Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Resepsi Cakra dan Safira.


__ADS_3

Cakra dan Safira melangkah beriringan masuk ke ballroom tempat acara resepsi pernikahan mereka di iringi dengan lagu yang sangat romantis berjudul 'I wanna grow old with you'.


Begitu kaki Safira menapak di depan pintu, mata wanita itu membesar dengan sempurna melihat dekorasi ruangan yang benar-benar tidak dia sangka sama sekali. Kenapa? karena dirinya sama sekali tidak ikut untuk mengurus acara resepsi. Ruangan resepsi mereka di dekorasi dengan sangat indah oleh WO, terlebih untuk dekorasi pelaminan. benar-benar, ',wah'.



Safira sontak menatap Cakra dan tanpa sadar wanita itu tersenyum tulus pada Cakra. Senyuman tulusnya benar-benar yang pertama kali wanita itu tunjukan pada Cakra.



"


"Kamu menyukainya?" bisik Cakra tepat di telinga Safira.


"Hmm, bohong kalau aku bilang tidak. Terima kasih ya!" jawab Safira tulus.


"Aku yang terima kasih. Kamu sudah mau menerimaku menjadi suamimu, walaupun aku tahu, kalau kamu menerimanya hanya demi anak-anak kita. Tapi aku __"


"Bukannya kamu juga sama? kamu menikahiku hanya sebagi bentuk tanggung jawab kan?" Safira dengan sigap menyela ucapan Cakra, hingga membuat pria itu menghela napas kecewa dan membuatnya memilih untuk diam.


Acara demi acara berlangsung dengan lancar dan meriah. Semua orang menikmati semua rentetan acara yang digelar oleh sang penyelenggara pesta.


Di antara para tamu tampak Tasya yang selalu tersenyum melihat Safira sahabatnya yang tampak sangat serasi bersanding dengan Cakra. Tasya tampak berdiri dari kursinya, hingga membuat Kama mengrenyitkan keningnya, bertanya-tanya apa yang hendak dilakukan wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Kama sambil menahan lengan Tasya, begitu melihat gadis itu yang hendak beranjak pergi.


"Yang jelas, aku nggak akan pulang. Kamu tenang saja! aku ke sana dulu ya!" Tasya pamit dan hendak beranjak pergi lagi. Akan tetapi, lagi-lagi Kama menahan tubuh Tasya.


"Aku ikut!" ucap Kama sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Tidak usah! aku sudah bilang kalau aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ada kepentingan sebentar. Please jangan terlalu berlebihan!"


"Tapi aku __"


"Kalau kamu ikut, aku lebih baik pulang saja," ancam Tasya, hingga membuat Kama tidak berkutik.


"Sudahlah, Kam. Biarkan Tasya pergi sebentar!" Calista buka suara.


Tasya akhirnya kembali mengayunkan kakinya setelah Kama kembali duduk di kursinya. Akan tetapi, tatapan Kama tidak lepas menatap ke arah mana Tasya pergi. Kama mengrenyitkan keningnya, bertanya-tanya dalam hati kenapa Wanita itu berjalan menuju panggung.


Tasya terlihat berbicara dengan raut wajah serius dengan band yang diundang khusus untuk menambah warna pada acara resepsi Cakra dan Safira. Safira memamerkan senyum termanisnya pada salah satu pria yang sedang memainkan piano, hingga membuat seorang pria yang tidak lain adalah Kama, duduk blingsatan di tempat duduknya.


"Hmm, hai Safira! Kamu tahu tidak? aku berdiri di sini hanya mau berkata bahwa, sahabat yang paling jahat adalah sahabat yang tega meninggalkan temannya menikah dahulu. Namun asal kamu tahu, aku tetap sayang padamu, selamat menempuh hidup baru, ya!Aku berharap agar Kamu selalu bahagia setiap saat. Jadikanlah pernikahan ini sebagai jalanmu menemukan kebahagiaan. Jujur, aku merasa bangga padamu karena banyak hal yang aku pelajari dari semua perjuangan dan keikhlasan dari dirimu, Fira. Terima kasih sudah memberikan aku pelajaran itu," Tasya berhenti sejenak, karena dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang dari tadi berusaha untuk dia tahan. Sementara itu, Safira yang duduk di pelaminan juga sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Menikah bukan berarti memutus persahabatan, namun ini adalah lembaran baru bagimu untuk mengarungi kehidupan bersama pendampingmu. Meski begitu, hal ini tentu akan sangat jauh berbeda dengan sebelum menikah. Tetapi doa terbaik dan kebahagiaan selalu tercurah kepadamu. Semoga kamu bahagia selalu!"


Tasya memejamkan matanya sejenak, kemudian dia mengalihkan tatapannya pada pria yang memainkan piano. Kepala Tasya mengangguk seakan memberikan isyarat sesuatu pada pria itu.

__ADS_1


"Ini buat kamu, Fir!" Suara piano akhirnya berbunyi. Tasya menggenggam microphone dengan tangan yang sedikit gemetar. Wanita itu tampak ingin menyanyikan sebuah lagu yang dipersembahkannya pada Safira sang sahabat.



Suara merdu Tasya yang menyanyikan lagu 'Sahabat tak akan pergi' mulai terdengar, dan menghipnotis para tamu undangan, khususnya Kama.


Sahabat, coba kita arungi


Lautan luas kita seb'rangi


Gunung yang tinggi 'kan kita daki


Tak merasa letih


Melangkah ku ke ujung samud'ra


Kar'na tanpa kamu, aku hampa


Sahabatku di setiap langkah


Kau selalu ada


Kamu begitu berarti


Dan istimewa di hati


Selamanya rasa ini


Dan ingatlah hari ini


Sampai kita tua nanti


Sahabat tidak pernah pergi


Selamanya di dalam hati


Kau sahabatku, takkan terganti


Ho-oh (ho-oh)


(Kau sahabatku)


Melangkah ku ke ujung samud'ra (ke ujung samud'ra)


Kar'na tanpa kamu, aku hampa (sahabatku)


Sahabatku di setiap langkah (langkah)

__ADS_1


Kau selalu ada (selalu ada)


Kamu begitu berarti (begitu berarti)


Dan istimewa di hati (istimewa di hati)


Selamanya rasa ini (rasa ini)


Sahabat tak akan terganti (tak akan terganti)


Dan ingatlah hari ini (hari ini)


Sampai kita tua nanti (tua nanti)


Sahabat tidak pernah pergi (pergi)


Selamanya di dalam hati (hati), oh-oh (ho-oh)


Sahabatku s'lalu di hati.


Air mata Safira semakin mengalir deras mendengar setiap lirik lagu yang dinyanyikan oleh Tasya yang sarat dengan makna. Wanita itu berkali-kali tampak menyeka air matanya dengan tissue yang diberikan oleh Cakra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Wah, ternyata suara kamu bagus juga ya?" puji Anin mamanya Kama, begitu Tasya sudah kembali duduk di kursinya.


Tasya tersenyum manis, malu karena Anin dengan sengaja menghampirinya hanya untuk memberikan pujian.


"Terima kasih, Tante! Tapi belum sebagus suara Tante tentunya," jawab Tasya dengan sopan, karena dia tahu kalau Anin juga memiliki suara yang sangat merdu dan bahkan memiliki studio rekaman sendiri dan sudah banyak membuat banyak orang terkenal.


"Suara kamu juga tidak kalah bagus. Kalau kamu mau, kamu bisa jadi penyanyi terkenal. Tante akan senang hati akan mengorbitkanmu." Anin memberikan penawaran.


"Tidak boleh!" Kama tiba-tiba menyeletuk, keberatan.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Anin dengan kening yang berkerut.


"Nanti dia akan banyak pria yang akan mengidolakannya, dan aku tidak mau itu sampai terjadi," ucap Kama dengan tegas.


"Tapi kamu tidak bisa menghalangi impian seseorang, Kam. Mama tidak suka!" protes Anin seraya menatap tajam ke arah Kama.


"Pokoknya, aku tidak mau! kalau dia nanti jadi penyanyi terkenal, dia akan kesulitan untuk bepergian kemana-mana, karena dikejar-kejar sama Fans. Kalau Fansnya aman, oke lah. Tapi bagaimana kalau ada, fans pria yang nekad sampai mencium dan memeluknya. Aku juga tidak mau photonya nanti menghiasi kamar para pria yang mengidolakannya," Kama tetap kekeh dengan keberatannya.


"Itu egois namanya! kamu sama aja kaya papamu. Kesal mama!"


"Kenapa jadi mereka berdua yang berdebat? aku kan juga gak berniat jadi seorang penyanyi." batin Tasya dengan tangan yang hampir ingin menggaruk-garuk kepalanya. Untungnya dia tersadar kalau dia melakukannya, tatanan rambutnya bisa hancur.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2