
Arend dan Alena terlihat keluar dari kantor dinas sosial, setelah selesai mengurus surat adopsi yang sah terhadap baby Ivan. Ada binar bahagia yang tergurat di wajah Alena, setelah mendapatkan surat adopsi itu. Sekarang Mereka akan mengurus surat-surat yang lainnya, yaitu akta lahir baby Ivan.
"Sekalian aja kita urus KK kita, dan mengubah status di KTP," Arend mengeluarkan suara untuk yang pertama kalinya.
"Buat apa? bukannya nanti kita akan bercerai juga? jadi buat apa kita mengurusnya?"
Arend menghentikan langkahnya tiba-tiba, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alena.
"Apa kamu benar-benar mau bercerai denganku suatu saat?" tanya Arend dengan wajah datar dan sorot mata yang sangat tajam.
"Kenapa kamu malah menanyakan hal itu padaku? bukannya itu yang kamu mau?" Alena balik bertanya dengan kening yang berkerut.
Arend tidak menjawab sama sekali. Pria itu malah berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Alena sambil mengembuskan napas kesal.
"Dasar gila bin aneh!" umpat Alena dalam hati dan langsung menyusul Arend suaminya dengan sedikit berlari.
"Tuan, jalannya jangan cepat-cepat dong. Aku cape nih!" seru Alena dengan napas yang tersengal-sengal, setelah berada di samping Arend.
"Waktu itu adalah uang. Aku tidak bisa mengikuti cara jalanmu yang lambat seperti siput," ucap Arend dengan ketus.
"Siapa yang lambat? Tuan yang kecepetan jalannya," sahut Alena tidak mau kalah.
Arend berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Dia memilih untuk diam, daripada meladeni istrinya itu, karena dia tahu, kalau diladeni permasalahan tidak akan pernah selesai.
Tanpa mereka sadari, mereka kini sudah tiba diparkiran tepatnya di dekat mobil Arend. Pria itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Sementara itu, Alena berjalan memutar terlebih dulu untuk duduk di kursi samping Arend .
Arend langsung melajukan mobilnya, begitu Alena duduk dan memasang sabuk pengamannya.
Suasana di dalam mobil sangat hening, karena tidak ada yang mau membuka suara sama sekali. Hal ini membuat perasaan Alena sangat tidak nyaman. Dia ingin bertanya, tapi ketika melihat wajah Arend yang ditekuk, dan sama sekali tidak mau melihat ke arahnya, membuat nyalinya seketika ciut, dan akhirnya lebih memilih untuk menatap ke luar menyusuri jalanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Cantiks menepikan mobilnya di sebuah pekarangan rumah yang sangat besar, yaitu kediaman Kenjo dan Anin.
Wanita itu pun keluar dari dalam mobil dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah yang kebetulan tidak tertutup.
"Ka, Anin, aku datang!" seperti biasa, kalau Cantika datang berkunjung, suaranya pasti akan memenuhi segala sudut ruangan.
"Kamu tidak usah teriak! aku ada di sini," sahut Anin dari balik sofa. Sandaran sofa itu lumayan tinggi jadi tubuh Anin tertutup dengan sempurna, sehingga tidak akan ada yang tahu, ada orang yang duduk di sana, kalau orang yang bersangkutan tidak bersuara.
"Oh, Kakak ada di sini rupanya," ucap Cantika sambil mendaratkan tubuhnya duduk dia atas sofa.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba mau datang ke rumah? apa kamu mau membicarakan pernikahan Cakra dan Kalila?" tanya Anin, tanpa basa-basi terlebih dulu, membuat Kalila yang awalnya hendak bergabung, menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk mendengar dari tempatnya tanpa sepengetahuan Anin mamanya dan Cantika. Hatinya tiba-tiba terasa berbunga-bunga, mendengar topik pembicaraan kedua wanita setengah baya itu.
Cantika bergeming. Tenggorokannya seperti tercekat sehingga sedikit sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
"Boleh dikatakan seperti itu, Kak. Tapi ...." Cantika menggantung katanya, merasa berat untuk mengatakannya.
"Tapi apa?" alis Anin bertaut tajam, curiga dengan sikap Cantika yang sepertinya ragu-ragu.
"Aku mau minta maaf, Kak. Cakra menolak perjodohan ini. Aku juga bingung kenapa dia tiba-tiba berubah tidak bersedia," ucap Cantika dengan lirih dan raut wajah yang sendu.
"Apa dia sudah memiliki seorang wanita yang dia cintai, makanya dia tidak mau?" tanya Anin, berusaha untuk bersikap biasa, walaupun dirinya benar-benar sangat kecewa.
"Aku tidak tahu, Kak. Dia sendiri tidak pernah mengatakan sesuatu mengenai dia yang sudah memiliki seorang kekasih atau tidak. Aku benar-benar bingung, Kak kenapa tiba-tiba dia bisa seperti itu,"
Anin terdiam untuk sepersekian detik seperti memikirkan sesuatu. Detik berikutnya, dia menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Sebenarnya aku sangatlah kecewa dengan hal ini, karena sejujurnya sebagai seorang ibu, aku bisa melihat kalau Kalila, memiliki perasaan suka pada Cakra. Dia begitu antusias menjawab 'ya' ketika aku bertanya kesediaannya untuk menikah dengan Cakra. Sekarang, aku bingung bagaimana caranya untuk mengatakan padanya, kalau perjodohan mereka berdua batal," tutur Anin panjang lebar.
"Maafkan aku, Kak! aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku juga merasa kalau Cakra itu menyukai Kalila, makanya aku sangat bingung kenapa dia bisa menolak perjodohan ini," jelas Cantika dengan nada yang penuh dengan rasa bersalah.
Jangan lupakan, Kalila yang tiba-tiba meneteskan air mata, mendengar batalnya dia menikah dengan pria yang dia sukai sejak dulu.
__ADS_1
"Sudahlah! kita juga tidak mungkin memaksa Cakra. Aku juga tidak mau, putriku dinikahi karena terpaksa," ucapan Anin, semakin membuat air mata Kalila mengalir deras.
"Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf, Kak!" desis Cantik lirih.
"Buat apa kamu minta maaf? kamu itu tidak salah sama sekali. Mungkin anak kita tidak berjodoh seperti kemauan kita," ucap Anin, bijaksana.
"Cuma, sekarang aku harus memikirkan, bagaimana caranya memberitahukan hal ini pada Kalila," ujar Anin dengan wajah muram.
"Mama tidak perlu susah-susah untuk memikirkannya! aku baik-baik saja kok," tiba-tiba Kalila muncul dengan bibir yang tersenyum, setelah terlebih dulu menyeka air matanya.
Anin dan Cantika tersentak kaget dan langsung menatap ke arah munculnya Kalila.
"Kalila! kamu sudah mendengar semuanya, Sayang?" tanya Anin dengan raut wajah yang khawatir.
"Iya. Aku sudah mendengar semuanya. Aku baik-baik saja, Mah, Tante. Jadi, kalian berdua tidak perlu khawatir tentang aku," Kalila tersenyum manis, berusaha untuk menunjukkan kalau dirinya itu tidak merasa terluka sama sekali.
"Tapi kamu ...." Anin menggantung ucapannya.
"Tapi aku mencintai Cakra? itu kan yang mama maksud? Aku tidak pernah jatuh cinta pada Cakra, Ma," ucap Kalila, berbohong.
Anin menatap intens ke arah Kalila, untuk mencari kebenaran di mata putrinya itu. Akan tetapi dia sedikit mengalami kesulitan untuk membaca raut wajah Kalila, karena putrinya itu, masih memasang wajah ceria
"Jangan berpura-pura bahagia, Sayang? dugaan mama tidak mungkin bisa salah," ucap Anin.
"Aku serius, Mama. Kemarin aku mengatakan bersedia menikah dengan Cakra, karena ingin membuat mama bahagia, itu aja."
"Jadi, kalau mama memintamu untuk menikah dengan Carlos, apa kamu bersedia?" pancing Anin, yang tidak benar-benar dari hatinya. Dia hanya ingin melihat reaksi putrinya itu.
"Kalau Carlos mau, ya aku juga mau-mau aja," jawab Kalila tegas."
Tbc
__ADS_1
Please jangan lupa buat tetap ninggalin jejak dong, guys. Dengan kasih like, dan komen. jangan lupa buat vote juga ya 🙏🏻