
Waktu sudah mulai malam, tapi masalah yang dikatakan oleh Vania belum juga menemukan titik terang.
"Baiklah, sebaiknya kita pulang dulu. Besok kalian bisa lanjutkan kembali penyelidikannya. Aku yakin, besok semuanya pasti akan selesai. Malam ini aku akan langsung pulang ke Jakarta,"
Terlihat jelas raut wajah kecewa di wajah Vania. Dia langsung menghampiri, dan tepat berdiri di samping pria itu.
"Kenapa harus cepat sekali pulangnya? lagian masalahnya juga belum selesai," Vania melontarkan protesnya.
"Aku rasa, Bayu akan bisa menyelesaikannya sendiri, tanpa bantuanku," jawab Arick dengan santai.
"Hmm, boleh saja, Bayu bisa menyelesaikannya sendiri, tapi aku rasa sebaiknya kamu jangan pulang malam ini. kamu lebih baik menginap di hotel saja, karena bisa-bisa kamu sakit nanti, karena kecapean," Vania berpura-oura memperlihatkan perhatiannya.
"Kamu tenang saja, kalau aku sakit, ada Calista istriku yang akan merawatku. Lagian, aku rasa aku tidak akan sakit karena obat dari segala sakit dan lelahku adalah Calista. Aku yakin, begitu melihatnya, lelahku akan hilang dan tubuhku akan kembali bugar," tutur Arick dengan santai yang membuat wajah Vania berubah seketika. Vania terlihat dongkol dengan ucapan Arick yang menurutnya sangat berlebihan.
"Beruntung sekali dia mendapatkan suami sepertimu," Vania berusaha memasang wajah yang biasa saja.
"Bukan dia yang beruntung, tapi aku yang sangat beruntung mendapatkannya," lagi-lagi Vania merasa geram dengan ucapan Arick yang menurutnya terlalu memuji Calista.
"Ok lah kalau memang kamu berniat akan tetap pulang malam ini, tapi apa tidak lebih baik kalau kita makan malam dulu sebelum kamu pulang ke Jakarta?" Vania kembali mencari alasan agar Arick tidak langsung kembali ke Jakarta.
Arick diam sejenak, mempertimbangkan saran Vania.
"Hmm, sepertinya kamu benar. Ayo kita makan malam dulu!" pungkas Arick sambil berjalan keluar lebih dulu.
Wajah Vania terlihat berbinar mendengar kesediaan Arick untuk makan malam bersamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vania sengaja memesan ruangan VVIP di sebuah restoran mewah, dengan alasan agar mereka juga bisa leluasa untuk membicarakan masalah keuangan yang sedang terjadi.
"Van, aku ke toilet dulu sebentar, ya." Arick beranjak pergi, setelah Vania menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
__ADS_1
Setelah tubuh Arick menghilang dari pandangannya, Vania dengan sigap mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Wanita itu kembali melihat ke arah pintu untuk memastikan apakah Arick kembali lagi, atau ada seseorang yang masuk.
Setelah memastikan semuanya aman, Vania membubuhkan sesuatu ke dalam minuman Arick.
"Kali ini, aku yakin kalau aku akan berhasil. Kamu akan menjadi milikku, Arick." Seringaian licik muncul di sudut bibir wanita itu. Ya, rasa cinta yang dimiliki Vania untuk Arick, sebenarnya belum bisa hilang dari hati wanita itu, sehingga dirinya berniat untuk melakukan
hal licik, untuk bisa mendapatkan Arick.
"Kenapa dia lama sekali sih di dalam toiletnya?" Vania berkali-kali melihat ke arah pintu.
Bibir wanita itu melengkung ke atas begitu melihat Arick yang kembali masuk.
Pria itu kembali duduk di tempat semula. Dia tidak langsung minum minuman yang ada di depannya, hingga membuat Vania merasa tidak tenang.
"Rick, kenapa kamu tidak meminum minuman kamu? kamu kan masih sedikit minumnya. Sayang banget kalau banyak tersisa."
"Oh iya," tangan Arick nyaris meraih gelas berisi minumannya itu. Namun tiba-tiba tangan pria itu menyenggol sendok hingga terjatuh ke lantai. Pria itu kembali meletakkan gelasnya dan berniat untuk mengambil sendok itu.
"Biar aku aja yang ambil, Rick. Kamu lanjutkan aja minumnya," Vania menawarkan diri, karena wanita itu benar-benar tidak sabar membuat Arick jatuh pada perangkapnya.
Mata Vania terlihat semakin berbinar begitu melihat Arick yang mulai menguap dan tanpa menunggu waktu lama tertidur pulas.
"Arick kamu kenapa?" Vania terlihat berpura-pura panik. Tidak sahut sama sekali dari pria itu.
"Rick, Arick!" Vania mengibaskan-ngibaskan tangannya ke wajah Arick.
Senyum sinis Vania, terlihat terbit di sudut bibir wanita itu, ketika merasa kalau Arick benar-benar jatuh pada perangkapnya.
Wanita itu kemudian meraih ponselnya, dan meminta seseorang yang sudah disewanya lebih dulu untuk masuk, dan membantunya membawa Arick ke dalam kamar hotel yang sebelumnya juga sudah dia booking.
Setelah di dalam kamar, Vania kemudian membuka pakaiannya dan demikian juga dengan kemeja yang dipakai oleh Arick.
__ADS_1
Lalu dia meminta orang tadi mengambil photo dirinya bersama dengan Arick, yang terkesan seperti baru selesai menikmati indahnya surga dunia.
"Bagus! sekarang kamu boleh keluar! ini bayaran kamu," Vania memberikan seikat uang pada orang bayarannya tadi.
"Terima kasih,Nona! senang bekerja dengan anda," pria suruhan Vania itu, beranjak keluar dengan sebuah senyuman.
Vania kembali melangkah menghampiri ranjang tempat di mana Arick terbaring setelah pria bayarannya sudah benar-benar tidak terlihat lagi.
Vania naik kembali ke atas ranjang dan membelai lembut wajah Arick. Wanita itu terlihat mengrenyitkan kening, begitu merasa ada sesuatu yang aneh pada wajah pria itu. Dia merasa kulit wajah Arick sedikit kasar.
"Apa-apaan sih Calista ini? apa dia tidak mengurus Arick dengan baik, sampai-sampai kulit wajahnya tidak sehalus dulu? dasar istri tidak becus," umpat Vania, kesal.
"Sayang, kamu tenang saja. Aku akan menjadi pasangan yang jauh lebih baik dari wanita manja itu. Aku akan melayanimu dengan baik, dan bahkan merawatmu," ucap Vania sambil mencium kening pria yang masih setia dengan mata terpejam. Kemudian wanita itu pun merebahkan tubuhnya di samping pria itu, lalu memeluknya dengan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari kembali datang menyapa dan cahayanya membias masuk ke dalam kamar hotel yang dibooking oleh Vania.
Vania membuka matanya dengan perlahan-lahan, lalu mengerjap-erjapkan sebentar untuk menyesuaikan matanya dengan pantulan cahaya yang baru saja masuk.
"Heh, di mana Arick?" Vania sontak terduduk begitu melihat ranjang di sebelahnya sudah kosong.
Wanita itu mengedarkan tatapannya ke segala penjuru ruangan untuk mencari keberadaan pria yang dicintainya itu. Namun dirinya tidak menemukan keberadaan pria itu.
"Apa dia meninggalkanku? Kenapa dia tidak marah-marah tadi ketika dia bangun? tadi dia pasti kaget kan, melihat dirinya tidak berpakaian dan aku tidur di sampingnya? tapi, kenapa dia main pergi begitu saja?" Vania mengrenyitkan keningnya.
"Tidak bisa dibiarkan ini. Aku harus menemuinya sekarang, sebelum dia kembali ke Jakarta." Vania menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, dengan sedikit kasar, kemudian berlari masuk ke kamar mandi.
"Tunggu dulu! buat apa aku buru-buru?
akun kan sudah punya alat bukti untuk menjeratnya. Jadi mau dia kembali ke Jakartapun aku tetap bisa datang ke sana untuk menemuinya. Bahkan lebih bagus lagi, karena di sana ada kedua orangtuanya dan istrinya yang manja itu," Sudut bibir Vania terangkat sedikit ke atas, tersenyum licik.
__ADS_1
Sambil bersenandung kecil, Vania memutuskan untuk mandi dengan santai, dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya. Wanita itu sudah membayangkan dirinya bersanding dengan Arick nantinya di pelaminan.
Tbc