
"Terima kasih ya, buat kuenya! kuenya sangat enak, " ucap Arend dengan senyuman yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Emm," jawab Alena singkat dengan tubuh yang terbaring sambil memunggungi suaminya itu. Sumpah demi apapun, Alena benar-benar sangat malu hari ini. Bahkan wanita itu dari tadi sibuk menggerutu, menyalahkan Calista dengan semua apa yang terjadi.
"Aku nggak pernah menyangka kalau kamu mau membuat kue itu untukku," lagi-lagi Arend bersuara. Berbeda dengan apa dirasakan oleh Alena, justru hari ini adalah hari yang paling membahagiakan baginya. Ini adalah ulang tahun yang paling membahagiakan buatnya.
Alena memutar tubuhnya, menoleh ke arah Arend. Wanita itu ingin sekali mengatakan kalau awalnya dia sama sekali tidak ada niat untuk membuat kue itu dan mengatakan kalau cake topper itu, dibelikan oleh Calista. Tapi begitu melihat raut wajah Arend yang bahagia, membuat wanita itu mengurungkan niatnya.
"Segitu bahagianya kah dia, hanya dengan hal seperti itu? apa maksud kebahagiaan yang dia tunjukkan? apa karena dia mencintaiku makanya dia bahagia dengan hal sederhana itu?" bisik Alena pada dirinya sendiri.
"Ahh, kamu jangan terlalu percaya diri Alena. Bisa saja dia hanya berpura-pura bahagia, karena hanya ingin menghargai usahamu," Alena kembali menyangkal asumsinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arick benar-benar tidak mengerti dengan sikap cuek yang ditunjukkan oleh Calista sepanjang hari ini. Berkali-kali pria itu bertanya apa yang terjadi pada istrinya itu, Calista selalu menjawab singkat dan bahkan terkesan ketus.
Arick menghela napasnya dan akhirnya memutuskan untuk langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuh lelahnya. Matanya tidak berhenti mengawasi setiap pergerakan yang dilakukan oleh istrinya itu, yang baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya.
"Kamu mau kemana?" Arick sontak duduk kembali melihat Calista yang melangkah ke arah pintu.
"Aku mau ke bawah sebentar, mau ambil minum."
"Aku ikut kamu!" Arick menurunkan kakinya, menapak di atas lantai.
Wajah Calistaa seketika berubah panik. Dia langsung menoleh dan menatap tajam ke arah suaminya itu.
"Tidak perlu! aku hanya sebentar saja. Aku bisa sendiri kok. Awas kalau kamu ikut! aku nggak akan mau berbicara denganmu kalau kamu mengikutiku." ancam wanita itu dengan raut wajah serius. Sehingga membuat kening Arick berkerut, bingung.
Calista kembali melanjutkan langkahnya setelah melihat dan memastikan kalau Arick sudah kembali berbaring di atas ranjang.
"Oh my God! What wrong with her? (Oh, Tuhan! ada apa dengannya?)" seru Arick sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu terlihat benar-benar frustasi menghadapi sikap istrinya yang benar-benar sangat membingungkan hari ini.
__ADS_1
Arick memutuskan untuk meraih ponselnya untuk mengalihkan rasa kesalnya. Tanpa sengaja dia melihat akun media sosial Arend yang memposting kue ulang tahun dari Alena.
"Cih, lebay!" umpat Arick, akan tetapi dia tetap meninggalkan jejak dengan menekan tanda love ke story saudara kembarnya itu.p
Sementara itu, Calista kini sudah berdiri di depan kulkas. Wanita itu kembali melihat ke belakang untuk memastikan kalau Arick suaminya tidak mengikutinya sampai ke dapur.
Ketika dia merasa aman, Calista membuka kulkas itu. Seulas senyuman yang lebar langsung terbit menghiasi bibirnya begitu melihat kue buatannya dan Alena tadi pagi.
Calista membawa kue itu kembali ke kamar untuk memberikan kejutan pada suaminya dan tentu saja, Calista tidak lupa menyalakan lilin terlebih dulu dan meletakkannya di atas kue.
"Happy birthday to you, Happy birthday to you ...." Calista masuk ke dalam kamar sambil bernyanyi, hingga membuat Arick benar-benar tersentak kaget.
"Sayang ... kamu ...." Arick benar-benar tidak tahu mau mengatakan apa lagi. Tapi yang jelas dia rasa gundah yang tadi ada di dalam hatinya tiba-tiba hilang entah kemana, begitu melihat senyuman istrinya.
"Selamat ulang tahun ya, Sayang!" ucap Calista sambil mengulurkan kue yang ada di tangannya, mengisyaratkan supaya Arick meniup lilin sebelum lilin itu meleleh ke atas kue.
"Happy birthday daddy? ini maksudnya apa?" bulan langsung meniup lilinnya, tatapan Arick justru fokus ke arah tulisan ada di atas kue.
"Terima kasih ya, Sayang!" Arick menarik tubuh Calista dan mengecup kening dan beralih ke bibir.
"Sekarang, tolong kamu jelaskan apa maksud kata Daddy itu?" sambung Arick kembali.
"Kamu nggak mau nanya dulu, kue ini aku beli atau buat sendiri gitu?"Calista mengerucutkan bibirnya.
"Oh, maaf! kue ini kamu beli atau kamu bikin sendiri, Sayang?" Arick berusaha meredam rasa penasarannya.
"Coba kamu tebak?" senyum Calista mengembang dengan sempurna.
"Astaga, cobaan apa ini Tuhan? kalau begini ceritanya, bakal lama aku tahu makna kata Daddy itu," Arick menggerutu di dalam hati.
"Hmm, aku tebak kalau ini pasti kamu beli," mau tidak mau Arick tetap menebak. Pria itu sengaja menebak salah, supaya Calista senang dan cepat menyangkal kalau tebakannya salah. Karena sebenarnya dia bukan orang yang bodoh, yang tidak bisa menebak raut wajah seseorang. Ketika mendengar pertanyaan Calista yang ingin sekali dirinya tahu, tentang keberadaan kue itu, pria itu sudah bisa menebak kalau sebenarnya kue itu pasti dibikin sendiri.
__ADS_1
"Salah dong! kue ini aku buat sendiri. Aku tadi minta diajarin sama Alena. Nih coba kamu rasa, enak kan?" Calista bercerita dengan riang sambil memasukkan sepotong kue ke dalam mulut Arick.
"Wah, enak sekali, Sayang! ini benaran kamu yang buat? ini rasanya bahkan lebih enak dari yang dibeli dari toko lho," ucap Arick sambil kembali memasukkan sepotong kue lagi ke dalam mulutnya. Untuk beberapa saat pria itu seakan lupa dengan rasa penasarannya. Mulutnya kini sibuk mengunyah kue buatan istrinya.
"Hmm, sekarang apa kamu sudah bisa jelaskan kata Daddy itu?" tanya Arick kembali.
"Kamu tunggu di sini! aku mau ambil sesuatu" Calista membuka laci nakas yang berada di samping ranjang dan mengeluarkan sebuah kotak yang diikat dengan pita di atasnya.
"Nih, kado buat kamu!" Calista menyerahkan kotak itu dan Arick menerimanya dengan manik mata yang penuh tanda tanya.
Arick tidak melepas ikatan pita itu. Pria itu dengan perlahan langsung membuka penutup kotak itu dengan jantung yang berdebar-debar.
Kedua mata pria itu membesar dengan sempurna dan mulut sedikit terbuka. Untuk beberapa saat, mulut Arick seperti tidak sanggup untuk berbicara.
"A-apa ini, Sayang? kamu tidak sedang bercanda kan?" mata Arick terlihat berkaca-kaca menatap hadiah terindah yang pernah dia terima sepanjang hidupnya itu.
Calista tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum dsn menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Arick sontak meletakkan kotak itu dan langsung menarik tubuh Calista ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, Tuhan! terima kasih, Sayang!" Arick berkali-kali mengecup puncak kepala dan wajah Calista.
Dengan mata yang sudah meneteskan air mata, Arick berjongkok dan langsung mencium perut Calista.
"Terima kasih ya, Nak, sudah mau hadir di dalam rahim mamamu. Kamu baik-baik ya di dalam sana, sampai saatnya nanti kita bertemu," ujar Arick dengan nada yang sangat pelan.
Arick mengambil gambar hadiah Calista dan kue yang sudah habis setengah itu. Kemudian pria itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Arend.
"Nih, emang kamu aja yang bisa. Aku juga bisa, Wee," Arick menjulurkan lidahnya ke arah ponsel, hingga membuat Calista mengrenyitkan keningnya, bingung.
Tbc
__ADS_1