
Arend tetap dengan sabar menunggu persetujuan Aby papanya. Akan tetapi,Aby tetap saja diam dengan raut wajah yang sangat sukar untuk dibaca.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? kamu setuju juga kan?" ucap Celyn sambil menepuk paha Aby.
"Emm," ucap Aby singkat dengan kepala yang terangguk.
Alena menggigit bibirnya, merasa kalau Aby papanya Arend sepertinya merasa berat untuk menerima dirinya sebagai menantu.
"Ayo kita makan malam! kalian belum makan kan?" ucap Aby sambil berdiri dan berjalan mendahului, dan semua yang ada di ruangan itu mengekor dari belakang.
"Sayang, kamu tolong panggilkan Azkia," titah Aby, meminta Celyn untuk memanggil anak perempuan mereka satu-satunya yang masih berusia 18 tahun.
Celyn tidak menjawab sama sekali, tapi dia tetap melangkahkan kakinya untuk memanggil putri bungsunya itu.
Suasana makan berlangsung dengan diam tanpa suara. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar di ruang makan itu.
Alena makan dengan malu-malu, padahal sebenarnya dia ingin sekali mencoba menu-menu lainya, selain yang ada dalam piringnya.
Ekor mata Arend melirik ke arah Calista yang dari tadi sesekali mengambilkan lauk untuk Arick suaminya.. Hatinya seperti tercubit melihat hal itu. Akan tetapi dia tetap berusaha untuk bersikap biasa.
Setelah melirik ke arah Calista, ekor matanya Sekar bergerak melirik ke arah Alena. Arend tersenyum tipis melihat binar di mata Alena melihat makanan yang belum tersentuh olehnya. Dia sangat tahu kalau Alena pasti menginginkan makanan lain, hanya saja gadis itu tengah malu.
"Nih buat kamu, Sayang." Arend menyendokkan makanan yang dari tadi dilirik oleh Alena ke dalam piring wanita itu.
" Aduh, udah cukup, Tu eh Sayang," ucap Alena berpura-berpura menolak, padahal hatinya sangat senang.
"Makan saja, kak. Tidak usah malu-malu. Ini semua disediakan untuk menyambut kepulangan kakak yang membawa calon kakak iparku. Akhirnya aku punya dua kakak ipar yang cantik-cantik." Azkia buka suara.
Alena tersipu. Bukan karena dipuji cantik tapi karena dia merasa malu karena adik perempuannya Arend tahu, kalau dia sedang malu- malu untuk makan.
"Akhirnya aku makan ini juga. Kalau tidak, pasti nanti ke bawa mimpi." batin Alena terseyum samar. Hanya Arend yang bisa melihat senyuman samar Alena.
__ADS_1
"Ck, sok gengsi, padahal mau," bisik Arend pada dirinya sendiri dengan bibir yang tersenyum.
Di lain pihak, Arick memperhatikan interaksi Arend dan wanita yang disebutkannya calon istrinya itu. Dia merasa kalau hal ini sangat tidak masuk akal. Belum hitungan bulan, bagaimana bisa seorang Arend cepat jatuh cinta pada wanita lain. Sedangkan dia sudah mencintai Calista sejak berpuluh tahun.
"Sangat tidak masuk akal," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alena, Calista dan Celyn sedang asik bercengkrama di taman belakang. Alena merasa kalau Calista wanita yang sangat ramah, pintar dan sama sekali tidak sombong, walaupun dia berasal dari keluarga kaya. Bahkan setelah tahu kalau dia gadis yang miskin Calista sama sekali tidak mempermasalahkannya. Wanita itu tetap saja baik dan dari yang Alena tanggkap kalau Calista itu wanita yang sangat ceria.
"Lis aku mau tanya, tadi pas aku masuk ke rumah ini, aku melihat photo yang terpajang sangat besar di sana. Apa kamu mengenal mereka semua?" tanya Alena begitu Celyn permisi sebentar masuk ke dalam rumah.
"Oh itu photo keluarga besar keluarga Bagaskara. Yang sudah tua itu opa Ardan dan Oma Amanda. 3 Tahun lalu, Opa Ardan meninggal di usia 78 tahun, sedangkan sebulan kemudian Oma Amanda menyusul."
"Wah, rame ya keluarga, Bagaskara." ucap Alena takjub.
"Iya, Opa Ardan sama Oma Amanda, punya anak 3. Papa Aby kembai dengan Tante Anin. Setelah itu mereka punya adik lagi namanya om Adrian. Papa Aby punya anak 3 dan kamu sudah tahu siapa mereka dan tante Anin punya anak tiga, namanya Kama, Kalila dan Keenan. Kalau Om Adrian punya anak dua namanya Andrea dan Andra." papar Calista dengan jelas dan Alena menganggukkan kepalanya,mengerti.
"Spada! any body home?!" teriak seseorang dari arah pintu masuk. Dari suaranya bisa ditebak kalau yang berteriak itu adalah Kama, saudara sepupu Arick dan Arend.
"Wah, ada di sini ternyata. Udah akur kalian berdua? bagus deh!" ucap Kama sambil mendaratkan tubuhnya duduk di samping Arend.
Baik Arend maupun Arick tidak menggubris sama sekali. Mereka hanya melirik sekilas dengan ekor mata mereka berdua.
"Ish, sombong amat kalian berdua?" cetus Kama kesal, merasa diacuhkan.
"Mau apa kamu kemari? kurang kerjaan aja kamu," ucap Arend, tanpa melihat ke arah Kama sama sekali.
"Aku ke sini karena penasaran, bro. Kata Kalila tadi kamu memintanya untuk mendandani seorang gadis cantik yang sangat cantik, namanya Kalila. Aku mau lihat dia, secantik apa sih dia?" ucap Kama dengan nada yang sangat pelan.
Arend meletakkan kembali bidak catur yang hendak dia jalankan. Dia sontak menatap ke arah Kama, yang Keponya melebihi mak-mak tukang gosip di komplek perumahan.
__ADS_1
"Buat apa kamu mau melihat dia? apa ada untungnya buat kamu?" Arick buka suara.
"Penasaran aja Rick." Kama terkekeh. Sementara itu Arend tidak menanggapi sama sekali. Tapi entah kenapa ada rasa tidak suka yang muncul di hatinya, mendengar Kama yang sangat antusias untuk melihat Alena.
"Dia ada di taman belakang sama Calista, kamu coba lihat saja ke sana,"
"Sip!" Kama tersenyum sumringah setelah Arick mengatakan di mana keberadaan wanita yang dibawa oleh Arend.
"Rend, aku bisa lihat ke sana sebentar kan?"
"Emm," sahut Arend singkat.
Kama langsung berdiri dan beranjak pergi menuju ke taman belakang.
Dari arah yang tidak terlalu jauh, Kama melihat Calista dan Alena sedang asyik tertawa-tawa, entah apa yang membuat kedua wanita itu bisa tertawa selebar itu.
Kama menatap ke arah Alena dengan takjub dan terpesona. Dia bahkan tidak mengedip-ngedipkan matanya menatap gadis itu.
"Cantik! " gumamnya tanpa sadar.
"Hei, apa yang kamu lihat?" Kama terjengkit kaget, merasakan pukulan lembu di bahunya.
"Eh, Tante Celyn. Gak ada apa-apa, Tan." Kama nyengir, merasa malu tertangkap basah memperhatikan Alena.
"Gak ada apa-apa. Tante melihat kamu mengagumi Alena kan?"
Kama kembali nyengir karena dugaan Celyn sangat tepat sasaran.
"Awas kamu kalau macam-macam!" ancam Celyn sambil berlalu pergi untuk menghampiri Alena dan Calista kembali.
"Hmm, Arend pasti sengaja membawa gadis itu ke sini untuk membuat Arick bisa menerima Calista seutuhnya. Kalau benar, berarti dia tidak mencintai gadis itu. Itu berarti aku bisa mendekatinya," batin Kama, dengan menyunggingkan senyum manisnya.
__ADS_1
Tbc