
Tasya turun dari angkot dan langsung masuk ke dalam supermarket yang tidak jauh dari rumahnya, karena ingin membeli mie instan varian baru. Dia sangat penasaran dengan rasa mie instan itu karena melihatnya di sebuah iklan.
Mata Tasya celingukan mencari di rak-rak yang berisi segala jenis mie instan, dan dia sama sekali belum melihat jenis mie instan yang dia mau.
Manik mata wanita manis itu berbinar begitu bahagia begitu melihat apa yang sangat dia inginkan ada di antara merek mie instan yang lainnya dan sepertinya hanya sisa satu.
"Itu dia! yes, aku menemukannya," Tasya dengan cepat menjulurkan tangannya untuk meraih mie instan itu. Akan tetapi, dia kalah cepat dari seseorang yang lebih dulu meraih mie instan itu.
"Hei, kembalikan itu! aku yang melihatnya lebih dulu!" ujar Tasya seraya melotot ke arah pria yang baru saja berhasil meraih mie instan itu lebih dulu.
"Siapa cepat dia yang dapat. Makanya jadi orang itu jangan lelet. Kalau sudah lihat barang yang kamu inginkan, ya langsung ambil. Jangan dipelototi dulu!" ucap pria itu yang sama sekali tidak mau mengalah.
Tasya mengepalkan kedua tangannya dengan dada yang turun naik, berusaha menahan amarahnya. Tiba-tiba, Tasya memicingkan matanya, menatap intens ke wajah pria itu, karena merasa kalau dia pernah bertemu dengan pria itu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya pria itu sedikit menjauhkan tubuhnya dari Tasya.
"Hmm, tunggu dulu! aku sepertinya pernah melihat kamu," Tasya memejamkan matanya sekilas, kemudian wanita itu menjentikkan jarinya, "Aku ingat sekarang, bukannya kamu teman Pak Cakra?"
Pria itu mengrenyitkan keningnya dan sontak menatap ke arah Tasya dan berusaha juga untuk mengingat wanita yang ada di depannya itu.
"Oh iya, aku ingat. Kamu itu bekerja di kantor Cakra. Kamu itu gadis aneh yang sok berani, yang suka ngomong sendiri dan membatah sendiri, apa yang baru kamu ucapkan, benar'kan?" ucap Kama setelah berhasil mengingat Tasya. Ya pria yang berebut mie instan itu, Kama. Pria itu memang juga sedang mencari mie instan itu dan di setiap supermarket yang dia lewati, stoknya selalu kehabisan. Kama dan Tasya sama-sama korban iklan.
__ADS_1
"Hei, siapa yang kamu bilang aneh? aku gak aneh sama sekali. Enak aja bilang aku aneh," Protes Tasya dengan bibir yang cemberut.
"Sini'in mie-nya! kamu itu laki-laki, jadi sudah seharusnya kamu mengalah pada wanita."Tasya hendak merampas mie instan itu dari tangan Kama, tapi pria itu dengan sigap langsung menyembunyikannya ke belakang tubuhnya.
"Hei, jangan selalu bersembunyi di balik kata ' Ladies first'. Sehingga kami para pria harus selalu mengalah. Kalian selalu menganggap kalau kalian makhluk yang lebih lemah dari pria, sehingga pria harus mengalah. Kalau begitu, jangan sembunyi juga dibalik kata 'emansipasi wanita' dong! bukannya kata emansipasi wanita itu pertanda kalau wanita itu punya punya kesempatan yang sama seperti pria?, jadi untuk mendapatkan mie ini, gak ada hubungannya dengan pria harus mengalah demi wanita. Kecuali kalau kamu sedang hamil, mungkin aku akan mengalah. Kamu tidak lagi hamil kan?" ucap Kama panjang lebar tanpa jeda. Ucapan terpanjang yang pernah dia ucapkan pada seorang wanita selain orang-orang terdekatnya.
Tasya terdiam, tidak memiliki kata-kata untuk membantah ucapan Kama. Dia hanya bisa memasang wajah masam dengan bibirnya yang sudah maju ke depan membentuk kerucut.
"Sudah tidak ada masalah lagi kan? kalau begitu aku pergi," pungkas Kama yang langsung pergi meninggalkan Tasya yang kesal sambil menghentakkan kakinya.
Tasya tiba-tiba tersenyum, karena sebuah ide jahil muncul di pikirannya.
Tasya mengayunkan kakinya melangkah dan berhenti tepat di belakang Kama yang sedang mengantri di depan kasir. Kama kini sudah berdiri di depan kasir dan meletakkan mie instan di atas meja kasir.
Tasya yang sudah siap siaga, dengan sigap langsung menyambar bungkusan mie instan yang sudah ditaruh kasir di atas meja.
"Sayang, terima kasih ya sudah membelikannya untukku! aku ada urusan penting, jadi aku duluan ya, bye. I love you, muach muach!" Tasya memberikan kissbye sambil berlari ke luar.
Sementara itu, Kama yang kaget diam terpaku dengan mulut yang sedikit terbuka, tidak menyangka kalau wanita itu mempunyai pemikiran licik seperti itu.
"Pak, ini uang kembalian anda," Kama sontak tersadar dari rasa kagetnya begitu mendengar suara dari kasir.
__ADS_1
"Ambil aja, Bang!" ucap Kama sambil berlalu dari hadapan kasir itu dengan sedikit berlari. Kama tidak memperdulikan lagi, teriakan kasir yang mengucapkan terima kasih.
"Kemana gadis itu?" Mata Kama mengedar mencari sosok Tasya. Akan tetapi dia tidak bisa menemukan lagi gadis itu di luar.
"Sial! aku dikadalin sama dia." umpat Kama dengan raut wajah yang sangat kesal.
Sementara itu, Tasya yang ternyata masih ada di lokasi itu, merutuki kebodohannya sambil mengintip dari balik tanaman yang lumayan tinggi.
"Haish, mati aku! bisa-bisanya aku berbuat seperti ini. Dia pasti mengadu sama pak Cakra besok, dan meminta pak Cakra untuk memecatku. Bodoh sekali sih kamu Tasya!". Tasya memukul-mukul jidatnya sendiri, karena selalu bertingkah impulsif. Tindakan yang selalu dia lakukan lebih dulu tanpa memikirkan apa akibat nantinya.
"Atau aku kembalikan aja ya, sama dia? tapi kan aku ingin sekali memakannya," seperti biasa Tasya selalu mengajak batinnya berperang.
"Aku kembalikan aja deh," Tasya hendak keluar dari persembunyiannya, " Ah, nggak deh. Kalau aku kembalikan, nanti aku penasaran sama rasanya, jadinya bisa kebawa mimpi. Bodo amat akh," Tasya kembali memutuskan untuk tetap bersembunyi, begitulah seterusnya. Seandainya tanaman tempat dia bersembunyi itu bisa bicara, pasti tanama itu akan segera menendangnya ke luar.
"Eh, udah kemana dia?" gumam Tasya yang sudah tidak melihat Kama di tempat pria itu berdiri tadi. Bahkan mobil pria itu pun sudah tidak ada lagi. Saking asiknya berperang dengan batinnya, Tasya tidak melihat kalau Kama sudah meninggalkan tempat itu dari tadi. Padahal Tasya sudah mengambil keputusan yang bulat untuk mengembalikan mie instan itu pada Kama.
"Mati aku! kalau kali ini, pasti aku akan benar-benar dipecat," Tasya mengayunkan kakinya melangkah pulang ke rumahnya sambil merutuki kebodohannya.
"Pak Cakra pasti tidak akan memecatku. Aku kan sudah baik, memberikan informasi tentang Safira," bisik Tasya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sementara itu, Kama melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu dari tadi menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan bibir yang terus tersenyum, tidak habis pikir bisa bertemu dengan wanita yang menurutnya suka bertindak ajaib dan impulsif.
__ADS_1
Tbc