Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Arick tahu yang sebenarnya


__ADS_3

"Cakra, kenapa makanannya tidak kamu habiskan? apa makanannya tidak enak?" tanya Kama dengan kening yang berkerut, melihat pemuda itu yang hanya mengaduk-aduk makanan di depannya.


"Emm, bukan tidak enak, tapi aku sudah kenyang,"jawab Cakra dengan senyum yang terlihat terpaksa.


Arick melihat ke arah piring Cakra yang terlihat hanya berkurang sedikit.


"Sepertinya kamu baru makan sedikit deh. Makanan kamu saja masih banyak tuh," ucap Arick sembari menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Tapi, aku benar-benar sudah kenyang, Sob." ujar Cakra, mendorong piringnya sedikit jauh.


"Aku juga sudah kenyang," Carlos buka suara, lalu meminum minumannya kemudian melap mulutnya dengan lap yang sudah disediakan.


"Kamu sepertinya buru-buru, ada apa?" Arick mengrenyitkan keningnya.


"Aku lupa, ternyata aku ada janji untuk fitting baju pengantin sama Kalila. Aku duluan ya," Carlos beranjak dengan sedikit berlari tanpa menunggu jawaban dari Arick, Kama dan Cakra.


"Astaga! itu berarti dia lupa sama kakakku. Belum nikah aja, sudah lupa sama janji. Gimana nantinya kalau sudah nikah? jangan-jangan dia bisa lupa kalau sudah punya istri," ucap Kama, dengan nada kesal yang disambut dengan kekehan Arick, sedangkan Cakra hanya tersenyum kecut.


"Aku juga mau pamit pergi duluan. Aku ada janji dengan klien sore ini," Cakra berdiri dan langsung melangkah pergi setelah Arick dan Kama menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Hmm, sepertinya Cakra terlihat mulai putus asa. Safira sama sekali tidak bersedia menikah dengannya," ucap Kama, merasa prihatin disusul dengan helaan napas yang cukup berat. Sementara itu Arick tidak memberikan jawaban, pria itu juga ikut menghela napasnya dengan berat.


Kemudian kedua pria itu melanjutkan makan siang mereka. Kama berkali kali melirik ke arah tempat di mana Arend membawa Alena.


"Kenapa Arend belum keluar? apa Arend mengajak Alena untuk melakukan yang begituan di ruangan itu," bisik Kama pada dirinya sendiri.


"Kamu liatin apa?" celetuk Arick dengan kening yang berkerut,curiga.


"Aku tidak lihat apa-apa. Aku hanya ingin melihat kenapa Arend dari tadi belum keluar-keluar dari ruangan itu. Menurutmu apa yang mereka lakukan di dalam sana?" tanya Kama dengan nada yang sangat pelan, mirip seperti bisikan.


"Mereka suami, istri. Jadi terserah mereka mau ngapain. Mereka mau melakukan proses penciptaan juga tidak apa-apa. Mereka suami istri ini," ujar Arick dengan santai.

__ADS_1


"Masa iya sih, mereka melakukan proses penciptaan bayi di sini? kalau iya, kenapa dari tadi tidak ada suara jeritan dari Alena ya," Kama menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.


"Kenapa Alena harus menjerit? kamu ini aneh-aneh saja," Arick berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Karena, aku tahu kalau mereka berdua pasti belum pernah melakukan hubungan layaknya suami-istri. Kalau memang benar mereka melakukannya sekarang di ruangan itu, untuk pertama kali, wanita pasti menjerit kan?" tutur Kama, dengan nada yang sangat yakin.


Alis Arick sontak bertaut dengan tajam. Dia merasa ucapan Kama, sangat membingungkan


"Maksud kamu apa? mereka tidak mungkin kan baru melakukannya sekarang?" tanya Arick dengan tatapan menyelidik.


Kama terdiam sambil memukul mulutnya yang keceplosan. Dia tidak tahu mau menjawab apa lagi pada pertanyaan Arick.


"Kama, apa ada yang kalian sembunyikan?" tanya Arick dengan sorot mata yang tajam. Pria itu sebenarnya sampai sekarang masih sulit untuk percaya, dengan cepatnya Arend move-on dari Calista istrinya.


Kama menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskan kembali ke udara dengan cukup panjang. Kemudian dia menatap ke Arah Arick yang masih setia menunggu penjelasan dari dirinya.


"Hmm, sebenarnya Arend menikahi Alena supaya kamu bisa menerima Calista seutuhnya. Karena aku pernah memberi tahukan padanya kalau kamu tidak akan pernah bisa menerima Calista seutuhnya, sebelum melihat Arend benar-benar move on dari Calista," jelas Kama, diam sejenak.


Arick terhenyak sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ini tidak boleh jadi. Aku harus menemuinya. Ini sama saja dia secara tidak langsung mempermainkan pernikahan dan seorang wanita. Papa dan mama juga harus tahu masalah ini," Arick hendak beranjak dari kursinya. Akan tetapi, Kama dengan sigap langsung menahan tubuh Arick.


"Jangan, Rick! percuma, karena sebenarnya Om Aby sudah tahu semuanya. Bahkan ketika mereka yang terlihat panik dan memintamu menikah dengan Calista, hari itu hanya pura-pura. Om Calvin juga saat itu juga sedang berakting."


Mata Arick membesar, mendengar ucapan Kama. Dia tidak menyangka kalau selama ini dia sedang dipermainkan.


"Jadi, pernikahanku dengan Calista sudah direncanakan Arend sejak awal?" Kama menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Tidak boleh dibiarkan ini. Aku harus tetap menemuinya sekarang," Arick kembali berdiri dari kursinya.


Kama kembali menahan tubuh Arick dan mendudukkan pria itu kembali.

__ADS_1


"Aku bilang jangan ya jangan. Memang dia menikahi Alena karena sebuah kesepakatan. Tapi, apa kamu tidak melihat kalau Arend sepertinya sudah mulai memiliki perasaan pada Alena?" Arick bergeming dan dalam hati membenarkan Kama.


" Aku awalnya menyukai Alena, tapi Om Aby tahu dan memberikan aku pengertian. Om Aby dari awal sudah tahu kesepakatan Arend dan Alena. Makanya sebelum menikah, Om Aby mengatakan akan menyetujui pernikahan


mereka kalau Arend berjanji tidak akan menceraikan Alena," jelas Kama kembali.


"Apa sekarang kamu masih menyukai Alena?" Arick bertanya dengan kening yang terangkat ke atas, menyelidik.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? aku justru ingin mereka benar-benar bersatu. Kamu tahu alasan kenapa aku terlihat seperti mendekati Alena? aku ingin membuat Arend cemburu, dan sepertinya aku mulai berhasil. Dan apa kamu tahu, ini ide dari siapa?" Arick mengelengkan kepalanya.


"Om Aby! Om memintaku untuk tetap terlihat seperti mengejar-ngejar Alena, sampai Arend kebakaran jenggot sendiri dan cemburu padaku," jelas Kama


"Apa yang kamu minta sama papa, sebagai imbalannya?" celetuk Arick tiba-tiba.


"Imbalan apa maksudnya? Aku __"


"Jangan sok polos deh! pasti kamu tahu apa yang aku maksud. Kamu pasti minta sesuatu kan sama papa?" tanya Aby


Kama seketika cengengesan, mendengar tebakan Arend yang tidak meleset sama sekali.


"Kamu tahu aja, Rick. Aku tidak minta banyak kok. Aku hanya minta salah satu koleksi mobil sport milik om Aby, dan Om Aby sudah menyetujuinya.


"What? papa menyetujuinya mobil sport mana yang kamu minta dari papa? tanya Arick.


"Aku meminta yang Bugatti Divo dan Om Aby __"


"Apa?! jadi papa bersedia memberikannya pada mu?" Kama menganggukkan kepalanya dengan bangga.


"Itu sama aja kamu, memeras papaku, Kama. Kamu tahu harga mobil itu kan? 86,3 miliar Kam." Arick mengusap wajahnya dengan kasar.


"Memeras apanya? kata om Aby, harga dari mobil itu tidak sebanding dengan kebahagiaan putra-putranya," jawab Kama dengan santai.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2