Cerita Cinta Lima CEO

Cerita Cinta Lima CEO
Meminta bantuan Alena


__ADS_3

Tasya kini sudah selesai membersihkan tubuhnya setelah acara resepsi pernikahannya selesai.


Sekarang wanita itu duduk di tepi ranjang dengan jantung yang berdetak hebat. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sedikit merasa takut dengan apa yang akan terjadi malam ini. Karena merasa tidak tenang, Tasya bangun dari duduknya, dan berjalan mondar-mandir sambil menggigit jarinya, dengan ekor mata yang melirik ke arah pintu untuk melihat apakah Kama akan masuk kamar atau belum.


"Apa malam ini,dia akan langsung memintanya? kalau dilihat dari gelagatnya, sepertinya sih iya. Kalau iya, aku harus melakukan apa? Bahkan ciuman saja aku masih kaku," Tasya membatin dengan raut wajah yang terlihat frustasi.


Tasya meraih ponselnya dari atas nakas dan berniat menghubungi Rara yang dia yakin pasti sudah tiba di rumah.


"Iya, Tas? ada apa? kok malam pertama begini kamu malah telpon aku? bukannya seharusnya kamu dan Kama itu, ehem ehem ya?" terdengar suara Rara yang bertanya beruntun, dari sebrang sana yang Tasya yakin pasti sedang mengrenyitkan keningnya.


"Kama masih belum masuk kamar, Ra? dia tadi nyuruh aku duluan masuk kamar, karena dia masih bicara dengan Carlos. Jadi sebelum dia datang aku mau nanya sesuatu sama kamu. Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang? kalau nanti Kama menciumku, bagaimana cara membalasnya? aku benar-benar tidak mengerti,"


"Astaga! apa kamu gak salah alamat nanyanya? kamu kan tahu, kalau aku juga belum menikah,"


"Ih, kamu memang belum nikah,tapi yang belum nikah kadang lebih ahli dibandingkan dengan yang sudah nikah,"


"Hei! apa kamu kira aku orang yang seperti itu? asal kamu tahu, aku memang pernah pacaran dulu, tapi hanya sebatas bergandengan tangan, aja, cium pipi dan kening. Kalau cium bibir mah,hanya nempel aja aku udah takut, Tas."


"Hmm, begitu ya? jadi aku harus nanya siapa dong sekarang?" Tasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Emm, lebih baik kamu tanya Alena aja. Dia kan udah pengalaman tuh, pasti dia tahu bagaimana cara menyenangkan suami," Rara memberikan saran.


"Oh, iya ya! ya udah ya, aku mau telepon dia sekarang, keburu dia tidur nanti." Tasya langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari Rara.


Tasya, langsung mencari nama Alena di daftar kontaknya, dan begitu ditemukan, wanita itu langsung menyentuh tombol panggil.


"Halo, Tas! ada apa?" suara Alena terdengar berat di ujung sana, mungkin wanita itu sudah sangat ngantuk.


"Maaf, ya, Len! aku pasti mengganggu ya? kalau iya, aku matikan aja teleponnya,"


"Eh, tidak sama sekali! yang lebih menggangu itu, justru singa lapar di rumahku. Pengen makan daging mentah terus, gak kenyang-kenyang," jawab Alena cepat dan terasa ambigu, sebelum Tasya memutuskan panggilannya.


"Singa? emang di rumah kamu ada singa?" Tasya mengrenyitkan keningnya sembari bergidik, membayangkan singa sungguhan berkeliaran di area rumah sepupunya itu.

__ADS_1


"Ada, Tas. Jantan lagi. Kalau belum dikasih daging mentah itu, gak bakal jinak. Dia akan terus mengaum, menggangu banget kan?" Tasya semakin bergidik ngeri mendengar ucapan Alena.


"Lagian kenapa kalian membiarkannya berkeliaran di dalam rumah sih? kenapa tidak dimasukkan ke dalam kerangkeng coba? itu sangat berbahaya loh, Len." ujar Tasya yang seketika lupa dengan maksud dan tujuannya.


Terdengar suara cekikikan Alena dari ujung telepon.


"Kenapa kamu cekikikan? apa ada yang lucu? apa singa jantan itu lucu?" Tasya benar-benar terlihat bodoh sekarang.


"Iya, dia lucu dan menggemaskan," jawab Alena di sela-sela tawanya. "Udah ah, bahas singanya! sekarang yang penting, kenapa kamu nelpon di malam pertama begini? pasti kamu ada perlu kan, makanya telepon." pungkas Alena, mengakhiri bahasan tentang singa.


Tasya tersadar dan langsung ingat dengan tujuannya. Kemudian wanita yang baru saja berubah status menjadi seorang istri itu mengungkapkan tujuannya.


Wajah wanita itu terlihat serius mendengar semua penuturan yang dijelaskan oleh Alena dari sebrang sana. Sesekali, bahkan Tasya terlihat mengangguk-angguk pertanda dirinya mengerti.


"Len, apa suamimu ada di sampingmu?" sela Tasya, tiba-tiba karena seperti mendengar suara seorang laki-laki yang sedang tertawa tertahan.


"Oh, tidak ada! aku sekarang ada di balkon sedangkan dia sudah tidur di kamar." jelas Alena yang dibalas anggukan kepala dari Tasya, tidak sadar kalau Alena tidak akan bisa melihat anggukan kepalanya.


Ponsel Tasya berbunyi pertanda ada sebuah pesan yang masuk. Dia yakin kalau itu adalah Alena yang mengirimkan video yang dia minta.


Dugaan Tasya benar. Wanita cantik itu, menerbitkan senyuman di bibirnya dan langsung memutar video kiriman Alena itu.


"Astaga! apa aku harus melakukan hal itu? menjijikan sekali." Tasya menatap jijik pada layar ponselnya, dimana si wanita sedang memasukkan benda lonjong ke dalam mulutnya.


Wajah Tasya berubah pucat dan langsung menghentikan video serta meletakkan kembali ponsel itu ke atas nakas, ketika terdengar pintu kamarnya dibuka dan ditutup oleh seseorang.


"Hai, sayang! kamu sudah mandi ya?" senyum Kama terbit dengan manisnya menyapa Tasya0 yang raut wajahnya terlihat sangat tegang.


"U-udah! sekarang giliran kamu yang mandi." Tasya berusaha menetralkan intonasi suaranya, agar suaminya itu tidak menyadari kegugupannya.


"Hmm, sepertinya aku mandinya nanti saja.Soalnya nanti juga bakal berkeringat lagi kan?" Kama mengerlingkan matanya ke arah Tasya, hingga membuat jantung Tasya semakin berdetak cepat.


"T-tidak boleh! kamu harus tetap mandi sekarang! badanmu pasti sangat lengket sekarang." Tasya, menghunuskan tatapannya, untuk membuat Kama takut. Namun, Kama sepertinya tidak takut dengan tatapan tajam istrinya itu. Pria itu justru tertawa, melihat wajah Tasya yang justru semakin menggemaskan baginya.

__ADS_1


Kama tiba-tiba menarik tubuh Tasya dan membenamkan bibirnya ke bibir Istrinya itu. Pria itu mencium penuh dengan kelembutan agar Tasya merasa nyaman. Detak jantung keduanya saling berpacu, karena sejujurnya Kama juga merasa gugup. Walaupun dia tampan dan kaya, pria itu tidak pernah memanfaatkan ketampanan dan kekayaannya untuk mendapatkan kepuasan dari wanita di luar sana. Jadi, ini merupakan pengalaman pertamanya juga.


"Ini adalah pengalaman pertamaku, dan aku yakin kalau ini juga merupakan pengalaman pertama kamu juga. Tapi kamu tenang saja, kalau masalah beginian kita tidak perlu belajar, karena kita akan belajar sendiri sesuai naluri kita," bisik Kama dengan lembut setelah ciuman mereka terlepas.


Tubuh Tasya seketika meremang, mendengar bisikan Kama. Wanita itu menahan napas begitu bibir suaminya itu kembali mendarat ke bibirnya.


"Bernapas, Sayang! aku tidak mau jadi duda di malam pengantinku karena kamu lupa bernapas," Kama kembali berbisik sembari meniup pelan telinga sang istri, hingga membuat tubuh Tasya bergidik geli.


"Sekarang aku mau tanya, apa kamu sudah siap melakukannya malam ini?" tanya Kama dengan lembut dan tatapan mesra.


Tasya menggigit bibirnya dan menganggukkan kepalanya. Walaupun tadi dia tidak menonton video kiriman Alena sampai selesai, setidaknya dia masih ingat dengan semua penjelasan sepupunya itu dan dia akan melakukan tips yang diberikan oleh istrinya Arend itu.


Kama menyunggingkan senyumnya, lalu kembali mendaratkan bibirnya ke benda kenyal kemerahan milik Tasya. Kemudian pria itu menyesapnya dengan sangat lembut. Mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya dari video yang pernah ditontonnya.


Kama menggigit sedikit bibir Tasya sehingga tanpa sadar Tasya membuka mulutnya. Kama tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu langsung menyergap dan membelit Tasya.


"Auh!" Kama menjerit kesakitan karena Tasya tiba-tiba menggigit lidahnya.


"Ada apa, Sayang?" tanya Tasya panik dengan wajah yang seperti ingin menangis melihat suaminya yang meringis kesakitan.


"Kenapa kamu menggigit lidahku?" tanya Kama sambil berlari ke arah cermin untuk melihat apakah lidahnya itu terluka atau tidak. beruntungnya Tasya tidak mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggigit, hingga lidahnya itu hanya memerah saja.


"Lho kenapa? bukannya setiap pria itu, menyukai kalau wanita menggigit lidahnya?" Tasya mengrenyitkan keningnya, benar-benar bingung sekarang.


"Suka bagaimana? yang namanya digigit itu pasti sakit. Sejak kapan pria menyukai lidahnya digigit? kalau dibelit baru suka,"


"Tapi, tadi kata Alena kalian para pria itu__"


"Jadi, ide ini kamu kamu dapatkan dari Alena? brengsek! ini pasti saran dari Arend. Arenddddd!" teriak Kama, kesal.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya gais.Untuk votenya disimpan untuk besok saja kalau boleh๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2