
Arend sontak berlari ke arah Alena, "Sayang, kamu sudah sadar?"
"Aku kenapa? kenapa kepalaku pusing?" tanya Alena sambil memijat kepalanya dan Arend membantunya untuk duduk.
Alena mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Dia semakin kebingungan banyak orang yang tidak dia kenal berada di kenal ada di ruangan itu. Tatapan wanita itu sontak berhenti pada sosok Arul pamannya.
"Paman? paman baik-baik saja? tapi kok ...." Alena langsung menatap ke arah Ratih dan Cindy yang terlihat lemas tidak berdaya.
"Alena, seperti yang kamu lihat, paman baik-baik saja, Nak. Kamu sudah dibohongi oleh dua wanita ular itu!" ucap Arul seraya menatap sengit ke arah Ratih dan Cindy yang tertunduk.
"Jadi, Paman baik-baik saja?" Alena beranjak dari tempat tidur dan hendak memeluk paman yang sudah lama dirindukannya itu.
Tiba-tiba Alena tersadar akan sesuatu. Wanita itu melerai pelukannya dan menatap Arend.
"Apa ini maksudnya?" alis Alena bertaut tajam, menuntut penjelasan.
Arend tidak langsung menjawab. Pria itu terlebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara dengan cukup panjang. Kemudian setelah dirasa cukup tenang, Arend pun menceritakan semua yang sudah terjadi, dan kejahatan yang telah dilakukan oleh Ratih dan Cindy.
"Yang menelepon tadi malam sebenarnya bukan papa, tapi paman Arul. Tapi aku sengaja berbohong supaya kamu tidak tahu."
Ya, Arul segera menghubungi Arend malam itu juga untuk menginformasikan rencana Ratih dan Cindy. Arend memang sempat memutuskan panggilan, tapi setelah satu jam berselang atau tepatnya setelah Alena tidur, Arend kembali menghubungi Arul.
Kemudian, Arend langsung mengatur strategi dengan membiarkan rencana Ratih dan Cindy berjalan mulus lebih dulu. Untuk apa? untuk mengumpulkan para tersangka di tempat yang sama sehingga mempermudah penangkapan mereka.
Arend juga menghubungi Daniel untuk berpura-pura lengah. Arend mengatur strategi dengan seapik mungkin dan kali ini, dia melakukan sendiri tanpa bantuan Aby papanya dan Arick saudaranya.
"Ja-jadi, mama sama papaku meninggal bukan murni karena kecelakaan, tapi semuanya karena ulah mereka?" Alena menunjuk ke arah Ratih dan Cindy dengan air mata yang sudah merembes turun membasahi pipinya. Arend menganggukkan kepala, membenarkan.
"Mas sudah tau dari awal,tapi kenapa Mas menyembunyikannya dariku?" pekik Alena sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya itu.
"Sayang, bukannya aku ingin menyembunyikan hal ini darimu, tapi ini semua demi melindungimu. Kebetulan kami juga masih berusaha untuk mengumpulkan bukti-bukti untuk menjerat mereka. Maaf juga karena tidak melibatkan kamu dalam rencana yang aku atur. Itu karena supaya semuanya berjalan senatural mungkin. Lagian kalau aku memberitahukan kamu tentang ini semua, aku yakin kamu akan bertindak lebih dulu, sehingga aku, papa dan Arick akan kesulitan untuk mencari bukti-bukti kejahatannya yang lain." jelas Arend panjang lebar.
Alena terdiam. Wanita itu hanya bisa menangis sesunggukan sekarang. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena dirinya tidak menyangka kalau, papa mertuanya, suami dan kakak iparnya, begitu peduli pada dirinya.
__ADS_1
"Jadi dimana bodyguard yang kamu suruh untuk menjagaku itu?"
"Itu dia!" Arend menunjuk ke arah Daniel.
"Halo, Bu! kenalkan namaku, Daniel," Daniel membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
"Hei, kamu ternyata! Pantas saja kamu tiap hari makan dan duduk lama-lama direstoranku. Sampai aku kira kalau kamu ini, gak ada kerjaan sama sekali," ujar Alena yang terkejut melihat keberadaan Daniel.
"Oh ya, jangan panggil aku, ibu! usia kita tidak berbeda terlalu jauh!" protes Alena keberatan.
"Tapi, Sayang. Kamu kan majikannya, jadi sudah seharusnya dia memanggil kamu ibu." protes Arend, dengan raut wajah tidak suka.
"Benar, bu! sudah seharusnya anda dipanggil ibu, walaupun usia kita tidak jauh berbeda. Jadi, biarkan saya memanggil anda ibu." Daniel menimpali ucapan Arend.
"Pokoknya aku tidak mau! kamu panggil nama aja."
"Aku tidak setuju!" Arend dengan cepat melontarkan protesnya lagi.
"Kalau gitu kamu panggil aku, Mbak Alena aja."
"Mbak atau nama?" potong Alena dengan tatapan tajam.
"Iya deh, Mbak aja!" pungkas Arend pasrah.
Tatapan Alena kembali ke arah Ratih dan Cindy. Dengan perlahan Alena melangkah menghampiri kedua wanita itu. Tanpa berpikir panjang, Alena mengayunkan tangannya dan menampar pipi kedua wanita itu dengan keras. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Hingga kedua wanita itu meringis kesakitan.
"Dengar! tamparan yang kalian dapat ini, tidak sebanding dengan penderitaan yang aku rasakan. Aku pastikan kalau kalian akan mendapat hukuman mati." ucap Alena dengan tatapan penuh kebencian.
"Dan kamu, Pak Broto, kamu juga akan ikut dengan mereka mendekam di penjara," Arend menimpali ucapan Alena istrinya.
"Tidak, Nak Arend! aku juga ditipu oleh mereka. Jadi tolong lepaskan saya!" Pak Broto terlihat tidak segarang di awal. Pria tua itu kini terlihat seperti harimau yang kehilangan taringnya.
Arend tersenyum smirk, "Kenapa anda terlihat tidak segarang tadi, Pak Broto? dengar! dalam hal ini, anda juga sudah terlibat membantu mereka. Satu hal lagi, selain karena kasus ini, anda juga memang seharusnya masuk penjara karena bisnis haram yang anda jalankan. Selain jadi bandar narkoba dan judi, anda juga membuka bisnis prostitusi, yang menjajakan para wanita-wanita desa yang anda bohongi dengan iming-iming akan memberikan mereka pekerjaan. Jadi, anda pasti tahu di mana tempat yang pantas untuk orang seperti anda. Dan kali ini, aku pastikan anda tidak akan bisa lagi menyogok siapapun agar anda bisa bebas. Camkan itu!" ucap Arend dengan tegas.
__ADS_1
"Ini gara-gara kalian berdua! kalian berdua memang pembawa sial! aku menyesal telah mau kalian manfaatkan! dasar ja*lang!" umpat pak Broto sambil menghambur hendak menyerang Ratih dan Cindy.
"Jangan ribut di sini! kalau kalian ribut di kantor polisi, silahkan!" bentak Arend, menghentikan pergerakan pak Broto.
"Tuan Arend! polisi sudah tiba!" tiba-tiba salah satu anak buah Arend muncul di depan pintu.
"Suruh mereka masuk!" titah Arend.
Tidak perlu menunggu lama, beberapa polisi masuk, dan langsung memborgol tangan Ratih, Cindy dan pak Broto. Jangan lupakan Ricky juga ikut digelandang oleh polisi dan Daniel sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan pria yang merupakan mantan sahabatnya itu.
"Alena! tolong maafkan kami! tolong minta polisi ini untuk tidak membawa kami! tolong Alena! aku tidak mau di penjara!" Cindy berteriak-teriak sambil meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.
Alena memalingkan wajahnya, tidak mau bersikap kasihan lagi pada mantan bibi dan sepupunya itu.
"Sayang, kamu sudah aman sekarang, mari kita pulang!" Arend merangkul pundak Alena dengan lembut.
Alena melepas rangkulan Arend dan memilih untuk memeluk erat pria itu.
"Terima kasih ya, Sayang!" ucap Alena yang memanggil Arend dengan panggilan sayang untuk pertama kali.
Arend sontak melerai pelukan Alena dan menatap istrinya itu dengan manik mata yang berbinar.
"Kamu panggil aku apa tadi?"
"Emang aku panggil apa?" Alena mengreyitkan keningnya.
"Kamu panggil aku sayang. Mulai hari ini jangan ubah panggilan kamu! ingat, ini bukan permintaan tapi perintah!" ucap Arend, sambil menarik kembali tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Ah, sudahlah! tolong hargai aku yang masih single ini! asal kalian tau, aku juga pengen ada yang dipeluk," ucap Daniel yang sayangnya hanya bisa diucapkan dalam hati.
Pria itu mengalihkan tatapannya ke arah lain, dan tanpa sengaja matanya bersirobok dengan mata milik Rara.
"Alena! kamu kenapa sayang?" tiba-tiba terdengar teriakan dari Arend, menghentikan Daniel dan Rara yang saling silang pandang.
__ADS_1
"Lho, tadi kan masih berpelukan kenapa sekarang sudah pingsan?" batin Daniel yang tiba-tiba menjadi bodoh, tidak tahu mau melakukan apa.
Tbc