Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Mendapat telepon di larut malam


__ADS_3

Acara demi acara berjalan dengan sangat lancar sea dengan apa yang direncanakan. Senyum di bibir Alena tidak pernah tanggal dari bibirnya, demikian juga dengan Arend.


Pria itu benar-benar merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaannya. Tangan Arend bahkan tidak pernah lepas dari tangan Alena.


"Akhirnya, kamu berani juga ngungkapin perasaan kamu, Sob. Tapi, sumpah, aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan kejutan seperti ini. Aku kira hiduomu bakal datar-datar aja," Kama, menyeletuk dengan ucapan yang terselip sindiran di dalamnya.


"Sialan! muka kamu tuh yang datar!" umpat Arend, seraya meninju lengan Kama dengan sedikit keras.


"Sakit, setan!" Kama meringis sambil menjauh dari Arend.


"Udah ah, aku mau pulang dulu. Mau berduaan sama istri," Arend melangkah tanpa peduli dengan sorakan yang lainnya.


"Aku juga mau pulang, mau sama kaya Arend," giliran Arick yang buka suara dan menggandeng Calista pulang.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Cakra dan Carlos. Kini tinggal Kama dan Tasya yang terpaku di tempat dan saling silang pandang.


"Jadi, sekarang kita ngapain?" tanya Kama yang tiba-tiba merasa canggung dan seperti orang bodoh.


"Oh, kita main petak umpet aja, mau? mumpung ruangan ini luas dan masih banyak kursi. Kita bisa sembunyi di balik kursi-kursi itu," jawab Tasya, ambigu.


"Kok main petak umpet sih? aneh kamu! Kama menarik sedikit sudut matanya, bingung dengan kemauan Tasya yang menurutnya sedikit kekanakan.


"Kamu tuh yang aneh. Buat apa kamu bertanya kita ngapain sekarang? ya, jelas pulang lah. Kan nggak mungkin kita di sini sampai besok." Tasya terlihat sangat kesal.


Kama cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Hmm, emang kenapa kalau kita di sini semalaman? bukannya itu sangat menyenangkan?" Kama mengerlingkan matanya, menggoda Tasya.


"Menyenangkan kepalamu!" umpat Tasya sambil beranjak meninggalkan Kama.


"Hei, kamu mau kemana? kita tidak jadi main petak umpetnya?" Kama masih tetap menggoda wanita pujaannya itu.


"Tas, kita menikah saja gimana?" celetuk Kama yang membuat Tasya menghentikan langkahnya dan sontak menatap pria itu.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku? tanya Kama dengan alis yang bertaut.

__ADS_1


"Nggak ada yang salah kalau kamu mau menikah. Yang salah itu kalau kamu menikah denganku," Tasya kembali melanjutkan langkahnya.


"Apa yang salah, kalau aku menikah denganmu?" Kama menyusul, mensejajarkan langkahnya dengan langkah Tasya. "kamu wanita lajang dan aku pria lajang.Dimana salahnya coba? kalau aku menikah dengan seorang laki-laki dan istrinya orang, itu yang namanya salah. Kamu asli wanita dan bukan istrinya orang kan?"


"Ya jelas dong, aku wanita tulen. Aku juga belum pernah menikah sama sekali," jawab Tasya dengan ketus sambil menatap sengit ke Pria di sampingnya itu.


"Jadi, berarti kalau kita menikah, nggak salah dong,"


"Maksud aku, kita sama sekali tidak pantas. Aku ini __"


"Bukan kamu yang tahu, siapa yang pantas bersanding denganku, tapi akulah yang tahu siapa yang pantas aku jadikan seorang istri." Kama menyela ucapan Tasya, karena dia tahu kemana arah pembicaraan gadis itu.


"Kamu bilang aku pantas untukmu. Ok, fine! tapi kamu yang tidak pantas untukku. Karena aku tidak mencintaimu sama sekali," ucap Tasya lugas dan tegas seraya berlalu dengan langkah yang lumayan cepat.


Kama tercenung, berdiri membantu di tempatnya. Hatinya tiba-tiba terasa sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa kamu benar-benar suka dengan kejutan malam ini?" tanya Arend sambil mengecup pundak Alena.


"Emm, aku suka, bahkan lebih dari suka. Aku merasa seperti seorang yang sangat istimewa,"


"Kamu memang sangat istimewa bagiku, Sayang," Semburat merah langsung menghiasi pipi Alena, begitu mendengar ucapan Arend.


"Mas, kamu kok jadi semanis ini sih?" tanya Alena dengan lirih.


"Bukannya ini yang diinginkan oleh banyak wanita?" bukannya menjawab, Arend malah balik bertanya.


"Iya, sih! tapi bagiku kamu tidak harus memberikan kejutan semewah tadi."


"Lho, emangnya kenapa? apa kamu tidak suka?" Arend menautkan alisnya.


"Bukan tidak suka. Aku sangat suka malah.Tapi, aku kan jadi terharu. Mataku jadi sembab dan make up ku jadi luntur, tadi. Pasti tadi aku kelihatan jelek kan? lirih Alena sembari melepaskan tangan Arend dari pinggangnya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu tenang saja Sayang! bagaimanapun kamu, aku tetap cinta sama kamu." Pipi Alena kembali merona mendengar mulut Arend yang sekarang manisnya seperti gula. Walaupun Arend sudah berkali-kali memanggilnya sayang, tetap saja Alena berbunga-bunga ketika Arend memanggilnya sayang.


"Ihh, kamu pintar ngegombal sekarang ya?" Alena memukul pelan dada Arend.


Arend tersenyum geli dan gemas akan tingkah Alena saat ini. Pria itu mencubit gemas hidung Alena dan mengecup sekilas bibir wanita itu.


"Mas, kamu benaran Mas Arend yang asli kan? bukan pria yang menyerupai Mas Arend? dan yang terjadi nyata kan, bukan mimpi?" tanya Alena yang benar-benar masih sulit untuk percaya.


"Ini suamimu yang asli, Sayang. atau kamu mau lihat isi celanaku,untuk membuktikan keasliannya?" bisik Arend mesra,sehingga membuat tubuh Alena meremang.


" Ih, mesum!" Alena mengalihkan tatapannya ke arah lain,karena pipinya sudah kembali memerah.


Arend merengkuh pinggang Alena, menarik tubuh wanita itu hingga hampir menempel ke tubuhnya. "Sayang, kamu cantik sekali tadi,hingga aku mau segera membawa kamu dari tempat itu dan menerkammu habis-habisan," ujar Arend dengan nada yang sensual.


"Ah, kamu bisa aja!" jawab Alena seraya menundukkan kepalanya.


"Aku serius! aku tidak berbohong sama sekali. Sampai-sampai aku ingin mencongkel mata setiap laki-laki yang menatap kagum padamu,"


"Udah ah! sebaiknya kita tidur saja! kalau belum tidur kamu pasti akan ngegombal terus!" Alena nyaris melangkah menuju ranjang. Akan tetapi, langkahnya terhenti karena tangan Arend dengan sigap langsung menahannya.


"Apa kamu kira aku akan membiarkanmu langsung tidur? tidak akan! aku bahkan menganggap malam ini, adalah malam pertama kita. Kamu pasti tahu kan apa yang dilakukan suami istri di malam pertama?" bisik Arend tepat di telinga Alena dengan nada yang sangat sensual, hingga membuat tubuh Alena meremang seketika.


Arend nyaris mendaratkan bibirnya ke bibir Alena, tapi tiba-tiba terhenti, karena ponselnya tiba-tiba berbunyi. Arend ingin sekali mengabaikannya, tapi entah kenapa dirinya merasa penasaran juga, dengan orang yang menghubunginya di malam yang sudah lumayan larut. Terlihat ada perubahan di wajah Arend saat melihat siapa si penelepon, Hinga menimbulkan tanda tanya besar pada Alena.


"Siapa, Mas?" tanya Alena, penasaran.


"Hmm, ini dari papa, Sayang. Aku jawab dulu ya?" Alena menganggukkan kepalanya dan Arend langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Pah, nanti aja aku hubungi lagi ya!" Ucap Arend memutuskan hubungan telepon tanpa menunggu Jawaban dari ujung sana.


Tbc


Astaga, aku kira, bab ini sudah aku up tadi malam, ternyata belum sama sekali 🤦 Pagi-pagi aku bangun, nge- cek udah lulus review atau belum. Aku kirain NT lagi error makanya belum uodate.Ternyata aku yang error, guys. Naskahnya masih ada di draft belum di up sama sekali.😁🤦

__ADS_1


__ADS_2