Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Insiden di kamar


__ADS_3

Mentari kini sudah mulai muncul di ufuk timur, pertanda pagi sudah datang kembali. Cahayanya mulai merangsek masuk ke dalam kamar yang tempati oleh Arend dan Alena.


Arend mengerjap-erjapkan matanya, pertanda pria itu akan terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan dia membuka matanya dan langsung kaget melihat wajah Alena yang sangat dekat dengan wajah, hanya beda beberapa inci. Tangan wanita itu juga terlihat sedang merangkulnya dan kakinya menjepit kaki Arend.


Arend ingin menyingkirkan tangan Alena, tapi waktu sangat tidak memberikan dia keuntungan, Alena secara tiba-tiba juga membuka matanya. Sepasang suami istri baru itu tiba-tiba saling menatap dengan mata yang membesar sempurna.


"Arghhh!" teriak Alena menjauh dari tubuh Arend hingga membuat tubuhnya hampir terjatuh. Beruntungnya, Arend dengan sigap langsung meraih tangan Alena dan menarik tubuh wanita itu. Alena terhindar dari kerasnya lantai tapi sangat disayangkan dia tidak terhindar dari tubuh Arend. Apalagi posisi intinya sangat tepat di atas junior Arend yang sedang mengeras, seperti biasanya milik seorang laki-laki yang bangun di pagi hari.


Untuk sesaat mata keduanya kembali membesar. "Aaaaaa!" sampai Akhirnya Alena bergerak bangun dari tubuh Arend dengan menutup matanya, lupa dengan dadanya yang tidak memakai penutup sama sekali, sehingga puncaknya terlihat jelas di mata Arend, membuat pria itu seketika meneguk ludahnya dengan kasar.


"Eh, kenapa itu mu keras? kamu mau mesum ya?" tukas Alena dengan mata yang masih tertutup.


"Jangan asal menuduh! kamu yang berniat mesum, sampai kamu juga tidak memakai penutup di dadamu."


Alena sontak memindahkan tangannya dari wajah untuk bisa menutup dua benda kenyal yang menempel di dadanya itu. Kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kenapa bisa tidak tertutup? kamu yang buka ya?" Alena kembali menuduh Arend.


"Hei, bisa tidak kamu berhenti menuduhku? aku berani bersumpah tidak pernah membukanya." sanggah Arend dengan raut wajah kesal.


"Aku yakin itu pasti kamu. Buktinya itu kamu mengeras. Kamu membukanya dengan perlahan ketika aku tertidur dan kamu ...." Alena bergidik membayangkan tangan Arend yang meraba-raba tubuhnya.


"Apa yang kamu bayangkan, hah?!" Arend menyentil kening Alena hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Dengar! setiap laki-laki normal pada umumnya, miliknya akan bangun lebih dulu di pagi hari sebelum pemiliknya. Tadi kamu bisa lihat sendiri yang memeluk bahkan sampai menjepit kakiku siapa, kalau bukan kamu. Dan masalah itumu yang terbuka, aku tidak tahu menahu soal itu. Bisa saja kamu bermimpi, dan membukanya sendiri, makanya kamu bahkan sampai tidak sadar, memelukku," tukas Arend dengan nada kesal, mendapat tuduhan mesum dari Alena.

__ADS_1


Alena bergeming, berusaha untuk mengingat apa yang terjadi. Dia langsung meringis dan menggigit bibir bawahnya, begitu mengingat bagaimana dia semalaman tidak bisa tidur karena tidak terbiasa memakai b*ra. Akhirnya dia membukanya sendiri karena yakin akan bisa bangun lebih dulu dari Arend. Dia berencana akan memakainya kembali sebelum Arend bangun.


"Kenapa diam? apa ingatan kamu sudah kembali?"


Bukannya menjawab, Alena justru mengedarkan matanya, untuk mencari di mana keberadaan benda berbentuk batok kelapa itu. Dia tidak mau Arend melihat b*ranya yang buluk itu.


Alena segera naik kembali ke atas ranjang dan mengangkat bantalnya. Dia melihat benda yang dicarinya ada di sana, dan seperti sedang menertawakannya. Jangan lupakan, Arend yang mengrenyitkan kening, bingung dengan tingkah Alena yang menurutnya sangat ubsurd.


Alena langsung meraih benda itu dan menyembunyikannya ke dalam bajunya. Di saat dia menoleh ke arah nakas, matanya kembali membesar, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Alena sontak melompat turun dari tempat tidur dan langsung berlari ke kamar mandi. Tanpa dia sadari benda yang disembunyikan di dalam bajunya tadi terjatuh tepat di kaki Arend.


Alena yang tidak menyadari kalau b*ranya terjatuh, main masuk aja ke dalam kamar mandi, seraya berceloteh.


"Astaga! kenapa aku bisa bangun kesiangan? apa nanti kata mertuaku? aku bahkan tidak membantu membuat sarapan."


Mata Arend seketika melihat ke bawah, dan melihat benda yang terjatuh di kakinya. Pria itu seketika berjongkok, hendak meraih benda itu.


"Aaaah, jangan sentuh itu!" Alena tiba-tiba muncul dari dalam kamar mandi, dengan tubuh yang hanya berbalut handuk. Wanita itu berlari hendak meraih benda miliknya, sebelum Arend berhasil menyentuhnya. Karena kakinya masih basah, Alena seketika terpeleset dengan handuk yang melorot sampai ke pahanya. Alhasil dua benda kenyal itu terpampang nyata, hingga membuat Arend mendelikkan matanya. Dia ingin mengalihkan tatapannya ke arah lain, akan tetapi setan sepertinya berbisik supaya dia tetap melihat ke arah dua gundukan itu.


"Jangan lihat ke sini, pria mesum!" pekik Alena dengan tangan yang cekatan menarik kembali handuknya ke atas, yang tanpa disadarinya sempat mengekspos intinya sekilas.


"Aku tidak melihatnya! aku mendadak buta tadi."


Arend seketika tersadar dan langsung memalingkan wajahnya, dengan jantung yang bergemuruh.

__ADS_1


"Sial! kenapa aku bereaksi sama tubuhnya?" umpat Arend sambil merutuki dirinya di dalam hati.


Alena berusaha untuk berdiri, tapi kaki dan panggulnya terasa nyeri karena jatuh tadi. Dengan sedikit terpincang-pincang, dia melangkah mendekati tempat di mana B*ranya tergeletak. Dia meraihnya dan kembali berjalan ke arah kamar mandi untuk melanjutkan mandinya yang sempat tertunda.


Setelah tubuh Alena tidak terlihat, Arend mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menepuk-nepuk dadanya dengan pelan, untuk mengurangi gemuruh di dadanya.


Arend meraih handuk, dan pakaiannya lalu keluar dari kamar untuk mandi di kamar lain, karena dia perlu mengguyur kepalanya dengan air dingin sekarang.


Alena menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Arend, pria yang sudah menjadi suaminya itu. Setelah dia merasa situasi sudah aman, dia keluar dengan perlahan dan langsung menuju kopernya untuk mengambil pakaiannya, yang masih belum sempat dia masukkan ke dalam lemari.


Setelah menemukan pakaiannya, dia pun buru-buru memakainya, beruntungnya dia sudah selesai berpakaian ketika pintu kamar kembali terbuka dan Arend masuk dengan kepala yang masih terlihat basah.


Untuk sejenak, Alena terpana melihat Arend yang walaupun hanya berpakaian santai, tapi ketampanannya tetap tidak berkurang sama sekali.


Suasana canggung, tercipta di antara mereka berdua. Tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan terlebih dulu. Sampai akhirnya Arend berdehem dan menatap ke arah Alena.


"Apa kamu masih mau diam di kamar atau mau ikut turun ke bawah?" Arend buka suara menghentikan keheningan yang sempat tercipta.


"Aku mau turun, tapi aku malu. Aku bangunnya kesiangan," ucap Alena lirih.


"Ayo ikut aku!" Arend berjalan mendahului Alena, sedangkan Alena mengekor dengan cara jalan yang sedikit berbeda karena panggul dan kakinya yang masih terasa sakit.


Arend memutar tubuhnya, menoleh ke arah Alena. Dia menghela napasnya dengan sekali hentakan, dan menghampiri Alena, kemudian membantu wanita itu untuk berjalan turun di anak tangga.


Aby dan Celyn saling silang pandang dan tersenyum penuh makna melihat jalan Alena yang seperti terseok-seok.

__ADS_1


"Kata tidak cinta, eh ternyata diembat juga." batin Aby, yang sudah berpikiran ke yang tidak-tidak.


Tbc


__ADS_2