
Sarni, melirik dari balik gorden, ketika mendengar ada seseorang yang sedang mengetuk-ngetuk pintu bekas kontrakan Alena.
Wanita itu mengrenyitkan kening ketika melihat seorang wanita yang terlihat sangat sederhana berdiri di depan kontrakan itu, dengan menggendong seorang bayi seusia baby Ivan.
"Kalau dilihat dari bentuk tubuhnya, itu bukan Alena. Dan kalau Alena, dia pasti tidak akan mengetuk pintu." batin Sarni.
Kemudian, Sarni melangkah keluar memutuskan untuk menemui wanita itu.
"Maaf, cari siapa ya?" sapa Sarni, sopan.
Wanita itu sontak berbalik, menoleh kearah arah Sarni. Tampak wanita yang walaupun sangat sederhana dan tidak menggunakan riasan apapun tapi tidak bisa menutupi kecantikannya.
Sarni terkesiap kaget melihat bayi yang ada dalam gendongan wanita itu memiliki kemiripan dengan baby Ivan.
"Aku mau cari pemilik rumah ini, Bu. Dari tadi aku ketuk pintu nggak keluar-keluar. Apa orangnya tidak ada ya?" jawab wanita itu tidak kalah sopan.
"Orangnya memang sudah tidak tinggal di sini lagi. Emangnya kenapa ya, Dek?"
"Sudah tidak di sini ya?" raut wajah wanita itu sontak berubah sedih dan bahkan manik matanya sudah berembun.
"Emang ada urusan apa, Dek?" Sarni Menaikkan alisnya, menyelidik tapi tidak mengurangi kesopanannya.
"Aku mau mencari anakku ke sini, kembaran dia," jawab wanita muda itu dengan cairan bening yang tiba-tiba keluar dari matanya.
Mata Sarni membesar dengan sempurna.
"Pantasan anak ini mirip dengan baby Ivan," Sarni membatin dengan mata yang menatap ke arah bayi yang ada di gendongan wanita itu. Seketika raut wajah Sarni yang awalnya ramah berubah sinis, menatap ke arah wanita itu.
"Anakmu? bukannya kamu sudah membuangnya? jadi buat apa kamu mencarinya lagi?" ucap Sarni dengan nada yang ketus.
__ADS_1
"Aku tidak pernah membuangnya, Bu. Tepatnya aku kehilangannya." ucap wanita itu ambigu.
"Maksudmu apa?"Kening Sarni berkerut.
"Boleh aku duduk dulu, Bu?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Oh, silahkan!"
Wanita itu langsung duduk di kursi kayu yang ada di teras.
"Kenalkan, Bu nama saya Safira."
"Sarni! panggil saja bude Sarni!" jawab Sarni masih dengan tatapan menyelidik.
" Iya Bu, eh Bude. Aku melahirkan di sebuah klinik sederhana, karena aku tidak memiliki cukup uang untuk melahirkan di rumah sakit. Saat bayi pertamaku lahir, bidan yang menolong persalinanku, memberikan ke rekannya untuk dibersihkan, sementara dia kembali mengurusku karena dia masih merasakan kalau masih ada nyawa di dalam rahimku. Setelah anak keduaku lahir dan sudah dibersihkan juga, tiba-tiba aku mendapat kabar kalau bayi pertamaku hilang." jelas wanita bernama Safira itu dengan lugas.
"Ternyata yang mengambil bayi saya adalah ibu tiri saya. Dia menganggap anak saya adalah aib buat keluarga, karena aku belum menikah sama sekali." sambung Safira lagi.
"Aku semakin bingung dengan cerita kamu. Kamu mengatakan kalau kamu melahirkan anak kembar, dan ibu tirimu menganggap mereka aib. Tapi kenapa dia hanya membawa satu, dan bukan keduanya? apa bayi yang kamu lahirkan pertama kali itu aja yang aib, sedangkan yang ini tidak?" tanya Sarni sambil menunjuk ke arah bayi yang ada di gendongan Safira.
"Bukan seperti itu, Bude. Ibu tiriku tidak tahu kalau aku mengandung anak kembar. Dia mengambil bayi pertamaku ketika bidan masih sibuk mengurusku. Sedangkan rekan yang dipercaya untuk membersihkan bayi pertamaku itu, masuk ke toilet sebentar, setelah membersihkan bayiku itu." Safira kembali menjelaskan.
"Jadi dari mana kamu tahu kalau ibu tirimu yang menculik dan membuang bayi kamu di sini?"
"Awalnya aku kira bayi saya itu meninggal, karena begitulah menurut ibu tiriku. Dia bahkan membuat kuburan palsu di belakang rumah. Tapi, kemarin dia keceplosan karena kesal, mendengar anak saya yang ini menangis terus. Dia bilang, 'kenapa saya tidak menculikmu dan membuangmu sekalian seperti kakakmu itu?' begitu, Bude. Karena itulah aku tahu kalau anakku itu masih hidup." Safira diam sejenak, untuk menyeka air matanya yang dari tadi merembes keluar dari matanya.
"Aku mendesaknya dan memohon untuk memberitahukan saya, di mana dia membuang anakku, akhirnya dia jujur dan menunjukkan rumah ini." Safira kembali melanjutkan penjelasannya.
Sarni menatap manik mata Safira, untuk mencari apa ada kebohongan di mata wanita itu atau tidak. Sarni menghela napasnya, ketika melihat kalau wanita yang ada di depannya itu, sepertinya jujur dan tulus.
__ADS_1
"Nak Safira, dimana ayah dari anak-anakmu? apa dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya?"
"Aku tidak tahu dia ada dimana, karena aku juga sangat membencinya. Dia mabuk dan memperkosaku, Bude. Aku sudah berusaha untuk memohon supaya dia tidak menyentuhku, tapi dia sama sekali tidak mengindahkannya." ucap Safira dengan mata yang berapi-api penuh kebencian.
Sarni, mendadak merasa kasihan pada Safira. Akan tetapi, dia merasa bimbang untuk memberitahukan dimana keberadaan baby Ivan, karena melihat kondisi wanita itu sekarang. Safira sepertinya memutuskan pergi dari rumahnya, melihat tas yang lumayan besar yang dibawa oleh wanita itu.
"Apa kamu minggat dari rumah?" tanya Sarni untuk memastikan dugaannya.
"Iya, Bude. Aku tidak mau hidup lagi bersama dengan ibu tiriku yang selama ini menjadikan aku sapi perah. Aku harus bekerja keras untuk memberikan dia uang, semenjak papaku meninggal. Selama ini aku bertahan di rumah itu, karena itu adalah rumah peninggalan orangtuaku. Tapi sekarang aku tidak peduli lagi. Yang lebih utama sekarang adalah kedua anakku." sahut Safira.
"Jadi, apa kamu sudah menemukan tempat tinggal?"
Safira menggelengkan kepalanya.
"Hmm begini saja, kamu bisa tinggal di rumah ini. Kebetulan ini adalah rumah kontrakanku dan kamu tidak perlu membayarnya. Nanti kalau kamu bekerja, kamu bisa menitipkan anak kamu ini padaku, seperti wanita yang merawat anak pertama kamu itu. Apa kamu bersedia?" ucap Sarni, menawarkan bantuan.
"Sungguh, Bude?" Safira bertanya, memastikan dan dia langsung tersenyum begitu melihat Sarni menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih, Bude! aku tidak menyangka akan bertemu orang sebaik, Bude." ucap Safira, menangis kembali.
"Bude, aku mau tanya, apa wanita yang merawat anakku, wanita yang baik?" tanya Safira kembali.
"Iya! dia wanita yang sangat baik. Dia hampir sama seperti kamu." Sarni akhirnya menceritakan tentang Alena yang diusir oleh bibinya dan bagaimana dia mempertahankan untuk merawat baby Ivan, walau harus rela disebut janda oleh orang-orang.
"Jadi, kamu tenang saja. Anak kamu berada di tangan yang benar. Sekarang dia sudah menikah, dengan pria yang mau menerima anak kamu. Bukan hanya suaminya, bahkan keluarga besar pria itu juga menerima anak kamu dengan baik."
Tbc
Nah, mama kandungannya baby Ivan sudah mulai dimunculkan. Pertanyaannya, siapa ayah dari baby Ivan dan kembarannya?
__ADS_1