Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kamu terlahir untukku


__ADS_3

Arend membuka pintu kamar dengan perlahan. Dia tidak menyangka kalau malam ini dia akan tidur satu kamar dengan Alena.


Alena yang tadinya duduk di atas ranjang, sontak berdiri begitu melihat Arend yang masuk ke dalam kamar.


"Kamu belum tidur?" tanya Arend tanpa menatap ke arah Alena. Pria itu berjalan ke arah cermin dan membuka arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Hmm, aku tidak tahu, mau tidur di mana?" ucap Alena, lirih.


"Kamu bisa tidur di atas ranjang itu, aku bisa kok tidur di sofa," ujar Arend.


"Sofa yang mana? tidak ada sofa di sini?"


Arend sontak menoleh ke arah letak sofa, dan dia kaget begitu melihat sofa yang ada di dalam kamarnya sudah tidak ada di tempatnya. Arend menghela napasnya, kesal karena dia tahu kalau ini pasti ulah dari papa dan mamanya yang meminta orang untuk mengeluarkan sofa dari kamarnya.


"Atau begini saja, kamu tidur di ranjang dan aku di lantai. Aku sudah terbiasa kok tidur di lantai. Jadi kamu tenang saja," Alena memberikan sarannya.


"Apa kamu kira aku sekejam itu? tidak! tidak ada yang tidur di lantai, karena lantai sangat dingin." ucap Arend, tegas.


"Jadi kalau tidak ada yang tidur di lantai, aku harus tidur di mana?"


"Kita tidur di atas kasur lah, dimana lagi. Atau kamu mau tidur sambil berdiri? kalau aku sih. ogah!" ucap Arend sambil naik ke atas tempat tidur.


Alena bergeming, bingung antara mau naik ke atasnya kasur atau berdiri saja di tempatnya.


"Kenapa kamu masih berdiri di sana? apa kamu bisa berdiri semalaman? kami tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu, karena aku tidak berselera,"


Alena mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan ucapan Arend.


"Cih, tak berselera katanya. Kalau aku telan* jang di depanmu mana mungkin kamu tidak berselera," ucap Alena yang sayangnya hanya berani dia ucapkan di dalam hati saja.


"Tapi jangan deh, pakaian dalamku buluk banget. Kalau dia lihat kan aku jadi malu." Alena terkikik sendiri membayangkan pakaian dalamnya yang murahan dan yang pastinya tidak senada atas bawah.

__ADS_1


"Kenapa kamu terkikik seperti itu? apa kamu lagi berpikiran mesum?" tukas, Arend dengan mata yang mendelik, curiga.


"Ng-nggak kok. Kamu jangan kepedean!"


"Siapa yang kepedean. Tingkah kamu tadi aneh, tahu nggak. Udah ah, capek ngomong sama kamu. Aku mau tidur. Kalau kamu mau berdiri saja di sana sampai pagi, terserah kamu." Ujar Arend sambil membalikkan tubuhnya memunggungi Alena. Kemudian dia pun mencoba memejamkan matanya.


Alena melangkah perlahan mendekati tempat tidur. Dengan perlahan dia mendaratkan bo*kongnya, lalu menaikkan kakinya, kemudian dia merebahkan tubuhnya. Semuanya itu dia lakukan dengan sangat hati-hati sambil menggigit bibirnya. Dia pun berbaring sambil memunggungi Arend. Tanpa dia sadari Arend tersenyum tipis, merasa lucu dengan sikap Alena.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat, Arick terlihat kelabakan karena tidak bisa menemukan di mana Calista istrinya di kamar.


Dia mencari ke segala sudut kamar, tapi tetap tidak menemukannya juga.


"Calistaaa! Listaaa, dimana kamu?" panggil Arick sambil keluar dari kamar untuk mencari di dapur. Akan tetapi, dia tetap tidak menemukan istrinya di dapur.


"Kemana sih dia? gak mungkinkan dia pergi ke luar malam-malam begini?" gumam Arick sambil mengedarkan tatapannya ke segala penjuru.


"Kenapa dia ada di dalam kamar ini?" bisik Arick pada hatinya sendiri.


Kemudian, Arick mulai mengetuk pintu dengan perlahan. "Calista, aku tahu kamu di dalam. Buka pintunya!"


Tidak ada sahutan. Arick pun mencoba mengetuk seraya memanggil sekali lagi, tetap tidak ada respon dari dalam.


"Calista, kalau kamu tidak membuka pintu ini, aku akan dobrak ya." ancam Arick.


handle pintu terlihat berputar pertanda Calista sudah merespon dari dalam


"Ada apa sih, Kak? kenapa harus teriak-teriak? ini kan sudah malam, aku ngantuk mau tidur," ucap Calista yang hanya menyembulkan kepalanya saja keluar.


"Kenapa kamu tidur di kamar ini? kenapa tidak di kamar kita? ayo balik!" Arick mendorong pintu, sehingga pintu kamar terbuka lebar.

__ADS_1


"Aku gak mau, Kak. Aku mau tidur di sini aja. Buat apa tidur sekamar tapi tidak seperti suami istri? jadi lebih baik kita tidur di kamar terpisah saja," sahut Calista, santai.


"Tidak boleh! nanti kalau mama dan papa tahu, bagaiman? aku tidak mau disalahkan sama mereka."


"Mereka gak bakal tahu, Kak. Aku janji gak bakal ngomong apa-apa," jawab Calista.


Arick menggeram, kesal. Tanpa aba-aba lagi dia langsung mengangkat dan meletakkannya di atas bahunya sambil membawa Calista ke dalam kamar mereka. Kemudian dia menghempaskan tubuh wanita itu di atas ranjang mereka.


"Tidur di sini, jangan kemana-mana!" ucap Arick dengan tatapan yang sangat tajam. Kemudian, dia kembali melangkah ke arah pintu untuk mengunci pintu kamar mereka.


Dia menggeram kembali melihat Calista tidak ada di atas ranjang, malah berbaring di atas sofa.


"Calista! jangan buat aku marah! balik ke atas tempat tidur, cepat!" titah Arick, berusaha menahan marah.


"Aku tidak mau! aku tidak mau tidur dengan pria yang tidak menganggap aku istrinya." Calista tetap kekeh berbaring di atas sofa.


Arick mengembuskan napasnya dengan cukup keras sambil mengelus dadanya.Kemudian dia melangkah menghampiri Calista. Pria itu akhirnya duduk di lantai persis di dekat kepala wanita itu.


"Kamu maunya apa? apa kamu mau kita melakukannya sekarang? kalau itu yang kamu mau, baiklah aku penuhi kemauanmu." ucap Arick dengan nada yang sangat lembut.


Calista menggelengkan kepalanya, menatap Arick dengan bibir yang mengerucut ke depan.


"Tidak! apa menurut Kakak, aku mau itu? tidak sama sekali. bukannya aku sudah bilang, kalau aku tidak mau melakukannya kalau Kakak tidak mencintaiku? jadi lupakan hal itu! sebaiknya kakak kembali ke tempat tidur sekarang. Biarkan aku tidur di sini," ucap Calista sambil memejamkan matanya.


Arick bergeming, diam seribu bahasa sambil menatap ke arah Calista yang terpejam. Tiba-tiba Calista membuka matanya dan duduk.


"Hmm, bagaimana kalau kita berpisah saja, Kak?" Mata Arick membesar mendengar ucapan Calista. "aku sepertinya sudah lelah menunggu Kakak bisa mencintaiku. Aku mau mencoba untuk membuka hatiku untuk pria lain, yang mungkin bisa mencintaiku."


Arick mencengkram bahu Calista dengan kencang. Manik matanya kini sudah berkilat-kilat, menatap Calista dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Jangan sesekali kamu mencoba untuk berbicara seperti itu lagi! Jangan pernah berniat untuk membuka hati pada laki-laki lain, kalau kamu tidak mau laki-laki itu tidak bernyawa. Karena kamu itu terlahir hanya untukku!"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2