Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Kabar bahagia


__ADS_3

Arend berjalan mondar mandir di depan ruang UGD tempat dimana istrinya mendapatkan penanganan.


Suara sepatu yang berbenturan dengan lantai terdengar memenuhi koridor rumah sakit. Suara sepatu itu terlihat bukan hanya berasal dari satu orang tapi lebih dari satu. Mungkin dari dua orang atau lebih. Ya, mereka adalah Aby, Celyn, Arick dan Calista.


"Arend! apa yang sudah terjadi sebenarnya? kenapa Alena bisa pingsan?" cecar Celyn dengan raut wajah yang panik.


Arend tidak bisa menjawab, karena perasaan pria itu masih sangat kacau karena belum tahu bagaimana kondisi istrinya saat ini.


"Pak Arul! bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Aby yang sudah mengenal Arul sebelumnya, bertanya dengan alis yang bertaut, menuntut penjelasan. Pria itu juga merasa heran, kenapa bisa ada Arul dan sudah terlihat menunjukkan dirinya di depan umum tanpa kursi roda.


Arul menatap ke arah Arend sekilas, untuk meminta izin, menjelaskan. Karena dirinya tidak mau mendahului Arend. Arul menghela napasnya dan kembali menatap ke arah Aby setelah mendapat anggukan kepala dari Arend.


"Pak Aby, sebenarnya Ratih dan Cindy sudah di tangkap tadi?" Arul mulai menjelaskan.


"Apa? kenapa bisa? apa kalian sudah punya cukup bukti?" tanya Aby dengan nada yang sedikit tinggi, karena dia anggap kalau Arend sudah bertindak gegabah. Jangan lupakan Arick yang juga kaget dengan berita penangkapan Ratih dan Cindy.


"Sudah cukup bukti, Pak. Dan bukti itu sudah cukup kuat," Arul menunjuk video rekaman pembicaraan Ratih dan Cindy pada Aby. Aby menyunggingkan senyumnya dan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Baiklah! tapi bisa kamu jelaskan juga, apa sebenarnya yang sudah kalian lakukan? dan kenapa kalian tidak melibatkanku dan Arick?"


Arul dengan gamblang akhirnya menjelaskan semua yang terjadi, mulai dari awal dia yang mendengar rencana licik Ratih dan Cindy, sampai strategi yang disusun oleh Arend. Semuanya dijelaskan tanpa ditambah maupun dikurangi.


"Untuk masalah kenapa, Nak Arend tidak melibatkan, Pak Aby dan Nak Arick, aku tidak tahu pasti alasannya, Pak. Lebih baik nak Arend saja yang menjelaskan nanti," ucap Arul dengan sopan.


"Emm, baiklah!" pungkas Aby, sambil kembali menatap Arend putranya yang penampilannya terlihat acak-acakan sekarang.


"Keluarga, Bu Alena!" tiba-tiba terdengar suara dokter memanggil.


"Iya, Dok! aku suaminya!" ucap Arend yang langsung menghambur ke arah dokter itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istriku, Dok? kenapa dia bisa pingsan? dia akan baik-baik saja kan?" cecar Arend tidak sabar.


"Istri anda sekarang tidak apa-apa! karena__"


"Tidak apa-apa bagaimana? dia pingsan itu!" Arend menyela ucapan dokter, karena tidak terima dokter mengatakan kalau istrinya baik-baik saja.


"Sabar, Pak Arend! aku belum selesai bicara," ucap dokter itu yang terlihat berusaha menahan rasa kesalnya. "Istri anda memang baik-baik saja. Apa istri anda sebelumnya menghirup bius?" tanya Dokter itu menyelidik.


"Iya, Dok. Karena ada yang hendak mencelakainya. Tapi, dia sempat sadar kok, Dok. Apa pengaruh obat biusnya masih belum benar-benar hilang, makanya dia bisa pingsan lagi?"


"Bukan, Pak! untuk istri anda pengaruh obat biusnya sudah benar-benar hilang. Tapi sayangnya obat bius itu sedikit mempengaruhi kandungannya. Untungnya janin yang ada di dalam rahim istri anda kuat sehingga masih bisa diselamatkan." jelas dokter itu dengan detail.


"Syukurlah!" ucap Arend sambil menghela napas lega. Kemudian mata pria itu membesar dengan sempurna, begitu menyadari sesuatu.


"Tadi dokter bilang apa? janin? maksud, dokter istri saya lagi hamil?"


"Iya, Pak! apa, Pak Arend tidak tahu sebelumnya?"


"Kalau begitu selamat, Pak Arend! sebentar lagi Anda akan jadi seorang ayah," dokter itu mengulurkan tangannya dengan senyum lebar dan Arend menerima uluran tangan itu dengan manik mata yang berembun. Tidak menyangka kalau sebentar lagi akan ada yang memanggilnya papa.


"Kalau begitu, aku tinggal dulu ya, Pak Arend! nanti setelah istri anda siuman, kita lakukan pemeriksaan melalui USG." Dokter itu berlalu pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Arend dan yang lainnya.


"Pa, Ma, sebentar lagi kalian akan mendapatkan cucu lagi," ucap Arend dengan bibir yang sedikit gemetar.


"Iya, Nak! selamat ya!" ucap Celyn sembari memeluk putranya itu. Bukan hanya Celyn, Aby juga ikut memeluk Arend, demikian juga dengan Arick. Namun begitu Calista ingin ikut memeluk Arend, tangan Arick dengan sigap menarik kerah baju Calista, dan melotot ke arah istrinya itu.


"Kenapa?" Calista mengerjap-erjapkan matanya, bingung kenapa dia tidak bisa memeluk Arend.


Arick mengembuskan napasnya, kesal melihat kepolosan istrinya yang sama sekali tidak peka kalau dirinya tidak mau melihat istrinya itu memeluk laki-laki lain, walaupun itu adiknya sendiri.

__ADS_1


"Auk,ah!" Arick berdecak, sambil berlalu pergi.


Melihat hal itu, Arend hanya bisa terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alena sekarang sudah berada di ruangan dokter kandungan. Setelah dokter mengajukan beberapa pertanyaan, dokter itu meminta Alena untuk berbaring di atas ranjang pasien untuk mempermudah dokter itu melakukan USG.


Dokter itu, kini meletakan probe ke bagian bawah perut Alena yang sudah diolesi krim terlebih dulu. Alena menggigit bibirnya, merasa khawatir kalau dugaan dokter tidak benar, sehingga bisa membuat Arend dan kedua mertuanya merasa kecewa.


Arend menggenggam tangan Alena dan mengecup kening istrinya itu, untuk memberikan ketenangan pada sang istri, karena dia menyadari kalau istrinya itu tengah khawatir sekarang. Mendapat perlakuan Arend yang lembut, membuat hati Alena menghangat seketika.


Kedua mata Arend kini fokus menatap ke layar monitor, dan dokter mulai menggerakkan probe di bawah perut Alena.


"Selamat Pak, anda benar-benar akan menjadi seorang ayah. Di sini jelas terlihat ada dua kantong bayi yang terlihat dan usianya masih 8 minggu." terang sang dokter tanpa menoleh ke arah Arend.


"kembar Dok?" Dokter itu menganggukkan kepalanya, membuat binar di manik mata Arend semakin bercahaya, demikian juga dengan Alena.


"Sepertinya itu hal yang lumrah, karena Pak Arend sendiri kembar kan? di sini perkembangan janinnya, semuanya terlihat baik, dan janin benar-benar berada di dalam rahim,"


"Lho emang ada yang di luar rahim, Dok?"Arend mengrenyitkan keningnya.


"Oh, ada, Pak. Hamil di luar kandungan atau istilah medisnya hamil ektopik," jelas dokter itu dan Arend mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.


Senyum di bibir Arend tidak pernah tanggal, apalagi saat dirinya kembali melihat layar monitor yang menunjukkan kalau istrinya itu benar-benar mengandung buah hati mereka. Arend bahkan sampai meneteskan air mata, melihat kantung janin itu.


Sementara itu, hal yang sama juga dirasakan oleh Alena. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan diberikan anugerah secepat ini dan di saat dirinya tahu kalau Arend suaminya sudah mencintanya dengan sepenuh hati.


"Pak Arend, tapi istri anda masih perlu dilakukan perawatan, karena tadi sempat terinfeksi dengan obat bius yang lumayan keras. Ibu Alena bisa pulang setelah, semuanya benar-benar membaik. Dan satu saran saya dan penting untuk diingat. Pak Arend, jangan biarkan istri anda sampai kelelahan, karena kandungannya masih terlalu muda dan masih rentan pada keguguran. Tolong juga, jaga mood istri anda selama kehamilan,"

__ADS_1


"Baik, Dok!" jawab Arend.


Tbc


__ADS_2