Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Dia tidak bisa dibandingkan dengan wanita manapun!


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, sekarang?" tanya Kama sambil mengelus kepala Tasya dengan sayang. Akan tetapi, Tasya tiba-tiba menepis tangan Kama, hingga membuat pria itu mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Kenapa kamu menyingkirkan tanganku?" tanya Kama dengan alis yang bertaut tajam.


Tasya tidak menjawab sama sekali. Wanita itu justru mengalihkan tatapannya ke arah lain. Hal ini membuat Cakra dan Safira saling silang pandang. Cakra menggerakkan ekor matanya, memberikan isyarat pada Safira agar keluar dari ruangan itu, untuk memberikan kenyamanan pada Kama dan Tasya untuk berbicara.


"Aduh, aku harus pulang sekarang. Tadi aku sudah ada janji sama Alena. Tasya, kamu sudah baik-baik saja kan? aku pulang dulu ya! kalau ada apa-apa, kamu kabarin aku!" Safira yang mengerti isyarat yang diberikan oleh Cakra langsung memeluk Tasya sebelum akhirnya dia beranjak keluar dari ruangan itu.


"Aku juga harus pergi dari sini. Karena aku harus mengantarkan Safira ke tempat Alena," Cakra berlalu pergi menyusul Safira setelah Kama menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Kenapa kamu masih di sini? kamu boleh pergi juga seperti mereka," celetuk Tasya dengan nada yang sangat ketus.


"Kamu kenapa sih? apa aku ada salah sama kamu?"


Tasya mendengus dan menatap sinis ke arah Kama. Wanita itu merasa kesal karena pria di depannya itu merasa tidak memiliki rasa bersalah sama sekali.


"Apa kamu tidak merasa kalau apa yang menimpaku ini, gara-gara kamu. Coba saja kamu tidak mendekatiku, pasti hal ini tidak akan terjadi," tukas Tasya dengan sorot mata yang tajam.


Kama menghela napasnya dengan sekali hentakan. "Aku tahu! tapi aku tidak pernah berharap kalau hal seperti ini akan terjadi. Ini semua di luar kendaliku." Kama melakukan pembelaan diri dengan suara yang sangat lembut.


"Kalau begitu, sebaiknya kamu jangan mendekatiku lagi! aku tidak mau hal seperti ini akan terjadi lagi,"


"Aku tidak mau! aku berani jamin,. hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Lagian Ningsih dan empat temannya itu sudah ada di penjara sekarang. Jadi, tidak akan ada lagi yang mengganggumu," ucap Kama, tegas.


"Apa?!" pekik Tasya dengan mata yang membesar. terkesiap kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh Kama, yang dianggapnya terlalu berlebihan. "Kenapa kamu tega melakukannya? bukankah itu terlalu kejam?" imbuhnya.


"Apa yang mereka lakukan itu justru lebih kejam, Tasya. Bagaimana seandainya Safira tidak ada di tempat itu? apa kamu tahu yang akan terjadi? tidak akan ada yang menemukanmu, kamu bisa saja ditemukan tidak bernyawa, Tasya. Jadi, stoplah bersikap terlalu baik!" nada bicara Kama terdengar berapi-api. Terlihat jelas kemarahan pada raut wajah pria itu.

__ADS_1


Tasya bergeming tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena yang diucapkan oleh pria di depannya itu benar.


Kama memberanikan diri mendekati Tasya, begitu melihat kebisuan wanita itu. Dia mendaratkan tubuhnya duduk di tepi kasur Tasya.


"Tasya, sekarang kamu jangan berpikiran macam-macam ya! kamu tenang saja, aku akan selalu ada di sampingmu, untuk melindungimu." suara Kama kembali lembut sambil memberanikan diri untuk menyentuh pundak gadis yang sudah berhasil menghuni hatinya yang sempat kosong.


"Kenapa kamu mendekatiku? apa maksud kamu sebenarnya?" tanya Tasya sambil menatap Kama dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Kenapa kamu bertanya lagi? apa kamu tidak bisa melihat dengan jelas alasan aku mendekatimu? itu karena aku__"


"Karena kamu tidak mau kalah dengan keempat sahabat-sahabatmu itu kan?" Kamu tidak mau terlihat menyedihkan, karena masih sendiri, sementara sahabat-sahabat kamu sudah memiliki pasangan masing-masing," Tasya menyela ucapan Kama, sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.


Kama menarik napas dalam-dalam, kemudian dia membuangnya kembali ke udara. Jujur pria itu merasa kecewa dengan pemikiran Tasya yang menurutnya sangat dangkal dan tidak masuk akal.


"Jadi menurutmu, aku serendah itu? kalau hanya karena alasan itu, aku bisa saja dengan mudah mendapatkan seorang wanita untuk aku jadikan pasangan tanpa paksaan. Karena aku bisa pastikan akan banyak wanita yang bersedia aku jadikan pasangan. Tapi, kenapa aku mau bersusah payah untuk mendekatimu sampai-sampai harus memaksamu? menurutmu itu kenapa?" Kama mencondongkan wajahnya ke arah wajah Tasya, sehingga membuat gadis itu sontak memundurkan kepalanya.


Tasya diam hanya untuk sepersekian detik. Detik berikutnya wanita itu kemudian mengangkat wajahnya, memberanikan diri membalas tatapan Kama.


"Ok, Kalau begitu kenapa kamu tidak memilih salah satu dari wanita-wanita itu? kenapa harus aku? padahal kamu tahu kalau aku tidak mau.__ Oh, aku tahu! pasti karena kamu mengganggap, kalau aku ini gampangan. Kamu mengira aku akan mudah bertekuk lutut, karena aku ini wanita miskin yang pastinya akan kegirangan didekati oleh pria kaya sepertimu iya kan?


"Nyatanya kamu tidak seperti itu kan? tapi kenapa aku masih tetap menginginkan kamu? coba kamu pikirkan alasannya kenapa?" Kama semakin mencondongkan wajahnya ke arah Tasya. Sehingga membuat bibir wanita itu seketika kelu, kesulitan untuk menjawab. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya mengerjap-erjapkan matanya , yang semakin membuat ekspresi gadis itu semakin menggemaskan di mata Kama.


Perhatian pria itu terpatri ke arah bibir tipis Tasya. Bibir itu seakan menghipnotis Kama, hingga membuat pria itu semakin mengikis jarak di antara mereka berdua. Sedangkan Tasya, yang juga entah kenapa merasa tubuhnya kaku, memejamkan matanya dengan jantung yang berdetak kencang, seperti sudah siap untuk menyambut Bibir Kama yang dipastikan akan mendarat di bibirnya.


Bibir Kama hampir tinggal seinci lagi jaraknya dari bibir Tasya. Akan tetapi, tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang, hingga membuat kedua orang itu terjengkit kaget dan sontak menoleh ke arah pintu.


"Maaf, mengganggu!" ucap seorang yang baru saja muncul, yang ternyata seorang dokter wanita yang sepertinya ingin melakukan pemeriksaan ulang pada Tasya.

__ADS_1


Tasya merasa malu, dan langsung menundukkan kepalanya. Sedangkan Kama yang bisa dengan mudah menguasai keadaan tidak merasa canggung sama sekali.


Dokter itu menatap Tasya dengan tatapan sinis. Dia merasa wanita itu sama sekali tidak pantas untuk Kama. Menurutnya yang pantas bersanding dengan Kama itu wanita berkelas dan berpendidikan seperti dirinya.


"Ada apa, Dok?" tanya Kama dengan ekspresi wajah yang datar. Pria itu merasa tidak senang melihat tatapan dokter itu yang sepertinya merendahkan Tasya.


"Oh, aku hanya mau melakukan pemeriksaan kembali pada karyawan anda ini, Pak Kama. Aku __"


"Dia bukan karyawanku. Bukannya aku sudah mengatakan kalau dia itu calon istriku." tegas Kama dengan ekspresi dingin.


"Oh, maaf! beruntung sekali Nona Tasya, bisa mendapatkan pasangan seperti Pak Kama, yang kaya dan tampan. Karena, pasti akan banyak wanita di luar sana, mengharapkan cinta, Pak Kama yang lebih dari segalanya dibandingkan dengan Nona Tasya," ujar dokter itu sambil meletakkan stetoskopnya di tubuh Tasya, mencoba untuk tetap bersikap profesional.


"Dokter salah! bukan dia yang beruntung, tapi akulah yang beruntung. Bukan beruntung sih, tapi sangat, sangat beruntung. Karena dia tidak bisa dibandingkan dengan wanita manapun seperti yang anda sebutkan tadi. Dia sudah lebih dari segalanya bagiku. Jadi, dia tidak akan tergantikan oleh wanita manapun, sekalipun dia itu model papan atas, dokter, atau putri seorang pengusaha sekalipun," tegas Kama, bermaksud menyindir dokter itu.


Tangan dokter itu sedikit bergetar karena wanita itu bisa merasakan kalau ucapan Kama itu, merupakan sindiran untuknya.


"Oh, seperti itu! Baiklah, Pak Kama! Calon istri anda sudah baik-baik saja. Dia sudah bisa pulang sekarang tanpa memerlukan rawat inap," ucap dokter itu dengan gugup.


"Terima kasih, Dok!" ekspresi Kama masih dingin dan datar.


"Sama-sama, Pak Kama! aku keluar dulu,"


"Silahkan! ucap Kama tanpa mengalihkan tatapannya dari Tasya.


Tbc


Guys seriously, tadi malam aku sudah menulis bab ini dan rencananya akan aku up tadi malam. Tapi entah kenapa aku bisa ketiduran pas lagi nulis guys ๐Ÿ˜. Untungnya suamiku cepat tanggap dan mengamankannya. Coba kalau nggak, bisa-bisa, apa yang sudah aku tulis ini, hilang tanpa jejak.๐Ÿคฆ

__ADS_1


Please like vote dan komen ya guys. Kasih hadiah juga boleh๐Ÿ™๐Ÿป


__ADS_2