Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Aku mau pakai gaun apa?


__ADS_3

"Arghhhh kenapa kenapa tadi aku harus setuju sih?" Alena menggerutu di dalam hati sambil mengeluarkan pakaian-pakaiannya dari dalam lemari, memilih pakaian yang hendak dia pakai nanti malam untuk bertemu dengan orang tua Arend.


"Mana gak punya pakaian yang cocok lagi, buat dipakai. Kan nggak mungkin aku pakai celana jeans dan pakai kaos bertemu orang tuanya.". Alena terduduk sambil melihat semua pakaiannya yang berserakan di lantai dengan tatapan merasa miris pada diri sendiri.


"Ya ampun Alenaaa, kenapa pakaian kamu berantakan begini, Nak?" tiba-tiba Sarni muncul dan matanya langsung membesar melihat kamar Alena yang sudah seperti kapal pecah.


"Alena bingung mau pakai apa nanti malam Bude. Alena gak punya gaun yang bagus sama sekali. Gaunku cuma yang satu ini. Tadinya aku mau pakai ini, tapi ternyata sudah kena gigit tikus. Kan tidak mungkin aku pakai gaun itu lagi," Alena menunjukkan gaun selutut berwarna kuning yang bagian bawahnya sudah bolong-bolong.


"Dari tadi kamu sibuk mikirin gaun, emang buat apa kamu pusing, memikirkan gaun? kamu mau kemana? apa kamu harus pakai gaun buat bekerja besok?" Kening Sarni berkerut. Karena yang dia tahu kalau Alena akan ke butik mamanya Arend besok.


"Ummm, sebenarnya bukan untuk dipakai kerja, Bude. Tapi Alena mau dikenalin ke orangtuanya, Arend, nanti malam," jawab Alena gugup.


"Dikenalin? maksudnya kamu dikenalinya nanti, buka besok? kenapa harus malam ini, kan besok bisa langsung ketemu di butik?" ujar Sarni yang masih berpikir kalau Alena mau ketemu sama mamanya Arend, untuk urusan pekerjaan.


"Bu-bukan, Bude. Arend mengajak aku menikah dan nanti malam aku __"


"Apa? menikah?!" Sarni terkesiap kaget dengan mata yang membesar dan mulut yang terbuka. Sementara itu Alena tidak menjawab sama sekali.Dia hanya memberikan anggukan kepala, mengiyakan.


"Serius kamu! tapi kenapa tiba-tiba? kalian baru saja kenal. Kamu tidak __"


"Bude, percayakan sama aku? yang jelas aku dan Tuan Arend akan menikah." Alena menyela ucapan Sarni.


"Bude percaya sama kamu, Nak. Cuma bude merasa kalau ini terlalu cepat saja. Bude bersyukur kalau akhirnya kamu akan menikah dan memiliki suami seperti nak Arend. Tapi kalian berdua memutuskan menikah bukan karena ada sesuatu kan?" Sarni mengangkat alis ke atas, curiga.


"Tidak, Bude. Yang jelas kata Arend, kalau dia jatuh cinta padaku," ucap Alena tidak mau mengatakan yang sebenarnya karena sudah merupakan kesepakatan, bahwa tidak ada yang boleh tahu tentang alasan Arend untuk menikah.


"Wah bagus kalau begitu. Bude senang mendengarnya," raut wajah wanita setengah baya itu, berbinar, ikut merasa bahagia mendengar rencana pernikahan Alena.


"Masalahnya sekarang gaun yang mau aku pake, Bude. Mana ini udah sore lagi." Alena menggusak rambutnya, frustasi.


"Permisi!" terdengar suara seorang laki-laki dari arah pintu masuk.


"Siapa itu, Bude?"tanya Alena dengan mata yang melebar.

__ADS_1


"Entah, sebaiknya kita lihat sama-sama ke depan." Sarni melangkah keluar disusul oleh Alena dari belakang.


"Iya, mau cari siapa?" tanya Sarni dengan mata yang memicing curiga pada seorang pria bertubuh tegap yang berdiri di depan pintu.


"Maaf, aku disuruh Tuan Arend untuk menjemput Nona Alena. Mari Nona Alena Tuan Arend sudah menunggu di mobil," jawab pria itu dengan wajah datar, tanpa senyuman.


"Hah, sekarang? Bukannya nanti malam ya? aku belum bersiap-siap sama sekali," Alena seketika panik.


"Maaf, Nona ini perintah Tuan Arend. Mari ikut saya,"


"Tunggu, tunggu dulu! dimana dia? di mobil kan?" Tanpa menunggu jawaban pria itu, Alena menyeruduk keluar ingin mengajukan protes pada Arend.


"Masuk!" belum sempat Alena melayangkan protesnya, Arend sudah lebih dulu buka suara dengan raut wajah datar.


"Hei, kamu lihat aku belum bersiap-siap. Gak bisa gitu dong, kamu bilang kan malam nanti, ini masih sore." Cerocos Alena, tak peduli dengan aura dingin dari yang diperlihatkan oleh pria itu.


"Aku bilang masuk ya masuk, buruan!"


Alena menghentakkan kakinya, kesal. Dan memilih untuk tetap berdiri di tempatnya berdiri.


Alena kembali menghentakkan kakinya, sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tunggu! aku mau nitip baby Ivan dulu sama bude Sarni!" ucap Alena ketus.


Tidak berselang lama, Alena keluar kembali dari dalam rumah, hanya mengganti celananya saja, yang tadinya memakai celana pendek rumahan, sekarang sudah berganti dengan celana jeans yang panjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayo turun!" titah Arend yang masih tetap dengan wajah datarnya, sambil melepaskan headset dari telinganya. Ya, tadi pria itu sengaja mendengarkan musik, untuk menghindari Alena yang tidak berhenti mengomel di sepanjang jalan.


"Kita dimana? bukannya kita mau ke rumah kamu?" tanya Alena dengan alis bertaut, bingung, karena Arend membawanya ke sebuah butik.


"Jangan banyak tanya, kamu ikut saja!" Arend melangkah mendahului Alena, dan gadis itu mengekor dari belakang.

__ADS_1


"Kak Arend!" seorang gadis cantik berteriak sambil melambaikan tangan ke arah Arend.


Arend membalas lambaian tangan gadis itu dengan menyunggingkan senyuman yang sangat lebar sambil berjalan menghampiri gadis itu. Senyumnya itu tidak lepas dari tatapan Alena.


"Cih, bisa juga dia tersenyum. Kirain bisanya cuma pasang wajah dingin dan mengintimidasinya. Tapi siapa wanita itu? apa itu yang namanya Calista?" batin Alena yang masih tetap berdiri di tempatnya.


"Sayang! kenapa kamu masih berdiri di sana! ayo ke sini?" panggil Arend dengan mesra.


"Sayang? Siapa yang dia panggil sayang? nggak mungkin aku kan?" bisik Alena pada dirinya sendiri, sambil celingukan melihat ke kanan, ke kiri dan ke belakang.


"Kenapa masih berdiri di sini sih? apa kamu tadi tidak mendengar aku memanggilmu?" tiba-tiba, Arend sudah ada di dekatnya dan berbisik di telinganya.


"Tadi kamu memanggilku? kamu kan tadi panggil sayang, aku mana tahu, kalau sayang yang kamu maksud itu aku," Alena balik berbisik.


"Mulai sekarang, kamu harus panggil aku sayang kalau di depan orang. Kamu mengerti? ayo gandeng tanganku, kita ke sana!" Arend menyerahkan lengannya untuk di gandeng oleh Alena.


Alena menuruti kemauan Arend dan berjalan ke arah wanita tadi yang masih sabar menunggu.


"Apa dia yang bernama Calista? cantik juga ya? pantasan kamu jatuh cinta sama dia. Tapi bukai kita itu, harusnya mesra di depan kakakmu saja, bukan di depan dia?" celoteh Alena dengan nada yang sangat pelan.


"Kamu bisa diam gak sih? kamu itu berisik banget dari tadi, tahu gak?" bentak Arend, tapi tidak kalah pelannya dari suara Alena.


"Wah, jadi ini calon istri kamu, Kak?" tanya wanita itu, Langsung memeluk Alena.


"Iya! namanya Alena. Sayang kenalin, ini Kalila adik sepupuku," ucap Arend.


"Wah, udah panggil sayang saja. Cepat juga move on nya. Hai Kak Alena. Bagaimana sih cara kamu menaklukkan kakakku ini? padahal selama ini dunianya hanya berputar pada Calista ...." Kalila menggantung ucapannya, melihat tatapan tajam Arend padanya.


"Kamu jangan banyak bicara! Aku panggil kamu ke sini untuk membantu memilihkan gaun yang cocok untuknya. Sekarang lakukan tugas kamu! sekalian rias dia, tapi ingat jangan terlalu menor." titah Arend, tegas, yang membuat Kalila mengerucutkan bibirnya.


"Ayo, Kak Alena, ikut saya!" Kalila menarik tangan Alena, yang hanya bisa menurut saja.


Tbc

__ADS_1


Maaf ya, hanya bisa segini. Ini pun aku paksakan nulis. Sebenarnya aku kurang sehat karena asam lambungku lagi naik parah. Sampai buat dada panas, sesak dan punggung sakit. Harap maklum ya guys 🙏🏻😍


__ADS_2