Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Gara-gara kata lebih baik mati


__ADS_3

Cakra terlihat memijat kepalanya berkali-kali, karena pria itu dari tadi pagi merasa pusing sampai-sampai pria itu tidak konsentrasi melakukan pekerjaan dan menyerahkan semua agar dihandle oleh Asistennya.


"Pergi kemana sih dia? udah jam segini belum juga masuk kamar," Cakra melirik ke arah jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 9 malam. Namun Safira sama sekali belum menunjukan tanda-tanda akan masuk ke dalam kamar.


"Mau sampai kapan pernikahan kami jalan di tempat seperti ini? apa dia masih trauma dan belum benar-benar memaafkanku? tiap malam tidur bersama tapi tidak pernah ngapa-ngapain. Padahal ini sudah lewat dari dua minggu," Cakra membatin sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Bunyi dering dari ponselnya, membuat Cakra menghentikan lamunannya dan langsung beranjak untuk meraih ponselnya.


"Ada apa Carlos menelepon malam-malam begini?" Cakra mengrenyitkan keningnya dan langsung menekan tombol jawab.


"Hmm, ada apa?" Tanpa menyapa terlebih dulu Cakra langsung bertanya, tujuan Carlos menelepon.


"Cepat banget jawab teleponnya, Bro? lagi gak ngapa-ngapain ya?" terdengar suara Carlos dengan nada meledek dari ujung telepon.


"Ledek terus! kalau kamu telepon hanya untuk meledek, sebaiknya kamu matikan saja teleponnya,"


Terdengar suara tawa Carlos yang pecah, mendengar Cakra yang berbicara dengan kesal.


"Jangan ngambek dong! masa laki-laki ngambekan?" Carlos masih tetap dalam mode ngeledek.


"Kamu telepon aku ada hal penting atau nggak? kalau nggak, aku matikan teleponnya,"


"CK, jangan matikan dulu, Bro! aku cuma mau tanya, kepala kamu masih pusing nggak?" Carlos sudah mulai terdengar serius.


Cakra mengembuskan napasnya, "Ya, seperti itulah. Ini bahkan makin terasa sakit."


"Kamu sudah ke dokter kan?"


"Belum! hanya sakit kepala biasa aja kok. Tidak perlulah ke dokter segala. Sebentar lagi juga sembuh."


"Oh ya udah. Besok kamu istirahat dulu ya!"


"Emm!" sahut Cakra, singkat.


"Bro, emang benaran kalau hubungan kamu dan Safira belum ada kemajuan?" entah kenapa jiwa ingin tahu Carlos kembali timbul.


"Nggak juga. Kami sudah seperti suami istri pada umumnya. Hanya saja sepertinya dia belum mau disentuh. Mungkin dia masih trauma."

__ADS_1


"Kasihan, pantas aja kepala kamu sakit. Kamu pasti masuk angin gara-gara kebanyakan main dengan sabun di kamar mandi," Carlos kembali meledek.


"Sialan! tapi iya juga sih?" Tawa Carlos pecah tak tertahankan lagi mendengar pengakuan Cakra.


"Makanya siapa suruh tidak mau menikah denganku? kalau denganku kan, pasti tiap malam kita melakukannya sampai pagi," tiba-tiba terdengar suara Kalila yang menyeletuk.


"Sayang!" bisa dipastikan kalau tatapan Carlos pasti sangat tajam menatap sang istri di ujung sana.


"Hehehe, becanda Sayang!" terdengar suara Kalila yang manja.


"Kalian berdua sengaja ya mau menunjukkan keromantisan kalian padaku?" protes Cakra yang disambut dengan derai tawa dari sepasang suami istri di ujung sana.


"Maaf deh! aku tadi cuma bercanda ya, Cakra! hatiku sudah sepenuhnya milik Carlos," terdengar lagi suara Kalila.


"Iya, aku tahu! siapapun bisa lihat itu! Sekarang aku matiin ya teleponnya, aku mau istirahat dulu!"


"Ok deh. Kamu yang sabar ya! suatu saat Safira pasti bisa melupakan rasa traumanya," hibur Carlos.


"Kayanya itu sulit deh! sepertinya aku harus mati dulu baru dia bisa benar-benar memaafkanku dan melupakan rasa traumanya. Aku sudah kehabisan cara, Carl. Aku sepertinya sudah putus asa," keluh Cakra dengan nada yang lirih.


"Sialan!" umpat Cakra, kesal sambil memutuskan panggilan secara sepihak.


Tanpa Cakra sadari, Safira mendengar ucapan suaminya di saat suaminya mengucapkan kata ' mungkin aku harus mati dulu'. Hal itu membuat wajah Safira seketika berubah panik.


Sementara itu, Cakra meraih sebuah botol yang berisi vitamin berbentuk tablet. Karenanya dia berharap dengan minum vitamin saja, badannya akan kembali fit.


Melihat Cakra yang bersiap-siap hendak memasukkan tablet itu ke dalam mulutnya, Safira sontak berlari untuk mencegah agar tablet itu tidak masuk ke dalam mulut suaminya itu.


"Mas, jangan lakukan hal bodoh seperti ini,Mas!" teriak Safira memeluk Cakra tiba-tiba, hingga membuat tubuh pria itu terjatuh ke atas ranjang dan botol tempat vitamin itu jatuh persis di bawah kakinya.


"A-ada apa, Sayang?" Cakra benar-benar kaget dengan reaksi Safira yang tiba-tiba.


"Kamu jangan bunuh diri! itu dosa, Mas!" Safira menangis sesenggukan dengan tangan yang masih tetap mendekap erat tubuh Cakra.


"Bunuh diri? emang siapa yang mau bunuh diri?" batin Cakra dengan keryitan di keningnya.


Tiba-tiba pria itu mengulum senyumnya.

__ADS_1


"Sepertinya dia tadi mendengar pembicaraanku dengan Carlos. Dia berpikir kalau aku benar-benar ingin mati," bisik Cakra pada dirinya sendiri.


"Aku tahu itu dosa, tapi kalau dengan aku mati bisa membuatmu merasa nyaman, aku tidak masalah untuk menanggung dosa itu," ujar Cakra sambil menendang pelan botol vitamin itu masuk ke dalam kolong tempat tidur.


"Nggak, Mas! aku nggak mau kamu mati."


"Buat apa aku hidup kalau masih seperti ini terus? kamu bahkan belum sepenuhnya bisa memaafkanku. Jadi, sepertinya lebih baik aku mati," Nada bicara Cakra terdengar memelas.


"Jangan, Mas! kamu mencintaiku kan? asal kamu tahu, aku juga mencintaimu, Mas! Jadi jangan bunuh diri ya!" tangis Safira semakin menjadi-jadi. Tangan wanita itu melilit kencang di pinggang Cakra.


"Sungguh? aku tidak salah dengar kan? kamu benar-benar mencintaiku?" cecar Cakra memastikan.


Senyum pria itu mengembang dengan sempurna, dan membalasnya dekapan Safira, ketika wanita itu menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Tapi, bagaimana kamu tahu kalau aku mencintaimu? padahal kan aku ...."


"Hari itu kamu pernah mengatakannya dan aku saat itu pura-pura tidur. Apa yang kamu katakan hari itu nggak benar?" Safira meletakkan kepalanya di dada Cakra. Wanita itu malu untuk menatap wajahnya suaminya itu.


"Tentu saja itu benar. Aku memang benar-benar mencintaimu," Cakra semakin mendekap tubuh Safira yang berada di atas tubuhnya dengan semakin erat.


"Jadi apa kamu masih mau bunuh diri lagi?" Safira mengangkat wajahnya dan menatap Cakra dengan manik mata yang meminta kepastian. Sumpah demi apapun wanita itu benar-benar takut ditinggal mati oleh Cakra.


Cakra tidak menjawab sama sekali. Pria itu sedang berusaha untuk menahan tawanya.


"Kenapa diam, Mas? kamu nggak akan bunuh diri lagi kan? kamu mau apa? aku akan melakukan apapun yang kamu minta. Kamu mau minta supaya aku mau melakukan kewajibanku sebagai istri sekarang juga, aku bersedia, Mas. Yang penting, Mas jangan ninggalin aku dan anak-anak. Kami butuh kamu, Mas."


"Sungguh? kamu serius?" ucap Cakra sambil membalikkan tubuh Safira hingga posisi mereka berganti. Cakra kini sudah menindih tubuh Safira.


Safira tidak menyahut, tapi wanita itu menganggukkan kepala mengiyakan.


"Emm, apa rasa trauma kamu sudah hilang?" Cakra kembali bertanya, karena dia tidak mau gagal lagi dan kembali berakhir di kamar mandi .


Dengan wajah yang merona karena malu, Safira menganggukkan kepalanya.


Cakra tersenyum lebar dan langsung mengecup kening Safira. Kemudian beralih ke kedua mata, hidung dan berakhir di bibir Safira.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2