
"Tuan, pelayan-pelayan itu, sangat kurang ajar. Mereka tidak sopan pada tamu. Lihatlah wajah aku ditampar sama dia," Cindy menunjuk ke arah Alena dengan memasang wajah memelas.
"Siapa yang kamu maksud pelayan?!" Arend berusaha menahan diri untuk tidak marah.
"Itu! jadi aku mau mencari pemilik restoran ini dan memintanya supaya memecat mereka. Aku rasa, orang-orang besar seperti kalian ini pasti disegani oleh pemilik restoran ini. Jadi aku memohon pada kalian untuk membantu kami, Tuan," ucap Cindy sembari memegang tangan Arend.
"Tolong lepaskan tangan anda, Nona!" Arend menarik tangannya dengan sedikit keras sehingga tangan Cindy terhempas begitu saja, membuat Alena yang melihatnya terkikik geli.
Hal ini membuat wajah Cindy seketika memerah menahan malu, apalagi ketika melihat Arend merogoh sakunya? dan mengeluarkan hand sanitizer lalu menyemprotkan ke bekas tangan Cindy, seakan tangan Cindy penuh dengan kuman.
Sementara itu, Arick, Carlos dan Kama lebih memilih untuk duduk tidak jauh dari dari tempat dimana terjadi pertikaian. Mereka merasa Arend atau Cakra bisa menyelesaikan sendiri masalah yang sedang terjadi tanpa campur tangan mereka.
"Kak Arend, mereka telah menghina Alena, dengan mengatakan Alena wanita murahan yang sudah memiliki anak di luar nikah. Ibu ini juga telah menampar pipi Alena terlebih dulu,". Safira buka suara.
Ratih dan Cindy seketika tersentak kaget, begitu mendengar Safira memanggil nama Arend dengan sebutan, Kak dengan tidak canggung seakan mereka sudah kenal lama. Untuk sesaat mereka merasa sedikit takut, tapi mereka segera menepis dan menganggap kalau Safira itu hanya sok dekat saja.
"Tidak mungkin orang rendahan seperti dia, dekat dengan orang-orang besar ini kan?" batin Cindy dengan sangat yakin.
Mendengar ucapan Safira, Arend sontak menatap pipi Alena yang masih memerah, akibat dari tamparan Ratih. Tangan pria itu seketika mengepal dengan kencang dan rahang yang mengeras.
"Hei, kamu jangan fitnah ya! dia yang lebih dulu menamparku. Dia memang wanita yang tidak punya sopan santun, yang berani menampar orang tua," Ratih melakukan pembelaan diri dengan suara yang sedikit tinggi.
"Aku tidak fitnah! putrimu ini memang benar-benar mengatakan seperti itu dan kamu menampar Alena. Asal kamu tahu Alena ini bukan __" Safira menggantung ucapannya karena tangan Arend yang terangkat meminta Safira untuk berhenti berbicara.
Melihat tangan Arend yang terangkat, membuat Cindy dan Ratih seperti di atas angin. Mereka dengan percaya dirinya merasa mendapat pembelaan dari Arend.
"Tuh, lihat! apa kamu mengira kalau Tuan Arend akan percaya dengan ucapan orang rendahan seperti kalian berdua. Tuan Arend pasti bisa melihat yang mana berkelas. Makanya kalau hanya pelayan saja jangan sombong," celoteh Cindy dengan angkuhnya.
"Diam!" bentak Arend yang membuat Ratih dan Cindy tersentak kaget.
__ADS_1
"Siapa yang kamu bilang orang rendahan dan seorang pelayan?" sorot mata Arend tampak berkilat-kilat penuh amarah.
Ratih dan Cindy terdiam dengan raut wajah yang berubah pucat dan kening yang berkerut. Mereka berdua bingung kenapa bisa sosok Arend semarah itu.
Arend meraih tangan Alena dan menarik istrinya itu ke dekatnya.
"Apa kalian berdua tidak tahu kalau wanita yang kalian hina ini bukanlah seorang pelayan, tapi dialah pemiliknya." Ucap Arend dengan penuh penekanan pada kata 'pemilik'.
Mata Ratih dan Cindy membesar dan mulut terbuka, terkesiap kaget mendengar ucapan Arend. Mereka berdua terlihat menggelengkan kepala, tidak percaya karena menganggap kalau yang dikatakan oleh pria itu mustahil.
"Apa? kalian berdua tidak percaya? asal kalian tahu, wanita yang kalian rendahkan ini, yang kalian bilang wanita murahan ini adalah 'istriku'. Berarti secara tidak langsung, kalian berdua sudah menghinaku," Arend memberi penekanan pada kata istriku, hingga membuat Cindy dan Ratih tersentak kaget hingga hampir terjungkal ke belakang.
"I-ini tidak mungkin! ba-bagaimana mungkin anda bisa menikah dengan wanita seperti Alena?" ucap Cindy dengan sedikit gemetaran.
Bukan hanya Ratih dan Cindy yang kaget. Alena juga tidak kalah kagetnya. Dia tidak menyangka kalau Arend mengakuinya di depan umum, padahal selama ini pernikahan mereka masih dirahasiakan pada publik.
"Jadi menurut anda, wanita seperti apa yang pantas aku nikahi? wanita seperti anda? justru andalah yang sama sekali tidak pantas. Jangan kira aku tidak tahu siapa kalian berdua dan hal jahat apa yang sudah kalian lakukan," ucap Arend dengan seringaian sinis di bibirnya, membuat kedua wanita itu kesulitan untuk menelan ludah sendiri.
"Kenapa diam saja? tutup mulut kamu! nanti lalat masuk!" ucap Arend sembari merapatkan mulut istrinya itu sendiri dengan tangannya, hingga membuat bibir Alena mengerucut.
"Bukan seperti itu, Mas. Pengunjung ramai, dan pelayan kurang. Jadi, aku dan Safira memutuskan untuk turun tangan melayani," sahut Alena, membuat rasa kaget Cindy dan Ratih mamanya bertambah.
"Kalau begitu, mulai besok kamu harus menambah pelayan lagi. Aku tidak mau istriku dihina oleh sampah berwujud manusia," sindir Arend dengan ekor mata yang melirik sinis ke arah Cindy dan Ratih yang terlihat semakin pucat.
"Siapa yang anda maksud sampah, Tuan Arend? jangan karena anda kaya, jadi sesuka anda berbicara!" Ratih memberanikan diri untuk berbicara.
"Jadi apa sebutan yang pantas buat kalian berdua? bahkan untuk disebut sampah saja sepertinya masih ketinggian. Jika ada level di bawah sampah itu bisa disematkan pada kalian berdua," ucap Arend dengan sarkastik.
Cindy dan Ratih Menggeram dengan napas yang memburu karena amarah sudah sampai pada ubun-ubun. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa melawan pria di hadapan mereka.
__ADS_1
"Apalagi yang kalian tunggu? apa aku perlu menyuruh orang untuk menyeret kalian berdua ke luar?" ucap Arend dengan nada yang sangat dingin.
Ratih sontak menarik tangan Cindy putrinya, dan mengayunkan kaki mereka keluar.
"Tunggu dulu!" Arend kembali memanggil dan melangkah mendekati kedua wanita berbeda usia itu.
"Dengar, aku sudah menyelidiki kecelakaan kedua orang tua Alena. Dan aku tahu kalau kalian berdua sudah menyuruh orang untuk menyabotase mobil yang dikemudikan oleh kedua mertuaku. Aku sudah mengumpulkan bukti-buktinya. Jika semua bukti sudah terkumpul, kalian berdua persiapkan diri untuk mendekam di dalam penjara dalam waktu yang sangat lama.Karena aku akan memastikan kalau kalian berdua akan dihukum seumur hidup, untung-untung dihukum mati." bisik Arend dengan tersenyum miring.
Wajah Ratih dan Cindy sekarang seperti tidak dialiri darah sama sekali. Lutut mereka seperti ingin terlepas dari engselnya, hingga membuat mereka hampir saja terjatuh.
"Dengar, aku ingatkan kalian berdua, jangan sesekali kalian berdua berniat mencelakai Alena, karena akan banyak mata yang memantau dan melindunginya. Jika terjadi apa-apa pada istriku, aku akan mencari kalian berdua, camkan itu!" Arend memutar tubuhnya, hendak melangkah menghampiri Alena kembali.
Arend Menggeram, dengan tangan yang terkepal melihat Kama yang mendekati Alena dan menunjukkan perhatiannya pada wanita itu.
Arend melangkah dengan langkah yang panjang, dan langsung menarik tangan Alena agar menjauh dari Kama. Kemudian pria itu membawa Alena yang terlihat kebingungan menuju ruang kerja Alena.
"Hey, Bro, kalian mau kemana?!" panggil Kama.
"Bukan urusanmu!" jawab Arend ketus, hingga membuat Kama tersenyum tipis dan samar.
Sementara' itu Cakra menatap ke arah Safira yang juga menatapnya dengan tatapan sinis.
"Apa kamu baik-baik saja?" Cakra buka suara dengan nada yang sangat lembut.
"Menurutmu?" jawab Safira yang langsung berlalu begitu saja meninggalkan Cakra.
Cakra menghela napas kecewanya dan melangkah menghampiri meja dimana yang lainnya berada.
"Sabar, Sob!" ucap Arick sambil menepuk-nepuk pundak sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat tetap like, vote dan komen ya guys. Thank you 🙏🏻😍