Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Jangan sampai kamu kehilangan Calista


__ADS_3

"Kenapa dia menangis, Rick? kamu apain anak orang?" tanya Kama, menyelidik.


"Yang jelas aku tidak ngapa-ngapain dia. Udah gak usah banyak tanya, kamu ngapain datang ke sini?" gantian Arick yang menyelidik.


"Emangnya gak boleh datang ke sini? atau aku pergi lagi?"


"Boleh sih, cuma heran aja kamu datang sendiri sini. Biasanya kamu datang sama Cakra dan Carlos."


"Mereka lagi sibuk, Rick."


"Kamu apa tidak punya kesibukan?" Kama menggelengkan kepalanya.


"Oh, kamu yang tidak punya kesibukan, apa kamu kira aku seperti kamu yang tidak punya kesibukan juga?"sindir Arick yang ditanggapi kekehan dari Kama.


"Kam, apa kamu sudah tahu di mana keberadaan Arend? aku sudah mencoba menyelidiki kemana dia pergi, tapi entah kenapa selalu gagal. Nomor yang biasa dia pakai juga sudah tidak aktif sampai sekarang,"


"Hmm, aku sama sekali tidak pernah menerima kabar darinya." jawab Kama, dengan raut wajah yang meyakinkan.


"Bagaimana kamu bisa menemukannya, karena papa kamu juga ada di balik ini semua. Semua akses kamu untuk bisa mencarinya, ditutup sama papa kamu,"sambung Kama kembali dalam hati, seraya tersenyum samar.

__ADS_1


"Lagian buat apa kamu terus mencarinya? apa kamu mau mengembalikan Calista, pada Arend? kamu gila kalau iya, Cakra dan Carlos pasti akan menghajarmu habis-habisan."


"Yang gila itu kamu! Kamu kira aku seburuk itu? aku hanya ingin tahu, bagaimana dia sekarang. Apa dia putus asa, dan akhirnya menghilangkan nyawanya, aku tidak tahu. Dan anehnya papa dan mama tidak terlihat merasa khawatir sama sekali. Apa kamu tidak berpikir kalau ini rada-rada aneh?" Arick mengusap wajahnya frustasi.


"Kamu jangan berpikiran aneh-aneh. Arend tidak mungkin seperti itu. Dia hanyalah butuh waktu." ucap Kama, lugas.


"Lagian, kenapa dia harus sembunyi lagi coba? toh pernikahan sudah terjadi, tidak mungkin bisa dibatalkan lagi. Harusnya dia sudah bisa kembali sekarang. Kalau dia belum kuat melihat aku dan Calista bersama, setidaknya dia muncul di depanku saja, dan menunjukkan kalau dia baik-baik saja." ucap Arick dengan manik matanya yang berembun. Sumpah demi apapun, dia merasa takut kalau Arend saudara kembarnya itu, melakukan hal yang tidak-tidak. Walaupun dia yakin kalau Arend tidak akan mungkin melakukan hal seperti yang ada dipikirannya, tapi tetap saja dirinya kepikiran sebelum dirinya melihat dengan nyata kalau saudara kembarnya itu baik-baik saja.


"Sudahlah, jangan terlalu kamu pikirkan! suatu saat dia pasti akan kembali." Kama berusaha menenangkan Arick.


"Sampai kapan? sampai juniorku ini lumutan?"


"Oh ya, Kam. Kamu sepertinya suah bisa pergi, karena masih banyak lagi yang harus aku kerjakan. Arick berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kamu jangan coba mengalihkan pembicaraan, Rick. Tebakanku benar kan?" Kama memicingkan matanya, curiga.


"Iya, kamu benar! puas?!"


"Astaga! kamu normal kan?" selidik Kama.

__ADS_1


"Setan! ya normal lah!"ucap Arick seraya melemparkan pena ke arah Kama.


"Jadi, Kalau normal, kamu ngapain aja seminggu ini? kan jadi tanda tanya."


"Kami pikir aku gak tersiksa, menahan diri tidur sekamar dengan Calista, goblok! aku hanya sudah berjanji dalam hati, akan melakukannya kalau Arend sudah menemukan jodohnya."


Mata Kama terbelalak mendengar jawaban Arick.


"Jangan gila kamu! itu pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Dan apa kamu kuat untuk menahan diri? Lagian, belum tentu Calista bisa terus bersabar, Rick. Apa kamu mau dia beralih pada laki-laki yang suatu saat bisa memberikan kenyamanan pada dia? Ingat Rick, Calista itu wanita cantik dan pintar, siapapun pasti siap untuk menggantikanmu,"


Arick bergeming, tiba-tiba merasa gundah dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Kama.



"Kam, sekarang sebaiknya kamu pergi. Kamu makin membuat kepalaku tambah mumet, sana pulang!" usir Arick, membuat Kama berdecih dan dan langsung berdiri dari tempat dia duduk.


"Ya udah aku pergi dulu. Tapi ingat, pikiran kata-kataku tadi! jangan sampai kamu kehilangan Calista karena ego kamu," pungkas Kama, sambil melangkah keluar.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2