
"Jadi kamu ini calon menantu saya ya? kok tidak ngomong, tadi siang?" tanya Anin antusias pada Tasya yang seketika bingung mau menyangkal atau mengiyakan.
"Emm, sebenarnya aku bu__"
"Iya, Mah. Bagaimana menurut Mama, cantik kan?" Kama, dengan sigap langsung menyambar, karena Kama melihat ada indikasi Tasya yang hendak menyangkal.
Anin memicingkan matanya, merasa ada yang janggal melihat raut wajah Tasya yang sepertinya tidak suka dengan jawaban yang diberikan oleh Kama. Akan tetapi Anin tidak mempertanyakan kejanggalan yang dia rasakan, karena menurutnya waktunya tidak tepat.
"Kamu cantik sekali, Tasya. Pantas anak saya, jatuh cinta sama kamu,"
Tasya tersenyum kikuk mendengar pujian Anin mamanya Kama. "Tante bahkan lebih cantik," Tasya balik memuji, karena memang di usia Anin yang sudah hampir menginjak 50 tahun, wanita itu masih tampak muda dan sangat cantik.
"Aku sudah tua, jadi pastinya masih kalau cantik dengan kamu. Ayo, aku kenalkan sama suami Tante!" Anin meraih tangan Tasya dan mengajak gadis itu menghampiri Kenjo suaminya yang sedang asik bercengkrama dengan Aby dan Calvin.
Sementara itu, Tasya menarik sedikit ekor matanya, melirik ke arah Kama, berharap pria itu menolongnya keluar dari situasi awkward yang dirasakan karena ingin dikenalkan dengan papanya Kama. Akan tetapi pria itu justru mengacungkan jari jempol ke arahnya seraya menyunggingkan senyum meledeknya.
Tasya merasa dongkol, akan tetapi tidak bisa untuk menolak. Dengan terpaksa wanita itu ikut saja kemana dirinya dibawa oleh Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara resepsi berjalan dengan lancar sesuai dengan rundown acara yang sudah direncanakan. Kedua mempelai kini sudah berada di sebuah kamar hotel yang didekorasi dengan begitu indah.
"Apa kamu mau istirahat dulu atau mau mandi?" Carlos buka suara, menghentikan kecanggungan yang sempat tercipta di antara mereka berdua.
"Aku mau mandi dulu, biar istirahatnya lebih nyaman," sahut Kalila sembari membersihkan riasannya menggunakan makeup remover.
"Apa kamu masih lama, membersihkan wajahmu? kalau iya, biar aku yang lebih dulu mandi,"
"Kamu duluan aja, tapi jangan lama-lama!" jawab Kalila menatap Carlos dari pantulan pria itu di cermin.
Kama menganggukkan kepalanya sembari mengayunkan kakinya melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
Tidak perlu menunggu lama, Carlos keluar dari kamar mandi,dengan tubuh yang hanya berbalut seutas handuk yang melilit di pinggangnya, memperlihatkan perut yang membentuk roti sobek hingga membuat Kalila seketika merasa kagum.
"Sekarang giliran kamu!" celetuk Carlos yang membuat Kalila sedikit terjengkit kaget dan seketika tersadar dari kekagumannya.
"Eh, i-iya."Kalila langsung melangkah dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Carlos.
Carlos melihat pakaiannya sudah tergeletak di atas ranjang, hingga membuat seulas senyuman langsung terbit menghiasi bibirnya. Tanpa menunggu lama, Carlos dengan segera mengenakan pakaian yang sudah disediakan Kalila, wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Kemudian pria itu naik ke atas tempat tidur dan memainkan ponselnya.
Kalila membuka pintu dengan perlahan dan menyembulkan kepalanya, untuk memastikan apakah Carlos sudah tidur atau belum. Begitu melihat Carlos yang sedang asik dengan ponselnya, wanita itu meringis sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Bagaimana tidak, wanita itu sekarang tengah dilema antara nekad mau keluar atau bertahan di dalam kamar mandi, menunggu sampai Carlos tertidur.
"Kenapa kamu belum keluar dari dalam kamar mandi? kenapa kamu mengintip?" Carlos mengrenyitkan keningnya.
"Emm, aku tidak bawa pakaian. Bisa tidak kamu mengambilnya untukku?" sahut Kalila gugup sambil menggigit bibirnya.
"Kamu taruh dimana?"
Carlos meletakkan ponselnya dan beranjak turun dari atas ranjang.
Carlos mengayunkan kakinya melangkah mendekati koper. Pria itu seketika mengrenyitkan keningnya melihat jenis pakaian yang ada di dalam koper.
"Kenapa semua pakaiannya seperti ini?" bisik Carlos pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu lama mengambilkan pakaianku?!" seru Kalila dengan ekspresi penuh tanda tanya.
"Eh, Maaf! kamu mau pakai yang mana?" Carlos mengangkat beberapa lingerie yang ada di dalam koper dan menunjukkannya ke arah Kalila.
Mata Kalila membesar dengan sempurna melihat lingerie yang ditujukan Carlos padanya.
"Kenapa itu semua ada di dalam koperku?" tanya Kalila dengan ekspresi herannya.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu ke aku?" ucap Carlos. "Yang punya koper kan kamu. Seharusnya kamu yang tahu isi dalam kopermu sendiri," imbuh pria itu lagi.
__ADS_1
Kalila mengembuskan napasnya dengan cukup keras, menyadari Kalau semua itu pasti ulah Anin mamanya.
"Jadi, kamu mau yang mana?" Carlos mengulang kembali pertanyaannya.
"Apa tidak ada pakaian lagi yang lebih sopan dari pakaian-pakaian haram itu?" tanya Kalila memastikan sembari berharap kalau ada pakaian yang layak untuk dia pakai.
Carlos kembali mencari pakaian sesuai dengan kemauan Kalila. Akan tetapi pria itu sama sekali tidak menemukannya.
"Tidak ada! semuanya sama saja seperti yang tadi,"
Kalila menghela napas panjang dan pasrah.
"Kalau begitu yang mana saja. Sekalian pakaian dalam aku ya," Carlos yang sebenarnya merasa grogi berusaha untuk bersikap tenang dan memberikan apa yang diminta oleh Kalila.
"Terima kasih!" ucap Kalila sambil menutup kembali pintu kamar mandi.
Tidak berselang lama, Kalila keluar dengan kepala yang menunduk dan kedua tangan yang menyilang di depan dadanya. Wanita itu mengayunkan kaki melangkah menghampiri ranjang, dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut.
Carlos masih tetap berusaha untuk bersikap biasa dan tenang. Padahal jantung pria itu sudah mengajaknya untuk berdisko dari tadi. Apalagi begitu melihat penampilan Kalila yang begitu seksi dan berhasil memancing libido pria itu.
"Apa kamu mau melakukanya denganku sekarang?" celetuk Kalila tiba-tiba, hingga membuat Carlos terkesiap kaget, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Kalila
"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Carlos, memastikan.
"Tidak sama sekali! bagaimanapun kamu itu sudah menjadi suamiku. Sudah sepantasnya aku melakukan kewajibanku kan?"
"Apa kamu mau melakukanya tanpa adanya cinta? aku tidak mau memaksa kamu untuk melakukan kewajiban, karena aku tahu kalau kamu tidak mencintaiku. Kita berdua sama-sama tahu kalau aku dan kamu hanya terjebak dalam perjodohan.
"Aku tahu itu. Tapi aku sudah berjanji dalam hati, akan jadi istri yang baik dan berusaha belajar untuk mencintamu. Karena bagaimanapun kita sudah sah menjadi suami istri. Aku yakin kalau kita juga akan berat untuk berpisah karena menjaga hati orang tua kita masing-masing. Jadi apa salahnya kalau kita harus total dalam menjalani pernikahan kita? betul tidak?"
Carlos bergeming, tidak bisa menyangkal ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Kalila. Pria itu merasa kalau apa yang diucapkan oleh wanita itu benar adanya.
__ADS_1
Tbc