Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Arend posesif?


__ADS_3

Kediaman Arend dan Alena.


Daniel berjalan menuju ruangan kerja Arend dengan hati yang penuh tanda tanya. Di saat dirinya ingin berkencan dengan Rara wanita untuk telah berhasil membuat dirinya jatuh cinta, Arend tiba-tiba menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Alhasil , mau tidak mau akhirnya dia membawa serta Rara ke rumah bosnya itu. Beruntungnya Rara tidak keberatan karena wanita itu justru gembira bisa bertemu dengan Alena sepupunya.


Daniel mengetuk pintu dengan pelan, setelah pria itu tiba di depan sebuah pintu yang dia tahu adalah ruang kerja Arend.


"Masuk!" titah Arend dari dalam dengan suara yang sedikit keras.


Daniel membuka pintu, lalu menutupnya kembali.


"Selamat siang, Tuan!" sapa Daniel, sopan.


"Siang, Niel. Mari mendekat ke sini dan silakan duduk!" Arend menunjuk ke arah sofa dan demikian juga dirinya, mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


"Terima kasih,Tuan! Daniel membungkukkan tubuhnya lebih dulu, lalu duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Arend.


Daniel tidak bertanya sama sekali, walaupun dia sangat ingin menanyakan maksud Arend memanggilnya. Pria itu setia menunggu sampai Arend mengungkapkan alasan Tuannya itu.


"Kamu tidak mau bertanya kenapa aku memanggilmu datang hari ini?" Arend buka suara dengan nada datar.


"Eh iya. Ada apa Tuan memanggilku?"


"Aku cuma mau mengatakan, mulai besok kamu tidak perlu menjaga Alena lagi."


Daniel sontak menatap ke arah Arend dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa, Tuan? apa aku ada salah?" Kening Daniel mengrenyit.


"Ada!" ucap Arend tegas, "kesalahan kamu itu, Alena sudah tahu kalau kamu yang menjadi bodyguardnya. Aku tidak mau Alena selalu mengajak kamu untuk selalu mengobrol, nantinya,"


"Hah? hanya gara-gara itu, Tuan? kan itu bukan kesalahanku, Tuan. Kalau itu masalahnya, aku pastikan tidak akan mau untuk diajak mengobrol sama mbak Alena." Daniel memberanikan diri untuk mengajukan keberatan.


"Maaf, tetap tidak bisa. Karena aku tahu bagaimana sikap istriku sendiri. Dia pasti akan tetap tidak bisa untuk tidak mengajak kamu ngobrol,"

__ADS_1


"Tuan, ini sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa anda takut kalau aku dan Mbak Alena akan sering mengobrol nantinya? apa anda sedang meragukanku, yang bisa aja memiliki perasaan pada mbak Alena? Anda tahu sendiri kalau aku mencintai Rara." tutur Daniel yang benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Arend yang memiliki tingkat posesif yang tinggi.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, kan? banyak rumah tangga yang hancur hanya gara-gara pria dan wanita sering ngobrol akrab yang ujung-ujungnya, merasa ada kecocokan dan nyaman. Jadi, sebelum itu terjadi, ada baiknya kita menghindarinya dari sekarang,"


"Itu sama saja, anda meragukan cinta, mbak Alena. Setiap pasangan itu bukannya harus saling percaya?"


"Benar! kita boleh percaya, tapi jangan sampai lengah, karena banyak orang yang akan menyalah gunakan kepercayaan yang diberikan oleh pasangannya. Aku harap, kamu juga akan seperti itu nantinya," ucap Arend yang tetap bisa membalikkan kata-kata Daniel.


Daniel menghela napasnya dengan sekali hentakan, tidak bisa lagi membalas ucapan, Arend.


"Tapi, Tuan ... aku harus bekerja apa setelah ini? padahal aku sangat berniat untuk melamar Rara segera. Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa memenuhi pernikahan impiannya? aku juga tidak mungkin bisa menikahinya dengan kondisi tidak punya pekerjaan," Wajah Daniel terlihat frustasi.


"Aku yakin, dengan kemampuan yang kamu miliki, kamu akan bisa mendapatkan pekerjaan lagi dengan mudah. Sekali lagi, aku minta maaf!" raut wajah Arend benar-benar merasa bersalah sekarang.


"Tidak apa-apa, Tuan! terima kasih selama ini sudah memberikan aku pekerjaan ini! tapi kalau tidak bisa menjadi bodyguardnya mbak Alena, apa Tuan tidak ada pertimbangan untuk tetap bekerja pada Tuan?" Daniel masih terlihat berharap.


"Maaf, sebenarnya aku membutuhkan bodyguard hanya untuk menjaga istriku. Sedangkan bodyguardku sendiri, aku sudah punya dan tidak mungkin aku memberhentikannya juga, karena dia sudah sangat lama bekerja denganku. Jika posisi kalian berdua diganti juga sangat tidak mungkin, karena Alena mengenalnya. Alena wanita yang sangat ramah, jadi aku tidak mau ada yang memanfaatkan keramahannya. Maaf, sekali lagi, aku tidak bermaksud untuk mengatakan kalau kamu tipe orang yang suka memanfaatkan,"tutur Arend dengan panjang lebar tanpa jeda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu kenapa?" tanya Rara begitu melihat wajah pria yang dicintainya itu terlihat tidak semengat.


"Apa yang dikatakan Kak Arend tadi?" Rara tetap bertanya, walaupun pertanyaannya belum dijawab oleh Daniel.


"Boleh kita bicara di taman belakang sebentar?" bukannya menjawab pertanyaan kekasihnya, pria itu justru meminta kesediaan wanita itu untuk berbicara empat mata.


Daniel mengayunkan kakinya, melangkah menuju taman belakang, disusul oleh Rara dari belakang. Entah kenapa ada perasaan tidak enak yang muncul di hati wanita itu melihat wajah muram dan serius sang kekasih.


"Kamu kenapa sih? jangan buat aku bingung begini dong!" Rara, terlihat sangat kesal karena Daniel masih belum buka suara setelah mereka berdua duduk lima menit yang lalu.


"Ra, sepertinya hubungan kita harus berhenti sampai di sini, karena aku tidak mungkin bisa membahagiakanmu,"


Bagai petir yang menyambar di siang hari tanpa adanya angin dan hujan, Rara benar-benar kaget dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Daniel.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? kenapa kamu bisa berkata seperti itu? bagaimana bisa kamu begitu pesimis tidak bisa membahagiakanku?" pekik Rara, kesal.


Daniel memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya.


"Aku sekarang sudah menjadi seorang pria yang tidak berguna lagi, Ra. Aku sekarang pria yang tidak memiliki pekerjaan. Aku tidak akan bisa memberikan kehidupan yang layak padamu seperti, kehidupan adik kamu," desis Daniel dengan lirih, tidak berani menatap mata Rara.


"Kenapa kamu bicara seperti ini? kenapa kamu bisa mengatakan kalau kamu tidak bekerja lagi?"


Daniel memijat pangkal hidungnya. Terlihat sekali kalau pria itu benar-benar sangat frustasi. Daniel berdiri, membelakangi Rara sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Kemudian pria itu menceritakan apa yang sudah terjadi, dimana Arend memberhentikannya dan alasan kenapa pria itu menghentikannya.


"Jadi hanya gara-gara itu, kamu mau mengakhiri hubungan kita? kenapa kamu bisa seputus asa ini? Kalau kamu tidak bekerja lagi dengan Kak Arend, bukannya kamu bisa mencari pekerjaan di tempat lain?" suara Rara meninggi, benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Daniel.


"Boleh saja, Ra! tapi aku tidak berani jamin kalau aku akan mendapatkan gaji yang sangat besar. Bagaimana aku bisa membahagiakanmu nantinya. Kamu pasti akan merasa rendah diri di depan Tasya adikmu yang bisa menikah dengan seorang CEO yang pastinya bisa memberikan apa yang dia mau. Kamu juga memiliki sepupu yang memiliki suami pewaris dari Bagaskara Company. Nah kamu bagaimana? dengan menikah denganku, bagaimana kamu bisa memposisikan dirimu nantinya dengan mereka?" ucap Daniel dengan nada yang berapi-api dan air mata yang menetes, tapi buru-buru dia seka.


"Aku tidak mau, Ra! aku tidak mau melihat wanita yang aku cintai, terlihat sangat berbeda nantinya. Aku akan merasa menjadi seorang pria yang gagal," sambung Daniel kembali.


"Apa menurutmu, aku orang yang seperti itu? dari dulu aku sudah terbiasa hidup seadanya selama hidup di panti asuhan. Apa kamu bisa menjamin kalau kamu meninggalkanku, aku akan ditakdirkan menikah dengan pria yang seperti suami Tasya dan Alena? bagaimana kalau tidak? apa menurutmu pengorbananmu akan sia-sia?"


Daniel tercenung tidak bisa menjawab.


"Niel, aku mencintaimu apa adanya. Kita tidak bisa tahu, bagaimana hidup kita ke depannya nanti. Bisa saja nanti kamu suatu saat akan menjadi orang yang sukses dan aku akan menemanimu untuk melalui semua proses itu." suara Rara kembali lembut sambil mengelus-elus punggung Daniel.


"Apa kamu tidak ingin memiliki hidup seperti adik dan sepupumu?"


"Siapa yang tidak menginginkan hidup seperti itu? tapi kita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa hidup seperti itu kan? setiap takdir orang itu berbeda-beda, Niel, walaupun kami itu bersaudara. Kalau takdir Tasya dan Alena seperti itu, tidak mungkin aku harus memaksakan kehendak untuk bisa sama seperti mereka. Jadi please stop untuk over thinking. Sebaiknya sekarang kita berusaha sama-sama ya!" Rara menyunggingkan senyum manisnya.


Daniel memutar tubuhnya dan menatap manik mata wanita yang dicintainya itu dengan mesra dan lembut. Dia melihat ada ketulusan di mata Rara. Kemudian pria itu, menarik tubuh wanita itu dan memeluknya dengan erat.


"Niel, kamu tidak ada dendam kan pada Kak Arend?" tanya Rara setelah dia merasa Daniel sudah tenang.


"Tidak sama sekali! aku sudah biasa disingkirkan dan aku sudah kebal dengan semua itu. Tuan Arend hanya berusaha untuk menjaga rumah tangganya, walaupun sikapnya bersikap waspada padaku sangat berlebihan." pungkas Daniel dengan senyum tipis di bibirnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2