Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Pertemuan Tasya dengan papa dan saudara kandungnya.


__ADS_3

Detak jantung Tasya berdetak tak beraturan saat ingin dipertemukan dengan papa dan saudara kembarnya. Sementara itu, Kama menautkan jemarinya ke jemari Tasya sembari mengelus punggung tangan sang Kekasih, untuk memberikan ketenangan.


Selain Kama, Tasya juga didampingi oleh Nino papa angkatnya serta Aby dan Arick, tak terkecuali Kenjo dan Anin orang tua Kama.


"Kam, aku sangat gugup," bisik Tasya persis di telinga pria yang sudah resmi jadi kekasihnya itu. Saking gugupnya, tangan wanita itu sudah basah karena keringat dingin.


"Kamu tenang saja! semua akan baik-baik saja. Mereka juga pasti sangat merindukanmu dan ingin bertemu denganmu," hibur Kama sambil berbisik juga.


Tidak perlu menunggu lama, pintu yang sudah diketuk oleh Aby sebelumnya dibuka oleh seorang wanita muda, siapa lagi dia, kalau bukan Rara.


"Eh, Tuan Aby, Tuan Arick?" Rara mengrenyitkan keningnya, melihat kedatangan orang terkaya itu bersama dengan beberapa orang yang dikenalnya melalui televisi saja. Hanya ada dua orang yang tidak dikenalnya sama sekali,. yaitu Tasya dan Nino.


Tatapan Rara, berhenti tepat di arah Tasya. Tatapan keduanya seketika terkunci. Entah kenapa, jantung Rara berdetak lebih kencang dan darahnya berdesir, begitu melihat Tasya juga tengah menatapnya dengan manik mata yang berembun.


"Apa pak Arul ada di rumah?" Aby tiba-tiba bersuara, menghentikan tatapan Rara dan Tasya.


"Oh ada, Pak. Silahkan masuk!" Aby dan yang lainnya langsung masuk begitu dipersilahkan oleh sang tuan rumah.


"Silahkan duduk! aku panggilkan papa dulu ya!" sebelum beranjak pergi, Rara kembali menyempatkan diri untuk melihat ke arah Tasya.


"Siapa sih dia? apa dia yang namanya Tasya adikku? kenapa darahku bisa berdesir saat melihatnya?" batin Rara saat melangkahkan kakinya menuju kamar sang papah.


sesampainya di depan pintu kamar, Rara baru saja hendak mengetuk pintu, tapi tidak jadi karena tiba-tiba pintu sudah dibuka papanya dari dalam, hingga gadis itu sedikit terjengkit kaget.


"Papa, ngagetin aja! ngomong-ngomonh dong, Pah kalau mau buka pintu," protes Rara dengan bibir yang mengerucut. Sementara itu Arul hanya terkekeh melihat ekspresi wajah putri sulungnya itu.


"Kok jadi salahin, Papa? Papa kan tidak tahu kalau kamu ada di depan pintu. Lagian mana mungkin kalau papa mau keluar kamar selalu kasih pengumuman dulu." ujar Arul. " Oh ya,ada apa, Nak? sepertinya ada yang penting?" tanya Arul kembali dengan manik mata yang mengandung tanda tanya.


"Ada Tuan Aby, dan yang lainnya di ruang tamu, Pah!"


"Oh ya? kamu serius?" Rara menganggukkan kepalanya, membenarkan. "Apa hari ini mereka akan membawa kita pada adikmu?" sambung Arul kembali dengan raut wajah, berbinar penuh harap.


"Emm, sepertinya Pah. Ada seorang gadis juga yang ikut dan wajahnya mirip seperti papa," jawab Rara. Mendengar ucapan Rara, tanpa menunggu lama, pria itu langsung berlalu pergi dengan setengah berlari, tidak sabar untuk memastikan ucapan Rara, putri sulungnya.


"Selamat pagi, Pak Aby!" sapa Arul dengan mata yang langsung terpatri ke arah Tasya yang kebetulan juga sedang menatapnya.


"Selamat pagi, Pak Arul!" jawab Aby dengan tersenyum tipis.


"Apa kedatangan kamu ke sini untuk membawaku bertemu dengan putriku?" Arul langsung pada pokok bahasan, karena sumpah demi apapun dirinya sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan putri keduanya.


"Tidak!" sahut Aby dengan cepat dan santai.


terlihat raut wajah kecewa tergambar jelas di wajah Arul yang sudah terlihat lebih tua dari Aby, padahal usia keduanya tidaklah terlalu jauh.


"Aku tidak akan membawa kamu pada putrimu, tapi justru putrimu lah yang aku bawa padamu," sambung Aby kembali, mengubah wajah kecewa Arul pada wajah binar bahagia.


"Ma-maksud kamu? di mana dia?" Arul bertanya dengan nada yang tidak sabar.


"Dia ada di sini. Itu Tasya putrimu!" Aby menunjuk ke arah Tasya yang pipinya sudah basah dengan air mata.


"Di-dia putriku?" ucap Arul dengan lirih dan terbata-bata.


Aby tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membenarkan.

__ADS_1


"Papa!" gumam Tasya, lirih.


Arul bangkit dari duduknya dengan kaki yang gemetar dan mata basah menghampiri Tasya. Demikian juga dengan Tasya yang juga ikut berdiri dan menghampiri pria yang merupakan papa kandungannya itu


Tangan Arul gemetar saat pria itu ingin menyentuh wajah putrinya yang mata dan hidungnya memang terlihat mirip dengannya.


"Ka-kamu anakku?" tanya Arul dengan bibir gemetar.


Tasya tidak langsung menjawab. Mulut wanita itu itu terlihat kelu untuk sekedar mengucapkan kata iya. Namun kepala Tasya mengangguk-angguk sembari menangis sesunggukan.


Arul sontak menarik tubuh Tasya dan memeluk putrinya itu dengan erat. Berkali-kali pria itu mengucapkan rasa syukur dan menciumi kening dan pipi Tasya.


"Kamu anakku! ya kamu itu anakku! Maafkan papa ya ,Sayang! papa tidak ada bersamamu sampai kamu dewasa seperti ini,"


"Papa!"" Tasya akhirnya bisa mengeluarkan suaranya di sela-sela Isak tangisnya.


"Maafkan Tasya juga, Pa. Yang selama ini tidak ada di samping papa,"


"Tidak! kamu tidak salah sama sekali karena kamu tidak tahu apa-apa. Yang salah itu papa. Papa bisa terjebak dengan kebohongan yang direncakan oleh Ratih. Papa juga begitu bodoh, bisa-bisanya papa tidak tahu, kalau mama kalian melahirkan dua putri sekaligus," jawab Arul seraya kembali memeluk putrinya itu.


Sementara itu Rara yang baru saja datang kembali dengan nampan berisi minuman di tangannya, tercengang dan juga tidak bisa berkata apa-apa. Tangan wanita itu juga terlihat gemetar, sehingga dengan sigap Anin yang melihatnya langsung berinisiatif mengambil alih nampan itu sebelum nanti jatuh ke lantai.


"Rara! dia adik kamu, Nak! lihat, kita akhirnya bertemu dengan adikmu!" seru Arul dengan air mata yang mengalir deras.


Rara dengan langkah yang sangat pelan menghampiri Tasya dan papanya. Cairan bening juga sudah menetes membasahi pipinya.


"Ka-kamu adikku?" Tasya, menganggukkan kepalanya, membenarkan.


Rara dengan sigap memeluk Tasya dengan erat.


Sementara itu Nino, papa angkatnya Tasya berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Arul.


"Pak Arul, kenalkan, aku Nino papa angkatnya Tasya. Maafkan istriku yang ikut andil menjadi menjadi penyebab semua kekacauan ini," ujar Nino dengan mimik rasa bersalah pada wajahnya.


"Jujur, aku juga tidak tahu kalau ternyata Tasya bukan darah dagingku, tapi kasih sayangku benar-benar tulus padanya. Walaupun sekarang aku sudah tahu kalau dia bukan darah dagingku, kasih sayangku sama sekali tidak berkurang. Jadi, aku mohon bolehkah Tasya tetap memanggilku papa?" mohon Nino yang sejujurnya takut kalau papa kandung Tasya benar-benar mengambil Tasya dan tidak mengizinkannya untuk bertemu Tasya lagi.


Arul menyunggingkan senyumnya dan menepuk-nepuk pundak Nino.


"Pak Nino, tentu saja aku tidak akan pernah merampas Tasya darimu, karena kamu tidak bersalah dalam hal ini. Kita sama-sama korban tipu dari dua orang wanita yang licik. Justru, aku sangat berterima kasih padamu, karena kamu sudah membesarkan Tasya dengan baik dan bahkan tidak membencinya sekalipun kamu sudah tahu kenyataannya. Sekarang Tasya punya dua orang papa." ucap Arul dengan tulus.


"Terima kasih, Pak Arul! Nino memeluk Arul sebagai ucapan terima kasihnya.


"Pak Arul, bolehkah Tasya tetap tinggal bersamaku?" tanya Nino dengan sangat hati-hati dan was-was tidak diizinkan. Namun, dia sudah berjanji dalam hati, jika seandainya tidak diizinkan, dia akan menerima dengan lapang dada.


"Itu semua tergantung, Tasya. Aku tidak bisa memaksakan kehendak." jawab Arul bijaksana.


"Pah, bolehkah aku tetap tinggal bersama dengan papa Nino? Papa Nino sekarang sudah sendiri, tapi, Papa tenang saja, aku akan tetap mengunjungi, Papa dan kak Rara nanti," Tasya buka suara.


Arul diam sejenak. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin tinggal serumah dengan Tasya, tapi yang dikatakan oleh putrinya itu benar adanya. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Tasya.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu, Nak. Papa tidak bisa memaksa ... tapi kalau boleh, papa meminta, bisa tidak kamu 3 hari ini tinggal di sini? papa masih sangat merindukanmu," ucap Arul dengan lirih.


Tasya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Kama yang dari tadi diam saja, menyaksikan drama yang cukup mengharukan itu, berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Arul.


"Hai, Om! kenalkan, aku Kama calon kekasih Tasya."


Arul bergeming tidak langsung menyambut uluran tangan Kama. Melihat hal itu, Kama berinisiatif meraih sendiri tangan Arul dan mencium punggung tangan ayah kandung dari Tasya itu.


"Tasya! dia ...." Arul menatap putrinya untuk memastikan kebenaran ucapan Kama. Karena sejujurnya dia tidak menyangka kalau putrinya itu berhubungan dengan orang besar seperti Kama yang merupakan putra dari dua orang besar yaitu Kenjo dan Anin adik perempuan Aby.


Tasya tidak menjawab, tapi gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, membenarkan.


"Om, mumpung semuanya sedang berkumpul, aku mau sekalian melamar Tasya untuk menjadi istriku," ucap Kama spontan yang membuat Kenjo dan Anin tepuk jidat menyaksikan tindakan putranya yang nekad.


"Kama!" tegor Anin dengan mata yang menatap tajam.


"Kenapa,Ma?" Kama mengrenyitkan keningnya, melihat tatapan mamanya yang sepertinya sedang marah.


"Kam, apa kamu pikir melamar anak orang itu asal-asalan tanpa adanya persiapan? kamu bahkan tidak bawa sesuatu untuk melamar anak orang," Kenjo buka suara dengan tatapan yang tidak kalah tajam dari Anin Istrinya.


"Emm, harus bawa sesuatu ya?" Kama menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali sambil cengengesan, malu.


"Aku tadi cuma cuma mau sekalian saja, mumpung semuanya sedang kumpul," sambung Kama kembali seraya nyengir.


"Tidak apa-apa! justru om salut dengan keberanianmu. Kembali lagi, ini semua tergantung Tasya." ucap Arul diplomatis dan bijaksana.


"Bagaimana, Tasya?" tanya Arul dengan tatapan yang sudah beralih menatap putrinya itu.


Tasya menatap ke arah Kama yang juga tengah menatapnya. Kama bahkan mengerlingkan matanya, menggoda wanita itu. Tasya berusaha menahan tawanya, melihat kerlingan mata pria konyol yang justru dicintainya itu.


"Dasar pria gendeng!" batin Tasya.


"Emm, apa ini sudah termasuk lamaran?" bukannya menjawab, Tasya justru balik bertanya.


"Emm, boleh dikatakan seperti itu! Kamu jawab dulu 'iya aku mau' baru nanti aku akan datang kembali melamar dengan resmi," jawab Kama yang sedikit mengandung pemaksaan di dalamnya.


"Kalau aku mengatakan tidak mau?" tantang Tasya.


"Oh, tidak bisa! karena kalau kamu mengatakan tidak mau, aku akan paksa sampai kamu mengatakan mau," ucap Kama dengan santai.


Semua yang ada di sana seketika tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Kama yang tidak tahu malu.


"Ya udah, kalau begitu aku mau. Toh gak ada bedanya ini, " pungkas Tasya dengan tersenyum manis.


"Yes!" sorak Kama.


"Dasar pria tidak tahu malu!" celetuk Arick, menyindir.


"Bodo amat!" sahut Kama dengan sudut bibir yang terangkat sedikit ke atas.


"Wah kamu pintar ya, milih calon suami. Aku kapan ya?" bisik Rara persis di telinga Tasya.


"Kamu tenang saja! aku yakin, suatu saat kamu pasti akan menemukan seorang pria yang mencintaimu dengan tulus," Tasya balik berbisik.


Tbc

__ADS_1


Mohon untuk tetap uny meninggalkan jejaknya dong guys. Like, vote dan komen. Thank you 🙏🏻😍


__ADS_2