
Cakra keluar dari kamar mandi setelah dirinya selesai mandi. Pria itu mengrenyitkan keningnya begitu melihat pakaian kerjanya sudah tergeletak di atas ranjang lengkap dengan pakaian dalam dan dasi. Padahal jelas-jelas tadi sewaktu dia bangun dan masuk ke dalam kamar mandi, sudah tidak ada siapa-siapa di dalam kamar itu selain dirinya.
Senyum di bibir pria itu seketika mengembang dan langsung mengenakan pakaian yang dia yakin pasti disediakan oleh sang istri.
"Ternyata dia tidak secuek yang aku pikirkan," gumam Cakra sambil mengenakan pakaian pilihan sang istri yang menurutnya sesuai dengan yang dia suka.
"Tapi kapan dia nyiapin ini ya? bukannya dia tadi sudah tidak ada di dalam kamar? kalau dia masuk pas aku lagi mandi, bagaimana dia bisa tahu kalau aku sudah bangun dan sedang mandi? atau, jangan-jangan sebenarnya tadi dia sembunyi di suatu tempat dan keluar dari persembunyiannya, ketika aku masuk ke dalam kamar mandi? kalau iya, lucu deh dia." Cakra tersenyum geli sambil tetap berceloteh sampai dia selesai memasangkan ikat pinggangnya.
Setelah dirinya terlihat rapi pria itu pun memutuskan untuk keluar dari kamar tanpa memakai dasinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara sepatu yang berbenturan dengan lantai, mengalihkan perhatian Safira dari masakan yang ada di depannya. Wanita itu melihat Cakra yang sedang melangkah ke arahnya dengan pakaian yang disiapkan olehnya tadi. Seulas senyuman tipis yang hampir tidak terlihat, terbit di bibir wanita itu. Dia merasa bahagia karena Cakra menghargai pilihannya.
Tubuh Cakra terbalut dengan kemeja berwarna navy yang dipadupadankan dengan jas berwarna hitam. Walaupun, Safira sudah biasa melihat Cakra yang selalu tampil dengan gagah, tapi dirinya tidak bisa memungkiri kalau dia akan selalu kagum dengan ketampanan yang dimiliki oleh Cakra suaminya.
Cakra tersenyum ke arah Safira sembari menghampiri meja makan. Senyumnya semakin mengembang ketika dia melihat, sudah tersedia sarapan pagi yang menurutnya sangat menggugah selera. Apalagi ini adalah sarapan pertama yang dibuat oleh Safira setelah mereka resmi menjadi suami istri.
"Sepertinya enak? apa ini bisa aku makan?" tanya Cakra basa-basi
"Jadi menurutmu itu buat siapa? nggak mungkin kan buat tetangga sebelah," Safira menjawab dengan ketus sembari mengerucutkan bibirnya.
Cakra terkekeh dan langsung mendaratkan tubuhnya duduk di kursi. "Kali aja kan, kamu buatnya bukan untukku, karena
kita tahu sendiri kalau kamu itu benci aku,"
"Siapa bilang aku benci kamu? aku __"
"Jadi kamu tidak membenciku lagi?" sela Cakra. "Apa itu berarti kamu sudah memaafkanku?" imbuh pria itu dengan antusias.
"Kamu mau makan apa? aku akan ambilkan untukmu," Safira mencoba mengalihkan pembicaraan.
Cakra mengembuskan napas kecewa, melihat Safira yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kamu tidak menjawab apa yang aku tanyakan? kenapa kamu sengaja mengalihkannya? apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkanku ya?"
__ADS_1
Safira menggigit bibirnya, tiba-tiba merasa tidak enak hati melihat kekecewaan di wajah Cakra. Wanita itu pun menyunggingkan senyumnya yang kali ini terlihat tulus. " Sebenarnya aku sudah memaafkanmu setelah aku tahu kalau apa yang terjadi bukan murni karena kesalahanmu. Kita berdua sama-sama korban di sini. Jadi, kamu jangan merasa bersalah lagi! sekarang aku mengganggap kalau ini adalah jalan agar kita berjodoh," Safira berucap dengan diplomatis dan kali ini benar-benar dari dalam hati.
"Apa kamu serius? kamu tidak bercanda kan?" Cakra menatap wajah istrinya, memastikan apa yang dia dengar barusan. Senyum di bibir pria itu seketika mengembang begitu melihat Safira yang menganggukkan kepalanya.
"Apa itu berarti kamu sudah menerimaku dengan tulus?" lagi-lagi Safira menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Cakra bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk istrinya itu dengan erat.
"Terima kasih! terima kasih, Fira!"
"Udah dong peluknya. Aku benar-benar tidak bisa napas ini,"
"Aduh, maaf!" Cakra sontak melerai pelukannya dan kembali ke tempat duduknya. Kecanggungan seketika tercipta untuk sepersekian detik di antara mereka berdua.
"Kamu mau makan apa?" Safira buka suara, menghentikan situasi awkward yang sempat tercipta di antara mereka.
"Emm, aku mau makan nasi putih aja dengan ayam goreng itu, dan sambal."
"Tapi tidak ada nasi putih yang biasa," ucap Safira dengan suara yang pelan sambil menggigit bibirnya.
"Ah? jadi itu apa?" Cakra menunjuk ke arah nasi yang ada di depan Safira.
"Wah, siapa bilang aku tidak suka? aku sangat suka nasi uduk. Aku mau nasi uduknya,"
Safira, tersenyum dan terlihat semangat menyendokkan nasi uduk buatannya ke dalam piring Cakra. Kemudian, wanita itu meletakkan ayam goreng di atasnya dan juga menambahkan sambal dan orek tempe.
Cakra terlihat makan dengan lahap, sehingga tidak perlu membutuhkan waktu lama, makanan pria itu sudah habis tanpa ada sisa. Hal ini tentu saja membuat hati Safira senang.
Safira menatap intens ke arah Cakra. Wanita itu ingin sekali bertanya tentang kebenaran ucapan Cakra tadi malam. Akan tetapi, mulut wanita itu seakan kelu, dan malu untuk menanyakannya.
"Aku mau ke kantor sekarang!" celetuk Cakra menyadarkan Safira dari alam bawah sadarnya.
"Oh, iya, Hati-hati! " jawab Safira setelah dirinya bisa menetralisir rasa kagetnya.
"Apa kamu tidak mendengar? aku mau pergi ke kantor sekarang!" Cakra mengulangi ucapannya.
__ADS_1
"Iya, aku tahu. Aku kan sudah bilang iya tadi?" Safira mengrenyitkan keningnya bingung dengan sikap suaminya.
"Emm, apa kamu tidak melihat kalau ada yang kurang dengan penampilanku?" ucap Cakra ambigu.
Safira melihat tubuh Cakra dari atas sampai ke bawah. "Sepertinya tidak ada, Mas. Emang kenapa?"
"Emm, tidak ada ya? apa kamu tidak melihat kalau aku belum pakai dasi?" Cakra terlihat hati-hati saat berbicara.
"Emm, iya ya? tapi apa kaitannya, dia tidak memakai dasi denganku? dia tidak sedang menyuruhku memasang dasinya kan?" bisik Safira pada dirinya sendiri.
"Bisa tidak kamu pasangkan dasiku? biasanya mama yang masangin, karena aku tidak bisa memasang dasi sama sekali," Cakra sengaja membawa-bawa nama Cantika, memberikan alasan agar Safira mau memasangkan dasi untuknya. Padahal pria itu sebenarnya sudah terbiasa memasang dasi sendiri
Safira menarik napasnya dalam-dalam, dan mengembuskan pelan-pelan. Kemudian, wanita itu beranjak dari tempat dia duduk, menghampiri Cakra, lalu meraih dasi dari tangan suaminya itu.
Tubuh Cakra yang tinggi membuat Safira sedikit berjinjit untuk bisa meraih kerah kemeja Cakra. Akan tetapi, walaupun dia sudah berjinjit tetap saja Safira mengalami kesulitan.
"Emm, bisa nggak kamu menunduk sedikit, Mas? Aku cukup susah memasang dasinya,"
"Kenapa sih kamu bisa pendek? makanya jangan tidur, pas diminta untuk ngambil tinggi dulu, ledek Cakra seraya membungkukkan tubuh jangkungnya.
Safira tidak menjawab sama sekali. Wanita itu hanya mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan ucapan Cakra yang menurutnya sedang meledeknya.
Hembusan napas ber-aroma mint yang keluar dari mulut Cakra membuat tubuh Safira sedikit meremang, sehingga kedua tangan wanita itu sedikit gemetaran saat memasangkan dasi itu.
Bukan hanya Safira, yang merasakan getaran, Cakra juga merasakan hal yang sama. Jarak mereka yang terlalu dekat, membuat mata Cakra tidak bisa lepas dari bibir merah chery milik istrinya itu. Bibir Safira yang sedikit terbuka itu, seakan memiliki magnet, hingga membuat kepala Cakra semakin menunduk ingin segera melu*mat bibir milik istrinya itu.
"Su-sudah selesai, Mas! " Suara Safira seketika membuyarkan keinginan Cakra, yang hampir saja tidak bisa menahan hasratnya.
Cakra seketika merasa canggung. Pria itu berdeham untuk menetralkan perasaannya gugupnya.
"Astaga! bisa-bisanya aku hampir mencium dia. Untung tidak jadi. Aku tidak bisa membayangkan kalau nantinya Safira akan kembali membenciku hanya karena aku menyerangnya tiba-tiba," batin Cakra sambil buru-buru mengalihkan tatapannya dari Safira.
"Kamu kenapa, Mas? " tanya Safira dengan alis yang sedikit terangkat ke atas.
"Oh, aku tidak ada apa-apa," Cakra terlihat gugup."
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" ucap Cakra yang tanpa sadar mengecup kening Safira sambil berlalu pergi. Kini Safira yang tercenung, membeku di tempatnya dengan mata yang membesar, kaget dengan perlakuan Cakra barusan.
Tbc