Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Terbongkar


__ADS_3

Cindy dan Ratih saling silang pandang, dan tersenyum puas. Mereka berdua merasa menang saat ini.


"Terima kasih ya, Sayang!" Cindy bergelayut manja di lengan pria yang dipanggil Pak Broto itu.


"Apa sih yang tidak buatmu. Yang jelas setelah urusan ini selesai, kita akan segera menikah, Sayang." Broto menowel pipi Cindy dengan gemas dan mesra.


"Tentu saja, Sayang." ucap Cindy yang berusaha menunjukkan kalau dirinya bahagia, padahal sebenarnya wanita itu ingin sekali muntah mendengar rayuan pria tua itu.


"Ricky, sekarang kamu bawa si Daniel itu ke atas ranjang!" titah Broto dengan tegas.


"Baik, Tuan!"


Ricky membungkuk hendak mengangkat tubuh Daniel, tapi tiba-tiba Daniel yang ternyata pura-pura pingsan memberikan tendangan yang keras ke ulu hati Ricky, hingga pria itu terjungkal jauh ke belakang. Dengan gerakan kilat juga Daniel dengan cekatan langsung menodongkan pistol ke arah pak Broto.


"Apa-apaan ini?" Broto mengangkat tangannya dengan wajah yang ketakutan.


"Ba-bagaimana bisa kamu tidak pingsan?" tanya Ricky yang berusaha berdiri lagi sambil memegang dadanya yang benar-benar sakit.


"Kamu lupa kalau aku itu cerdik. Aku sama sekali tidak menghirup obat bius itu karena aku menahan napasku. Aku tidak menyangka kalau kamu masih gampang dibodohi, Rick." Daniel masih tetap menyeringai sinis.


"Brengsek!" umpat Ricky, tanpa bisa melawan karena dirinya benar-benar kesakitan sekarang.


"Hei, masuk semua!" Broto berteriak memanggil para anak buahnya yang berada di luar. Namun entah kenapa satupun tidak ada yang datang sama sekali.


"Tidak akan ada yang menolong kalian semua, karena sebenarnya kalianlah yang terjebak dengan rencana kalian sendiri," ucap Daniel dengan nada yang meledek. Sebuah seringaian licik terbit di sudut bibir pria itu.


"A-apa maksudmu?" Ratih terlihat gemetar.


"Apa kurang jelas, yang dikatakan oleh anak buah saya, Ibu Ratih yang terhormat?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang muncul dari arah pintu masuk.

__ADS_1


Ratih, Cindy dan Pak Broto sontak menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa pemilik suara itu. Mata ketiga orang itu, membesar begitu melihat Arend dan beberapa pria bertubuh tegap berdiri di depan pintu.


"A-Arend? ba-bagaimana bisa?" gumam Ratih dengan wajah panik. Sementara itu Cindy terlihat sudah bersembunyi di belakang namanya.


"Kenapa? apa kalian kaget kenapa aku bisa ada di sini? seperti yang dikatakan oleh Daniel, kalau kalianlah sebenarnya yang terjebak dalam permainan kalian sendiri." ucap Arend, ambigu.


"Sepertinya kalian masih belum mengerti. Baiklah, aku kira kalau kalian berdua melihat ini, kalian pasti akan langsung mengerti. Paman, silahkan masuk!"


Seorang pria yang dipanggil paman oleh Arend, muncul bersama dengan seorang wanita. Ratih dan Cindy membesarkan matanya, terkesiap kaget melihat dua orang yang baru masuk itu.


"Papa? Rara?" seru keduanya secara bersamaan. Hal yang membuat mereka kaget, Arul sudah bisa berdiri dan berjalan seperti biasa.


"Ba-bagaimana bisa?" gumam Ratih, melihat Arul suaminya dari atas sampai ke bawah.


"Asal kalian berdua tahu, kalau selama ini aku hanya berpura-pura kalau aku masih lumpuh dan tidak bisa bicara sama sekali. Untuk apa? agar aku bisa mengawasi pergerakan kalian berdua dan mengumpulkan bukti-bukti kejahatan kalian berdua. Aku tidak menyangka kalau putri yang aku besarkan ternyata bukan putriku." Arul buka suara, dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas.


"Yang jelasnya obat yang, Ibu berikan padaku untuk aku berikan pada Bapak, itu juga yang aku berikan pada, Bapak. Tapi kenapa Bapak malah sembuh, itu karena sebenarnya ibu sudah dibohongi oleh dokter yang ibu bayar." jawab Rara yang terlihat tidak takut sama sekali pada Ratih.. Berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkannya selama ini.


"Apa maksud kamu?" Ratih benar-benar bingung sekarang.


"Yang jelas, dokter itu adalah dokter yang aku bayar juga untuk memberikan obat yang sangat bagus untuk mempercepat penyembuhan, Paman Arul," celetuk Arend dengan ekspresi datar dan santai.


Ratih dan Cindy terdiam dan sama sekali belum mengerti dengan permainan yang dimainkan oleh Arend.


"Baiklah! intinya, jauh sebelum kalian berdua ingin mencelakakan istriku, aku sudah tahu semua perbuatan kalian berdua dan aku sudah mengantisipasi hal-hal licik yang pasti akan kalian berdua lakukan. Kalian mungkin tidak percaya, bahkan sebelum menikah dengan Alena, aku sudah tahu kejahatan yang sudah kalian berdua lakukan, karena papaku sudah menyelidiki sebelumnya." Arend terdiam sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk menghirup udara.


"Aku tahu, kalian membayar dokter untuk memberikan obat yang justru bisa membuat penyakit Paman Arul semakin parah, tapi aku membayar lebih dokter itu, untuk memberikan obat yang benar dan bahkan obat yang paling bagus tanpa sepengetahuan kalian berdua. Kalian hanya terima begitu saja tanpa tahu apapun. Dan apa kalian tahu siapa Rara ini? dia adalah orang suruhanku yang aku tugaskan untuk menjaga dan merawat Paman Arul," sambung Arend kembali menjelaskan.


Ratih dan Cindy sama sekali tidak bisa berkutik lagi. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau perasaan aman yang mereka justru adalah bom waktu yang tinggal menunggu kapan meledaknya.

__ADS_1


"Ja-jadi, Papa yang sudah membocorkan rencana kami?" tanya Cindy dengan suara yang gemetar.


"Jangan panggil aku, Papa! karena aku bukan papamu!" aku sudah mencurahkan kasih sayang pada orang yang salah dan tidak tahu diuntung seperti kamu. Dan untuk pertanyaanmu tadi, aku yakin kalau kamu pasti sudah tahu jawabannya. Ya, akulah yang sudah membocorkan semua rencana licik dan jahat kalian berdua pada nak Arend." jawab Arul dengan tegas.


"Jadi selama ini, kamu sudah mempermainkan kami? dasar brengsek kamu!" maki Ratih dengan nada tinggi yang benar-benar merasa telah dipermainkan.


"Wanita ular seperti kamu pantas menerimanya! Sekarang kalian bertiga harus bersiap-siap mempertanggungjawabkan segala perbuatan kalian di dalam penjara." ucap Arul kembali.


"Oh ya, asal kalian tau, aku juga sudah mempunyai bukti , kalau kalianlah dalang yang menyebabkan kakak dan kakak iparku kecelakaan hingga merengut nyawa keduanya," sambung Arul kembali sambil menunjukan video yang dia rekam saat Ratih dan Cindy berbicara malam itu.


"Dokter yang kalian bayar juga sudah merekam semua ucapan kalian berdua yang ingin melenyapkan Paman Arul secara perlahan menggunakan obat yang salah. Jadi, kalian bersiaplah untuk dikenakan pasal berlapis, pembunuhan berencana," Arend menimpali ucapan Arul.


"Aku tidak mau dipenjara, Ma! aku sudah bilang kan jangan macam-macam sama keluarga Bagaskara, tapi Mama tidak mau dengar!" protes Cindy sambil mengguncang-guncang tubuh mamanya itu.


"Diam!" bentak Ratih. "Kamu kira mama tahu kalau akan begini jadinya?


"Oh ya, sebenarnya kejahatan anda masih ada satu lagi, Ibu Ratih. Anda pasti ingat kalau anda juga pernah membuat seorang wanita yang baru saja melahirkan meninggal dunia dan anda membuang bayi wanita itu dan menukarnya dengan anak anda sendiri, yang lahir di luar pernikahan," celetuk Arend tiba-tiba, hingga membuat wajah Ratih semakin pucat.


"Jangan mengada-ada!" sangkal Ratih.


"Oh ya?" Arend menyeringai sinis. Kemudian pria itu mengalihkan tatapannya ke arah Arul, paman Alena. " Paman, wanita yang anda nikahi ini adalah orang yang membuat, Paman kehilangan istri anda dulu. Bayi yang ditukarnya adalah Cindy. Dia melakukan itu semua, supaya anaknya mendapatkan seorang ayah. Setelah itu, dia berpura-pura baik di depan, Paman dan tentu saja terlihat iklhas merawat anak yang awalnya paman kira anak paman itu supaya paman tersentuh dan akhirnya menikahinya," papar Arend membongkar semua.


"Apa?!" pekik Arul, dengan ekspresi wajah yang sangat marah. Pria setengah baya itu sontak melangkah ke arah Ratih dan mencekik leher wanita itu dengan kencang sehingga wanita itu terlihat kesulitan untuk bernapas. Cekikikan Arul terlepas begitu Arend menarik tubuh Arul.


"Ough," terdengar lenguhan dari arah ranjang. Sepertinya Alena sudah bangun dari pingsannya.


Arend sontak berlari ke arah Alena, "Sayang, kamu sudah sadar?"


Tbc

__ADS_1


__ADS_2