
Alena berkali-kali melihat jam yang menempel di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat. Sudah seminggu ini, Arend selalu pulang malam dan Alena sama sekali tidak tahu apa alasannya. Di samping karena dia gengsi untuk bertanya, wanita itu tidak mau Arend tahu kalau dirinya sangat mengkhawatirkan pria itu. Padahal di saat dirinya melihat wajah Arend yang kelelahan, ingin sekali dia memberikan pijatan pada suaminya itu.
Alena sangat menginginkan dirinya dan Arend bisa seperti layaknya Pasangan suami istri yang selalu romantis bukan di saat melakukan kewajiban ranjang saja. Akan tetapi, wanita itu selalu berusaha menahan diri karena Arend belum pernah mengucapkan kalau pria itu sudah mencintanya, walaupun memang Arend selalu menunjukkan perhatiannya. Alena berpikir kalau sikap cuek yang dilakukannya sekarang adalah bentuk melindungi dirinya agar tidak terlalu sakit ketika rasa cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Dimana sih, Mas Arend? kenapa jam segini belum juga pulang ya?" gumam Alena sambil berjalan mondar-mandir sambil menimbang-nimbang ponsel yang ada di tangannya. Dia mau menghubungi pria itu, tapi lagi-lagi rasa egonya yang tinggi menghalanginya untuk melakukan hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Arend yang sedang dalam perjalanan pulang berkali-kali melirik ke arah ponselnya, berharap Alena istrinya menghubunginya dan mengkhawatirkannya.
Arend menghela napasnya dengan sekali hentakan, kecewa begitu melihat di layar ponselnya tidak ada panggilan masuk atau pesan dari istrinya itu.
"Apa dia tidak memiliki perasaan cinta sedikitpun untukku? apa masih kurang perhatian yang ku berikan selama ini untuknya? bagaimana lagi caranya aku mengekpresikan kalau aku benar-benar mencintainya?" batin Arend sembari mencengkram kencang kemudi mobilnya.
Arend menepikan mobilnya untuk sejenak. Menyenderkan tubuhnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana kalau malam ini aku tidak pulang? apa dia akan tetap tidak mencariku?" Sebuah ide konyol tiba-tiba berkelebat muncul di pikirannya.
"Atau, kalau nggak, aku pulang ke rumah mama sama papa aja, malam ini. Tapi kalau aku pulang ke sana sama aja menciptakan neraka buat diriku sendiri." Arend terlihat sangat dilema sekarang. Ya, semenjak Aby dan Celyn melihat hubungan Arend dan Alena yang membaik, akhirnya kedua orangtuanya itu, memberikan izin pada Arend dan Alena untuk pindah ke rumah mereka sendiri.
"Arghhhh, pusing aku!" Arend menggusak rambutnya sendiri, frustasi.
"Mudah-mudahan apa yang sedang aku lakukan ini, bisa membuatnya bahagia nanti dan jatuh cinta padaku," Arend tiba-tiba tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya, seketika seperti mendapatkan semangat begitu mengingat sesuatu hal yang sedang dia urus seminggu ini.
Arend akhirnya memutuskan untuk kembali menjalankan mobilnya menuju ke kediamannya dan Alena.
Arend kembali meraih ponselnya dan berniat menghubungi Alena. Baru saja terhubung panggilannya langsung mendapatkan respon dari istrinya itu.
"Halo, Mas! ada apa?" terdengar suara Alena dari ujung telepon. Respon Alena yang sangat cepat membuat senyum Arend langsung muncul. Hingga menimbulkan asumsi di pikiran pria itu kalau sebenarnya istrinya itu hanya pura-pura bersikap apatis padahal wanita itu sangat mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Halo, Mas! kamu masih di sana? kenapa diam saja? kalau nggak mau jawab, aku matiin ya teleponnya."
"Eh, iya, ya! aku masih di sini, jangan langsung dimatiin." Arend langsung menyambut dengan cepat. "Ayo, kamu tanya lagi, tanya dimana aku sekarang?" batin Arend penuh harap. Akan tetapi lagi-lagi Alena tidak melontarkan pertanyaan yang diharapkan Arend barusan.
"Kamu kenapa telepon? apa ada yang penting?" alih-alih bertanya dimana Arend sekarang, Alena justru melontarkan pertanyaan yang sama sekali tidak penting.
Arend menghela napas kecewa. "Tidak ada! hanya saja, aku lagi di perjalanan pulang sekarang, dan aku sama sekali belum makan. Bisakah kamu menyiapkan sesuatu yang bisa aku makan malam ini?" tanya Arend, berbohong. Padahal tadi pria itu sudah dibelikan makan malam oleh Arick.
"Baiklah! kamu mau dimasakin apa?"
"Apa saja! yang penting kamu yang masak, bukan bibi,"
"Ya iyalah, aku yang masak. Kan gak mungkin aku bangunin bibi hanya untuk memasak untukmu. Kamu kira inilah masih jam 7?" Arend tersenyum walaupun senyumannya tidak bisa dilihat oleh Alena. Arend merasa di dalam ucapan Alena barunya terselip protes karena dia pulang larut malam.
"Ya udah deh! sekarang kamu masak ya! soalnya aku sudah dalam perjalanan pulang,"
"Hemm!" jawab Alena singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah panggilan Arend terputus, Alena meringis sambil mengetuk-ngetuk keningnya. Wanita itu merasa tindakannya sangat konyol.
"Kenapa tadi aku langsung jawab teleponnya sih? kan jadi ketahuan kalau aku lagi nungguin teleponnya. Bodoh banget sih aku," Alena menggerutu, merutuki kebodohannya.
"Dia mengganggap aku seperti itu nggak ya? harusnya tadi, aku biarkan dulu ponselnya berdering untuk beberapa kali, baru aku angkat. Lalu,aku bilang halo dengan suara berat seakan-akan baru bangun tidur. iya kan? Tapi kenapa aku gak melakukan seperti itu? ahhhh!" Alena mengacak-acak rambutnya lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Eh, aku kan harus masak ya?" Alena buru-buru berdiri dan langsung beranjak menuju dapur dengan sedikit berlari.
Alena dengan sigap mengeluarkan bahan makanan dari dalam Kulkas. Kali ini dia memutuskan untuk memasak spaghetti saja buat suaminya itu. Karena menurutnya membuat spaghetti sangat cepat dibandingkan dengan harus masak yang lainnya. kalau untuk masak nasi goreng, suaminya sama sekali tidak suka sama seperti Aby papa mertuanya.
__ADS_1
Alena menghela napas lega dan tersenyum, karena suara mobil suaminya terdengar di saat bersamaan dengan selesainya dia memasak spaghetti.
Wanita itu tanpa sadar berlari ke arah pintu ingin menyambut suaminya sama seperti istri-istri yang ada di drama-drama yang ditontonnya. Akan tetapi, wanita itu segera tersadar dan langsung balik kanan kembali menuju dapur.
"Puiff, untung belum sampai pintu," batin Alena seraya menarik napas lega.
"Tapi, sampai kapan sih kami begini terus? apa aku harus mengalah dan mencoba menjadi seorang istri pada umumnya ya?" batin Alene, sambil menggigit bibir bawahnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Alena terjengkit kaget, karena tiba-tiba Arend sudah berdiri di dekatnya.
"Ng- nggak ada!" ucap Alena dengan gugup.
Arend mengrenyitkan keningnya, tidak sepenuhnya percaya kalau istrinya itu sedang tidak memikirkan apa-apa. Akan tetapi pria itu tidak mau menanyakan lebih lanjut, takut kalau istrinya itu kesal dan pergi meninggalkan dirinya sendiri di dapur.
"Kamu masak apa?" Arend mengalihkan pembicaraan, pura-pura bertanya makanan apa yang dimasak istrinya itu untuknya. Padahal pria itu dengan jelas sudah melihat ada spaghetti yang terhidang di atas meja dan asapnya masih mengebul.
"Kamu kan bisa lihat sendiri ada spaghetti di situ. Berarti aku masak spaghetti. Maaf, aku masak itu, karena itu saja yang cepat, sedangkan kamu pasti sudah sangat kelaparan," ucap Alena yang tadinya sempat ketus tiba-tiba berubah lembut.
"Oh, tidak apa-apa!" Arend menarik spaghetti ke arahnya. Mata pria itu sedikit membesar, melihat piring yang berisi spaghetti yang cukup banyak.
"Astaga, kenapa sebanyak ini? aku kan gak benar-benar lapar. Kalau nggak habis, dia pasti kecewa. Kalau aku makan semua, perutku bisa sakit karena kekenyangan," ucap Arend, yang pastinya hanya dia ucapkan dalam hati.
"Makanlah! kenapa hanya dilihatin? aku sengaja masak agak banyak, karena kamu pasti sudah sangat lapar," celetuk Alena yang membuat Arend meringis.
"Oh ya, tadi pas kamu telepon, kenapa aku bisa jawab dengan cepat, itu karena kebetulan aku lagi pegang ponsel dan memainkannya," sambung Alena kembali.
"Kenapa kamu harus memberitahukannya? aku kan nggak ada nanya?"
Alena seketika meringis dan tentu saja kembali merutuki kebodohannya dalam hati.
__ADS_1
Tbc