Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Bertukar nomor telepon


__ADS_3

Safira berjalan dengan langkah yang gontai, dan sesekali mengangkat wajahnya, melihat ke atas supaya air matanya tidak menetes.


Tasya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan lebih memilih untuk langsung mencari pekerjaan walaupun hari sudah mulai sore.


Dari tadi sudah ada beberapa rumah makan, toko yang dia tanya, tapi hasilnya nihil.


"Aku coba tanya yang di sebrang sana deh," batin Safira dengan kaki yang langsung melangkah tanpa melihat ke kanan dan kiri. Sehingga sebuah mobil hampir saja menabrak tubuhnya. Untungnya mobil itu berhenti mendadak dan yang hanya pinggang Safira yang sedikit terbentur.


"Kamu tidak apa-apa, Nona?" terdengar suara seorang perempuan dan mengulurkan tangannya untuk membantu Safira berdiri.


Safira mengangkat wajahnya, tampak olehnya seorang wanita cantik sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Oh, aku tidak apa-apa kok, Kak." ucap Safira yang menyambut uluran tangan wanita itu dan berusaha untuk berdiri. Safira meringis dan menyentuh pinggulnya yang terkena benturan tadi.


"Tuh, kamu kesakitan. Sepertinya kamu harus dibawa ke dokter," ucap wanita itu dengan wajah yang kembali panik.


"Tidak perlu, Kak. Aku __"


"Panggil aku tante. Rasanya kalau kamu panggil aku Kak, gak cocok, soalnya anakku mungkin sudah lebih tua dari kamu. Kamu usianya berapa?" tanya wanita itu dengan lembut dan menyunggingkan senyum lebarnya.


"Aku baru saja 22 tahun, Tan," jawab Safira dengan mata yang menatap takjub dengan wanita yang ada di depannya. Dia tidak menyangka kalau wanita yang sedang berbicara dengannya itu, sudah memiliki anak yang sudah dewasa. Kalau dilihat-lihat wanita itu masih terlihat sangat muda dan cantik.


"Tuh kan, benar yang Tante ucapkan. Anak Tante lebih tua dua tahu dari kamu. Anak Tante sudah 24 tahun," ujar wanita itu dengan sedikit berbisik pada saat menyebutkan usia anaknya.


Safira terpaku di tempatnya, speechless.


"Ayo, tante antarkan kamu ke dokter! walaupun kamu mengatakan tidak apa-apa, pinggang kamu itu juga harus tetap diperiksa," wanita itu menarik tangan Safira dan membawa gadis itu ke masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu jangan khawatir! aku orang baik-baik. Nama Tante itu Cantika. Kalau kamu namanya siapa?" tanya wanita yang ternyata Cantika mamanya Cakra.


"Aku Safira, Tante," jawab Safira dengan sopan.


"Nama yang cantik, sama seperti orangnya," puji Cantika dengan tulus.

__ADS_1


"Terima kasih, Tante!"


Cantika tersenyum dan menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan terima kasih Safira.


"Kamu mau kemana tadi? kenapa menyebrang jalan tidak hati-hati?" tanya Cantika sambil tetap fokus melihat jalanan.


"Hmm,aku baru saja kehilangan pekerjaan, Tante. Jadi, tadinya aku berniat ingin mencari di sebrang jalan. Kali aja ada rumah makan atau toko-toko yang butuh karyawan," jelas Safira.


"Hmm, kamu tamatan apa?"


"Aku hanya tamatan SMK, Tan. Setelah lulus aku langsung cari pekerjaan,"


"Hmm, jadi sekarang kamu sedang butuh pekerjaan ya?"


Safira menganggukkan kepalanya.


"Dimana orang tuamu?" Cantika kembali bertanya.


"Orang tuaku sudah tidak ada, Tan. Aku perlu pekerjaan untuk biaya hidupku dan anakku,"


"Pantasan dia masih terlihat muda. Nikah muda ternyata." batin Safira.


"Usia berapa anak kamu sekarang? dan di mana suamimu? kenapa bukan dia saja yang bekerja?" cecar Cantika bertubi-tubi dengan nada yang sedikit kesal, membayangkan ada laki-laki yang tidak bertanggung jawab.


Safira tidak menjawab sama sekali. Justru air matanya kembali menetes membayangkan wajah Cakra, pria yang membuat hidupnya menderita selain mama tirinya.


"Emm, maaf! Tante tidak bermaksud membuat kamu sedih. Kalau kamu tidak mau bercerita, tidak apa-apa. Tante tidak akan memaksa. Ayo turun! kita sudah sampai di rumah sakit," ucap Cantika setelah dia menepikan mobilnya dengan sempurna.


"Oh ya, sebelum kita turun, Tante cuma mau bilang, kalau kamu butuh pekerjaan kamu boleh melamar ke butterfly cafe dan restaurant, milik menantu dari besanku, yang sebentar lagi akan buka. Nanti aku akan informasikan ke dia," ujar Cantika yang membuat mata Safira seketika berbinar bahagia.


"Apa ini benaran, Tan? Tante tidak bercanda kan?"


"Tentu saja tidak. Catat nomor telepon Tante, atau ketikkan nomor telepon kamu di sini!". Cantika memberikan ponselnya dan Safira langsung mengetikkan nomor teleponnya di benda pipih yang memiliki brand mahal itu.

__ADS_1


Setelah selesai dengan tukar nomor telepon, mereka berdua pun turun dari dalam mobil.


Ketika Safira sedang diperiksa, Cantika memicingkan matanya, berusaha mengingat wajah, Safira yang menurutnya pernah dia lihat dan sepertinya pernah dekat dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cakra turun dari dalam mobilnya dan langsung menghambur ke pintu kontrakan Safira.


"Safira! Safira! tolong buka pintunya!" teriak Cakra mengetuk-ngetuk pintu.


Tidak ada respon sama sekali dari dalam. Pria kembali meneriaki nama Safira dan mengetuk-ngetuk pintu.


"Ada apa, Nak Cakra?" tiba-tiba Sarni muncul di belakang sambil menggendong baby Ian.


Cakra sontak memutar tubuhnya dan tatapannya langsung terpatri pada anak yang ada di gendongan Sarni yang juga menatapnya dengan tatapan malaikatnya. Baby Ian bahkan tersenyum pada pria itu sambil mengemut- **** potongan buah apel di tangannya.


Dengan langkah perlahan dan mata yang berembun, Cakra menghampiri baby Ian. Dia meraih baby Ian ke dalam gendongannya dan berkali-kali mencium anak kecil itu. Tanpa dia sadari cairan bening yang tadi berusaha dia tahan, akhirnya berhasil keluar menerobos tembok yang sudah dia bangun. Akan tetapi dia buru-buru menyekanya sebelum wanita setengah baya di depannya itu melihat air matanya.


Sarni mengrenyitkan keningnya, benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi. Walaupun Cakra buru-buru menghapus air matanya, mata wanita itu tetap saja awas dan melihat air mata Cakra.


"Nak Cakra, ada apa sebenarnya? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sarni dengan tatapan yang menyelidik.


"Bude, apa Safira ada di dalam?" bukannya menjawab pertanyaan Sarni, Cakra malah kembali bertanya.


"Lho, kenapa Nak Cakra bertanya pada, Bude? bukannya dia sedang bekerja sekarang?" tampak raut ke khawatiran di wajah Sarni.


"Jadi, dia belum pulang, Bude?" Cakra juga kini sudah tidak kalah khawatirnya. Pikiran-pikiran negatif mulai berseliweran di benaknya.


"Apa dia putus asa dan berniat berbuat aneh-aneh yang bisa mengancam nyawanya atau ...." batin Cakra yang tidak sanggup melanjutkan dugaannya.


"Akh, sepertinya tidak mungkin. Mungkin karena dia naik angkutan umum makanya lama. Sebentar lagi dia mungkin akan nyampe," Cakra menyangkal sendiri dugaannya berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Nak Cakra, ada apa sebenarnya? kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan bude? tidak terjadi apa-apa kan pada Safira?" desak Sarni yang merasa gemas karena Cakra tidak menjawab pertanyaannya dari tadi.

__ADS_1


"Bude, sekarang aku mau tanya, dan jawab yang jujur. Kalau bude jawab dengan jujur, aku akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa Ivan anak angkat Alena dan Arend anaknya Safira?"


Tbc


__ADS_2