
Jam berputar begitu cepat. Kini jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Hari ini, begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat oleh Arick, makanya pria itu baru tiba di rumah jam segitu.
Arick menepikan mobilnya di pekarangan rumahnya dan dengan cepat turun turun dari mobil.
Keadaan rumah tampak sepi, tidak terlihat Calista yang biasanya sudah menyambut kepulangannya dengan kehebohan.
"Hmm, dimana dia? apa dia sudah tidur?" bisik Arick pada dirinya sendiri sambil naik ke atas, menuju kamar mereka.
Arick membuka pintu dengan perlahan.Tampak suasana kamar yang temaram, dengan lilin di mana-mana serta aroma bunga mawar, menyeruak sampai ke hidungnya,memberikan sensasi yang nyaman bagi orang yang menghirup aroma itu.
"Ada apa ini? kok banyak sekali lilin dan kelopak bunga mawar?" batin Arick sembari meraba-raba tembok, tempat di mana saklar lampu berada.
Dengan sekali tekan, suasana yang tadinya temaram, kini terang benderang memperlihatkan dekorasi kamar yang sangat indah. Arick mengitari pandangannya ke seluruh ruangan, mencari keberadaan Calista yang tidak terlihat ada di atas ranjang.
"Sayang, kamu di mana?" Arick memanggil dengan mata yang masih mengedar.
Tidak ada sahutan sama sekali.
"Sayang, kamu dimana?" Arick kembali memanggil ,sambil celingak-celinguk mencari.Tiba-tiba Calista keluar dari walk in closet, dan langsung memeluk Arick dari belakang dengan erat.
Arick terjengkit kaget, ketika mendapatkan pelukan Calista yang tiba-tiba. Dia memutar tubuhnya, dan seketika matanya membulat dengan sempurna, melihat penampilan seksi istrinya yang terbilang sangat berani itu. Arick mengarahkan pandangannya ke tubuh Cali mulai dari atas sampai kebawah.
Arick berkali-kali meneguk ludahnya sendiri, melihat apa yang dipakai oleh Calista yang sangat transparan, sehingga pakaian dalam istrinya itu membayang dan tidak bisa disembunyikan dari pandangan Arick.
"Sayang, apa ini beneran kamu?" tanya Arick sambil memutar-mutar tubuh sang istri.
"Ya, iya lah, masa orang lain" sewot Calista.
"Ka-kamu seksi sekali m, Sayang?" Arick menangkup wajah Calista yang sudah terlihat merona.
"Kamu kenapa berpakaian seperti ini? kamu sengaja mau memancingku ya?" tanya Arick yang masih berusaha untuk menahan diri agar tidak menyerang Calista.
"Kan datang bulannya sudah selesai, Kak. Apa kamu tidak__"
"Serius? datang bulannya sudah selesai?" Arick menyela ucapan Calista dengan wajah yang sangat berbinar. Calista menganggukkan kepalanya dengan wajah malu-malu.
__ADS_1
"Yes!" Arick melompat saking bahagianya.
"Ka-kamu mandi dulu, Sayang! " ucap Calista gugup.
"Nanti aja mandinya, Sayang. Toh kita juga sebentar lagi berkeringat kan?" sahut Arick sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Jadi, apa sekarang kita sudah bisa memulainya, Sayang? " tanya Arick meminta izin.
Calista tersipu malu dan menganggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan izin akses untuk memulai, Arick dengan hati-hati menempelkan bibirnya ke bibir warna baby pink milik Calista. Arick mencium dengan penuh perasaan, tapi ciuman penuh perasaan itu hanya bertahan beberapa saat. Tidak berapa lama, ciuman itu berubah menjadi ciuman yang penuh gairah. Arick bahkan menggigit pelan bibir Calista sebagai bentuk aba-aba untuk istrinya itu membuka mulutnya.
Setelah terbuka Arick dengan gesit langsung mengeksplor seluruh isi mulut Arick. Calista terlihat sudah bisa mengimbangi ciuman suaminya itu terlihat ketika wanita itu terlihat membalas perlakuan Arick.
Tangan Arick juga sekarang sudah ikut bergelirya meraba semua titik-titik sensitif di tubuh Calista istrinya. Ciuman Arick kini sudah mulai turun ke leher dan memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Lingerie mahal yang dipakai oleh Calista, sudah terhempas entah kemana. Seandainya lingerie itu bernyawa pasti sudah protes dengan perlakuan kasar Arick padanya.
Tubuh Calista kini sudah polos, hingga membuat libido Arick semakin terbakar gairah.
Mulut Arick kini sudah mulai menjelajah di atas pengunungan yang memiliki puncak berwarna pink kecoklatan itu.
Arick mengarahkan senjata laras panjangnya ke dalam lembah yang sudah lembab itu.
"Sakit, Kak! pelan-pelan!" desis Calista dengan meringis.
"Sabar, Sayang. Aku akan pelan-pelan. Aku jamin setelah ini, rasanya tidak akan sakit lagi," ucap Arick sambil kembali melu* mat bibir istrinya, untuk memberikan ketenangan buat istrinya itu.
Walaupun meleset berkali-kali, karena sasaran sangat sempit, dan teriakan sakit dari si empunya lembah. Arick tidak putus asa dan terus mencoba. Setelah percobaan kesekian kalinya, Akhirnya Arick berhasil menggali si lembah dan langsung masuk menyelusuri lembah itu.
Burung tanpa sayap,milik Arick dengan seenak hatinya masuk dan keluar berulang kali. Karena terlalu capek keluar masuk, burung tanpa sayap tadi, akhirnya pun muntah di dalam lembah milik Calista, dan dengan tidak ada akhlaknya mengalir mengarungi dalamnya lembah untuk berhenti mencari tempat perhentian yang sebenarnya.
Arick dan Calista kini berlomba-lomba untuk meraup udara,untuk mengisi kembali paru-paru yang sempat mulai kosong dengan udara, akibat dari pergulatan panas yang baru saja terjadi. Napas mereka berdua masih terlihat ter engah-engah dan tubuh mereka berdua masih penuh dengan buliran keringat. Mereka terlihat lelah,tapi wajah mereka tampak bersinar dan mereka berdua masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka dapatkan.
Arick mencium perut Calista dan membisikkan sesuatu di sana.
__ADS_1
"Cepat hadir ya sayang di perut mama," bisik Arick tersenyum.
Setelah itu dia mengecup kening Calista dengan penuh ketulusan.
Calista kini juga sangat bahagia, karena dia bisa menyerahkan kehormatannya pada orang yang tepat, dan kini dia merasa sekarang sudah menjadi seorang istri yang seutuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari, kini dengan malu-malu sudah mulai menunjukkan pesonanya.Cahayanya sudah membias masuk dari arah jendela kaca yang gordennya lupa mereka tutup. Arick menggeliat dan mengerjap-erjapkan matanya. Dia merasakan sedikit pegal di lengan sebelah kanannya karena semalaman Calista menggunakannya sebagai bantal.
Arick melihat ke arah istrinya yang terlihat masih terlelap, dan tidak merasa terganggu dengan sinar matahari yang masuk ke kamar mereka berdua. Dia tersenyum melihat karyanya di tubuh istrinya yang sudah seperti sisik ikan.
Entah sudah berapa kali tadi malam, mereka berdua melakukan penyatuan. Arick seperti merasa tidak pernah bosan, sekarang aja senjata laras panjangnya, sudah siap untuk menembakkan pelurunya lagi.Tapi Arick ga setega itu, karena dia tahu kalau istrinya itu masih kecapean.
Dengan perlahan Arick mengangkat kepala Calista dan meletakkannya kembali ke atas bantal. Arick turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Calista tiba-tiba terbangun dan melihat kalau Arick sudah tidak ada di sampingnya. Kedua matanya mengitari ruangan itu, untuk mencari keberadaan Arick suaminya.
Calistamendengar suara gemericik air, dari arah kamar mandi,itu menandakan kalau suaminya sedang mandi. Tidak lama kemudian Arick keluar dari kamar mandi. Calista buru-buru menarik selimut dan menutupi wajahnya dengan selimut itu, begitu mengetahui Arick keluar dari kamar mandi.
"Kenapa wajahnya ditutupi, Sayang?" tanya Arick sambil berusaha menyingkap selimut dari tubuh Calista.
"Aku malu," desis Calista pelan seperti berbisik.
Arick mengulum senyumnya, "Aku kira kamu tidak tahu malu selama ini. Bukannya mulai dari kita menikah, kamu sudah berinisiatif memancingku? kenapa sekarang jadi malu-malu?" ledek Arick yang membuat Calista mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, sekarang kamu mandi dulu! titah Arick dengan lembut
Calista menganggukkan kepalanya lalu turun dari ranjang, dengan selimut yang tetap terbalut di tubuhnya. Dia meringis sedikit, karena masih merasakan perih di bawah sana. Dengan perlahan Calist berjalan ke arah kamar mandi dengan tetap membawa selimut kedalam kamar mandi.
"Kenapa selimutnya ikut dibawa, Sayang? aku kan sudah melihat semuanya? bahkan kita juga sudah... "
"Diam! kalau masih ngomong aku sumpal tuh mulut" ucap Calista menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Sudut bibir Arick terangkat sedikit, melihat tingkah istrinya yang biasa nya tidak tahu malu, kini terlihat malu-malu.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa ritualnya.Tap like,vote dan komen. karena satu like dari readers merupakan penyemangat buat saya untuk tetap berkarya.Thank you