
Carlos melirik ke arah jam yang tergeletak di atas nakas, yang ternyata sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Pria itu melirik ke sampingnya dan melihat Kalila yang terlihat masih terlelap. Hal yang tidak pernah terjadi selama ini.
Carlos meraba kening istrinya itu, khawatir kalau-kalau Istrinya itu demam.
"Tidak panas kok, tapi kenapa dia belum bangun jam segini?" gumam Carlos dengan kening yang berkerut.
"Sayang, Sayang, bangun yuk! ini sudah siang, kita belum sarapan lho," Carlos menepuk-nepuk pelan pipi Kalila dengan lembut.
Kalila terlihat terusik dengan suara Carlos. Hal itu terlihat ketika wanita menggeliat. Kalila tampak membuka matanya dengan perlahan dan langsung tersenyum begitu melihat sosok Carlos.
"Kamu mandi ya! habis itu kita turun dan sarapan. Aku sudah lapar," ujar Carlos sambil beranjak turun dari atas ranjang. Namun, begitu kakinya baru sebelah menapak di lantai, Kalila sudah kembali memeluk pinggang Carlos.
"Emm, nanti aja ya! aku masih mau meluk kamu," ujar Kalila dengan tersenyum manis.
"Kamu kenapa sih belakangan ini?" Carlos menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar bingung dengan sikap Kalila yang tiba-tiba manja dan tidak mau ditinggal. Ya, alasan kenapa dia bisa masih berada di dalam kamar sampai jam segini, juga karena wanita itu tidak mau melepaskan pelukannya tadi pagi, ketika dirinya hendak pergi mandi. Untungnya hari ini adalah weekend, jadi dia tidak perlu pergi bekerja.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? kamu tidak senang ya, aku peluk? katanya kamu sudah cinta aku sejak dulu, apa sekarang kamu tidak cinta lagi?" Tiba-tiba Kalila sudah menangis aja, membuat Carlos menggaruk-garuk kepalanya, frustasi.
"Bu-bukan seperti itu, Sayang! aku tuh senang kamu peluk, cuma kan biasanya kamu nggak seperti ini. Masa mau mandi aja kamu gak bolehin? aku tuh cinta sama kamu, dan nggak mungkin berubah sampai kapanpun. Atau jangan-jangan kamu ingin meninggalkanku, makanya kamu tiba-tiba mau memeluk aku terus, sebagai ucapan selamat tinggal?"
Plak ...
Kalila refleks memberikan pukulan ke lengan Carlos dengan air mata yang kembali menetes.
"Enak aja bilang begitu! aku tuh nggak pernah punya niat untuk ninggalin kamu. Lagian siapa bilang aku tidak mencintaimu, aku tuh mencintaimu,Sayang!" tutur Kalila di sela-sela Isak tangisnya.
__ADS_1
Carlos tercenung, dengan mulut yang sedikit terbuka. Pria itu benar-benar speechless, tidak tahu mau mengucapkan apa lagi. Bagaimana tidak, selama ini dia selalu menganggap kalau hanya dialah yang memiliki cinta di dalam hubungan mereka. Walaupun Kalila selalu bersikap seperti istri yang baik pada umumnya, Carlos mengira itu hanyalah sebagai bentuk kewajiban sebagai seorang istri dan hanya untuk supaya orang tua mereka tidak kecewa. Istrinya itu belum pernah mengucapkan kalau dia sudah mencintainya.
"Kenapa kamu diam? kamu tidak suka ya aku ngomong seperti itu?" Kalila kembali menangis. Entah kenapa perasaan wanita itu sangat sensitif dua minggu belakangan ini.
Carlos segera tersadar dari rasa kagetnya. Dia langsung menarik tubuh Kalila ke dalam pelukannya dan berulang kali mencium puncak kepala istrinya itu.
"Siapa bilang aku tidak suka? aku suka, Sayang. Bukan suka, tapi sangat, sangat suka. Aku tidak menyangka kalau kamu sudah memiliki perasaan yang sama denganku. Terima kasih, Sayang! kamu sudah mau mencintaiku," Carlos kembali memberikan kecupan pada puncak kepala Kalila dan menyeka air mata istrinya menggunakan jari-jarinya.
"Tapi, apa karena sudah mencintaiku, aku harus tetap ada di sampingmu? apa mau mandi saja tidak boleh? apa kita akan kenyang bila hanya berpelukan saja?" sambung Carlos kembali dengan beruntun yang diselipi dengan nada meledek.
"Carlosss!" Kalila menjauhkan dirinya dari pelukan sang suami dengan tangan yang bersedekap di dada sambil mengerucutkan bibirnya.
Carlos terkekeh dan sontak mengacak-acak rambut Kalila serta menjepit hidung istrinya itu dengan gemas. Bukannya tersenyum dengan perlakuan romantis Carlos, Kalila justru makin merasa kesal, dan sontak membelakangi Carlos.
Kalila sama sekali tidak terbuai dengan perlakuan Carlos. Justru wanita itu sekarang terlihat kembali menangis dengan pundak yang naik turun. Hal ini membuat Carlos kelimpungan tidak tahu mau berbuat apa.
"Sayang, jangan menangis dong! kamu lebih baik omelin aku, daripada kamu menangis," terlihat wajah Carlos kembali frustasi.
Carlos menggusak rambutnya dengan kasar, benar-benar bingung dengan sikap Kalila yang tingkat sensitivitasnya melebihi dari waktu wanita itu datang bulan.
Carlos menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan kembali ke udara dengan cukup panjang.
"Ya udah, kalau kamu masih ngambek aku pergi aja ya! mungkin kamu tidak suka melihatku di sini," pungkas Carlos sambil beranjak pergi.
"Sayang, jangan pergi!" Carlos mengurungkan niatnya untuk membuka pintu begitu mendengar rengekan dari istrinya itu.
__ADS_1
Pria itu memutar tubuhnya dan kembali mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Kalila dengan senyum yang ditahan. Dia tidak mau kalau Kalila ngambek lagi, bila melihatnya tersenyum.
"Kamu sekarang maunya apa, Sayang? apa sekarang kita akan kembali tidur dan berpelukan sepanjang hari? Aku benar-benar lapar, Sayang," ucap Carlos yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Sayang, aku mau mandi." Celetuk Kalila, buka suara setelah adegan drama tangisannya selesai.
"Oh ya udah! kamu mandi saja. Kamar mandi kan ada di situ. Apa kamu mau aku mengantarkan kamu ke kamar mandi?"
"Iya. Kita mandi sama-sama ya!" ucap Kalila yang kembali ceria.
"Tapi, tadi pagi aku sudah mandi," tolak Carlos dengan lembut.
"Apa? sudah mandi? jadi kamu meninggalkanku ketika aku tidur tadi? tega kamu ya ninggalin aku!" pekik Kalila dengan suara tinggi. Manik matanya kini kembali berembun, siap untuk menangis lagi.
"Astaga, salah lagi, salah lagi! ada apa dengan istriku ya, Tuhan?" seru Carlos dalam hati
"Oh, aku lupa! ternyata aku belum mandi, Sayang. Aku ingatnya yang mandi kemarin pagi, Sayang. Sekarang kita mandi sama-sama ya," Carlos akhirnya memilih mengalah, walaupun harus sedikit berbohong.
"Yuk!" Kalila kembali ceria dan dengan cepat langsung meraih tangan suaminya itu menuju kamar mandi, membuat Carlos menghela napas lega.
"Tapi hanya mandi ya, Sayang.Tidak ada hal lain selain mandi, awas aja kalau kamu minta yang aneh-aneh! " Kalila tiba-tiba berhenti dan mengultimatum Carlos.
"Astaga, dia yang ngajak mandi bersama, tapi dia juga yang mengancam. Maaf ya, aku tidak bisa janji, kalau tidak akan tergoda untuk melakukan itu, siapa suruh ajak aku mandi bersama?" sudut bibir Carlos tertarik sedikit ke atas tersenyum penuh makna.
Tbc
__ADS_1