Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Maafkan aku!


__ADS_3

Safira menghabiskan waktu yang cukup lama berada di dalam mandi. Karena apa? karena insiden yang terjadi, membuat wanita itu membawa masuk gaun malam yang lumayan tipis. Memang tidak tipis seperti lingeria, tapi kalau dipakai, bisa mengundang hasrat bagi laki-laki normal yang melihatnya.


"Kok seperti ini sih pakaiannya? gimana aku mau keluar dari sini? lagian siapa yang memasukkan pakaian seperti biasa ke dalam koper? sepertinya aku tidak pernah menaruh pakaian seperti ini ke dalam koper," batin Safira, gusar.


"Hmm, bodo amatlah! bagaimanapun aku harus keluar juga dari dalam kamar mandi ini. Tidak mungkin aku semalaman dan tidur di dalam sini," kembali Safira membatin, dengan tangan yang mencengkram erat handle pintu.


Safira membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Wanita itu mengintip lebih dulu, untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Cakra sekarang. Safira bahkan berharap kalau suaminya itu sudah tertidur.


Safira menarik napas lega, karena dia tidak menemukan keberadaan Cakra di kamar itu.


"Kemana dia? apa dia keluar lagi dari kamar ini? batin Safira yang entah kenapa, merasa sedikit kecewa, jika seandainya dugaannya benar.


"Kenapa aku harus kecewa? seharusnya aku senang kan?" dengan perlahan akhirnya Safira keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa kamu harus ngintip dulu baru keluar? " Cakra bersuara, yang dari tadi ternyata sedang menyender di tembok dekat pintu kamar mandi.


Safira terjengkit kaget dan refleks menoleh ke belakang. Tampak di sana Cakra, berdiri dengan keduanya tangan yang bersedekap di dada dan senyum meledek di bibirnya.


"Sejak kapan kamu ada di sana?" tanya Safira dengan tangan yang sibuk menarik-narik gaun malamnya ke bawah untuk menutupi pahanya yang terekspos, karena wanita itu benar-benar seperti tidak nyaman dengan pendeknya gaun malam yang dia pakai.


"Sejak kamu ngintip-ngintip dari kamar mandi." sahut Cakra dengan senyum meledek yang masih tersemat di bibirnya, sambil menatap tubuh Alena dari atas sampai ke bawah.


Semburat merah, kini terbit di pipi putih Safira. Wanita itu memalingkan wajahnya agar Cakra tidak bisa melihat rona di pipinya itu.


"Siapa yang ngintip? aku cuma mengintai saja." gumam Safira dengan sangat pelan, tapi masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Cakra.


"Apa bedanya mengintip dan mengintai? bukannya itu sama saja?"


"Jelas-jelas itu sangat berbeda. Percuma kamu memiliki pendidikan yang tinggi kalau kamu tidak tahu apa bedanya antara mengintai dan mengintip. Masa kamu kalah denganku yang hanya tamat SMA, " sindir Safira.


Bukannya marah, Cakra justru tersenyum mendengar sindiran Safira. Melihat wajah Safira yang kesal, justru merupakan hiburan bagi pria itu.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku bukannya tidak tahu apa perbedaan dari dua kata itu. Tapi, menurutku tindakan kamu tadi lebih pantas disebut mengintip daripada mengintai. Karena mengintai itu, mengamat-amati dari jarak jauh atau dari tempat tersembunyi,gerak-gerik orang yang dicurigai. Ingat tempatnya yang tersembunyi sedangkan mengintip kamu yang bersembunyi. Jadi bagaimana? kamu mengintip kan?" goda Cakra yang membuat Safira diam tidak bisa berkutik.


"Hmm, dan sepertinya kamu berniat menggodaku ya? " Cakra kembali menyusuri seluruh tubuh Safira.


" Si-siapa yang mau goda, kamu? " sangkal Safira, tidak terima.


"Jadi maksud kamu memakai pakaian seperti itu apa?"


" Aku tadi tidak sengaja mengambil ini dari dalam koper. Aku bahkan tidak tahu kenapa gaun ini bisa ada di dalam koperku. Padahal seingatku aku tidak pernah memasukkan gaun ini ke dalam koper," jelas Safira dengan raut wajah yang ditekuk.


"Hmm, sepertinya aku harus berterima kasih pada orang yang memasukkan gaun itu besok, dan kasih dia hadiah! " Cakra tersenyum dengan manik mata yang penuh hasrat.


Mata Safira membesar dengan sempurna, mendengar ucapan Cakra yang ambigu.


"M-maksud kamu apa?" tanya Safira sembari menyipitkan matanya.


"Gak bermaksud apa-apa. Kamu tunggu di sini ya! jangan kemana-mana!, aku mau mandi dulu!" Cakra mengingatkan sembari melangkah masuk ke kamar mandi.


"Aku mau pergi kemana coba dengan pakaian seperti ini? Kayanya ini, ulahnya Tasya deh. Arghhh, awas kamu Tasya! " gumam Safira sembari mengumpat.


Cakra mengayunkan langkahnya untuk menghampiri Safira. Dia berjongkok dan menatap wajah wanita itu dengan intens dan lama. Dengan perlahan, pria itu mendaratkan bibirnya di kening Safira, mengecupnya dengan cukup lama.


Kedua matanya menelusuri tubuh istrinya itu dari kepala hingga ke kaki. Seketika ada yang berdiri tegak di bawah sana tapi bukan keadilan, ketika melihat pakaian Safira yang tersingkap hampir mencapai pangkal pahanya.


Cakra meneguk ludahnya berkali-kali. Dada pria itu terlihat naik turun karena hasratnya sudah sampai ke ubun-ubun. Cakra berulang kali mengembuskan napasnya, berusaha menahan hasratnya. Pria itu segera berdiri, berbalik buru-buru menjauh dari Safira dan segera mengenakan pakaiannya.


Setelah mengenakan pakaiannya, Cakra kembali menghampiri Safira. Dengan berusaha menahan hasratnya yang sudah bergemuruh, pria mengangkat tubuh Safira untuk memindahkan wanita itu ke atas kasur.


Merasa tubuhnya seperti terangkat, Safira sontak membuka matanya dan seketika kaget begitu melihat kalau dirinya berada di gendongan Cakra.


"Cakra eh Mas, turunkan aku!" Safira sedikit meronta meminta agar suaminya itu menurunkannya

__ADS_1


"Safira, jangan bergerak! kamu bisa jatuh," ucap Cakra sembari menurunkan tubuh Safira dengan perlahan.


" Mas mau apa?" tanya Safira sembari menyilangkan tangannya di dada.


"Aku tidak mau apa-apa! aku hanya mau mindahin kamu ke kasur aja. Nanti badanmu bisa sakit tidur di sofa." Cakra menjelaskan niat baiknya.


"Tapi kenapa, kamu mindahin aku ke kasur? itu kan kasur hanya ada satu? nanti kalau aku tidur di sana, kamu tidur di mana?


Cakra menggeram mendengar ucapan Safira. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? kamu itu istriku, jadi sudah sepantasnya kita tidur di ranjang yang sama," ujar Cakra sambil berusaha menahan amarahnya.


"Tapi, walaupun kamu itu suamiku, Kita menikah kan bukan karena __"


Mata Safira seketika membesar ketika tiba-tiba Cakra mendaratkan bibirnya ke bibirnya sehingga dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Safira tidak membalas tapi entah kenapa juga tidak bisa menolak. Ingin sekali dia mendorong tubuh Cakra akan tetapi gesture tubuhnya menghianati pikirannya. Wanita itu justru berdiri kaku, serasa membeku mendapat serangan Cakra yang tiba-tiba.


"M-Mas, jangan ... " Safira berniat membuka mulutnya untuk menghentikan


ciuman Cakra.Tapi, mulut Safira yang sempat terbuka sedikit, justru membuat lidah Cakra menjadi leluasa masuk ke dalam mulut Istrinya itu dan mengeksplor isi mulut Istrinya itu.


Wajah Safira tiba-tiba terlihat pucat dan ketakutan, karena tindakan Cakra yang tiba-tiba. Kejadian 2 tahun yang lalu, langsung terlintas di kepalanya. Sejujurnya, Safira masih sedikit merasakan trauma, apalagi Cakra melakukannya tiba-tiba tanpa adanya aba-aba dari pria itu.


Karena Safira tidak memberikan respon sama sekali, membuat Cakra menghentikan aksinya,dan kaget melihat wajah pucat istrinya itu.


"Ka-kamu kenapa, Fira" tanya Cakra panik.


Safira tidak menjawab sama sekali, napasnya terlihat turun naik, sehingga membuat Cakra semakin panik. Cakra sontak memeluk Safira dengan erat, dan kali ini lebih lembut sehingga Safira berangsur-angsur menjadi lebih tenang.


"Ma -maaf ya, Fir! aku tidak bermaksud membuatmu takut. Apakah kamu masih trauma dengan kejadian dulu?" tanya Cakra lembut dan hati-hati. Hati Cakra terasa sesak begitu melihat Safira menganggukan kepalanya. Perasaan bersalah kembali merasuki hatinya.


"Maafkan aku, maafkan aku!" tanpa sadar Cakra meneteskan air mata dan kembali memeluk erat tubuh Safira yang akhirnya membuat wanita itu ikut menangis sesunggukan.

__ADS_1


"Kamu jangan menangis lagi! aku berjanji tidak akan melakukannya sampai kamu siap." Ucap Cakra sambil mengelus lembut kepala Safira.


Tbc


__ADS_2