
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah dia Minggu sejak Carlos dan Kalila sah menjadi suami istri. Dua sejoli itu terlihat semakin dekat dan kompak. Sikap Carlos yang selalu perhatian dan romantis membuat Kalila merasa nyaman dan bahkan merasakan rindu ketika suaminya itu tidak memberikan kabar.
Kedekatan mereka berdua tentu saja membuat orang-orang di sekitar mereka bahagia. Orang tua mereka berdua dan yang lainnya, khususnya Cakra. Melihat kebahagiaan Carlos dan Kalila, membuat Cakra mensyukuri keputusannya dulu yang menolak perjodohan dengan Kalila.
"Sepertinya kamu dan Kalila sudah semakin dekat, selamat ya!" ucap Cakra ketika Carlos mengunjungi kantornya siang ini.
"Hemm, Terima kasih! kami berdua hanya berusaha untuk berdamai dengan takdir yang telah menyatukan kami," jawab Carlos tegas.
Cakra menganggukkan kepalanya, mengerti. Dia berharap setelah dirinya menikah nanti dengan Safira, mereka berdua juga bisa menerima pernikahan mereka dengan lapang dada.
Keheningan terjeda untuk beberapa saat di antara mereka berdua. Dua pria kakak beradik itu terlihat larut dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana dengan dirimu? kapan kamu akan menikah dengan Safira?" tanya Carlos lagi setelah mereka diam untuk beberapa saat.
"Mama dan Papa mengatakan minggu depan, dan aku setuju-setuju saja. Makin cepat kan makin baik. Tapi, Safira sepertinya masih ragu, Carl." Cakra mengusap wajahnya dengan kasar.
Carlos menepuk-nepuk pundak kakak kembarnya itu dengan lembut dan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Sabar!" ucap Carlos. "Apa kamu mencintainya atau kamu masih mencintai Kalila?" imbuh Carlos dengan jantung yang berdebar. Jujur saja, pria itu masih belum bisa merasa tenang sebelum mendengar pengakuan Cakra yang dirinya tidak lagi memiliki perasaan pada Kalila, wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Hmm, sepertinya rasa yang aku miliki pada Kalila selama ini, bukan perasaan cinta, tapi hanya perasaan sayang. Hatiku sepertinya sudah berhasil dicuri oleh Safira dari dua tahun yang lalu, dan gadis itu sama sekali tidak mau mengembalikan hatiku itu. Jadi, sekarang aku harus kerja keras untuk mencuri hatinya lagi," suara Cakra terdengar tegas dan tidak tampak adanya keraguan pada ucapannya itu.
Carlos tersenyum lebar mendengar ungkapan hati Cakra. Jujur, dia benar-benar merasa lega mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut kakak kembarnya itu.
"Oh ya, kamu dengan siapa ke sini?" tanya Cakra mengalihkan pembicaraan.
"Sendirian sih. Tapi tadi aku melihat ada mobil Kama di parkiran. Aku kira dia ada di ruanganmu, tapi kenapa gak ada ya?" Carlos mengrenyitkan keningnya, bingung.
__ADS_1
Cakra sontak terkekeh karena dia yakin kalau Kama sekarang pasti sedang sibuk mengganggu pekerjaan Tasya, yang diakhiri dengan umpatan kekesalan dari mulut Tasya.
"Aku yakin, kamu pasti tahu di mana dia sekarang," Tawa Carlos seketika pecah mendengar ucapan Cakra. Ya, pria itu juga yakin kalau Kama sekarang pasti sedang sibuk untuk mencuri hati Tasya.
Kedua pria itu tiba-tiba saling pandang begitu mendengar suara ketukan dari pintu.
"Masuk, Kam!" titah Cakra yang yakin kalau yang sedang datang itu pasti lah Kama.
"Tumben, dia pakai ngetuk pintu segala. Biasanya langsung nyelonong masuk begitu saja," ucap Carlos yang diiringi dengan kekehan tipis.
"Entah tuh," Cakra mengangkat bahunya. Pria itu tidak melihat ke arah pintu sama sekali ketika suara pintu yang dibuka seseorang terdengar.
"Hmm, apa kamu lagi sibuk? apa aku benar-benar bisa masuk?"
Cakra sontak mengangkat wajahnya, melihat ke arah pintu, begitu mendengar suara wanita yang sangat dia kenal itu. Siapa lagi dia kalau bukan Safira.
"Wah, kakak ipar rupanya. Sepertinya aku harus pergi dari sini, biar kalian berdua tidak ada yang menggangu," ucap Carlos dengan nada yang meledek.
"Bagus lah kalau kamu mengerti," bisik Cakra persis di telinga Carlos.
"Kenapa kamu harus pergi? kamu bisa tetap ada di sini. Aku hanya disuruh mama Cantika untuk nganterin makan siang , Cakra. Habis itu aku akan langsung pulang," celetuk Safira dengan nada yang datar sambil meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja, begitu melihat Carlos yang hendak melangkah keluar
Cakra mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela napasnya dengan cukup berat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Safira. Sumpah demi apapun, perasaan bahagianya langsung berubah menjadi rasa kecewa yang amat sangat.
Carlos melihat perubahan wajah Cakra yang sangat jelas terlihat. Pria itu bisa merasakan rasa kecewa sang kakak.
"Kakak ipar, kebetulan juga istriku baru saja mengabari kalau dia sudah ada di kantorku. Kalila juga sedang membawakan makan siang untukku. Jadi, aku harus segera pergi dari sini,". Carlos mengayunkan kakinya melangkah menuju pintu, hendak keluar. Akan tetapi tiba-tiba pria itu kembali berbalik dan berkata,
__ADS_1
"Kakak ipar, tolong temani kakakku makan siang ya! dia pasti akan lupa makan kalau tidak ada yang menemani karena asik bekerja. Kalau tidak makan, bisa-bisa asam lambungnya akan kambuh. Bisa-bisa dia akan masuk rumah sakit seperti dulu," ucap Carlos yang sengaja melebih-lebihkan.
"Sial! aku disumpahin sakit. Awas kamu nanti ya," umpat Cakra dalam hati, dengan mata yang mendelik tajam ke arah Carlos. Akan tetapi, pria yang mendapat tatapan tajam itu, tidak peduli sama sekali.
"Apa benar begitu?" tanya Safira sambil menatap Ke arah Cakra dengan manik mata yang menandakan kalau dirinya khawatir.
"Be-benar. Tapi kalau kamu tenang saja, aku akan makan nanti. Soalnya masih ada yang harus aku kerjakan," ujar Cakra yang akhirnya mengikuti sandiwara Carlos, berharap wanita di depannya itu, mengurungkan niatnya untuk langsung pulang.
"Tidak boleh! kamu harus makan sekarang. Pekerjaan bisa ditunda. Sekarang kesehatan yang lebih penting. Jangan menganggap sepele sama asam lambung!" Safira mengomel sambil membuka tutup rantang makan yang sedang dia bawa.
Sementara itu, Cakra bersorak dalam hati sambil mengacungkan jari jempol ke arah Carlos tanpa sepengetahuan Safira.
Carlos tersenyum dan langsung keluar dari ruangan Cakra.
Sementara itu, Cakra di dalam ruangan masih melanjutkan sandiwara yang sempat diciptakan oleh Carlos. Pria itu berpura-berpura meraih dokumen dan membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas itu seakan sedang memeriksa dokumen itu. Padahal sebenarnya dokumen itu sudah selesai dia periksa sebelum Carlos datang.
"Apa kamu tidak bisa menghentikan pekerjaanmu sebentar saja? kamu makan lah dulu!"
"Tidak bisa! aku harus menyelesaikannya secepat mungkin, karena dokumen ini sangat penting untuk dibawa rapat nanti. Apa aku bisa minta tolong, supaya kamu menyuapiku?" pinta Cakra dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.
Safira menghela napas kesal. Akan tetapi wanita itu tetap melakukan apa yang diminta oleh Cakra.
"Aku mau menikah menikah denganmu minggu depan," celetuk Safira begitu dia memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulut Cakra.
Cakra tiba-tiba tersedak sampai menyemburkan makanan, karena kaget dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Safira.
Tbc.
__ADS_1
Dua hari kemarin aku nggak up, bukan karena gak ingin ya guys. Tapi benar-benar situasinya gak memungkinkan. Mertuaku jatuh sakit dan harus dibawa berobat ke dokter, udah itu, tiba-tiba kemarin adik dari mertuaku yang laki-laki datang berkunjung membawa keluarganya, jadi repot banget guys. Kalau di suku kami, momen tahun baru adalah momen di mana kami bisa bersilaturahmi dan maaf-maafan, hampir sama kaya lebaran. Makanya aku pernah bilang, selama aku di kampung aku akan up sebisanya. Sekali lagi maaf ya 😍🙏🏻🏃