
Tasya, masuk ke rumah setelah mengucapkan salam terlebih dulu. Wanita itu terlihat sangat lesu. Mungkin karena dia lelah setelah bekerja seharian. Hari ini dia terlihat lebih lelah dibandingkan dengan hari-hari biasanya, karena bukan hanya fisik saja yang lelah tapi hatinya juga.
"Lho, kamu sudah pulang? kok sendiri? biasanya kamu kan diantar sama, Nak Kama? kenapa hari ini tidak?" cecar seorang wanita yang merupakan ibu dari Tasya, sambil menatap ke arah pintu untuk mencari keberadaan Kama.
Tasya tidak menjawab sama sekali. Karena sebenarnya seharian ini pikiran wanita itu juga kosong. Semenjak dirinya mengatakan kalau dirinya tidak mencintai Kama, pria itu tidak mengganggunya lagi seharian ini. Baik itu dari telepon maupun pesan dan hal ini membuat Tasya benar-benar merasa kehilangan.
"Kenapa kamu diam sih?" tanya wanita setengah baya yang bernama Dewi itu dengan raut wajah yang kesal.
"Gak pa-pa, Mah," sahut Tasya. "Emm, aku masuk kamar dulu ya, Ma," Tasya hendak beranjak pergi meninggalkan mamanya. Namun langkahnya terhenti ketika tangan Dewi menahan tubuhnya.
"Kamu jangan kemana-mana dulu! Mama mau bicara sama kamu," Dewi mengajak Tasya untuk duduk di Kursi.
"Ada apa, Ma?" Tasya mengrenyitkan keningnya.
"Mama mau tanya, kapan keluarga Kama datang melamarmu? menurut mama tidak perlu lagi menunggu lama-lama, toh dia juga udah mapan dan sangat kaya. Jadi buat apa lagi menunda?"
Pertanyaan yang sangat dihindari oleh Tasya terlontar juga dari mulut mamanya. Tasya diam untuk sepersekian detik, detik berikutnya dia mengembuskan napas dengan sekali hentakan.
"Ma, aku rasa keluarga Kama tidak akan datang melamar Tasya. Jadi ___"
"Kenapa tidak?" suara Dewi sedikit mulai meninggi, dan reaksi mamanya yang seperti ini sudah bisa, Tasya duga sebelumnya.
__ADS_1
"Karena Tasya sudah menolaknya," jawab Tasya lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Apa?! kamu menolaknya? orang setampan dan sekaya itu kamu tolak? kamu ya, benar-benar tidak punya otak!" Dewi sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Wanita itu terlihat sangat murka mendengar ucapan Tasya.
"Tasya, kamu ini benar-benar perempuan yang paling bodoh yang pernah mama tahu. Otak kamu itu masih bisa berfungsi nggak sih?" omel Dewi merutuki kebodohan Tasya.
Tasya tidak menjawab sama sekali. Wanita itu hanya diam mendengarkan celotehan mamanya, karena dirinya sudah kebal dengan ocehan dan makian mamanya.
"Kamu itu memang anak yang tidak tahu diuntung, bodoh, benar-benar tidak bisa diharapkan! kamu itu tidak mau ya hidup mewah? benar-benar membuat waktuku yang membesarkanmu jadi sia-sia!" Dewi tidak berhenti mengumpat dan memaki, Tasya.
"Cukup, Mah! apa mama tidak pernah berpikir kalau hatiku akan sakit mendengar semua ucapan,Mama? jadi please berhentilah mengataiku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan!" air mata mulai menetes di pipi Tasya.
"Kamu tidak punya hak untuk memintaku berhenti bicara. Karena memang kenyataan kalau kamu itu bodoh, dan tidak bisa diharapkan. Kemewahan di depan mata, kamu tolak, apa itu bukan kebodohan namanya hah?
"Hei, apa salah kalau mama meminta itu semua? dia banyak uang, pasti permintaan seperti itu tidak akan memberatkan dia,"
"Mah, kalau dia memberikannya sendiri tanpa diminta, tidak apa-apa. Yang jadi masalah itu, mama yang meminta rumah, dan rumah itu harus mewah dan lain sebagainya. Tasya juga yakin, kalau mama tidak akan pernah puas, dan akan selalu minta dan meminta. Apa, Mama tidak memikirkan kalau aku pasti akan malu pada keluarga besar Kama, jika mama seperti itu? Karena itu aku memutuskan, daripada itu terjadi, lebih baik aku menolaknya dan meminta dia untuk mencari wanita lain," tegas Tasya dan berdiri dari tempat duduknya, hendak berlalu pergi.
"Kamu benar-benar tidak bisa kenang budi. Padahal aku sudah bersusah payah membesarkanmu sampai kamu bisa sebesar ini,"
Tasya mengehentikan langkahnya, karena Dewi lagi-lagi mengungkit masalah membesarkannya.
__ADS_1
"Ma, kenapa, Mama selalu saja mengucapkan kata-kata itu setiap kita berdebat? apa semua yang aku lakukan selama ini masih kurang? semua gajiku setiap bulan, sama Mama dan aku hanya disisain ongkos bekerja saja. Lagian bukannya membesarkan seorang anak itu sudah menjadi kewajiban seorang ibu? jadi kenapa mama selalu mengungkit masalah balas budi? bukan inginku juga, Ma bisa lahir dari rahim, Mama."
"Ya, kewajiban kalau itu anak sendiri, nah kalau kamu? kamu itu bukan anak kandungku, jadi kamu itu pantas untuk membalas budi,"
Bagai petir di siang bolong tanpa adanya angin dan hujan, Tasya benar-benar shock mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut mamanya itu.
"Ma-maksud, Mama apa? aku ini bukan anak kandung, Mama?"
"Ya! dan asal kamu tahu, aku menyesal sudah membawa dan membesarkanmu, kalau aku tahu akan begini jadinya. Kamu itu anak pembawa sial. Mama kandungmu meninggal karena melahirkanmu. Bisnis suamiku bangkrut semenjak ada kamu, sehingga kita bisa jatuh miskin seperti ini. Ini semua salah kamu! Dewi semakin menjadi-jadi.
"Tidak! ini tidak mungkin! Mama pasti berbohong kan? aku bukan anak pembawa sial, Ma!" Tasya menggelengkan kepalanya, tidak percaya.
"Buat apa aku berbohong? sama sekali tidak ada gunanya. Aku membawamu ke rumah, karena anak yang kulahirkan meninggal. Aku tidak mau suami suamiku kecewa dan mertuaku akan meminta anaknya menceraikanku. Aku tidak mau hidup miskin saat itu. Tapi, ternyata, dengan kehadiranmu, semuanya hancur dan akhirnya benar-benar jatuh miskin.
"Cukup! pantas saja, Mama selama ini tidak sayang padaku. Mama baik ketika ada maunya saja," Tasya memutar tubuhnya dan berlari keluar dari rumah.
Tasya berjalan dengan bahu yang turun naik. Wajah wanita itu kini sudah penuh dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ternyata dirinya bukanlah anak kandung Mama dan papanya. Semua orang yang dilaluinya melihat dirinya dengan tatapan aneh, tapi Tasya sama sekali tidak peduli.
"Jadi aku ini anak siapa ya, Tuhan?" ucap Tasya lirih.
Tasya melangkah menuju taman yang lumayan sepi. Wanita itu mendaratkan tubuhnya duduk di sebuah kursi besi yang berada di taman itu. Tasya menundukkan kepalanya dan berkali-kali menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti menetes.
__ADS_1
Tasya terjengkit kaget karena seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Tbc