Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Rencana licik


__ADS_3

"Kamu tenang saja! kebahagiaannya tidak akan berlangsung lama. Mama tidak akan tinggal diam. Mama juga tidak terima kalau perempuan murahan itu bisa hidup bahagia." Sorot mata Ratih tidak kalah berapi-apinya dari Cindy.


"Maksud, Mama?" Cindy mengrenyitkan keningnya, penasaran.


"Sebenarnya mama sudah merencanakan ini, semenjak dia mempermalukan kita di restorannya dulu. Namun baru belakangan ini mama menemukan cara yang bagus," ucap Ratih dengan kening yang berkrenyit.


"Serius, Ma?" Cindy terlihat senang. Namun rasa senangnya itu hanya berlaku untuk sementara. Tiba-tiba wajah wanita itu terlihat pesimis dengan apa yang akan direncanakan oleh mamanya itu.


"Ma, sepertinya itu akan sulit, karena mama tahu sendiri, si Alena itu dijaga dan dilindungi oleh beberapa bodyguard dari jauh dan kita sama sekali tidak tahu siapa dan dimana para bodyguard itu berada. Bisa-bisa sebelum kita bertindak, kita sudah tertangkap lebih dulu. Sebaiknya Mama urungkan aja deh niat, Mama tuh!" ucap Cindy sembari menekan tombol power untuk mematikan televisi.


"Mama tahu itu, tapi kali ini mama yakin, kalau kita akan berhasil. Bagaimanapun kita harus menyingkirkan dia juga kan? Ingat, dia ada dendam pada kita! dulu kita mungkin bisa aman karena dia tidak mampu untuk melawan, kalau sekarang, dia sudah ada suami yang sangat kaya, jadi tidak tertutup kemungkinan dia bisa aja melaporkan kita karena merampas hak asuransi papa dan mamanya."


Cindy mengangguk-anggukan kepalanya, membenarkan ucapan yang terlontar dari mulut Mamanya itu.


"Mama benar juga. Sampai sekarang aku juga khawatir kalau-kalau nantinya dia tahu kalau kematian orang tuanya bukan murni karena kecelakaan, tapi disengaja."


"Nah, karena itulah kita harus secepatnya menyingkirkan dia. Untuk sekarang kita bisa saja masih aman, karena belum ketahuan kalau kita adalah dalang kecelakaan yang menimpa mas Ashan dan mbak Nora itu. Namun kita tidak tahu bagaimana ke depannya kan?".


Cindy mengangguk-anggukan kepalanya, membenarkan ucapan mamanya.


"Jadi, apa rencana, Mama?" Cindy menyilangkan kakinya, mulai antusias mendengarkan rencana Ratih mamanya.


Ratih dengan gamblangnya, mulai mengungkapkan apa yang sudah direncanakannya. Wajah Cindy terlihat berbinar, karena menurutnya rencana yang sedang diutarakan oleh mamanya itu, benar-benar aman dan cukup aman menurutnya.


"Emm, bagus juga, Mah. Tapi, bagaimana kalau bodyguardnya mengikuti Alena nantinya? kita bisa gagal juga, Mah," Cindy kembali pesimis.


"Kamu tenang saja, karena aku sudah ada rencana untuk itu. Asal kamu tahu, sebenarnya mama sudah tahu dan kenal dengan bodyguard yang menjaga Alena dari jauh, makanya mama sudah meminta pak Broto untuk mengatasinya,"


"What? kenapa mama harus melibatkan si tua Bangka itu? apa yang mama janjikan sebagai imbalannya?" mimik wajah Cindy terlihat was-was. Wanita muda itu yakin kalau mamanya pasti menjanjikan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.

__ADS_1


"Mama, sudah menjanjikan pada dia, kalau mama akan menikahkan kamu dengannya. Kamu jadi istri ke empat pak Broto," jawab Ratih dengan santai.


"Apa?!" pekik Cindy tidak terima. "aku tidak mau, Ma. Aku itu masih muda, jadi aku mau menikah dengan laki-laki yang muda juga, bukan yang sudah bangkotan seperti dia!" suara Cindy sudah mulai meninggi.


"Kamu jangan membantah! kamu sudah tidak punya pilihan lagi. Selama ini, kamu kan sudah jadi simpanannya, jadi tidak ada salahnya kalau kamu menjadi istrinya,"


"Aku memang sudah jadi simpanannya, tapi aku tidak pernah berpikir untuk punya suami seperti dia, Mah. Bagaimana bisa aku yang cantik dan muda seperti ini, punya suami yang sudah hampir bau tanah,"


"Tapi, hanya ini jalan satu-satunya, Cindy. Lagian kalau masalah itu gampang. Dia kan sebentar lagi juga akan mati, jadi selama kamu jadi istrinya, kamu layani dia dengan sangat baik, buat dia lebih sayang kamu dibandingkan dengan istri-istrinya yang lain. Lalu, setelah itu kamu bujuk dia untuk mengalihkan semua hartanya atas nama kamu. Kan beres," ujar Ratih.


Cindy terdiam, berusaha mencerna ucapan mamanya. Kemudian setelah dia paham, wanita itu tersenyum lebar dan memeluk mamanya.


"Ihh, mama ternyata pintar banget! aku juga kan bisa membuat dia mati secara perlahan dengan obat-obatan. Seperti yang kita lakukan sama papa,"


"Tuh, kamu pintar! jadi kamu serahkan saja semua sama mama. Semuanya dijamin beres," Ratih menarik sudut bibirnya, tersenyum licik.


"Tapi, kenapa ya, papa nggak mati-mati sampai sekarang? nyusahin aja tahu nggak? bisa nggak kita langsung mempercepat papa mati?" ucap Cindy dengan jengkel, mengingat papanya yang sedang lumpuh, dan merupakan adik laki-laki dari papanya Alena.


"Kenapa harus menunggu aku menikah, Ma?" Cindy mengrenyitkan keningnya.


"Karena kalau papa kamu meninggal sekarang, kita tidak bisa mendapatkan asuransinya, karena papa kamu membuat hak warisnya atas nama Alena. Papamu sama sekali belum mau mengubahnya, jadi atas nama mama maupun kamu. Karena itulah alasan sebenarnya mama belum mempercepat kematian papa kamu itu. Mama masih berusaha untuk membuat papa kamu itu berubah pikiran dan mengubah ahli waris itu, tapi Kalau kamu sudah menikah dengan pak Broto kan, kita tidak memerlukan asuransi itu lagi?"


"Kenapa sih, papa lebih menyayangi Alena dibanding kita berdua? padahal dia tidak tahu kan kalau aku ini bukan anaknya. Kesal aku sama papa ihh," Cindy menggerutu sembari mendengus kesal.


"Sudahlah! hal itu jangan terlalu kamu pikirkan lagi. Sekarang kita fokus pada rencana kita saja." Ratih menyeringai sinis, membayangkan keberhasilan rencananya.


"Iya, Ma! tunggu saja kamu Alena! kebahagiaan kamu akan berakhir sebentar lagi,"


Cindy berdiri dari tempat dia duduk dan beranjak hendak ke dapur karena ingin mengambil minum. Langkahnya terhenti begitu melihat keberadaan papanya yang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Pa-Papa? kenapa, Papa bisa ada di sini?" raut wajah Cindy terlihat panik.


"Ada apa, Cindy?" tanya Ratih dengan sedikit berteriak.


"Ma, ada papa di sini. Sepertinya papa mendengar semua pembicaraan kita," sahut Cindy dengan wajah ketakutan yang terlihat jelas.


Ratih sontak berdiri dan melangkah menghampiri Cindy. Wanita itu menyeringai sinis ke arah Arul suaminya.


"Tidak perlu panik, Cin! dia tidak akan bisa berbuat apapun. Jangankan untuk berbicara, berjalan saja dia tidak mampu." Sudut bibir Ratih tertarik sedikit ke atas, tersenyum meledek.


"Iya, juga ya!" Cindy terkekeh, dan menarik napas lega.


"Hei, Arul sayang. Kamu yang sabar ya! sebentar lagi kamu juga akan menyusul Ashan kakak tersayangmu itu. Kamu pasti sudah sangat merindukannya kan?" Ratih mencondongkan tubuhnya ke arah Arul suaminya sambil mencubit pipi suaminya itu dengan kuat, hingga terlihat Arul yang meringis kesakitan.


"Aduh, sakit ya? maaf deh!" sana kamu minggir! Ratih mendorong kursi roda Arul hingga pria itu terjatuh ke lantai.


"Rara!" teriak Ratih, memanggil pembantu rumah tangga yang biasa mengurus semua keperluan suaminya itu.


"Iya, Nyonya," Wanita yang dipanggil Rara itu berlari tergopoh-gopoh, menghampiri.


"Kenapa dia bisa ada di sini? kamu yang membawanya ke sini ya?" bentak Ratih dengan suara yang tinggi, hingga membuat wanita yang masih terlihat muda itu, terjengkit kaget dan takut.


"Maaf, Nya! tadi Bapak sepertinya mau ketemu Nyonya, makanya aku bawa ke sini." sahut wanita itu dengan takut-takut.


"Jadi, kenapa kamu tinggalkan di depan pintu?" selidik Ratih, curiga.


"Karena, Bapak tadi kasih isyarat biar di sini aja, Nya dan memintaku untuk pergi,"


"Kami urus dia! jangan pernah lagi bawa dia kemana-mana. Awas kalau sempat kamu bawa dia tanpa seizinku lagi!" pungkas Ratih sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2