
"Lho, tumben kamu datang hari kerja seperti ini, Cal? dan kenapa kalian rame- rame datangnya? apa rumah kalian kena gusur?" tanya Aby yang diselipi sedikit candaan, melihat Calvin yang datang bersama dengan Cantika dan kedua putranya, ditambah seorang wanita muda yang tidak lain adalah Safira yang dari tadi selalu menundukkan kepalanya.
"Sialan! kami ke sini karena ada sesuatu yang sangat penting yang ingin kami sampaikan," ujar Calvin, yang membuat kening Aby dan Celyn berkerut.
"Sesuatu yang penting? kenapa perasaanku jadi tidak enak begini ya?" ucap Aby. Apalagi ketika melihat Sarni yang muncul tiba-tiba sambil menggendong bayi yang sangat mirip dengan Ivan.
"Mbak Sarni, kenapa baby Ivan ada sama, Mbak? sejak kapan Mbak datang?" tanya Celyn yang berpikir Kalau Sarni sudah datang dari tadi dan membawa baby Ivan bermain di luar.
Sarni tidak menjawab, dia hanya menatap ke arah Calvin, meminta pria itu untuk menjelaskan.
"By, kali ini aku gak mau basa-basi lagi, kami ke sini cuma mau bilang __"
"Ivannn!" Calvin berhenti berbicara, karena tiba-tiba Safira berteriak sambil berlari menghambur ke arah Alena yang kebetulan muncul sambil menggendong baby Ivan.
Alena yang kaget sontak mundur sambil berusaha menghindari Safira.
Aby dan Celyn juga tidak kalah kagetnya.
"Kalau itu Baby Ivan, jadi yang digendong Mbak Sarni siapa?" gumam Celyn yang masih bisa didengar oleh Aby. Pertanyaan yang sama juga timbul di dalam hati Aby.
"Mbak, please biarkan aku menggendong anakku! dia anakku, Mbak," air mata Safira sudah tidak terbendung lagi, karena kerinduannya pada baby Ivan yang tidak pernah dia peluk semenjak lahir.
"Ini anakku, bukan anakmu. Jangan sembarangan mengaku-ngaku!" Alena menghindar sambil memutar tubuhnya membelakangi Safira. Hal ini membuat Aby dan Celyn semakin bingung.
"Itu benar-benar anakku, Mbak. Anakku yang hilang selama ini. Please biarkan aku menggendongnya," mohon Safira dengan wajah yang memelas. Sementara itu, Cantika menghampiri Safira dan berusaha menenangkan wanita itu.
"Tidak! ini anakku. Kamu jangan ambil anakku! Semenjak aku memutuskan untuk merawatnya, anak ini sudah benar-benar menjadi anakku. Kamu sengaja membuangnya kan? jadi jangan mengaku-ngaku kalau anak ini, anak kamu!" Alena semakin memeluk erat baby Ivan, seakan takut kalau anak itu akan diambil darinya.
__ADS_1
"Ada apa ini sebenarnya?! bagaimana mungkin Kalian membawa perempuan yang mengaku-ngaku sebagai ibu kandung Ivan?" Aby buka suara dengan nada yang sangat dingin.
"Ivan memang anakku dan wanita itu, Om," Cakra langsung bersuara, hingga membuat Aby dan Celyn terkesiap kaget. Bukan hanya sepasang suami istri itu, Alena juga terlihat kaget.
"Tidak! aku tidak percaya. Mana buktinya? memang banyak orang yang mengatakan kalau Ivan mirip kamu, tapi itu tidak bisa dijadikan jaminan kan kalau kamu papanya?" tegas Alena.
"Tapi, itu benar Alena," tiba-tiba terdengar suara Arend yang turun dari atas, menimpali ucapan istrinya itu.
"Kamu sudah tahu?" Celyn menatap tajam ke arah Arend.
"Aku baru tahu kemarin, Ma. Tapi aku belum berterus terang karena aku belum berani untuk menyimpulkan,"
"Tunggu, tunggu! aku benar-benar sangat bingung sekarang. Bagaimana Cakra bisa punya anak, sedangkan kamu saja belum menikah?" Aby mengrenyitkan keningnya.
Cakra tidak langsung menjawab. Dian menarik napas terlebih dulu kemudian membuangnya kembali ke udara dengan sekali hentakan. Setelah, dia merasa dia siap, akhirnya Cakra pun memaparkan semuanya yang terjadi tanpa menambah dan mengurangi sedikitpun. Dia juga menceritakan bagaimana Safira bisa kehilangan baby Ivan, ketika baru saja dilahirkan.
Aby terdiam dan seketika bayangan tentang kisah almarhum mamanya, berkelebat di pikirannya. Dia ingat perjuangan mamanya untuk membesarkannya dengan Anin sendirian, sebelum bertemu dengan almarhum papanya. Dia tiba-tiba merasa empati dengan apa yang dialami oleh Safira. Akan tetapi dia juga tidak bisa langsung meminta pada Alena menantunya untuk memberikan anak itu pada wanita yang bernama Safira itu. Bagaimanapun, Alena sudah sangat menyayangi anak itu, seperti anaknya sendiri.
"Nak Safira, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, ini benar-benar suatu hal yang sangat tiba-tiba dan sangat mengagetkan buat kami, khususnya Alena. Jadi, tolong kamu jangan mendesak menantuku untuk memberikan Ivan padamu!" ucap Aby dengan bijak.
"Tapi, Om. Aku benar-benar merindukannya. Aku hanya ingin menggendongnya. Apa aku tidak bisa menggendong anakku sendiri?" Safira berucap di sela-sela isak tangisnya.
Aby terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Karena dia tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang dipisahkan dengan anaknya.
"Mbak, please berikan aku kesempatan untuk menggendong anakku," ucap Safira yang kembali memohon pada Alena.
Alena bergeming, tidak berkata apa-apa. Tapi tangannya masih tetap memeluk baby Ivan dengan erat.
__ADS_1
" Alena, semua yang dikatakannya benar, Nak. Safira tidak pernah membuang Ivan, dia seorang ibu yang kehilangan anaknya karena keegoisan mama tirinya," Sarni buka suara.
"Tidak! dia anakku. Aku mamanya, bukan dia! jangan ambil anakku!" Alena berlari naik ke atas. Sumpah demi apapun, dia tidak sanggup membayangkan seandainya anak yang dia rawat dari bayi, tiba-tiba diambil darinya.
"Mbak!" Safira tersungkur jatuh ke lantai dan Cakra langsung menghambur untuk menolong Safira.
"Safira, maafkan istriku! dia masih butuh waktu untuk mengerti semua ini, karena jujur, ini terlalu tiba-tiba. Nanti, aku akan berusaha untuk membujuknya dan memberikan pengertian padanya," ucap Arend.
"Itu benar, Nak. Bukan cuma Alena, Tante juga merasa ini sangat tiba-tiba," Celyn buka suara, menimpali ucapan putranya.
"Aku juga nanti akan membantu memberikan pengertian padanya," kali ini Aby juga ikut menimpali ucapan anak dan istrinya.
"Terima kasih, Om! ucap Cakra dengan tulus. Sementara itu, Safira masih sesunggukan menangis dengan mata yang menatap ke atasnya ke arah menghilangkannya tubuh Alena.
"Ayo, aku bantu kamu berdiri!" Cakra menyentuh pundak Safira dengan lembut.
"Jangan sentuh Saya!" Safira menepis dengan kasar tangan Cakra.
Cakra menjauhkan tangannya dari bahu Safira sembari menghela napas dengan sekali hentakan, karena Safira sama sekali belum mau disentuh olehnya mulai dari kemarin, walaupun malam tadi, dia menginap di rumahnya, karena atas desakan Cantika Mamanya.
"Sob, apa dia belum mau, menerima tanggung jawab kamu untuk menikah dengannya?" bisik Arend persis di telinga Cakra.
"Seperti yang kamu lihat. Dia tidak mau sama sekali. Sepertinya dia benar-benar membenciku, Sob." Cakra kembali berbisik, menjawab pertanyaan Arend.
"Sabar! tetap semangat. Sebagai laki-laki sejati, harus bisa bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan." Aren menepuk-nepuk pundak Cakra, untuk memberikan semangat.
Tbc
__ADS_1
Maaf ya, aku baru bisa up di jam segini. Aku tadi vaksin dan tanganku rasanya pegal banget dan kepala sedikit pusing. Ini aja rencananya tadi mau libur up dulu. Tapi, akhirnya memutuskan untuk menulis walaupun cuma satu bab.
Please jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejaknya ya guys. Like, vote dan komen. Thank you 🙏🏻