
Tasya berjalan dengan gontai dan hati yang sangat dongkol. Bagaimana tidak, bagaimana pun caranya untuk menolak menikah dengan Kama, tapi si tuan pemaksa, begitulah wanita itu memanggil Kama, tetap kekeh ingin menikah dengannya bahkan pria itu sampai memberikan ancaman, kalau dirinya tidak mau menikah, pria itu akan membuat dirinya susah untuk mendapatkan pekerjaan dimanapun.
"Hei, cewek murahan! enak banget ya kamu, jam segini baru mulai kerja lagi. Apa karena kamu merasa dekat dengan pak Kama, makanya kamu ngelunjak dan bisa bekerja sesuka kamu?" tiba-tiba Ningsih sudah berdiri di depan Tasya dengan bertolak pinggang. Wanita itu terlihat bersama dengan dua orang wanita itu juga bersama dengan dua orang wanita yang selama ini juga selalu menatapnya dengan tatapan sinis.
"Maaf, Bu Ningsih! Tadi ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku bicarakan dengan Pak Kama. Jadi __"
"Alasan aja!" Ningsih menyela ucapan Tasya. "bilang saja kamu mau menunjukkan power kamu karena dekat dengan Pak Kama. Kamu mengira kalau aku bakal tidak berani marahin dan memerintah kamu lagi, iya kan? kamu mau berkuasa di sini ya?" tukas Ningsih dengan nada yang berapi-api dan wajah bengis.
"Bu-bukan seperti itu, Bu. Aku tidak ada maksud untuk berkuasa dan sombong. Aku tadi memang benar-benar lagi ada hal penting," Tasya berusaha untuk menyangkal tuduhan yang baru saja dilontarkan oleh Ningsih
"Jangan banyak omong kamu! kamu itu sama sahabatmu itu sama aja. Sama-sama murahan dan Matre. Kalian berdua itu wanita penggoda!" ucap Ningsih dengan tatapan yang menghina sekaligus merendahkan.
"Jangan asal bicara, Bu! kami tidak serendah seperti yang ibu tuduhkan," ucap Tasya tidak terima.
Ningsih mendengus dan mengangkat sudut bibirnya, menyeringai sinis.
"Kamu jangan melakukan pembelaan lagi, Tasya! mana ada maling yang mau ngaku, kalau ngaku penjara akan penuh.". Ningsih diam sejenak dengan senyuman miring yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Kamu dan Safira pakai ilmu pelet apa sih? sampai-sampai orang terpandang seperti Pak Cakra dan Pak Kama bisa tergoda dengan wanita seperti kalian berdua. Kalau masalah wajah yang cantik, sepertinya banyak wanita cantik, berpendidikan tinggi dan sederajat dengan mereka. Bukan seperti kalian berdua yang hanya modal cantik saja," sambung Ningsih kembali.
"Aku berani bersumpah, kalau kami tidak pernah melakukan hal seperti yang Ibu tuduhkan. Kalau Pak Cakra suka pada Safira dan Pak Kama suka padaku, itu bukan salah kami. Kami juga tidak pernah menyangka kalau itu bisa terjadi," lagi-lagi Tasya berusaha melakukan pembelaan diri.
"Cih, banyak alasan! coba kamu pikir dengan nalar kamu. Bagaimana mungkin, Safira yang masih baru bekerja di sini langsung bisa menarik perhatian Pak Cakra? apa itu tidak aneh? apalagi coba kalau bukan karena dia menggunakan ilmu pelet. Atau jangan-jangan ada sesuatu yang kalian masukkan ke dalam kopi Pak Cakra dan Pak Kama?" tukas Ningsih yang semakin menjadi-jadi tuduhannya.
"Itu karena ... ah, kalian tidak tahu apa yang sudah terjadi, jadi lebih baik kalian jangan asal bicara, karena jatuhnya bisa jadi fitnah," tegas Tasya yang hampir keceplosan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara Safira dan Cakra. Beruntungnya dia masih bisa menahan diri. Beruntungnya sikapnya yang selalu impulsif bisa dia cegah di waktu yang tepat.
__ADS_1
"Karena apa? kenapa berhenti ngomongnya? itu karena kalian berdua memang main guna-guna kan?" seringaian sinis dan menyindir kembali muncul di bibir Ningsih.
"Cih, aku tidak menyangka kalau di balik wajah polos kalian berdua, ternyata kalian itu licik," salah satu rekan dari Ningsih buka suara menimpali ucapan wanita itu.
Tasya menggigit bibirnya, manik matanya mulai berembun, berusaha untuk menahan air matanya agar tidak merembes ke luar. Dia tidak menyangka kalau dirinya dan Safira akan mendapat tuduhan yang sangat menyakitkan seperti ini.
"Kamu jangan berpura-pura memasang wajah memelas seperti itu! kamu kira kalau kamu memasang wajah seperti itu, kami akan merasa bersalah dan minta maaf?_ tidak akan!"
Ningsih memberikan isyarat dengan tangannya mengajak kedua rekannya itu untuk beranjak pergi meninggalkan Tasya.
Baru saja ketiga wanita itu melangkah beberapa langkah, Ningsih kembali memutar tubuhnya, kembali menoleh ke arah Tasya yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Kamu kenapa masih berdiri di sana? hah! sebagai hukuman atas keterlambatan kamu, kamu itu harus membersihkan toilet basement sampai bersih! ingat, kamu harus membersihkannya sendiri!" titah Ningsih. Kemudian wanita itu kembali melangkah bersama dengan kedua rekannya.
Sementara itu Tasya, menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan kembali ke udara dengan cukup panjang, berusaha untuk menahan amarahnya. Kemudian wanita itu beranjak dari tempat dia berdiri, menuju toilet basement seperti yang diperintahkan oleh Ningsih.
"Kenapa kalian melakukan ini padaku? apa salahku?" tanya Tasya dengan air mata yang sudah tidak bisa dia bendung lagi.
"Wanita murahan seperti kamu memang pantas mendapatkannya. Bahkan seharusnya lebih dari ini," ujar salah satu dari dua wanita itu dengan tatapan penuh kebencian.
"Kalian tega! aku bukan wanita murahan. Kalian jangan asal bicara kalau kalian tidak tahu apa yang sudah terjadi. Asal kalian tahu, dengan kalian melakukan tindakan ini, menandakan kalau kalianlah yang sudah bertingkah murahan," Suara Tasya mulai meninggi.
"Apa kamu bilang?" salah satu dari kedua wanita itu murka dan tiba-tiba menarik kencang rambut Tasya, hingga Tasya merintih kesakitan.
Tasya berniat melawan, tapi wanita yang satunya segera menahan pergerakan Tasya dengan menahan tangan wanita itu.
__ADS_1
Kedua wanita itu dengan paksa menarik Tasya dan mendorong wanita itu masuk ke dalam ruangan closet. Kemudian kedua wanita itu dengan sigap langsung menguncinya dari luar.
"Buka! tolong buka pintunya!" teriak Tasya sambil menggedor-gedor pintu dari dalam.
"Cih, tidak akan! nih kamu rasakan ini lagi!" Tiba-tiba seember air disiramkan kembali ke tubuh Tasya dari atas.
"Selamat tinggal Tasya. Sampai jumpa besok! Kamu akan kedinginan di dalam sana. Ingat ini masih peringatan padamu. Jangan coba-coba untuk melaporkan semua ini pada siapapun, kalau kamu sempat melaporkannya, kami tidak akan segan-segan untuk melakukan lebih dari ini." Kedua wanita itu beranjak pergi dan langsung mengunci pintu utama. Kemudian salah satu dari dua wanita itu langsung menempelkan kertas yang bertuliskan 'Toilet sedang dalam perbaikan'.
Kedua wanita itu melangkah dengan senyuman yang terlihat puas sambil mengantongi kunci toilet.
"Bagaimana? kalian berdua sudah melakukan perintahku dengan baik?" tiba-tiba Ningsih muncul dan menyambut kedua wanita itu dengan tatapan yang tidak sabaran.
"Tentu saja sudah, Bu!"
"Tidak ada yang melihat kalian berdua kan?" tanya Ningsih dengan mata yang memicing.
"Tidak ada, Bu. Semuanya aman."
"Tapi, dia tidak akan mati kan di dalam sana, Bu?" tanya salah satu dari dua wanita itu, khawatir.
"Kamu tenang saja, dia tidak akan mati hanya karena semalaman kedinginan dan kelaparan. Besok pagi kita akan keluarkan dia dari sana. Kalian sudah mengancamnya supaya tidak buka suara kan?" Kedua wanita itu menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Bagus! ayo kita pergi dari sini sebelum ada yang curiga." titah Ningsih dengan mata yang mengedar melihat sekeliling.
"Aku yakin dia tidak akan bisa bertahan kedinginan dan kelaparan. Aku berharap dia akan mati di dalam sana. Kalau itu terjadi, kalian berdualah yang akan dituduh. Karena aku sudah menyiapkan alasan yang masuk akal kalau kalian berdua membocorkan kalau aku dalang dari semua ini," batin Ningsih dengan seringaian tipis di sudut bibirnya.
__ADS_1
Tbc