
Sementara itu, Di kediaman Bagaskara tampak dua sejoli yang masih bergeming di bawah selimut. Cahaya matahari yang membias masuk ke dalam ruang kamar itu tidak membuat kedua orang itu merasa di terganggu. Siapa lagi mereka kalau bukan Arend dan Alena yang sudah menghabiskan malam yang panjang dengan berolah raga yang membuat mereka mandi keringat tadi malam.
Tidak terhitung berapa kali Arend menyerang tubuh Alena dan tidak membiarkan wanita untuk beristirahat. Pria itu baru berhenti ketika melihat Alena yang sudah terlihat kecapean dan tidak sanggup lagi untuk melakukan kembali dengannya.
Arend terlihat menggeliat, pertanda kalau pria itu sebentar lagi akan bangun. Benar saja, kelopak mata pria itu terlihat bergerak-gerak dan kemudian terbuka secara perlahan.
Sebuah senyuman terbit di bibirnya begitu melihat wajah wanita yang masih pulas dan sangat sangat dekat dengan wajahnya. Ada kepuasan tersendiri bagi Arend begitu melihat semua tanda hasil perbuatannya yang tercetak jelas di leher dan di dada Alena istrinya itu.
Arend mendekat bibirnya dan menempelkannya di kening Alena yang sama sekali tidak terganggu dengan perbuatannya. Kemudian pria itu pun beranjak dari ranjang setelah sebelumnya membenahi selimut agar tubuh istrinya itu tertutup dengan sempurna.
"Aduh, sakit sekali," desis Arend sambil menghentakkan tangannya yang dijadikan Alena sebagai tumpuan kepalanya sepanjang malam. Arend juga merasakan nyeri pada bahunya karena tadi malam kuku Alena sempat menancap karena menahan sakit saat dirinya berusaha untuk menerobos masuk ke dalam inti wanita itu.
"Sepertinya aku harus memintanya untuk memotong kukunya," batin Arend seraya mengayunkan kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alena menggeliat kemudian membuka matanya dan melihat kalau tidak ada lagi orang di dalam kamar itu kecuali dirinya.
Alena beranjak hendak duduk, akan tetapi dia tersentak kaget melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Wanita itu ingin berteriak, tapi tiba-tiba dia urungkan begitu rentetan kejadian yang dialaminya bersama Arend berkelebat di pikirannya.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi, membuat Alena tahu, kalau suaminya itu sedang berada di dalam kamar mandi.
Tidak menunggu waktu lama, handle pintu terlihat berputar pertanda kalau Arend suaminya hendak keluar dari kamar mandi, hal ini membuat Alena dengan sigap menutup seluruh tubuhnya, mulai dari atas kepala sampai kaki dengan selimut.
"Kenapa kamu bersembunyi? apa kamu tidak mau mandi?" terdengar suara Arend sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Alena.
"Jangan menarik selimutnya! please jangan menariknya!" mohon Alena dari balik selimut karena merasa kalau selimut itu nyaris terlepas dari tubuhnya. Sementara itu, Arend mengulum senyumnya karena dia tahu kalau istrinya itu sekarang sedang malu padanya.
"kenapa kamu bersembunyi seperti itu? apa aku sangat menakutkan bagimu?" Alena sontak menurunkan selimutnya sedikit dan mengintip Arend yang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu tidak mau mandi? atau kamu lagi menungguku untuk menerkammu lagi? mumpung aku belum berpakaian," ancam Arend yang membuat Alena dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Jadi, kamu tunggu apa lagi? kalau kamu tidak bergerak dari tempat tidur, aku tidak akan segan-segan untuk menerkammu sekarang dan tidak akan membiarkanmu untuk keluar dari kamar ini walau hanya sedetik pun," Arend kembali melontarkan ancamannya.
Mendengar ancaman Arend sontak membuat Alena bereaksi dengan cepat. Wanita itu sontak beranjak turun dari atas tempat tidur dengan selimut yang masih tetap menutup tubuhnya.
Alena meringis begitu merasakan nyeri di area sensitifnya. Rasa sakitnya sampai ke tulang belakang karena baru pertama kali melakukan hubungan suami istri dengan Arend.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Arend dengan nada yang khawatir.
Alena tidak menjawab. Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, membenarkan.
"Apa kamu mau aku menggendongmu ke kamar mandi?"
"Tidak perlu! aku bisa sendiri kok, Mas," sahut Alena sambil berjalan dengan sedikit terseok-seok, berusaha menahan sakit.
"Jangan melihat ke sini!" ucap Alena dengan mendelik tajam ke arah suaminya itu, dikarenakan tatapan Arend tidak pernah lepas dari pergerakan tubuhnya..
"Stop, jangan bicara lagi! kalau tidak,aku akan membencimu seumur hidup, " Ancam Alena dengan pipi yang sudah memerah.
"Kalau tidak salah, besarnya segini nih, " Arend tidak merasa takut dengan ancaman Alena. Pria itu justru menunjukkan ukuran bukit kembar milik Alena dengan genggaman kedua tangannya.
"Mas, Arendddd!" pekik Alena dengan tangan yang hendak menjangkau sesuatu yang bisa dilemparkan ke arah suaminya itu. Akan tetapi dirinya tidak menemukan benda apapun yang bisa dilempar ke Arend, dikarenakan dia sedang berdiri agak jauh dari ranjang, intinya dia berada di tengah ruangan.
"Apa? mau lempar sesuatu?" ledek Arend, membuat Alena mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, buruan kamu mandi sana! apa kamu mau mengulangi yang tadi malam?" goda Arend seraya mengerlingkan matanya.
"Ogah!" sahut Alena sembari melangkah kembali masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Arend terkekeh melihat ekspresi wajah manyun istrinya. Dia merasa kalau ekspresi Alena sangat menggemaskan di matanya.
Arend melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Hari ini dia berencana tidak akan pergi ke mana-mana, jadi dia memutuskan untuk memakai pakaian santai saja.
"Mas Arend, jama berapa sekarang?" tiba-tiba kepala Alena menyembul dari balik pintu. Wajah wanita terlihat sedikit panik.
Arend tidak langsung menjawab. Pria itu lebih dulu melihat ke arah jam yang menggantung di di dinding.
"Sudah hampir jam 10, kenapa?"
"Apa?! jam 10? gawat ... kenapa ... ah, semua ini gara-gara kamu. Gimana aku mau ketemu sama mama dan papa nanti? aku mau jawab apa, kalau mama sama papa nanya kenapa aku baru bangun jam segini?" Wajah Alena terlihat lebih panik dari sebelumnya.
"Apaan sih? kenapa kamu heboh seperti itu? kamu buruan mandi! biar aku nanti yang ngomong sama mama," ucap Arend, menenangkan Alena.
"Serius, Mas?" Arend menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Nanti, Mas mau jawab apa?" tanya Alena masih dengan tubuh yang berada di balik pintu.
"Mau jawab apa lagi? ya aku akan jujurlah, bilang kalau kamu kecapean buatin mereka cucu," jawab Arend santai.
"Mas Arendddd! bisa tidak jangan bercanda! itu sama aja, Mas makin membuat aku kehilangan muka di depan mama sama papa," protes Alena dengan wajah yang hampir ingin menangis.
"Kamu tenang saja! nanti kalau kamu sampai kehilangan muka, kita cari sama-sama muka kamu. Kalau gak ketemu kita ganti yang baru," sahut Arend dengan santai tapi terselip candaan di dalam ucapannya.
"Mas Arendddd!" pekik Alena sambil melempar botol sampo yang dari tadi dia pegang.
Arend sontak menghindar dan berlari ke arah pintu disertai dengan tawanya yang pecah.
Sementara itu, Alena bergeming. Sudah menikah selama sebulan, baru kali ini, dia mendengar suara tawa Arend yang lepas. Satu hal yang tidak dia pernah nyangka, ternyata Arend bisa bersikap se-tengil itu.
__ADS_1
Tbc