Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Baiklah, aku akan merawatmu!


__ADS_3

"Safira, kenapa kamu ada di sini, Nak?" Cantika mengrenyitkan keningnya, melihat Safira yang tiba-tiba muncul di rumahnya di jam kerja seperti ini.


Safira terlihat gugup mendapat pertanyaan dari Cantika. Kegugupannya terlihat dari dia menggigit bibirnya dan meremas kedua tangannya.


"Hmm ... emmm ... gini, Tan,. aku mau melihat keadaan Cakra," ucap Safira gugup.


"Cakra? emangnya kenapa dengan anak itu?" gumam Cantika yang benar-benar merasa bingung dengan ucapan wanita ibu dari kedua cucunya itu.


"Kata Arend dia __"


"Safira, kamu kenapa ada di sini?" tiba-tiba Cakra muncul dengan duduk di kursi roda.


Safira sontak menatap ke arah datangnya suara. Wanita itu kaget, tidak menyangka kalau kakinya Cakra bisa sampai separah itu. Bukan hanya Safira yang kaget, Cantika juga tidak kalah kagetnya dengan Safira. Wanita itu bukan hanya kaget, dia juga bingung melihat Cakra yang 10 menit tadi baru pulang dari kantor dan masih terlihat baik-baik saja tiba-tiba sekarang sudah ada di atas kursi roda.


"Cakra kamu ...." Cantika tidak jadi bertanya, begitu melihat isyarat dari mata putranya itu. Beruntungnya Cantika bisa langsung mengerti maksud dari kode yang diberikan oleh Cakra.


"Pantasan dia cepat pulang dari kantor, dasar anak ini," bisik Cantika pada dirinya sendiri.


"Cakra kamu kok bisa ada di sini, Nak. Kamu kan harusnya istirahat di kamar." Cantika yang memang ahli berakting langsung mempraktekkan bakat aktingnya di depan Safira. Sementara itu, Cakra menghela napas lega, karena sandiwaranya tidak terbongkar. Beruntung tadi Arend menghubunginya dan memberitahukan kalau Safira sudah dalam perjalanan menuju rumahnya, sehingga dia bisa melakukan semua persiapan.


"Kenapa bisa separah itu? benar-benar tidak masuk akal. Kan cuma nendang pintu mobil?" gumam Safira, merasa ada kejanggalan.


"Mobilku itu bukan mobil murah, tapi mobil mahal. Pintunya itu terbuat dari material yang berbeda dari mobil biasa, jadi sangat keras. Seandainya aku tidak dilupakan dan harus pulang dengan memaksa menggunakan kaki, mungkin tidak akan separah ini." ucap Cakra yang sengaja mendramatisir keadaan.


Safira menundukkan kepalanya, percaya begitu saja dengan ucapan Cakra. Bahkan saat ini, wanita itu dilingkupi oleh rasa bersalah dan tidak enak hati pada Cantika.

__ADS_1


"Maaf!" desisnya lirih.


"Kenapa tadi malam kamu tidak keluar lagi? apa segitu bencinya kamu padaku sampai- sampai kamu __"


"Bukan begitu! tadi malam aku kelupaan karena terlalu lapar, jadi aku makan makanya sampai bisa melupakanmu," Safira langsung menyela ucapan Cakra, supaya pria itu tidak salah paham.


"Oh, begitu! apa kamu kira aku juga tidak lapar?" Cakra masih berpura-berpura memasang wajah kesalnya.


" Ya, Maaf!" ucap Safira dengan mengerucutkan bibirnya, "kalau begitu apa yang perlu aku lakukan sebagai permintaan maafku?" lanjut wanita itu kembali.


Cakra tidak langsung menjawab, dia pura-pura seperti sedang berpikir. Ingin dia mengatakan kalau yang bisa dilakukan oleh Safira adalah dengan bersedia menikahinya. Akan tetapi dia tidak mau nantinya Safira menganggap dirinya mengambil kesempatan


"Hmm, aku mau kamu merawatku sampai aku bisa berjalan lagi," putus Cakra akhirnya.


Safira membesarkan matanya, terkesiap kaget mendengar permintaan Cakra yang menurutnya sangat merugikan untuknya. Sementara itu Cantika tersenyum samar melihat sandiwara putranya itu.


"Ya udah, kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa. Kamu bisa pulang sekarang!" Cakra sengaja memutar kursi rodanya membelakangi Safira dan bersiap-siap untuk pergi.


"Hmm, bukannya aku tidak mau, tapi kamu tahu sendiri kalau aku harus bekerja di restorannya Alena. Jadi tidak mungkin aku bisa merawat kamu sepanjang hari." celetuk Safira, sebelum pria itu benar-benar pergi.


"Untuk urusan itu, bisa dibicarakan dengan Alena nantinya. Bilang saja kalau kamu hanya ingin memberikan alasan, agar bisa tidak merawatku," ucap Cakra yang masih tetap pada posisi membelakangi Safira.


"Bukan seperti itu! kalau aku tidak bekerja, bagaimana nanti aku bisa memberikan anak-anakku makan?"


Cakra sontak memutar kembali kursi rodanya, mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Safira, yang terkesan tidak menghargai dirinya sebagai ayah dari Ivan dan Ian.

__ADS_1


"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? apa menurutmu mereka hanya penting untukmu saja dan aku tidak? apa menurutmu aku akan lepas tangan atas kelangsungan hidup mereka? segitu rendahnya kah diriku di pikiranmu?" Tatapan Cakra terlihat sangat tajam dan rahang mengeras melihat ke arah Safira.


"Astaga, kok jadi begini sih tanggapannya?" batin Safira, gusar. Padahal wanita itu, hanya ingin memancing Cakra untuk kembali memintanya untuk menikah dengannya. Karena dia merasa gengsi untuk mengatakan Kalau dirinya sebenarnya sudah bersedia untuk menikah dengan pria di depannya demi anak-anak mereka.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Safira. Tante juga kecewa dengan perkataanmu. Sepertinya kamu menganggap kalau kami akan lepas tangan begitu saja pada Ivan dan Ian," Cantika buka suara dengan raut wajah kecewa.


"Bu-bukan seperti itu, Tan. Aku tidak bermaksud ingin berbicara seperti itu. Cuma aku ...."


"Kamu cuma apa?" desak Cantika tidak sabar melihat Safira yang menggantung ucapannya.


"Baiklah, aku mau merawatmu sampai sembuh, Cakra," Safira sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Fira! lanjutkan kalimat kamu tadi. Kamu cuma apa?" Cakra kembali buka suara.


"Hmm tidak apa-apa! aku tadi hanya salah bicara. Itu mungkin karena aku sudah terbiasa berjuang sendiri, mulai dari mengandung mereka sampai mereka lahir, makanya aku hampir lupa kalau ternyata mereka berdua punya keluarga ini. Maafkan kata-kataku tadi, Tan, Cakra." ujar Safira seraya menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu, sebaiknya kita menikah saja! jadi kamu tidak akan sendiri lagi merawat mereka." ucap Cakra yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja, karena merasa takut mendapat penolakan lagi. Walaupun tadi Arend mengatakan agar dirinya mencoba kembali meminta Safira untuk menjadi istrinya.


Tapi, karena Arend belum bisa memastikan kalau Safira sudah berubah pikiran, Entah kenapa, dia masih sedikit merasa ragu untuk meminta Safira untuk menikah dengannya.


"Hmm, ya udah kalau begitu. Aku mau istirahat ke kamar dulu," Cakra kembali memutar tubuhnya, dan hendak berlalu pergi. Safira sontak berinisiatif mendorong kursi roda Cakra hingga membuat bibir pria itu sedikit melengkung ke atas, tersenyum samar.


"Selama kamu merawatku, aku akan berusaha untuk membuat kamu merasa nyaman denganku, baru aku akan mengatakan lagi niatku untuk menikahimu," batin Cakra yang sebenarnya makin ke sini, niatnya untuk menjadikan Safira istrinya semakin besar. Bukan hanya sekedar ingin bertanggung jawab saja, tapi sepertinya ada hal lain yang lebih besar dari rasa tanggung jawab itu.


Tbc

__ADS_1


Bab berikutnya nanti malam ya guys, belum nyampe 1000 kata soalnya


__ADS_2