
Hari berganti hari, tidak terasa sudah seminggu lamanya sejak Tasya dipertemukan dengan keluarga kandungannya. Namun hal itu tidak serta Merta membuat hubungannya dengan sang ayah angkat berakhir, justru dia masih tetap tinggal bersama dengan ayah angkatnya, karena memang cinta pertamanya adalah sang ayah angkat.
Sesuatu yang berbeda terjadi pada kehidupan Nino sekarang. Kenapa? karena sekarang pria itu tidak lagi bekerja sebagai tukang ojek, melainkan pria itu kembali menekuni bisnisnya yang sempat bangkrut. Tentu saja ini tidak lepas dari bantuan Kama.
Tasya baru saja hendak bersiap akan tidur. Dia nyaris merebahkan tubuhnya,tapi dia urungkan begitu dirinya dikejutkan dengan bunyi ponsel yang berdering,pertanda ada panggilan yang masuk.
Tasya tersenyum ketika melihat nama si pemanggil, yang sampai saat ini belum dia ganti. Di sana masih tertulis Tuan pemaksa is Calling
Tasya mencoba untuk tidak langsung menjawab agar terkesan tidak terlalu kelihatan kalau dirinya cinta sekali pada pria konyol itu.
Setelah menunggu beberapa detik, Tasya menekan tombol jawab dan meletakkannya di telinga.
"Hmm, ada apa, Kam?" tanya Tasya berpura-pura bersikap biasa saja, padahal hatinya sudah sangat berbunga-bunga.
"Hmm, ini bukan Kama, ini Carlos. Aku sekarang ada di depan rumahmu." terdengar suara Carlos yang terdengar seperti sedang panik.
"Carlos?" Tasya mencoba melihat kembali ke arah ponsel untuk memastikan nama si pemanggil.
"Bukannya ini nomor telepon Kama? tapi kenapa ada di kamu?" Perasaan Tasya berubah menjadi tidak nyaman.
"Iya, ini memang handphonenya Kama. Aku sedang di depan untuk menjemputmu, karena Kama kena musibah kecelakaan, dan dia memanggil-manggil namamu dari tadi,"
"Apa?" pekik Tasya, panik. "Kamu tidak serius kan? tadi sore kami masih komunikasi, dan dia baik-baik saja. Pak Carlos tolong jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda. Sebaiknya kamu keluar sekarang, takutnya kamu tidak punya waktu lagi untuk bertemu dengannya," Nada bicara Carlos terdengar sangat serius.
"Bapak jangan membuat aku takut! pak? Pak Carlos?" tidak ada sahutan lagi dari Carlos. Sepertinya pria itu sudah memutuskan panggilan secara sepihak.
Tanpa mengganti piyamanya, Tasya langsung berlari ke luar dari kamar. Wanita itu, bahkan tidak mengingat untuk pamit pada Nino papa angkatnya.
Di pekarangan rumah Tasya melihat Carlos sedang berdiri di samping mobilnya sambil melihat ke arloji di tangannya.
"Pak Carlos, Kama tidak apa-apa kan? Bapak bercanda kan?" cecar Tasya dengan air mata yang sudah menetes dari tadi membasahi pipinya.
__ADS_1
"Menurut kamu, apa aku kurang kerjaan bercanda malam-malam begini? daripada bercanda, lebih baik aku tidur memeluk istriku sekarang,"
"Kalau begitu tolong bawa aku ke Kama sekarang, Pak!" mohon Tasya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Memang itu tujuanku. Ayo masuk ke mobil!" Carlos masuk ke dalam mobil di susul oleh Tasya. Kemudian Carlos melajukan mobilnya dengan kecepatan yang terbilang cepat, membelah sepinya malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tasya mengrenyitkan keningnya, begitu menyadari kalau mobil Carlos tidak berhenti di sebuah rumah sakit, tapi di sebuah taman.
"Pak Carlos, bukannya kita akan ke rumah sakit? tapi kenapa kita ke sini? Pak, tolong jangan main-main! aku benar-benar ingin bertemu Kama, Pak!" wajah Tasya terlihat memelas.
"Sebaiknya kamu turun dari mobil ini! kamu jalan kaki sendiri aja ke rumah sakit melalui jalan ini, karena jalan ke rumah sakitnya ditutup. Jalan alternatif ya dari taman ini. Sayangnya mobil tidak bisa masuk ke dalam taman," Raut wajah Carlos terlihat merasa bersalah, karena tidak bisa membantu Tasya sampai tuntas.
Tasya, akhirnya keluar dari dalam mobil dan berjalan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Carlos.
Kedua mata Tasya membesar dengan sempurna tercengang melihat pemandangan di depannya yang dihias dengan begitu indah. Cahaya berkilauan yang berasal dari lampu- lampu kecil yang dipasang di sekeliling, membuat suasana taman itu sangat terang benderang.
Suara kembang api di langit, mengangetkan Tasya. Wanita itu semakin tercengang begitu melihat ada kalimat ' Will you marry me?' bersamaan dengan kembang api itu
"Tasya, mungkin bagimu ini masih terlalu cepat, tapi bagiku ini sudah cukup lama. Aku tidak mau berpikir berlama-lama lagi dan sudah sangat yakin untuk menjadikanmu sebagai pendamping hidupku. Tahukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama dan itu aku rasakan padamu.Ada nama yang selalu tertulis di dalam hati. tapi, belum tentu ia tertulis di atas akte nikah. Dan aku ingin kamu tertulis di keduanya.Will you marry me, Tasya?" ucap Kama dengan kata-kata yang sedikit puitis.
Plak ...
Bukannya menjawab lamaran Kama, tangan Tasya justru melayang seketika memukul kepala Kama.
"Kamu benar-benar keterlaluan. Udah buat orang jantungan dengan santainya kamu mengucapkan kata-kata yang sok puitis itu? kamu kira aku akan langsung lompat-lompat kegirangan ya?" omel Tasya dengan tatapan tajam seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Aduh, Sayang, marahnya nanti dulu, bisa? jawab dulu dong pertanyaanku!"
"Buat apa lagi aku jawabnya? Bukannya minggu lalu aku sudah jawab iya?" Tasya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kan biar lamarannya jadi romantis, Sayang. Seperti drama-drama Korea yang kamu tonton, " ucap Kama yang masih tetap pada posisinya berlutut.
"Romantis sih romantis, tapi jangan sampai buat orang olahraga raga jantung dong!" Tasya masih terlihat sangat kesal.
"Sayang, please marah-marahnya di tunda dulu! jawab dong!
"Apa kamu serius melamar aku dengan keadaan seperti ini? biasanya kalau mau dilamar, wanitanya akan didandani cantik dulu, tapi kamu? kamu memang gila Kama! bukannya langsung menerima, Tasya malah kembali menggerutu.
"Jadi bagaimana? apa aku diterima atau tidak?" Kaki dan tangan Kama mulai terasa pegal.
"Kenapa sih harus dijawab lagi? kan aku sudah pernah bilang kalau aku mau,"
"Tapi, aku mau kamu menjawab 'yes, i will' seperti yang ada di dalam drama. Please jangan buat perjuanganku untuk menonton drama Korea sia-sia,"
Tawa Tasya seketika pecah mendengar keluhan pria yang berlutut di depannya itu.
"Ok deh. Yes, I will!"
"Nah gitu dong!" ucap Kama sambil memasukkan cincin ke jari manis Tasya.
"Oh, Tuhan seharusnya momen seperti ini, aku tuh cantik dengan gaun yang anggun, bukan seperti ini. Udah pakai piyama, piyamanya sudah usang lagi,"
"Tas, bagaimanapun keadaanmu, kamu akan tetap terlihat cantik bagiku.Bahkan kamu tidak berpakaian sekalipun kamu tetap cantik, mungkin lebih cantik." ucap Kama yang tentu saja kembali mendapat pukulan di kepalanya.
"Dasar mesum!" umpat Tasya seraya mendelik ke arah Kama
Kama terkekeh sambil mengusap-usap kepala bekas pukulan Tasya.
"Kamu juga aneh, yang dimaksud lamaran itu bukan seperti ini. Maksudnya kamu datang ke rumah papa, membawa seserahan dan melamar secara resmi." Tasya kembali menggerutu.
"Oh, masalah itu kamu tenang saja. Aku sudah melakukannya. Emang bukan di rumah kamu, tapi di sini juga. Tuh mereka dan itu seserahannya," Kama menunjuk ke arah orang-orang terdekatnya, ada papa Arul, Rara, Papa Nino yang dia kira di rumah. Bahkan ada keluarga dari Kama sendiri, mama Anin, Kenjo serta Kalila dan Carlos. Mereka ternyata sudah berkumpul lengkap dengan pakaian yang bagus-bagus.
"Kamaaaa! kamu ya, tega banget membuat aku berpenampilan seperti ini di acara lamaranku sendiri!" Tasya meraih sandal jepitnya dan Kama langsung lari menghindar sebelum sandal itu melayang ke kepalanya.
__ADS_1
Tbc