Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bab 60


__ADS_3

Safira mendelik, merasa kesal karena merasa kalau Cakra sudah membohonginya. Semalaman dia harus memenuhi perintah pria itu karena merasa bersalah. Tapi lihatlah sekarang, kaki pria itu justru baik-baik saja.


"Kamu sudah membohongiku, Cakra! kamu tega sekali!" Safira berucap dengan memperlihatkan tampang yang sangat kesal .


"Maaf! aku tidak ___"


"Sekarang saja kamu sudah membohongiku, bagaimana nanti kalau sudah menikah? aku mau tarik kembali __"


"Tidak boleh! kami tidak boleh menarik kata-katamu tadi! kamu sudah mengatakan bersedia, dan itu mutlak tidak bisa ditarik lagi, mengerti!" Cakra dengan sigap memotong ucapan Safira, karena dia tahu apa yang akan diucapkan oleh wanita itu.


"Aku melakukan hal ini, karena aku sudah kehabisan cara untuk membuat kamu mau menikah denganku, Fira. Aku minta maaf kalau aku sudah bertingkah berlebihan tadi malam,". Cakra mencengkram erat pundak Safira dan menatap dalam-dalam manik mata wanita itu.


Safira tercenung. Kerutan yang muncul di keningnya, menandakan kalau wanita itu tengah dilanda kebingungan. Bagaimana tidak? wanita itu sangat bingung dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh pria di depannya. Ekspresi wajah itu seakan-akan seperti takut kehilangan dirinya dan seakan-akan pria itu benar-benar mencintainya. Akan tetapi Safira tidak berani untuk menanyakan hal itu, karena dirinya tidak mau dianggap terlalu percaya diri.


"Cakra, bisa tidak kamu lepaskan tangan kamu dari pundakku? kamu mencengkramnya terlalu kencang," ucap Safira dengan lirih.


"Aku akan melepaskannya, tapi kamu harus berjanji dulu, kalau kamu tidak akan menarik ucapanmu!"


"Iya, iya, aku tidak aku menarik ucapanku," ucap Safira pasrah.


Senyum Cakra seketika terbit menghiasi bibirnya dan pria itu pun langsung melepaskan tangannya dari pundak wanita yang kini telah mengisi hatinya itu.


"Kamu aneh! kamu bertingkah seakan-akan mencintaiku, padahal kamu hanya mau bertanggung jawab saja," ucap Safira dengan suara yang sangat pelan sambil berlalu keluar dari ruangan. Akan tetapi masih bisa tertangkap oleh telinga Cakra, hingga membuat pria itu terpaku pada tempatnya berdiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Karena sandiwaramu sudah ketahuan, mau tidak mau kamu harus tetap berangkat kerja hari ini!" ujar Calvin dengan mata yang tetap fokus pada televisi yang menyajikan tayangan berita.


"Tapi, Pah ... apa tidak bisa besok saja aku kerjanya. Hari ini biarkan aku di rumah, menghabiskan waktu pertama anak-anak," Wajah Cakra terlihat memelas, berharap papanya itu menaruh kasihan padanya.

__ADS_1


"Tidak boleh! banyak yang harus kamu kerjakan di kantor. Kalau tentang kamu yang berpura-pura demi mendapat simpati Safira, papa masih bisa maklumi, tapi sekarang kasusnya sudah beda. Safira sudah tahu sandiwara kamu. Jadi mau tidak mau kamu harus tetap pergi bekerja." ucap Calvin dengan sangat tegas.


"Pa, apa tidak bisa kalau Carlos saja yang menghandle perusahaan yang aku pimpin? untuk hari ini aja, Pah," Cakra masih berusaha untuk memohon, berharap sang papa berubah pikiran.


"Cakra, adik kamu itu, dua hari lagi akan menikah. Dia harus menjaga staminanya, supaya fit di hari pernikahannya. Kalau dia terlalu capek karena harus menghandle perusahaan sendiri, bisa-bisa nanti dia jadi jatuh sakit. Kalau dia jatuh sakit, apa kamu mau menggantikannya untuk menikah dengan Kalila?"


Cakra dengan cepat menggelengkan kepalanya, begitu mendengar ucapan sang papa.


"Tentu saja tidak, Pah," jawab Cakra cepat, tanpa adanya keraguan pada ucapannya.


"Kamu menjawab tidak dengan begitu lugas dan tegas. Apa itu berarti kalau kamu sudah jatuh cinta dengan Safira?" Alis Calvin terangkat ke atas, curiga.


"Ya! aku mencintainya,"


Calvin mengulum senyumnya mendengar ketegasan ucapan putranya. "Bagus! papa bangga padamu. Papa harap kalau ucapan kamu barusan benar-benar dari hati kamu," ucap Calvin sambil menepuk-nepuk pundak putranya itu.


"Jadi, bagaimana, Pah? hari ini aku bisa tidak masuk kerja kan?" Cakra kembali ke pertanyaan awal, karena dirinya belum mendapatkan izin dari papanya itu.


Cakra tersenyum lebar. Setelah mengucapkan terima kasih pada papanya, pria itu memutar tubuhnya dan langsung berlalu meninggalkan papanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu mau kemana?" tanya Cakra ketika melihat Safira sudah terlihat rapi seperti hendak pergi.


"Aku mau berangkat kerja, emang mau kemana lagi?" jawab Safira seraya melanjutkan langkahnya.


"Bekerja gimana? kamu mau ninggalin aku sendiri di rumah?" tanya Cakra sambil menahan tubuh Safira dengan menarik tangan wanita itu. Pria itu tidak menyadari kalau apa yang baru saja terlontar dari mulutnya itu, merupakan pertanyaan bodoh.


"Kamu kok aneh sih? di rumah ini kan banyak orang. Kamu tidak sendirian di sini. Lagian buat apa aku di sini, toh kaki kamu juga tidak sakit kan?" Safira menepis tangan Cakra dengan halus.

__ADS_1


"Walaupun kakiku tidak sakit lagi, setidaknya kamu harus menemani aku di rumah! asal kamu tahu aku sudah bela-belain tidak masuk kantor hari ini,"


"Aku tidak memintamu untuk tidak pergi bekerja. Jadi jangan bertingkah seakan-akan, aku yang mau kamu untuk tetap ada di rumah!"


Cakra bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pria itu benar-benar kehabisan kata-kata. Pria itu hanya bisa menatap punggung Safira yang melangkah meninggalkannya.


"Jadi, apa gunanya aku di rumah? lebih baik aku juga berangkat kerja sekarang," bisik Cakra pada dirinya sendiri.


"Oh ya, nanti pulang dari bekerja, aku tidak kembali ke sini lagi ya. Aku akan langsung kembali ke rumahku," celetuk Safira tiba-tiba sambil kembali memutar tubuhnya.


"Tidak boleh! kamu harus tetap kembali ke rumah ini. Kalau tidak, aku akan tinggal di rumah kamu," ancam Cakra dengan sorot mata yang sangat tajam.


Safira mendegus dan mencebikkan bibirnya, merasa kesal dengan sikap Cakra. Wanita itu kembali memutar tubuhnya dan melangkah sambil menghentakkan kakinya berlalu meninggalkan Cakra yang tersenyum tipis.


Cakra hampir saja menapaki kakinya di anak tangga, hendak naik ke atas, menuju kamarnya. Akan tetapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya, karena tiba-tiba dia mendengar suara derap sepatu yang berbenturan dengan lantai di belakangnya. Pria itu kemudian kembali menoleh ke belakang, untuk melihat siapa pemilik sepatu itu.


"Kenapa kamu kembali lagi?" Kening Cakra berkerut melihat Safira yang kembali masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak jadi pergi bekerja, aku lagi tidak enak badan," jawab Safira yang membuat Cakra panik dan langsung menghampiri wanita itu dan langsung meletakkan tangannya di dahi Safira.


"Tapi, dahi kamu sama sekali tidak panas. kamu sakit apa?" tanya Cakra dengan penuh perhatian.


"Badanku sakit semua. Ini semua gara-gara kamu yang banyak menyuruhku tadi malam," ucap Safira sambil melakukan peregangan dengan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


"Ayo naik ke atas! jangan berdiri di sini!" Safira meraih tangan Cakra, dan terlihat seperti terburu-buru menarik pria itu naik ke atas, hingga membuat Cakra bingung dengan perubahan sikap Safira.


Sementara itu, sepasang mata menatap interaksi antara Cakra dengan Safira dengan manik mata yang sudah berembun karena merasa sakit yang menghantam jantungnya. Siapa lagi dia kalau bukan Kalila, wanita yang membuat Safira tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk pergi bekerja. Entah kenapa ada perasaan tidak rela yang muncul di dalam hatinya, membayangkan Cakra dan Kalila berduaan nantinya.


Tbc

__ADS_1


Guys, mulai besok judul novel ini akan aku ganti menjadi Cerita Cinta Lima CEO ya. Bukan cuma judulnya, sampulnya juga akan aku ganti. Jadi jangan bingung seandainya yang muncul di notifikasi bukan judul yang lama lagi. Terima kasih 😁🙏🏻


__ADS_2