
Hari yang sangat ditunggu oleh Cakra sudah tiba. Dimana dirinya akan meresmikan hubungannya dengan Safira sebagai pasangan suami istri.
Pagi tadi keduanya sudah mengucap janji sehidup semati, yang berarti keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.45, yang berarti 15 menit lagi acara resepsi kedua insan itu akan segara dimulai.
"Kamu cantik sekali, Fira!" ucap Tasya dengan manik mata yang berkilat-kilat karena sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan dari wadahnya. Wanita itu tidak pernah menyangka kalau sahabatnya itu sudah sah menjadi seorang istri seorang pengusaha sukses, walaupun Safira selalu mengatakan kalau semua ini hanya demi kedua anaknya bisa mendapatkan identitas dan masa depan yang cerah. Akan tetapi apa yang dilihat oleh Tasya lebih dari situ, hanya saja wanita itu belum menyadari perasaannya.
Safira tersenyum lebar dan melirik ke arah kaca. Benar saja, wanita itu melihat dirinya yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Apa ini aku? kenapa aku bisa secantik ini?" tanya Safira yang tampak takjub pada dirinya sendiri.
"Kamu kan memang cantik. Kamu aja yang tidak menyadarinya," sahut Tasya seraya mengulum senyumnya.
Senyum di bibir Safira kembali terbit dan lebih lebar dari sebelumnya. "Terima kasih, Tas. Asal kamu tahu, kami juga tampak sangat cantik malam ini!" puji Safira dengan jujur sambil memeluk sahabatnya itu.
"Hmm, gaun ini hadiah dari Tante Celyn dan aku dirias sama Kalila." sahut Tasya yang juga tampak mengagumi penampilannya yang benar-benar sesuai dengan kemauannya. Sederhana tapi elegan.
"Wah, sepertinya kamu sudah akrab ya sama calon kakak iparmu itu. Riasannya benar-benar bagus,"
Tasya mendengus dan mengerucutkan bibirnya karena Safira menyebut Kalila yang notabene merupakan kakak perempuan Kama, kakak iparnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu cemberut? Kalila memang calon kakak iparmu kan? atau kamu masih belum bisa menerima Kama?" Mata Safira memicing, menyelidik.
"Hmm, entahlah!" Tasya mengangkat bahunya.
"Kenapa kita jadi membicarakan dia, sih? gak penting amat." sambung Tasya, sengaja mengalihkan pembicaraan. "sebentar lagi kita akan keluar. Kamu mau aku panggilkan Cakra?" tanya Tasya kembali.
"Safira! kamu cantik sekali, Nak!" tiba-tiba seorang wanita setengah baya muncul di depan pintu, hingga membuat Safira dan Tasya sontak melihat ke arahnya.
"Mau apa, Tante datang ke sini? dan siapa yang memberikan undangan untuk Tante?" cetus Tasya yang langsung berdiri di depan Safira.
"Hei, siapa kamu yang bertanya seperti itu padaku? aku ini mamanya, jadi aku pantas datang ke sini." jawab Wanita itu dengan angkuh dan menatap sengit ke arah Tasya.
"Lebih tepatnya mama tiri dan semenjak papa Safira meninggal dan anda membuang anak Safira, anda bukan lagi mamanya Safira. Jadi, aku harap anda bisa perginya dari sini! Please jangan ganggu kebahagiaan, Safira!" Tatapan Tasya begitu sengit. Wanita itu benar-benar seperti ingin menelan hidup-hidup wanita yang ada berdiri di depannya itu. Wanita yang menurutnya benar-benar tidak tahu malu.
"Siapa kamu, bisa bicara seperti itu padaku? kamu sama sekali tidak punya hak. Minggir kamu! aku mau bicara dengan Safira! Wanita itu hendak mendorong tubuh Tasya ke samping. Akan tetapi, Tasya tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.
"Kamu ya! benar-benar kurang ajar!". Wanita itu mengayunkan tangannya hendak menampar wajah Tasya. Akan tetapi, Tasya dengan sigap menangkap tangan wanita itu, sehingga pukulannya terhenti di udara.
"Tante, sekali lagi aku mengatakan, tolong pergi dari sini! tidak kah kamu lihat, kalau Safira sendiri tidak mau bicara bahkan melihat anda pun tidak mau? harusnya anda malu. Aku tahu, anda mau mendekati Safira lagi, karena Fira menikah dengan orang kaya. Iya kan? Anda berharap dengan bisa mendekati Fira lagi, anda bisa berfoya-foya seperti dulu lagi, iya kan?"
Wajah ibu tiri Safira memerah. Wanita itu benar-benar sangat marah sekarang mendengar penghinaan Tasya. Akan tetapi, dia tidak bisa menyangkal karena apa yang dikatakan oleh sahabat Safira itu sangat benar.
"Awas kamu ya! Safira! apa kamu benar-benar tidak mau bicara lagi dengan mama?" seru Wanita itu, sambil menatap Safira yang berdiri di balik tubuh Tasya.
"Kita sama sekali tidak punya urusan lagi. Kita sama sekali tidak punya hubungan. Jadi, anda bisa keluar dari sini!" ucap Safira dengan dingin tanpa menatap ke arah wanita yang pernah menjadi ibu tirinya itu.
__ADS_1
"Kamu benar-benar anak tidak tahu diuntung. Kamu lupa kalau aku yang sudah membesarkammu sampai bisa seperti ini. Coba kalau dulu aku meninggalkanmu, kamu pasti sudah menjadi gelandangan di jalananan,"
"Tapi apa anda lupa, kalau anda sengaja tidak membuangku di jalanan, karena anda bisa memanfaatkan tenagaku untuk mencari Uang buat anda? apa anda lupa, kalau semua harta papaku habis disebabkan oleh keserakahan anda? Aku memang hidup dengan anda, tapi hidupku sama saja seperti gelandangan. Bahkan untuk biaya sekolah saja, aku usahakan sendiri. Aku harap anda tidak lupa dengan semua itu," sindir Safira dengan sarkastik.
Wanita itu tampak terdiam, tidak bisa menyangkal lagi. Dengan kekesalan yang amat sangat, wanita itu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Impiannya untuk bisa menjadi hidup mewah lagi seketika hilang.
"Terima kasih ya, Tas! kamu selalu ada buat menjadi pelindungku!" ucap Safira.
"Kamu jangan bilang seperti itu! aku yakin di saat aku sedang kesusahan juga, kamulah yang selalu hadir untuk membantuku. Sekarang bukan hanya aku yang akan melindungimu lagi. Akan ada Cakra dan keluarganya yang pastinya akan maju pertama kali untuk melindungimu," ucap Tasya seraya tersenyum tulus.
Brak ....
"Kamu tidak apa-apa? kamu diapain sama wanita itu? kamu baik-baik saja kan?" tanya Cakra beruntun, sambil memutar-mutar tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Setelah kepergian Ibu tiri Safira tiba-tiba Cakra masuk dengan raut wajah yang khawatir karena ketika dia berjalan hendak menuju ruangan Safira, pria itu melihat ibu tiri Safira keluar dari ruangan istrinya itu.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Cakra lagi, karena tidak mendapatkan jawaban dari Safira sama sekali.
" Bagaimana aku mau jawab. Kamu saja bertanya cepat sekali. Kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menjawab." Safira mengerucutkan bibirnya.
"Emm, Maaf! aku tadi melihat ibu tirimu keluar dari ruangan ini, jadi aku khawatir ibu tirimu itu berbuat yang aneh-aneh padamu," jawab Cakra yang sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari tubuh sang istri.
"Darimana kamu tahu, kalau itu ibu tiriku? aku kan belum pernah mengenalkannya padamu atau pada siapapun?" Alis Safira tertaut tajam, menatap curiga pada Cakra.
"Kamu jangan menatapku seperti itu! kamu memang belum pernah mengenalkannya, tapi kamu jangan lupa siapa aku. Tentu saja aku menyelidiki siapa ibu tirimu, Supaya dengan mengenal wajahnya, aku bisa melakukan antisipasi jika wanita itu mendekati dan melakukan hal yang membahayakan buat kamu dan anak-anak kita," jawab Cakra menggantikan kecurigaan Safira menjadi rasa haru.
__ADS_1
Tbc
Please untuk tetap meninggalkan jejaknya dong guys. Like, vote dan komen. Hadiah juga diterima dengan senang hati 🙏🏻😍🤗