
Matahari kembali keluar dari peraduannya, karena sudah saatnya dia bekerja untuk mengantikan sang rembulan.
Walaupun sang mentari masih terlihat seperti malas-malasan untuk mengeluarkan cahayanya , tapi cahayanya kecilnya itu sanggup membuat Safira terbangun dari tidurnya. Wanita itu membuka matanya secara perlahan, kemudian mengerjap-erjapkan untuk beberapa saat, dengan tujuan untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya yang baru tertangkap oleh pupil matanya.
Mata Safira tiba-tiba membulat dengan sempurna, karena rasa kaget yang tiba-tiba menyerangnya. Bagaimana tidak? ketika kedua matanya terbuka dengan sempurna, wanita itu kaget melihat wajah Cakra yang masih tertidur lelap tepat di depan wajahnya.
"Aaaaa!" pekik Safira duduk sambil menutup kedua matanya.
Hal ini membuat Cakra hampir melompat dari tempat tidur karena kaget mendengar teriakan Safira.
"Ada apa? kenapa kami teriak?" ucap Cakra sambil mengucek matanya.
"Kenapa kamu bisa tidur di dalam kamarku? apa yang sudah kamu perbuat?" Safira berucap dengan kedua tangan yang menyilang di dadanya.
"Apa maksud kamu, ini di kamarmu? coba kamu perhatikan sekeliling, apa kamar ini benar-benar milik kamu?" sahut Cakra dengan nada yang meledek.
Safira melakukan seperti yang dikatakan Cakra. Mata wanita itu kini terlihat mengedar memindai setiap sudut ruangan. Satu hal yang dia dapat adalah, kamar itu bukanlah kamarnya.
"Apa kamu sudah lihat? ini kamar siapa?" tanya Cakra dengan sudut bibir yang menyeringai.
"Ke-kenapa aku bisa ada di sini? kamu yang meletakkan aku di sini kan?" tukas Syafira dengan sorot mata yang sangat tajam.
Cakra berdecak dan duduk di samping Safira yang refleks menyilang kedua tangannya di depan dada.
"Apa menurutmu aku yang melakukannya? aku tidak se brengsek itu any way," sahut Cakra menampik tuduhan Safira yang dialamatkan padanya.
"Kalau bukan kamu siapa lagi?"Safira masih belum melepaskan tatapan tajamnya dan masih terlihat bersikap waspada di depan Cakra.
Cakra tidak menjawab, pria itu hanya mengangkat bahunya pertanda kalau dirinya pun tidak tahu.
Safira memicingkan matanya,masih tetap merasa curiga pada pria di depannya. Dia merasa kalau dirinya tidak boleh lengah dan langsung percaya begitu saja pada Cakra. Safira berusaha untuk mengingat kembali kejadian tadi malam kenapa dirinya bisa berada di dalam kamar Cakra.
Dia mengingat jelas, kalau tadi malam dia membantu mendorong kursi roda pria itu masuk ke dalam kamar, dan begitu dia ingin keluar kembali, pria itu memintanya untuk tidak pergi.
Safira juga mengingat jelas, kalau pria itu tidak berhenti memerintah untuk membantunya melakukan segala sesuatu. Mulai dari membawanya ke kamar mandi untuk gosok gigi, mengambilkan minum, bahkan memijat kaki pria itu.
Tiba-tiba mata Safira membulat begitu mengingat potongan kejadian tadi malam.
__ADS_1
"Astaga, aku sendiri yang ketiduran di kamar ini," bisik Safira pada dirinya sendiri sambil memukul-mukul jidatnya.
"Tapi, tunggu dulu! bukannya tadi malam aku masih sempat pindah ke sofa dan tertidur di sana? tapi kenapa aku bisa berbaring di ranjang bersamanya?" Alis Safira kembali bertaut.
"Cakra, aku akuin kalau tadi malam, aku memang tertidur di kamar ini. Tapi aku ingat jelas, kalau aku tidur di sofa itu, bukan di atas ranjang. Apa itu kamu yang memindahkanku ke sini?" tukas Safira kembali menuduh pria di depannya.
Raut wajah Cakra seketika berubah. Pria itu dengan cepat mengalihkan tatapannya ke arah lain, agar Safira tidak bisa melihat dan merasakan perubahan wajahnya yang panik. Karena memang yang dituduhkan oleh wanita itu, benar adanya. Dirinya yang mengangkat tubuh Safira dan memindahkan wanita itu ke ranjang.
"Kamu jangan asal menuduh! coba kamu pikirkan, bagaimana mungkin dengan keadaan kakiku yang sakit begini aku bisa memindahkan kamu dari sana ke sini."
Safira terdiam karena merasa kalau alasan yang dilontarkan oleh Cakra benar adanya.
"Kalau bukan kamu, siapa lagi?" gumam Safira dengan kening yang berkerut.
"Mungkin tadi malam kamu ngigau, dan tidak sadar melangkah ke sini," ucap Cakra.
"Masa sih?" Safira masih sulit untuk percaya.
"Kan mungkin saja. Kamu mana mungkin tahu,
kan kamu lagi tidur?" Cakra semakin berusaha untuk meyakinkan Safira supaya wanita itu lepas dari rasa curiganya.
"Kamu mau kemana?" tanya Cakra dengan cepat seperti takut ditinggalkan oleh Safira.
"Aku mau ke kamar mandi. Maaf kalau tadi malam aku tidur di samping kamu. Aku benar-benar tidak sengaja," ucap Safira dengan tulus seraya tetap melangkah masuk ke kamar mandi, tanpa menunggu jawaban dari Cakra.
Tidak perlu menunggu lama, Safira pun keluar dari kamar mandi, masih dengan pakaian yang sama. Karena dirinya tidak memiliki pakaian ganti.
Wanita itu menemukan Cakra masih tetap di tempat yang sama sambil menatap dirinya dengan intens.
"Emm, Cakra aku mau izin pulang sebentar, boleh kan?"
"Buat apa? bukannya Ivan dan Ian sudah ada di sini?"raut wajah Cakra berubah tidak suka.
"Aku mau mengambil pakaianku ke sini. Tidak mungkin kan aku memakai ini terus?" Safira menunjuk ke arah pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Pakaian kamu sudah dibawa ke sini juga tadi malam sama bibi. Mungkin dia taruh di kamar sebelah," ucap Cakra dengan wajah datar.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku mau mandi dulu dan berganti pakaian," Safira melangkah menuju pintu tanpa menunggu jawaban dari Cakra.
"Jadi, kamu mau membiarkan aku merangkak sendiri ke kamar mandi? aku juga mau ke kaar mandi buang air. Ingat, kaki aku masih sakit dan itu semua gara-gara kamu,"
Safira berhenti melangkah, lalu mengembuskan napasnya dengan cukup kasar, berusaha untuk sabar menghadapi Cakra. Kemudian wanita itu kembali memutar tubuhnya dan kembali melangkah menghampiri pria itu.
"Sini, aku bantu kamu dulu," Safira meraih tangan Cakra dan memapah pria itu naik ke kursi rodanya.
Cakra tersenyum samar karena senang bisa mengelabui Safira dan bisa mendapatkan perhatian dari wanita itu. Pria itu kini sadar kalau sekarang dirinya benar-benar ingin memiliki Safira bukan karena rasa tanggung jawab lagi, tapi sepertinya dia sudah jatuh cinta beneran pada wanita yang telah memberikan dia dua anak itu.
Safira mendorong kursi roda Cakra ke dalam kamar mandi, dan dia kembali keluar karena permintaan pria itu.
Tidak butuh waktu lama, Cakra sudah keluar dari dalam kamar mandi dan sudah terlihat segar. Pria itu tampak bertelan*Jang dada, sehingga memperlihatkan dadanya yang bidang.
"Kamu tolong bantu aku untuk mengambilkan pakaianku do sana,"
Safira melangkah menuju tempat yang ditunjukkan oleh Cakra. Wanita itu asal saja mengambil pakaian karena dia tidak mau pakaian seperti apa yang mau pria itu pakai.
"Nih. Kamu bisa pakai sendiri kan?" Safira menyerahkan baju Cakra dengan meletakkan di atas paha pria itu. Sebelum tangan Safira menjauh, Cakra dengan sigap menarik tangan Safira hingga tubuh wanita itu membentur dadanya.
Mata Keduanya saling terkunci dan jantung keduanya berdetak dengan cepat. Tatapan Cakra terlihat mengarah ke bibir Safira yang tampak sedikit pucat, dan tanpa sadar pria itu mendaratkan bibirnya ke bibir Safira yang sontak membuat mata wanita itu membesar dengan sempurna. Akan tetapi ada yang aneh pada diri Safira. Wanita itu sama sekali tidak menghindar dan tidak merasa ketakutan lagi.
"Apa kamu masih takut denganku?" tanya Cakra dengan lembut setelah dirinya menjauhkan bibirnya dai bibir Safira.
Safira terdiam. Wanita itu juga merasa heran pada dirinya sendiri. Dia juga mempertanyakan kemana perginya rasa takut dan traumanya pada pria itu.
"Safira, aku benar-benar ingin menikah denganmu, apa kamu sudah bersedia menikah denganku?" Akhirnya Cakra memberanikan diri untuk bertanya kembali.
Safira tidak langsung menjawab. Wanita itu terlihat masih berpikir, bersedia atau tidak.Perkataan Arend tiba-tiba kembali datang ke ingatannya.
Safira memejamkan matanya untuk sejenak, kemudian membukanya kembali. Wanita itu menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup panjang, lalu tanpa ragu lagi, akhirnya Safira menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Yes!" sorak Cakra yang tanpa sadar berdiri dan memeluk Safira dengan erat.
Safira berusaha mendorong tubuh Cakra dan menatap pria itu dengan tajam.
"Kaki kamu tidak sakit?" Safira menunjuk ke arah kaki Cakra, sedangkan pria itu hanya bisa cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
__ADS_1
Tbc
Please jangan lupa buat tetap ninggalin jejak ya guys. Like, vote dan komen. Thank you 🙏🏻