Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kamu ganas juga ya?


__ADS_3

Cahaya sinar mentari yang masuk melalui celah-celah pintu menuju balkon membangunkan Arick dari tidurnya. Dia memejamkan matanya sekilas kemudian membukanya kembali dengan tujuan agar Pupil matanya bisa beradaptasi dengan cahaya.


Arick bangun dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan dan dia tidak menemukan keberadaan Calista.


"Kemana dia? apa dia kabur karena aku sudah menyakitinya tadi malam?" batin Arick dengan perasaan bersalah.


"Apa yang aku lakukan semalam, itu terlalu kejam? apa itu termasuk penghinaan untuknya?" Arick kembali berbisik di dalam hati.


Flashback on


Arick mengulum senyumnya, melihat Calista yang ketakutan ketika dirinya meladeni tantangan Calista yang mengatakan dirinya tidak normal.


Timbul kesenangan tersendiri di hatinya melihat ekspresi wajah Calista yang terlihat tegang.


"Bagaimana apa kamu benar-benar mau membuktikan kalau aku benar-benar normal atau tidak?" Arick kini sudah berada di atas tubuh Calista yang terlentang di atas ranjang.


Calista mengintip sedikit melalui celah-celah jari-jarinya yang menutup wajahnya. Tampak jelas seringai yang mengejek dari bibir Arick Sang suami.


"Siapa takut?" Calista menyingkirkan kedua telapak tangannya dari wajahnya dan menatap Arick dengan tatapan menantang.


Arick yang tadinya hanya berniat menggoda, terhipnotis dengan bibir tipis berwarna nude alami milik Calista, ditambah dengan lekuk tubuh Calista yang membuat sesuatu dibawah sana, menggeliat bangun.


Tanpa sadar Arick mendaratkan bibirnya ke bibir Calista, hingga Calista sedikit tersentak seperti mendapatkan setruman.


Bibir yang awalnya hanya menempel itu, tiba-tiba berubah, menjadi sebuah lu*matan. Walaupun ini pertama kali buat Arick, tapi secara naluriah sebagai pria normal, keahlian dalam berciuman itu akan muncul dengan sendirinya. Calista yang awalnya kaget dengan apa yang dilakukan Arick, tiba-tiba memejamkan matanya dan mulai membalas ciuman Arick. Bahkan tangannya kini sudah berada di leher sang suami, dan walaupun juga yang pertama baginya, tapi tidak boleh dikatakan buruk juga.


Ciuman Arick tidak berhenti di situ saja. Kini ciumannya semakin merambah turun ke leher, bahkan tangannya juga sudah bergerak aktif meraba semua area-area sensitif di tubuh istrinya.


Suara lenguhan yang keluar dari mulut Calista seakan menjadi yel-yel penyemangat buat dirinya untuk mengeksplorasi setiap inci tubuh sang istri. Lingerie berwarna kuning yang menempel di tubuh Calista kini sudah tertanggal dari tubuh wanita itu, demikian juga dengan benda yang berbentuk kaca mata yang menutupi dadanya. Yang tersisa kini hanya kain tipis berbentuk segitiga yang masih setia untuk menunggu giliran untuk disingkirkan.


Tangan dan mulut Arick berkerja sama dalam membuat Calista melayang. Tangan kiri mere* mas dan mulut yang bermain di bagian puncak lainnya..

__ADS_1


Tubuh Calista semakin menegang ketika benda keras di bawah Arick berkali-kali menyentuh pahanya. Akan tetapi tiba-tiba Arick menghentikan aksinya dan berdiri serta meraih handuk yang tergeletak di lantai. Dia langsung membalutkan kembali handuk itu ke pinggangnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Calista.


"Maaf! aku khilaf!" ucap Arick membuat Calista mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Maksudnya? khilaf?"


"Iya! aku tidak mau menanggung rasa bersalah pada Arend karena aku menyentuhmu."


Bagai tersambar petir di siang bolong, Calista terbengong mendengar ucapan Arick.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? bukannya aku ini sudah sah menjadi istrimu? atau kamu mau mengatakan kalau kamu akan melemparkanku kembali pada kak Arend bila, dia sudah kembali? Apa menurutmu aku ini barang yang bisa dilempar ke sana kemari? Kamu anggap apa aku, Kak? Apa aku seperti barang mainan buat kalian berdua, yang bisa dipinjamkan dan dikembalikan bila sudah tidak ingin dimainkan lagi?" Air mata Calista sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia merasa terhina dengan apa yang sudah dilakukan oleh Arick. Teganya pria yang nota benenya sudah menjadi suaminya, mengatakan khilaf, merasa bersalah pada Arend, ketika dia melakukan hal yang sebenarnya pantas dia lakukan.


"Bu-bukan seperti itu maksudku, Lista. Aku hanya ...." Arick menggantung ucapannya. Tadinya, dia mau mengatakan kalau dia masih belum bisa melakukannya, sebelum benar-benar melihat raut wajah Arend yang sudah tidak terluka, bila melihat dirinya dengan Calista. Bagaimana dia bisa menikmati malam pertamanya, sedangkan dia tidak tahu dimana keberadaan kembarannya itu sekarang? bagaimana dia bisa bersenang-senang malam ini, sedangkan orang yang merelakan kebahagiaannya sedang bersedih malam ini? bagi Arick itu rasanya tidak adil.


"Sudahlah, aku capek. Kamu tidak perlu menjelaskannya lagi." Calista berjalan menuju kopernya dengan selimut yang tetap menutup tubuhnya. Wanita itu mengambil piyama tidur dari dalam koper itu dan langsung mengenalkannya.


Calista kembali berjalan menuju ranjang, dan langsung membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Sementara itu Arick menatap Calista dengan perasaan bersalah.


Flashback off


"Kamu masih marah padaku?" Arick buka suara.


"Tidak!" sahut Calista datar, tanpa menoleh ke arah Arick.


"Aku tidak yakin. Kamu pasti masih marah padaku. Jika kata-kataku benar-benar membuatmu tersinggung, aku minta maaf. Satu hal yang harus kamu tahu, 'dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah menganggap kamu itu mainan'. Aku sudah berani mengajukan diriku untuk menikahimu, jadi aku harus bertanggung jawab dengan itu. Satu hal lagi, Aku tidak ada niatan sedikitpun untuk mengembalikanmu pada Arend jika nanti dia kembali." pungkas Arick sambil beranjak dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil yang dikendarai Arick berhenti di sebuah rumah besar milik Calvin. Ya, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah Calvin papanya Calista terlebih dulu. Tepatnya, Calista yang minta, dan Arick tidak keberatan untuk itu.


"Ayo turun!" ucap Arick sambil melepaskan sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana? bukain pintu mobilnya buat aku dong! masa aku harus buka sendiri.". Calista menahan tubuh Arick.


"Kenapa harus aku yang bukain? bukannya kamu bisa sendiri?"


"Tuh, ada mama,papa, dan kedua kakakku liatin kita. Kalau kamu yang buka, jadinya kan terlihat romantis." ucap Calista yang membuat Arick merasa jengah. Akan tetapi, dia tetap turun dan melakukan hal yang di inginkan oleh istrinya itu.


"Ayo turun!" ucap Arick dengan raut wajah kesal.


Akan tetapi, wanita itu tidak bergerak sama sekali, membuat alis Arick bertaut tajam.


"Kenapa kamu belum turun? aku kan sudah membukakan pintu untukmu."


"Kamu harus meraih tanganku dan membantuku untuk keluar dari dalam mobil. Dan salah satu tanganmu, kamu letakkan di atas kepalaku jaga-jaga Agar kepalaku tidak terantuk," jelas Calista, mirip seperti seorang guru yang sedang mengajari muridnya.


"Harus ya?" Arick mendelik ke arah Calista.


"Iya, harus! biar kamu tahu bagaimana caranya romantis, bukan hanya tahu bekerja di depan komputer saja." sindir Calista. Jangan lupakan Calvin dan Cantika yang saling silang pandang, bertanya-tanya kenapa putrinya lama sekali turun dari dalam mobil.


Arick mengembuskan napasnya, dia tidak membantah sama sekali. Untuk mempercepat waktu, diapun melakukan apa yang dikatakan oleh Calista.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Calista sambil tersenyum manis, tapi ditanggapi dengan wajah datar Arick.


"Hei, kenapa kamu berjalan seperti itu?" bisik Arick, kaget melihat cara jalan istrinya yang sedikit ngang*kang.


"Kamu diam saja, Kak. Aku cuma akting, seakan-akan, kita sudah melakukannya tadi malam. Supaya aku tidak terlalu terlihat menyedihkan." sahut Calista yang membuat Arick terdiam.


"Calista, kenapa kamu berjalan seperti itu, Sayang?" tanya Cantika, yang langsung menghambur menghampiri putrinya.


"Cantika tidak apa-apa kok, Mah. Cuma karena kebanyakan ronde saja tadi malam." sahut Calista, eksplisit.


"Hah? kebanyakan? apa senjata Arick sangat besar, sampai buat jalan Calista ngang*kang seperti itu? perasaan dulu, aku semalaman dihajar sama Calvin gak segitunya. Arick ganas juga ya." batin Cantika sambil bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kamu ganas juga ya, Rick" bisik Calvin sambil menepuk pundak menantunya itu, membuat wajah Arick memerah malu.


Tbc


__ADS_2