
Hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Kama, di mana hari ini dia dan Tasya disatukan dalam ikatan pernikahan sebagai suami istri. Pukul 11 pagi tadi, keduanya sudah melakukan sesi photo sambil memegang surat nikah mereka karena mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.
Seperti biasa acara resepsi pernikahan dilangsungkan pada malam hari di gedung hotel milik keluarga Bagaskara.
Kama tampak sudah sangat gagah dengan tuxedo pengantinnya.
Pria itu tampak santai sambil memainkan game yang ada di ponselnya sambil menunggu acara dimulai.
"Wih, pengantin kita sepertinya santai nih," celetuk Cakra yang muncul tiba-tiba bersama dengan Arend, Arick dan Carlos.
"Akhirnya si bontot kita nikah juga," Arend menimpali ucapan Cakra. Jangan lupakan Kama yang bersikap cuek, dan tetap melanjutkan permainannya.
"Padahal, dulu aku sempet mengira kalau dia akan menikah setelah otongnya lapuk," celetuk Arick yang disambut tawa dari yang lainnya.
"Sialan!" Kama sontak bereaksi begitu mendengar kata lapuk. "dan kamu Arend, aku bukan bontot. Aku justru lebih dulu lahir dibandingkan dengan Cakra dan Carlos," protes Kama, tidak terima.
"Idih, hanya beda hitungan bulan aja, bangga." Carlos berdecih dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.
"Bahkan hanya beda beberapa detik aja, bisa dikatakan lebih tua, apalagi ini, yang bedanya dua bulan." Kama benar-benar tidak mau kalah.
"Pak, Kama acara sebentar lagi akan dimulai. Anda sudah bisa menjemput istri anda sekarang!" tiba-tiba seorang pria yang mengatur semua rundown acara, muncul di depan pintu.
"Wih, ternyata aku sudah punya istri," ucap Kama yang sedikit merasa takjub ketika pria tadi menyebut istri anda.
Plak ... plak ... plak ... plak
Empat pria yang bersamanya di dalam ruangan itu bergantian memberikan pukulan di kepala Kama, karena jengah melihat sikap Kama yang menurut mereka berlebihan.
"Apa-apaan sih kalian woi!" cetus Kama, kesal sambil membenarkan tatanan rambutnya.
"Nggak usah banyak bicara lagi! kamu tadi dengarkan apa kata pria tadi? kamu harus jemput Tasya, sana, buruan!" Arend mendorong tubuh Kama dengan sedikit kencang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kama tercengang untuk beberapa saat melihat penampilan Tasya yang begitu cantik di matanya.
"Sayang, kamu kenapa pakai gaun seperti itu? apa tidak ada gaun yang menutupi lenganmu?" protes Kama setelah tersadar dari kekagumannya.
"Apaan sih? apa kamu mau bilang kalau ini jelek?" Tasya mengerucutkan bibirnya, karena kesal. Bukannya mendapat pujian tapi, protes yang dia dapatkan.
"Bu-bukan seperti itu! mau pakai pakaian apapun kamu itu tetap cantik di mataku, tapi kali ini kamu kelewat cantik, Sayang. Kulit putihmu terekspos dengan nyata. Harusnya hanya aku yang bisa melihatnya,"
"Kalau kulitku tidak bisa dilihat oleh orang lain, harusnya aku pakai selimut saja, supaya bisa menutupi seluruh tubuhku." cetus Tasya masih dengan posisi bibir yang sama.
Kama terkekeh mendengar jawaban yang diberikan oleh Tasya. Dia ingin sekali menyambar bibir sang istri yang menurutnya sangat menggoda. Namun, pria itu mengurungkannya, karena takut nantinya tidak bisa menahan diri. Kan aneh, kalau acara berlangsung, tapi pengantinnya tidak ada. Yang lebih horor lagi, kalau Tasya memusuhinya dalam jangka waktu yang lama, karena tidak bisa hadir di acara resepsi pernikahan sendiri, yang sudah diimpikannya sejak dulu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka berdua kini sudah berdiri di depan pintu masuk. Mulut Tasya terbuka sedikit karena terpukau dengan ballroom yang disulap menjadi sangat indah seperti di negeri dongeng sesuai dengan apa yang dia impikan selama ini.
"Wah, indah sekali, Sayang!" ucap Tasya, berdecak kagum.
"Kamu suka?" bisik Kama, dan Tasya mengangguk dengan cepat.
"Ini semua untukmu, Sayang dan ini sama sekali tidak gratis." ucap Kama, ambigu.
"Maksudmu?" Tasya mengrenyitkan keningnya.
"Kamu harus membayarnya nanti malam," Kama mengerlingkan matanya, menggoda Tasya.
Tasya yang mengerti ke arah mana ucapan Kama, seketika menundukkan kepalanya, dengan wajah yang memerah. Seketika, wanita itu membayangkan rasa sakit yang akan dia rasakan nanti.
"Tapi, seperti aku belum bisa membayarnya malam ini, Sayang," Rasa berbisik dengan sangat hati-hati.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena aku sedang datang bulan,"
"Kamu jangan bohong! kamu pasti mau menghindarkan? 'Oh, tidak bisa! aku tahu kamu itu tidak datang bulan sama sekali,"
"Kom kamu bisa tahu?" alis Tasya bertaut tajam, karena bingung bagaimana Kama tahu kalau dirinya tidak sedang datang bulan.
"Jadi, tadi kamu sebenarnya hanya menduga-duga?" Kama menganggukkan kepalanya dengan senyum.
"Kamu sebenarnya tidak tahu jadwal datang bulanku?"
"Tentu saja tidak," jawab Kama dengan santai.
"Ihh, kamu ya ..." ingin rasanya Tasya mencekik suaminya itu, tapi dia urungkan karena ruangan sudah penuh dengan tamu undangan.
Acara akhirnya akan dimulai. Suara MC sudah terdengar meminta pengantin untuk masuk kedalam gedung.
Kama dan Tasya berjalan dengan tangan Tasya yang menggelayut di lengan Kama menuju pelaminan yang juga tidak kalah indah dengan tempat duduk pada tamu undangan. musik instrumen yang sangat romantis berjudul 'A Whole New World' mengalun mengiringi langkah Kama dan Tasya hingga sampai ke atas pelaminan.
Dari arah pelaminan, tampak Arul menitikkan air mata, melihat Tasya, putri yang baru saja dia temukan terlihat bahagia karena sudah memiliki suami yang bertanggung jawab dan mertua yang sangat baik juga
Pria itu seketika berdiri menyambut sang putri begitu tiba di pelaminan dan membantu putrinya itu untuk duduk.
"Sayang, bisakan aku bernyanyi?" bisik Tasya tiba-tiba.
"Tidak boleh! nanti semua laki-laki di sini akan terpukau denganmu," tolak Kama.
"Aku mau tetap bernyanyi juga. Kalau masalah terpukau, itu hak mereka, tapi kamu harus ingat juga kalau aku juga punya hak untuk menolak mereka. Lagian, perasaan cintaku sudah murni hanya untukmu." ucap Tasya yang diselingi dengan gombalan.
Kama tersenyum sumringah mendengar ucapan istri. Akhirnya dia pun mengizinkan Tasya untuk bernyanyi, tapi dirinya ikut serta mendampinginya.
__ADS_1
"Ini lagu buat kamu, Sayang," ucap Tasya yang dibarengi dengan senyum manis dan tulus.
Sebuah alunan musik untuk mengiringi lagu yang berjudul 'menikahi denganmu' , mengalun merdu. Tasya mulai bernyanyi dengan suara yang berhasil menghipnotis para tamu undangan.
Menantimu hingga saat
Cintaku temukan dirimu
Usai sudah sampai disini
Berdiri melabuhkan asmara
Menikah denganku
Menempatkan cinta
Melintasi perjalanan usia
Menikah denganmu
Menempatkan jiwa
Bertahtakan kesetiaan cinta
Selamanya
Menantimu hingga saat
Cintaku temukan dirimu
Usai sudah sampai disini
Berdiri melabuhkan asmara
Menikah denganku
Menempatkan cinta
Melintasi perjalanan usia
Menikah denganmu
Menempatkan jiwa
Bertahtakan kesetiaan cinta
Selamanya
...
Suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan, setelah Tasya menyelesaikan lagunya. Bahkan kama sontak memeluk sang istri dengan erat.
__ADS_1
Tbc