Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Aku mencintainya sejak dulu


__ADS_3

"Tidur? apa malam ini kita juga gak anuan, Kak?"


Arick tidak menjawab sama sekali. Dia pura-pura tidak mau menanggapi ucapan Calista yang secara tersirat sedangkan mengajaknya untuk melakukan proses pengadukan untuk menciptakan sesuatu yang sama bentuknya dengan mereka berdua. Padahal ularnya sudah menggeliat mendengar ucapan Calista.


"Kak, apa kakak sudah tidur? tidak mungkin kamu tidur, kan?" Calista menempelkan dagunya di lengan Arick, seketika dia mengerucutkan bibirnya melihat mata Arick yang sudah terpejam.


"Haish, kakak mah tidak seru, masa tiap malam begini-begini aja. Kalau memang begini, mending nggak usah nikah." Calista menggerutu, membuat Arick yang sebenarnya belum tidur, tersenyum tipis.


Keheningan pun tercipta di antara pasangan suami istri itu. Calista menatap intens punggung suaminya, kemudian dia menempelkan tubuhnya di tubuh sang suami dan memeluk pria itu dari belakang.


Arick Bukannya tidak menyadari pelukan Calista. Akan tetapi, dia masih tetap berusaha untuk tidak menyentuh Calista sampai dia bisa melihat Arend tidak terluka bila melihat dirinya dan Calista. Karena menurutnya dengan Arend yang mengatakan iklhas melepas Calista untungnya tapi, masih belum menampakkan batang hidungnya di depannya, pertanda kalau pria itu masih terluka.


Napas Calista kini sudah terdengar teratur, pertanda kalau wanita itu sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Arick sontak memutar tubuhnya, menatap wajah damai istrinya itu. Kemudian dia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening wanita itu kemudian beralih ke bibir Calista.


Arick mengangkat kepala Calista dan meletakkan kepala wanita itu ke atas lengannya. Kemudian dia memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arick sudah kembali masuk bekerja, pasca libur menikah.


"Masuk!" titahnya dari dalam ketika pintu ruang kerjanya diketuk oleh dari luar.


Suara decitan pintu tidak membuat Arick mengalihkan perhatiannya dari layar dokumen yang sedang dia periksa.


"Rick, apa kamu mau Kopi?" tanya seorang wanita yang kepalanya menyembul dari balik pintu.


Arick mengangkat wajahnya, dan melihat wanita yang merupakan sekretaris pribadinya itu, sedang tersenyum ke arahnya.


"Tidak perlu Vania. Aku sudah dibekalin kopi sama Calista." jawab Arick, seadanya sambil kembali mengalihkan tatapannya ke arah dokumen yang menumpuk di depannya.


Senyum di bibir wanita yang dipanggil Vania itu seketika berubah kecut mendengar penolakan Arick. Yang tadinya dia hanya menyembulkan kepalanya, memutuskan untuk masuk begitu saja. Dia berjalan dengan anggun mendekat ke arah Arick.

__ADS_1


"Oh ya, Rick, selamat ya atas pernikahanmu. Sebagai temanmu Aku turut bersedih karena kamu harus terpaksa menerima pernikahan yang sama sekali tidak kamu inginkan ini. Aku harap Arend cepat kembali, sehingga kamu bisa bebas kembali. Kamu pasti tersiksa kan selama seminggu ini, hidup bersama dengan wanita yang sama sekali tidak kamu cintai." tutur Vania panjang lebar.


Arick mengrenyitkan keningnya mendengar ucapan Vania. Dia menutup dokumen yang ada di depannya dan langsung menatap tajam ke arah Vania.


"Maksudmu apa dengan kata tersiksa? apa menurutmu aku hidup tersiksa hidup dengan Calista? Kamu bisa lihat sendiri, aku bahkan ingin minum kopi buatan dia sekarang, apa menurutmu aku tersiksa? tidak sama sekali."


Vania tercenung mendengar jawaban yang baru saja terlontar dari mulut Arick. Dia mengira, kalau Arick akan menghela napas, dan curhat tentang apa yang laki-laki itu alami.


"Hmm, apa kamu dipaksa sama istri dadakanmu itu, untuk membawa kopi ke kantor? dari situ sudah terlihat kalau dia itu bukan seorang istri yang baik. Dia berniat untuk mempermalukanmu, Rick. Kamu pasti akan ditertawakan karyawan, karena berjalan sambil membawa termos berisi kopi. Kamu terlihat seperti tidak punya wibawa, Rick." ucap Vania, dengan seringaian tipis di bibirnya. Yakin kalau Arick akan terpengaruh dengan ucapannya.


"Kamu sudah terlalu ikut campur, Vania. Ini benar-benar bukan ranah kamu untuk mencampuri hal yang sama sekali kamu tidak tahu. Callista itu istriku sekarang dan aku tidak pernah merasa tersiksa hidup bersamanya, karena dia adalah istri yang baik. Walaupun Arend sudah kembali, tidak mungkin aku menyerahkan dia kembali padanya. Pernikahan itu bagiku bukan mainan." Tutur Arick yang membuat Vania terdiam tidak bisa berkata apa-apa.


"Dan asal kamu tahu, kopi yang aku bawa ini, atas permintaanku sendiri. Karena jujur, baru kali ini aku merasakan kopi yang pas di lidahku." sambung Arick kembali.


"Maksudmu, kopi buatanku kalah sama dia?"


"Hmm, aku sebenarnya tidak suka basa-basi, tapi dengan sangat menyesal aku harus jujur, 'iya'. Rasanya sangat jauh berbeda. Maaf!"


"Kamu mengatakan kalau kamu tidak tersiksa, tapi kenapa wajahmu terlihat seperti tertekan, Rick? Katakan kalau kamu mengalaminya tekanan kan?" ujar Vania sangat yakin dengan ucapannya.


"Iya, aku sangat tertekan!"


"Sudah aku duga, Rick. Itu terlihat dari wajahmu," Senyum Vania terbit.


"Aku tertekan dengan kamu, Vania. Jangan kamu kira kalau aku tidak tahu kalau kamu itu mencintaiku. Aku sangat tertekan dengan perasaan yang kamu miliki, untukku,"


"Ka-kamu sudah tahu?" Mata Vania membesar mendengar ucapan Arick.


"Iya aku tahu. Aku bukan orang bodoh, yang tidak bisa menyadari kalau kamu memiliki perasaan lebih dari teman. Tapi, please stop it. Aku sama tidak pernah mencintaimu. Aku menempatkan kamu kerja di sini, murni karena ingin menolong, ketika kamu sangat membutuhkan pekerjaan, karena usaha papa kamu bangkrut. Tapi ternyata kamu menyalah artikan pertolonganku."


Air mata Vania mulai merembes keluar. Dia tidak menyangka kalau Arick sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya.

__ADS_1


"Apa kurangnya aku Rick? apa karena aku tidak kaya seperti kalian?"


"Stop berbicara seperti itu! tidak ada kaitannya sama sekali. Aku rasa kamu pasti pernah dengar tentang keluargaku yang sama sekali tidak pernah melihat orang dari Statusnya. Tapi aku benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padamu. Jadi tolong kami hilang kan perasaan itu mulai sekarang!"


"Sangat mudah untuk kamu mengatakannya. Bagaimana dengan diriku, itu hal yang sangat sulit, Rick."


"Pasti bisa! Karena itu aku memutuskan kalau kamu bukan lagi sekretarisku mulai sekarang! kamu __"


"Kamu memecatku?"


"Tidak! tapi kamu aku pindahkan ke kantor cabang yang ada di Bandung. Aku memilih di sana, karena orang tuamu juga tinggal di sana." ucap Arick, tegas.


"Kamu tega, Rick. Sekarang kamu jelaskan, apa kamu mencintai istrimu?"


"Apa aku harus menjawabnya?"


"Iya!"


"Kenapa?" tanya Arick dingin.


"Karena jawaban kamu, menentukan keputusan yang harus aku ambil." ucap Vania sambil memasukkan tangannya ke dalam saku blazernya.


"Iya, aku mencintainya! sejak dulu aku sudah mencintainya. Aku sudah berusaha mengikhlaskan dia pada Arend, karena tahu kalau adik saya juga mencintainya. Tapi kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama, makanya kami bisa tetap bisa menikah."


"Ok, kalau begitu aku akan mundur! terima kasih Rick buat jawabannya. Aku pamit," pungkas Vania. Kemudian dia memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya melangkah keluar dengan air mata yang semakin banyak keluar.


Di saat bersamaan Kama masuk dan mengreyitkan keningnya, melihat Vania sekretaris Arick menangis


Tbc


Please vote rekomendasinya dihadiahkan ke novel ini dong dan tetap ninggalin jejaknya ya guys. Thank you

__ADS_1


__ADS_2