Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kama si pemaksa


__ADS_3

"Tunggu! siapa wanita yang bersama Kama itu?" celetuk Arick tiba-tiba, hingga perhatian mereka semua bukan pada kedua mempelai lagi, justru pada Kama yang menggandeng seorang wanita.


Mata Safira membesar dengan sempurna begitu melihat sosok wanita yang sedang digandeng oleh Kama.


"Bukannya itu Tasya? kenapa dia bisa datang bersama Kama?" celetuk Safira dengan alis yang bertaut.


"Kamu saja yang dekat dengannya tidak tahu, apalagi kami," jawab Alena yang diangguki kepala oleh yang lainnya, sebagai tanda kalau mereka juga sama penasarannya dengan Safira.


"Kenapa kalian semua bengong seperti itu? apa kalian tidak pernah melihat orang tampan?" Kama sudah berdiri di antara mereka semua dengan penuh percayalah diri.


Arend,Arick dan yang lainnya berdecih sembari memutar bola mata, merasa jengah dengan tingkah Kama yang terlalu percaya diri.


Sementara itu, Safira langsung menarik tangan Tasya. Wanita itu benar-benar penasaran kenapa sahabatnya itu bisa datang bersama dengan Kama.


"Bukankah tadi kamu tidak mau hadir di pesta ini? apa kamu menolak ajakanku karena ingin datang bersama dengan Kama?" bisik Safira dengan sangat pelan.


Tasya mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan tuduhan Safira yang dialamatkan padanya.


"Jangan asal nuduh! aku memang tidak ingin datang ke sini sama sekali, tapi pria pemaksa itu, mengancam akan meminta Cakra untuk memecatku, kalau aku tidak mau menjadi pasangannya di pesta kakaknya itu," jelas Tasya panjang lebar tanpa jeda. Tampak jelas wajah wanita itu benar-benar sangat kesal seperti ingin menelan Kama hidup-hidup.


Flashback on


Beberapa jam yang lalu.


Tasya yang berencana pulang dari acara pengucapan janji suci pernikahan antara Kalila dan Carlos, dikagetkan dengan kemunculan Kama yang berdiri dengan angkuhnya di depannya. Pria itu menatapnya dengan tatapan dingin dan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Kamu mau kemana? kamu dilarang untuk pulang!" ucap Kama dengan santai seakan Tasya diharuskan untuk mematuhi perintahnya.


"Maksud kamu apa? apa hak kamu melarangku?" tanya Tasya dengan ekspresi tidak suka.


"Bukannya aku sudah mengatakan kalau kita itu, sudah resmi menjadi sepasang kekasih?jadi kamu tidak boleh membantah perintahku lagi," ucap Kama dengan tegas.


"Hei, jangan mengada-ada! sejak kapan kita jadi sepasang kekasih? Seandainya jadi sepasang kekasih pun, aku tidak harus mematuhi perintahmu kan?" ucap Tasya ketus seraya mendorong sedikit tubuh Kama yang menghadang jalannya.

__ADS_1


"Apa kamu kira aku akan menerima penolakan? tidak akan!" Kama mencekal lengan Tasya.


Tasya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup panjang, berusaha untuk menahan kekesalannya.


"Jadi sekarang mau, Pak Kama apa?" tanya Tasya tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria itu.


"Aku mau kamu, menemaniku nanti malam di acara resepsi kakakku dan sekali lagi, tidak ada yang namanya penolakan!" ucap Kama cepat sebelum Tasya melontarkan penolakannya kembali.


"Apa?! apa Pak Kama sadar kalau itu resepsi pernikahan kakak kamu?" Alis Tasya bertaut tajam.


"Tentu saja aku sadar, emangnya kenapa?"


"Pak Kama, jangan berlagak bodoh! itu acara resepsi pernikahan kakak kamu, berarti di acara itu bakal hadir orang tua dan keluarga besar kamu. Nanti mereka bisa salah paham, mengira kalau aku itu benar-benar kekasihmu. Yang malu siapa? kan kamu juga," ujar Tasya berharap agar Kama berpikir ulang atas niatnya.


"Kenapa aku mesti malu? kamu kan pakai pakai baju?" Kama mengrenyitkan keningnya.


"Bukan itu maksudku. Nanti kamu bakal jadi bahan gunjingan orang-orang karena punya kekasih seperti aku."


"Pak, aku ini tidak sebanding dengan wanita-wanita yang pastinya ingin bersama denganmu. Yang cantik dan sederajat dengan kamu tentunya. Apalagi nanti ketika orang tuamu tahu kalau aku bukan benar-benar kekasihmu, mereka akan mengira kalau aku bukan perempuan baik-baik. Jadi, lebih baik Pak Kama urungkan saja niat kamu itu," tutur Tasya panjang lebar, mengungkapkan alasannya.


"Kamu jangan berpikiran terlalu jauh! orang tuaku tidak pernah melihat orang dari kaya tidaknya orang itu. Yang penting kamu itu wanita tulen bukan laki-laki. Kalau kamu laki-laki, baru bahaya." jelas Kama, yang diselipi dengan sedikit candaan.


"Pak Kama, please jangan bercanda! aku serius," protes Tasya, kesal.


"Aku juga serius. Intinya kamu jangan berpikiran yang macam-macam. Lagian, yang bilang kamu kekasih pura-pura siapa? kamu itu kekasih sungguhan,"


Tenggorokan Tasya tercekat mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut pria yang selalu suka berbuat semena-mena itu.


"Aku tidak mau! enak aja asal bilang pacaran, kamu kira aku __"


"Aku tidak bertanya kamu mau atau tidak. Yang jelas kamu itu, pacarku mulai dari kamu panggil aku sayang. Sekarang kita cari gaun itu kamu pakai nanti malam?" Kama dengan sigap menyela ucapan Tasya, sebelum gadis itu banyak bicara.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Tasya yang kini sudah menoleh dan menatap Kama dengan berani.

__ADS_1


"Gampang. Kamu harus bersiap-siap tidak akan bisa bekerja di kantor Cakra dan di kantor manapun," Kama menyeringai sinis.


"Kamu ... kenapa kamu bisa setega itu?" Ekspresi Tasya kini sudah terlihat seperti ingin menangis.


Kama tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru meraih tangan Tasya, mengajak wanita itu meninggalkan tempat dimana mereka berdiri sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berkali-kali Tasya keluar masuk ruang ganti karena setiap kali wanita itu mencoba gaun, pria itu selalu menyuruh untuk ganti dengan alasan terlalu pendek, terlalu seksi dan banyak alasan lainnya.


"Ini yang terakhir ya, Pak Kama eh Sayang. Kalau kamu menyuruh untuk ganti lagi, aku tidak akan mau lagi ikut bersamamu, tidak peduli mau aku kehilangan pekerjaanku atau tidak," ancam Tasya di sela-sela kekesalannya.


"Ya udah, aku janji ini yang terakhir. Kamu masuk aja sana!" Kama mendorong pelan tubuh Tasya untuk menghentikan celotehan gadis itu.


Tidak perlu menunggu lama, akhirnya Tasya sudah mengenakan gaun yang terakhir dan kembali keluar untuk dinilai oleh Kama.


Kama bergeming dan menatap Tasya dengan mata yang tidak berkedip karena terpesona melihat penampilan Tasya yang menurutnya sempurna.




"Kenapa? apa kamu mau menyuruhku untuk mengganti dan mencoba yang lain lagi? kalau iya, kamu mending coba aja sendiri," cetus Tasya yang melihat Kama yang tidak mengutarakan pendapatnya.


"Kamu jangan marah-marah seperti itu! Hmm, kenapa sih tidak ada gaun yang sesuai dengan kamu? Kamu memakai apapun tidak ada perubahan, tetap aja sama seperti biasanya. Tapi, yang ini not bad lah. Kamu pakai ini aja!" Sumpah demi apapun ingin sekali Tasya mencabik-cabik mulut Kama, yang sangat sulit untuk mengakui kecantikannya.


Flashback end


Tbc


Untuk semuanya,


__ADS_1


__ADS_2