Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Keheranan Cakra


__ADS_3

Kamu kenapa diam saja? apa kamu tidak bisa mendengar? atau mulut kamu tidak bisa menjawab?" tanya Cakra dengan nada yang sarkastik.


"A-aku sedang menunggu angkot, Pak." Jawab Safira dengan gugup, menahan diri untuk tidak memperlihatkan kebenciannya pada pria itu.


"Aku tahu kalau kamu sedang menunggu angkot. Yang aku tanya itu di mana rumahmu?"


ujar Cakra yang membuat Safira ingin mengumpati pria itu.


"Bukannya, tadi kamu tanya kenapa aku berdiri di sini? aku jawab kenapa kamu bilang sudah tahu? kalau sudah tahu ngapain nanya lagi?" ucap Safira yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.


Safira menghela napasnya terlebih dulu, dan akhirnya memberitahukanku di mana dia tinggal.


"Ok, kita satu arah. Aku nanti bakalan melewati kawasan rumah kamu. Kamu naik ke mobil! jam segini angkot jarang ada yang kosong," ucap Cakra dengan nada datar.


" Ti-tidak perlu, Pak. Aku naik angkot saja. Terima kasih Bu tawarannya!" tolak Safira dengan suara yang lembut. Dia merasa kalau dia tidak akan sanggup jika berada di dalam satu mobil dengan pria yang membuat dirinya selalu bermimpi buruk.


"Kenapa kamu masih belum masuk? apa kamu mau aku membukakan pintu mobil untukmu?" tanya Cakra dengan dingin.


Safira refleks menggelengkan kepalanya, dan langsung mencoba untuk membuka pintu mobil belakang. Akan tetapi, Safira tidak bisa membuka pintu mobil itu.


Safira kembali ke pintu mobil depan dan membungkukkan sedikit badannya.


"P-Pak. Pintu mobilnya tidak bisa dibuka," ucap Safira dengan nada suara yang sangat pelan.


"Duduk di depan! aku bukan supir kamu," ucap Cakra tanpa menoleh ke arah Safira.


"Ma-Maaf Tuan, aku tidak bisa," tolak Safira, gugup. Dia membayangkan selama lebih dari 30 menit bahkan mungkin satu jam, berada sangat dekat dengan pria itu, dia akan menahan rasa takut karena membayangkan apa yang dilakukan oleh Cakra dulu.


Cakra mengembuskan napas kesal, tapi tetap membuka kunci pintu belakang. Dia sendiri heran kenapa dia bisa seperti itu, padahal bisa saja dia langsung pergi meninggalkan Safira, setelah wanita itu menolak kebaikannya. Tapi, lihatlah, dia justru sama sekali tidak melakukannya, dan bahkan memenuhi permintaan Safira untuk duduk di belakang.


"Sial! kenapa kesannya seperti aku yang mengharapkan dia masuk ke dalam mobilku? padahal, dia kan yang ditolong?" Cakra menggerutu di dalam hati, kesal pada diriy sendiri.


Cakra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Awan kini sudah mulai berganti warna menjadi jingga, pertanda sebentar lagi, malam akan menjelang.

__ADS_1


Suasana di dalam mobil sangat hening. Tidak ada satupun di antara mereka yang memulai percakapan.


Sepanjang jalan, Safira berkali-kali menyeka peluh yang merembes di pelipisnya, padahal kondisi di dalam mobil itu dingin. Safira berkali-kali melirik ke arah Cakra dan jalanan, untuk memastikan kalau Cakra benar-benar berada di jalur menuju rumah tempat dia tinggal. Dia merasa sangat takut kalau seandainya pria itu membawanya ke tempat lain dan melakukan pelecehan lagi.


" Kita sudah mau sampai. Di sebelah mana rumah kamu?" Cakra buka suara memecah keheningan yang sempat tercipta.


"Agak masuk ke dalam, Pak. Aku turun di sini saja," jawab Safira gugup, setelah terlebih dulu sempat terjengkit kaget sambil bersiap-siap untuk membuka pintu.


Cakra sama sekali tidak mengindahkannya, dia membelokkan mobilnya sesuai dengan pentunjuk Safira.


"Stop, Pak! ini tempat tinggal saya," ucap Safira yang seketika lega, melihat rumah yang dia tinggali. Dia merasa kalau sebentar lagi dia akan merasa bebas dari rasa takut yang dia rasakan sepanjang jalan tadi.


Cakra menepikan mobilnya dan langsung membuka kunci, agar Safira bisa membuka pintu mobilnya.


"Terima kasih, Pak!" seru Safira yang langsung berlari menuju rumah Sarni, hingga membuat Cakra mengrenyitkan keningnya.


"Bukannya dia bilang kalau ini rumah dia? tapi kenapa dia berlari masuk ke dalam rumah itu?" gumam Cakra, bingung karena menurutnya rumah yang dimasuki gadis itu cukup besar, walaupun memang sangat jauh jika dibandingkan dengan rumahnya.


Cakra berdecak sedikit kesal, karena itu berarti dia harus turun untuk mengembalikan tas itu pada pemiliknya.


Cakra meraih tas itu dan langsung keluar dari dalam mobil. Dia kembali mengrenyitkan keningnya ketika melihat wanita itu, keluar kembali dari dalam rumah. Tapi kali ini wanita itu tidak sendiri, ada anak yang berada di dalam gendongannya.


Sementara itu Safira terlihat kesulitan dengan barat bawaannya, karena anaknya tidak berhenti bergerak di dalam gendongannya sambil menggumam, "Ma ma mama,"


"Ini tas kamu ketinggalan di mobil," tiba-tiba Cakra sudah berdiri tepat di depannya.


Safira terkesiap, kaget kembali dengan kemunculan Cakra di depannya. Dia tidak menyangka kalau ternyata Cakra belum pergi.


Tanpa sadar Cakra tersenyum, melihat anak yang ada dalam gendongan Safira, yang seperti berusaha untuk menggapainya.


"Te-terima kasih, Pak!" ucap Safira yang berusaha ingin meraih tasnya itu dari tangan Cakra. Akan tetapi, dia merasa sedikit kesulitan, hingga membuat barang bawaannya, itu hendak terjatuh.


"Sini, aku gendong anak ini!" ucap Cakra yang langsung menggendong baby Ian, tanpa sempat Safira menolaknya.

__ADS_1


Cakra mengrenyitkan keningnya, merasa wajah baby Ian memiliki kemiripan dengan baby Ivan anak angkat Alena istrinya Arend.


Cakra terkekeh, ketika anak yang ada dalam gendongannya, menepuk-nepuk wajahnya, seakan-akan anak itu gemas melihat dirinya.


"Lho, Safira kenapa masih ada di sini?" tiba-tiba Sarni muncul dari dalam dan langsung kaget melihat pria yang dia tahu putra dari Calvin itu.


Bukan hanya, Sarni yang kaget. Cakra juga tidak kalah kaget. Dia ingat betul, kalau wanita itu adalah wanita yang hadir saat pernikahan Arend dengan Alena.


"Nak, Cakra? kenapa Tuan ada di sini?" tanya Sarni, dengan sedikit gugup.


"Tadi saya melihat dia, kesusahan mendapatkan angkot, Bude. Jadi, aku memberikan dia tumpangan," jawan Cakra sambil tetap menggendong baby Ian.


"Oh, terima kasih, Tuan Cakra, sudah mau mengantarkan Safira pulang."


"Bude, anak ini kenapa sangat ___"


"Nak, Cakra. Apa kamu mau masuk dulu?" Sarni langsung menyela ucapan Cakra sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya. Karena dia sangat yakin, kalau Cakra pasti menanyakan tentang kemiripan bayi yang ada dalam gendongannya dengan baby Ivan. Jangan lupakan Safira yang terlihat kaget sekaligus bingung karena tidak menyangka kalau bude Sarni bisa kenal dengan orang besar seperti Cakra.


Seketika dia mengingat kalau Sarni pernah bercerita kalau wanita yang merawat anaknya, itu menikah dengan orang besar.


"Apakah wanita itu menikah dengan Cakra?" batin Safira yang seketika panik.


"Oh, tidak perlu, Bude! aku mau langsung pulang saja," tolak Cakra dengan sopan.


"Oh, kalau begitu Ian'nya, biar aku gendong dan mengantarkannya ke rumah Safira," ucap Sarni sambil meraih baby Ian dari gendongan Cakra.


"Kalau begitu, aku permisi dulu, Bude. " Cakra mengayunkan kakinya, melangkah menuju mobil setelah Sarni menganggukkan kepalanya.


Ketika Cakra menjauh, tiba-tiba baby Ian menangis dengan tangan yang berusaha menggapai Cakra. Anak itu, sepertinya merasa tidak ingin kalau Cakra pergi begitu saja.


Cakra juga seperti merasa berat untuk meninggalkan baby Ian. Dia hendak kembali lagi, akan tetapi dia menyurutkan langkahnya, ketika Safira langsung meletakkan semua benda yang ada di tangannya dan meraih baby Ian dari gendongan Sarni, kemudian dengan sedikit berlari membawa putranya itu ke dalam rumahnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2