dengan pakaian dinas malam yang dimaksud oleh Calista.
"Kamu punya pakaian dinas malam emang?" Arend mengalihkan tatapannya ke arah Alena, meminta penjelasan.
"Pakaian dinas malam yang mana?" Alena ikut-ikutan bertanya, dengan mata yang memicing.
"Aduh, Kalian ini pura-pura bodoh ya? sok berlagak tidak tahu," Calista berdecak kesal dengan sepasang suami istri yang menurutnya sedang berpura-pura itu.
"Calista, please jangan buat aku semakin bingung! pakaian dinas apa yang kamu maksud?" desak Arend tidak sabar.
"Yang aku maksud itu, pakaian yang kata Alena pakaian kurang bahan, sangat tipis hingga menerawang. Kamu pasti suka kan pas Alena memakainya di dep__"
"Calista, please jangan bicara lagi!" Alena langsung menutup mulut Calista dengan tangannya, sebelum wanita itu menceritakan semuanya.
Arend tersenyum samar. Walaupun Calista tidak menyebutkan nama benda itu, namun pria itu sudah bisa mengambil kesimpulan kalau yang dimaksud oleh Calista itu pasti lingerie. Sementara itu, Alena melirik ke arah Arend dengan ekor matanya, dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Astaga, mudah-mudahan Arend tidak berpikir kalau aku sengaja membeli pakaian haram itu untuk menggodanya. Mulut Calista memang perlu dipasang filter," ucap Alena dalam hati yang disertai dengan umpatan pada Calista.
Tbc