
Mobil yang dikemudikan oleh Cakra melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan tol Cipularang yang tidak terlalu padat. Hari ini Cakra membawa Safira sang istri kembali ke tempat dimana wanita itu dilahirkan dan berjiarah ke makam orang tua Safira yang merupakan sahabat karib Cantika mamanya.
Hal ini tentu saja disambut baik oleh Safira karena dirinya memang sangat merindukan kota kelahirannya itu.
"Kamu kenapa senyum-senyum, Sayang?" Cakra melirik sekilas pada sang isteri, kemudian kembali fokus melihat ke depan.
"Aku sangat bahagia, Sayang! aku tidak sabar untuk berjiarah ke makam mama dan papa." Senyum Safira semakin merekah yang disertai dengan manik mata yang berembun, karena rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu.
Cakra tersenyum, dengan tangan kiri yang terulur mengelus kepala Safira dengan lembut.
Setelah menemukan perjalanan yang lumayan melelahkan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Cakra dan Safira tiba di tempat yang dituju.
Cakra turun dari dalam mobil dan segera membuka pintu mobil untuk Safira. Kemudian, pria itu meraih tangan sang isteri, menggandeng tangan istrinya menuju makam kedua mertuanya.
Begitu jarak mereka berdua mulai dekat dengan makam, Safira tiba-tiba berhenti seraya memicingkan kedua matanya begitu melihat makam kedua orang tuanya tampak bersih dan terawat.
"Kenapa kamu berhenti, Sayang? apa ada yang terjadi?" Arend mengrenyitkan keningnya.
"Sayang, aku kira makam mama dan papa pasti sudah ditumbuhi rumput, karena aku sudah lama tidak mengunjunginya, tapi kenapa makam mama sama papa, terawat seperti itu? Apa ini ulah penjaga makam yang membersihkan dan merawatnya? tapi itu sangat mustahilkan?" ujar Safira sembari kembali melangkah ke arah makan dan melihat nama yang tertera di papan nisan untuk memastikan kalau-kalau dirinya salah.
"Ini benar-benar makam mama sama papa kok?" gumam Safira dengan raut wajah yang bingung.
Sementara itu, Cakra hanya bisa tersenyum melihat kebingungan sang isteri.
"Tentu saja itu benar makam mama dan papa. Karena aku sudah membayar penjaga makam ini untuk selalu membersihkannya," celetuk Cakra tiba-tiba tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya
"Kamu serius?" Safira merasa surprise dengan ucapan Cakra suaminya.
"Ya, dan itu sudah dua bulan ini dilakukan," ujar Cakra sambil meraih tangan Safira untuk berjongkok di samping makam.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang!" Safira menatap Cakra dengan terharu.
"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena ini memang sudah seharusnya aku lakukan sebagai menantu bukan? sudahlah sekarang sebaiknya kita berdoa saja.
"Ma, Pa! aku datang mengunjungi makammu. Maafkan Safira jika selama ini Safira tidak pernah mengunjungi makammu. Bukan karena tidak ingin, tapi keadaanku sangat tidak memungkinkan untuk datang ke sini. Ma, Pa kalian berdua yang tenang ya di atas sana, karena sekarang putri kalian ini sudah bahagia. Mama tahu, Safira sekarang sudah menikah dengan putra sahabat mama dulu. Sekarang pasti mama dan papa sudah tenang kan? berbahagialah kalian berdua di atas sana,". Safira mencurahkan apa yang ingin dia ucapkan dengan buliran cairan bening yang menetes di pipinya.
"Ma, Pa! Safira benar. Kalian berdua tidak perlu khawatir lagi. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi serta membahagiakan putri kalian berdua ini. Mama dan papa juga sangat menyayangi Safira seperti anak sendiri dan say lagi, apa yang akan menjadi hak Safira akan segera kembali ke tangannya," tutur Cakra.
Perkataan Cakra pada kalimat terakhir begitu menggelitik hati Safira. Dia ingin bertanya, tapi dia tunda karena menurutnya waktunya tidak tepat.
Tanpa menunggu lama Cakra dan Safira berdoa dan menyiram air di atas makam yang bertuliskan nama Dion dan Deby di papan nisan itu.
"Ayo kita pulang! aku berjanji kalau kita akan sering-sering datang ke sini," Cakra meraih tangan Safira, membantu istrinya itu untuk berdiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, apa maksud perkataan kamu tadi?" Safira tidak bisa menunda lagi apa yang mengganjal dalam hatinya setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tadi kamu mengatakan apa yang menjadi hakku akan kembali lagi padaku. Itu maksudnya apa?"
Cakra tidak langsung menjawab. Pria itu justru tersenyum misterius. "Kamu akan tahu nanti, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai di tempatnya," tutur Cakra yang semakin membuat Safira bingung.
Tidak beberapa lama, mobil yang dikemudikan Cakra berhenti di depan sebuah gedung tinggi.
"Kenapa kita berhenti di sini? bukannya ini perusahaan papa yang dijual sama ibu tiriku?" Safira menatap gedung itu dengan mata yang kembali berembun. Walaupun waktu itu dirinya masih kecil, tapi dirinya sudah cukup tahu kalau perusahaan itu adalah perusahaan turun temurun dari keluarga papanya. Perusahaan yang ingin diperjuangkan papanya sampai akhirnya kecelakaan.
"Kita turun dulu! nanti kamu akan tahu sendiri di dalam." Cakra keluar dari dalam mobil dan seperti biasa, membukakan pintu untuk sang istri sebelum istrinya itu turun.
Dengan jemari yang saling bertaut, Cakra dan Safira melangkah bersama masuk ke dalam gedung itu. Kening Safira kembali berkrenyit melihat para karyawan yang menyapa serta menundukkan tubuh saat berpapasan dengan Cakra suaminya.
__ADS_1
Sekarang mereka tiba di depan sebuah ruangan yang bertuliskan kata 'meeting room' di pintu.
Cakra menoleh ke arah istrinya dan menerbitkan senyuman manisnya.
"Ayo masuk, Sayang!" Cakra masuk bersama Safira.
Mata Safira membesar dengan sempurna begitu melihat di dalam ruangan itu sudah berkumpul beberapa orang berpakaian formal yang dia yakini para petinggi perusahaan, dewan direksi dan para pemilik saham.
"Selamat siang, Pak Cakra dan Ibu! sapa seorang pria yang langsung menyambut kedatangan mereka berdua.
"Ya, selamat siang! silakan duduk!" Cakra mempersilakan semuanya untuk duduk setelah dia dan istrinya duduk terlebih dulu.
"Baiklah! sekarang kita langsung pada pokok persoalan. Kenalkan ini istriku, Safira putri dari bapak Dion Prayoga. Sekarang perusahaan ini resmi kembali ke tangan istriku, pewaris tunggal dari Sunrise company. Kalau ada yang keberatan silakan angkat kaki dari perusahaan ini!" ucap Cakra dengan tegas tak terbantahkan.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu, tidak ada yang berani bersuara yang berarti mereka setuju dengan keputusan Cakra.
Ya, setelah Cakra tahu apa yang menimpa perusahaan Dion, papanya Safira, dia segera bertindak untuk mencari kelemahan pemilik baru perusahaan itu dan langsung membeli kembali perusahaan itu setelah berhasil melumpuhkan perusahaan itu. Kemudian pria itu mengembalikan nama perusahaan yang sempat berganti kembali ke nama semula yaitu Sunrise company.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang, kenapa kamu melakukan ini semua?" tanya Safira dengan pipi yang sudah basah dengan air mata, setelah hanya mereka berdua yang tinggal di ruangan meeting itu.
"Karena ini memang hak kamu. Aku tahu, kalau papa Dion pasti akan lebih bahagia dan tenang di alam sana, karena perusahaan keluarganya sudah kembali pada orang yang tepat,"
"Terima kasih, Sayang! aku tidak tahu mau mengucapkan apa lagi. Tapi, aku tidak tahu-menahu tentang mengurus perusahaan," Wajah Safira terlihat khawatir.
"Lagian yang meminta kamu untuk mengurusnya siapa? aku sudah memerintahkan orang kepercayaanku untuk mengelola perusahaan ini, dan semua keuntungan yang diperoleh akan masuk ke rekening kamu. Aku dan kamu sekali-kali akan tetap memantaunya." jawab Cakra sambil meraih tubuh Safira dan memeluknya erat.
Kejutan Cakra tidak berhenti sampai di situ saja. Ternyata rumah tempat Safira sempat menghabiskan masa kecilnya bersama papa dan mamanya dulu, juga dibeli Cakra, walaupun Cakra harus membayar dua kali lipat.
__ADS_1
Tbc.