Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 67


__ADS_3

"Apa yang kamu pikirkan? kenapa kamu diam saja? apa kamu tidak sependapat dengan apa yang aku katakan tadi?" Tanya Kalila dengan alis yang bertaut tajam.


Carlos menghela napasnya dengan sekali hentakan dan balas menatap ke arah Kalila.


"Bukannya tidak sependapat. Tapi jujur, di dalam hatiku masih penuh dengan tanda tanya, kenapa kamu mau menerima menikah denganku, ketika kamu punya hak untuk menolak? padahal aku tahu jelas kalau perasaan cintamu itu pada Cakra."


"Itu karena aku menyayangi mamaku dan mama Cantika. Aku tidak ingin melihat wajah kecewa mereka,"


"Walaupun itu harus mengorbankan perasaanmu?" alis Carlos bertaut tajam.


"Ya. Walaupun aku harus rela mengorbankan perasaanku," tegas Kalila, tanpa adanya keraguan sama sekali dengan mata yang menerawang menatap ke langit-langit kamar.


Keheningan terjeda untuk beberapa saat di antara kedua pasangan suami istri baru itu. Mereka berdua larut pada pemikiran masing-masing.


Detik berikutnya, mata kedua pengantin baru itu, saling menatap. Dan di saat bersamaan, tiba-tiba tawa keduanya pecah, karena menurut mereka berdua, sangat aneh rasanya, mereka yang dulunya akrab, tidak pernah merasa canggung, tiba-tiba sekarang mereka bisa-bisanya menjadi canggung sama lain, karena sebuah pernikahan.


"Kenapa kita bisa secanggung ini sih? gak enak banget rasanya, tahu! Apa kamu juga merasakan hal yang sama?" tanya Kalila yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Carlos.


"Jadi menurutmu kita harus bagaimana?"tanya Carlos sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Pria itu benar-benar bingung sekarang.


"Ya, seperti dulu aja! tidak ada yang namanya 'canggung'," jawab Kalila, lugas.


"Hmmm, baiklah! tapi kalau kita melakukan seperti yang biasa dilakukan oleh suami istri, kamu jangan tertawa ya!" ucap Carlos ambigu.

__ADS_1


"Kenapa aku harus tertawa?" Kalila mengrenyitkan keningnya.


"Ya, kali aja kan kamu tertawa, karena merasa aneh."


"Tidak akan!" tegas Kalila. Padahal sebenarnya sekarang wanita itu ingin sekali tertawa melihat wajah Carlos yang tegang.


Carlos mendekatkan wajahnya ke wajah Kalila, hendak menjangkau bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Sementara itu, Kalila yang sudah siap, memejamkan kedua matanya. Akan tetapi wanita itu kembali membuka matanya, karena terganggu dengan suara tawa Carlos yang kencang.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Kalila dengan bibir yang mengerucut.


"Ekspresi wajah kamu lucu, Lila. Apa kamu benar-benar ingin dicium ya?" tanya Carlos di sela-sela tawanya.


"Apaan sih kamu?! aku kesal ah!" Kalila memutar tubuhnya, memunggungi Carlos. Wanita itu kesal sekaligus merasa malu, karena terlihat seperti wanita yang sangat menginginkan Carlos untuk menyentuhnya.


Tawa Carlos berhenti tiba-tiba, berganti dengan rasa yang tidak enak. Pria itu bergeser mendekati Kalila, dan menyentuh pundak sang istri yang sedang merajuk itu.


Kalila sontak tersenyum samar mendapatkan perlakuan Carlos yang menurutnya sangat manis. Kemudian wanita itu berbalik menghadap ke arah Carlos, sehingga jarak wajah keduanya sangatlah dekat.


Untuk beberapa saat tatapan keduanya terkunci, dengan detak jantung yang berdetak lebih cepat dari detak jantung normal. Seakan terhipnotis, Kalila terlihat memberanikan diri, untuk mengambil inisiatif sendiri, dengan mendaratkan bibirnya ke bibir suaminya itu, sehingga membuat Carlos terkesiap dan sontak membuat mata pria itu membesar dengan sempurna. Carlos tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat dia langsung membalas pagutan bibir istrinya itu dan mulai me*lu*ma*t dengan penuh perasaan.


Ciuman keduanya terlihat semakin memanas, sehingga membuat Carlos seketika langsung menindih tubuh Kalila, hingga kini posisi Kalila sudah berada di bawah tubuhnya. Kamar yang tadinya terasa dingin kini berubah semakin panas. Suara ******* yang keluar dari mulut Kalila, semakin membuat Carlos bersemangat dan merasa kalau suara de*sahan itu merupakan sebuah nyanyian penyemangat buat dirinya.


Dengan sekali tarikan, lingerie yang dipakai oleh Kalila tadi, sudah terlepas dari tubuh wanita itu. Bukan hanya menanggalkan pakaian Kalila, Carlos juga langsung menanggalkan pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Kini tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel. Kabut gairah Carlos kini semakin membara begitu melihat pemandangan yang sangat indah di depan matanya, yang menurutnya sanggup mengalahkan indahnya pulau Bali dan raja Ampat.

__ADS_1


Pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat Carlos tidak sabar untuk menjelajahi semua area-area sensitif milik sang istri. Mulai dari bibir, beralih ke leher mendaki gunung yang memiliki puncak kemerahan sampai tiba di sebuah lahan yang siap untuk dicangkul dan ditanam.


"Pelan-pelan, Carl!" ucap Kalila, ketika melihat cangkul milik Carlos hendak menancap di lahannya.


"Aku akan pelan-pelan, kamu tenang saja!" ucap Carlos di sela-sela napasnya yang memburu.


Tidak lama kemudian, suara jeritan kesakitan dari mulut Kalila terdengar, karena lahannya yang tadinya gersang, tak terjamah siapapun kini tertancap cangkul besar.


Tapi suara jerit kesakitan itu hanya bertahan untuk sementara. Kini suara itu berganti dengan suara -suara aneh, seperti mendesah dan mendesis memenuhi ruangan kamar itu.


Tidak berapa lama, setelah Carlos berjuang mencangkul, dan lahan itu sudah terlihat gembur, Carlos kini siap untuk menaburkan bibit-bibit unggulnya ke lahan milik Kalila dan berharap bibit-bibit unggul itu akan menghasilkan buah yang baik nantinya.


Setelah melakukan olahraga yang menguras tenaga tapi nikmat itu, baik Carlos maupun Kalila bersama-sama terkulai lemas di atas ranjang pengantin. Bunga mawar yang digunakan untuk memperindah ranjang pengantin dan tadinya masih bertengger dengan indahnya di atas sprei putih, kini sudah tidak berbentuk lagi dan berserakan entah kemana-mana.


Carlos kembali menarik tubuh Kalila dan membenamkan kepala wanita itu ke dadanya. Kemudian pria itu mengecup puncak kepala istrinya itu berkali-kali. Senyuman di bibir pria itu tidak pernah lekang dari tadi. Dia merasa bahagia dan berterima kasih,karena sudah menjadi orang yang pertama buat Kalila. Dan jujur ini juga merupakan pengalaman pertama buat Carlos.


"Kamu Sekarang sudah jadi milikku seutuhnya. Aku harap kamu tidak akan menyesali semuanya suatu saat. Aku tidak akan menjanjikan apapun. Tapi aku akan berusaha untuk jadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab." Ucap Carlos yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Kalila. Manik mata wanita itu kini sudah berembun mendengar kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Carlos.


"Aku juga akan berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik. Aku harap kita akan bisa belajar untuk saling mencintai," ujar Kalila menimpali ucapan Carlos.


"Bukan kita, tapi kamu yang harus belajar. Kenapa? karena sebenarnya rasa cinta itu sudah ada di dalam hatiku untukmu dari dulu," Carlos akhirnya mengakui perasaannya, hingga membuat mata wanita itu mengerjap-erjap tidak menyangka. Kalila langsung mengingat ucapan Cakra ketika memintanya untuk menikahi Carlos. Pria itu mengatakan kalau sebenarnya Carlos pernah menaruh hati padanya. Pria itu memilih mundur karena tahu kalau Cakra mencintai Kalila demikian juga sebaliknya.


Karena kelelahan, akhirnya tanpa menunggu lama, Carlos maupun Kalila langsung tertidur dengan pulas,dengan keadaan saling berpelukan.

__ADS_1


Tbc


Jaringan di kampung mertuaku, benar-benar tidak bersahabat guys 😁🤦


__ADS_2