
Tasya terjengkit kaget karena seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu menangis sendirian di sini? mau aku bantuin nangis?" tanya seseorang itu yang ternyata adalah Kama.
Ya, Kama memang tidak mengantarkan Tasya pulang, tapi pria itu dari jauh membuntuti angkutan yang sedang dinaiki oleh wanita itu.
Pria itu memang kecewa dengan ucapan Tasya yang sangat menyakitkan. Namun, entah kenapa Kama sama sekali tidak bisa menyangkal kalau dirinya benar-benar mencintai Tasya. Pria itu sudah mencoba dan berniat untuk melupakan Tasya, tapi entah bisikan dari mana, pria itu tidak bisa untuk tidak melihat Tasya, walaupun itu hanya dari jauh.
"Ka-Kama? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Tasya dengan tersendat-sendat, karena dibarengi dengan Isak tangis.
"Kenapa aku di sini? ya, karena aku tahu kalau penghuni hatiku sedang bersedih."
"Gombal!" Tasya sedikit menyunggingkan senyumnya.
"Sekarang aku tahu, kalau ternyata kamu itu berbohong tentang perasaanmu. Aku sudah mendengar semua perdebatan kamu dengan mama kamu. Ternyata kamu mencintaiku, tapi kamu hanya tidak ingin kalau mama kamu akan bertindak berlebihan dan meminta kemewahan dariku, iya kan?" Kama menyunggingkan senyum manisnya.
"Ja-jadi kamu sudah mendengar semuanya?" Kama menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Berarti kamu juga sudah mendengar, kalau aku sebenarnya bukan anak kandung papa dan mamaku?" lagi-lagi Kama menganggukkan kepalanya.
"Tasya, kenapa aku bisa mencintaimu? itu karena pribadimu yang sederhana dan tidak serakah. Jika kamu melihat segalanya dari harta, bukan aku yang mendekati kamu, tapi justru kamu lah yang berusaha mendekatiku. Tapi apa? kamu justru menghindariku. Begitu mendengar perdebatan kalian tadi, aku menjadi semakin yakin kalau hati kamu itu benar-benar tulus.
"Tapi aku, anak yang tidak jelas, Kam. Aku tidak tahu aku dilahirkan oleh siapa?" Tasya kembali menangis.
"Kamu tenang saja, aku kan ada. Aku akan bantu mencari siapa orang tua kamu yang sebenarnya."
"Aku rasa itu adalah hal yang sangat mustahil. Kamu tahu sendiri, kejadiannya sudah sangat lama dan ibu yang melahirkanku sudah meninggal," Tasya terlihat pesimis.
"Kamu jangan pesimis dulu! kalau ibumu sudah meninggal, boleh jadi papa kamu masih hidup kan?"
Tasya tercenung. Seketika dia seperti mendapat harapan lagi.
"Iya, aku yakin kalau papa masih hidup." Tasya terlihat kembali bersemangat.
Binar di wajah Tasya hanya bertahan untuk beberapa saat. Raut wajah wanita itu seketika kembali berubah sedih.
__ADS_1
"Kam, apa benar kalau aku ini anak pembawa sial?" celetuk Tasya dengan raut wajah sendu.
"Siapa bilang? tidak ada yang namanya anak pembawa sial. Setiap anak itu adalah anugerah dan hadir ke dunia ini dengan rejekinya masing-masing," tutur Kama sambil membelai lembut rambut wanita pujaannya itu.
"Tapi, ibuku meninggal karena melahirkanku? bisnis papa angkatku, bangkrut semenjak adanya aku. Bukannya itu berarti, kalau aku ini pembawa sial? dan apa kamu tidak takut kalau apa yang sudah menimpa keluargaku akan menimpa keluargamu juga?"
"Astaga! kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? ini semua benar-benar bukan salah kamu. Itu semua adalah takdir. Kamu juga tentu saja tidak mau kalau kamu akan kehilangan seorang ibu, begitu kamu dilahirkan. Jadi, kamu tidak boleh berkata seperti itu!" tutur Kama, kembali menghibur Tasya.
Tasya sedikit melengkungkan bibirnya ke atas, tersenyum tipis. Dia berharap kalau perkataan Kama benar adanya.
"Udah ah! sekarang kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Yang jelas, aku akan selalu ada di sampingmu dan akan mendukungmu," pungkas Kama sambil menarik tubuh Tasya dan memeluknya erat.
"Oh ya, satu lagi, ada yang ketinggalan," Kama kembali berucap, ambigu.
"Apa?" Tasya mengrenyitkan keningnya.
"Kamu jangan menangis lagi! karena kalau senyum aja jelek apalagi kalau menangis," ledek Kama sambil berlari pergi dengan tawa yang pecah.
"Kamaaaa!" Tasya mengejar Kama sambil melempar sandal jepit yang sedang dipakainya.
Sementara itu, sepeninggal Tasya, Nino papa Tasya atau bisa disebut papa angkat Tasya yang tidak lain adalah suami Dewi, terlihat sedang sangat murka. Pria itu baru saja pulang dari ngojek, dan mendengar semua perdebatan antara istrinya dan Tasya yang selama ini dia kira adalah putri kandungnya.
"Jadi selama ini kamu sudah membohongi kami semua! Bagaimana bisa kamu membohongi kami sampai bertahun-tahun?" Nino membanting helm yang ada di tangannya dengan sangat keras.
Dewi tidak menjawab sama sekali. Wanita itu kini terlihat takut melihat tatapan kemarahan suaminya itu. Selama pernikahan mereka, baru kali ini dia melihat suaminya semarah itu.
"Kenapa kamu hanya diam? hah! apa kamu sudah tidak punya mulut untuk menjawab?" kembali gelegar suara dari Nino memenuhi ruangan itu. Bahkan mungkin suara Nino sudah terdengar oleh tetangga.
"Ma-maaf, Pa! aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau kamu kecewa dan mendengar kata-kata mamamu yang meminta untuk menceraikanku. Aku tidak tahu kalau kehadiran dia justru mendatangkan kesialan demi kesialan di keluarga kita, hingga membuat bisnis kamu perlahan-lahan hancur," ucap Dewi yang terlihat masih beranggapan kalau penyebab kehancuran mereka adalah kehadiran Tasya.
Nino terlihat menggigit giginya sendiri, geram mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh istrinya itu.
"Apa kamu bilang? Tasya yang membawa kesialan di keluarga kita?"
"Iya. Jadi siapa lagi coba kalau bukan dia?"
__ADS_1
"Kamu! kebohongan dan kejahatan kamu lah yang mendatangkan kesialan demi kesialan di keluarga ini, bukan Tasya,"
"Kenapa, Papa jadi belain dia? kenapa malah papa jadi nyalahin __"
"Karena yang salah itu kamu!" Nino langsung menyela ucapan Dewi. "Sekarang aku mau tanya, apa kamu mengadopsinya baik-baik atau kamu mengambil anak itu begitu saja?"
Dewi bergeming tidak menjawab.
"Jawab!" bentak Nino, hingga membuat Dewi terjengkit kaget.
"A-aku memintanya dari seorang perawat yang ingin membuang Tasya. Katanya, ibu Tasya sudah meninggal dan melahirkan anak kembar. Papa si anak sepertinya tidak tahu kalau anaknya kembar. Aku tidak tahu apa tujuan perawat itu, yang jelas aku butuh seorang anak, jadi tanpa bertanya aku ambil aja anak itu,"jelas Dewi dengan sedikit gemetaran.
"Apa kamu kira kalau itu bukan tindakan kriminal?" ucap Nino dengan seringaian sinis di sudut bibirnya. "Oh ya, apa yang kamu katakan tadi sama Tasya? kamu bilang kamu sudah membesarkan dia dengan baik? apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun mengucapkan hal itu? ingat, yang mengurus semua keperluan Tasya sejak kecil adalah seorang pengasuh. Sedangkan kamu, asik berfoya-foya tanpa memperdulikan Tasya. Jadi kamu jangan bertindak seperti kamu yang berjasa membesarkan dia!" suara Nino terdengar berapi-api.
"Jadi, siapa di sini yang membuat Bisnisku hancur, Tasya atau kamu? hah!" suara Nino benar-benar sangat tinggi, hingga membuat Dewi beranjak mundur karena takut.
"Sekarang aku mau tanya, dimana anak kita dimakamkan?"
Dewi terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri, mendengar pertanyaan suaminya, karena sejujurnya dia sendiri tidak tahu dimana jasad putrinya dimakamkan.
"Kenapa kamu diam lagi? hah! jangan bilang kalau kamu juga tidak tahu dimana makam anak kamu sendiri.
"I-iya, Mas, aku tidak tahu."
Brak
Nino mengangkat kursi dan menghempaskan kembali ke lantai.
"Ibu seperti apa kamu, yang sama sekali tidak peduli dengan makam anak sendiri? kamu bahkan tidak tahu, anak kamu dimakamkan dengan layak atau tidak? masih bisakah kamu disebut sebagai manusia?" Nino hampir saja tidak bisa mengendalikan diri lagi. Pria itu hampir saja ingin memukul Istrinya itu.
"Sekarang, aku tidak ingin melihat kamu lagi ada di rumah ini. Kamu angkat kaki dari rumah ini dan aku akan mengurus perceraian kita. Aku tidak ingin punya istri berhati iblis sepertimu!"
"Baik! kamu kira aku juga masih mau tinggal di rumah jelek dan kecil seperti ini.
Tbc
__ADS_1